Ada apa dengan ‘hak’? Supaya kita dapat
memahami ‘ada apa dengan hak’, terlebih dahulu kita harus mengeri apa arti hak.
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, ‘hak’ adalah kekuatan/kekuasaan untuk
melakukan sesuatu. Sebagai contoh, segala sesuatu yang dipajang sebagai barang
dagangan, kita berhak untuk membelinya selagi kita memiliki uang yang memadai
sesuai dengan harga barang tersebut. Dengan sebaliknya, pedagang yang memiliki
barang tersebut berkewajiban untuk menyerahkan barang tersebut untuk kita
miliki setelah selesai transaksi pembelian sesuai dengan harga yang tertera.
Contoh lain: seorang pelajar berhak mendapatkan pelajaran dari gurunya, dan
jika gurunya tidak memberikan pelajaran kepada sang murid, maka sang murid
berhak untuk menuntut sang guru. Dengan demikian, berarti yang ada dibalik hak
adalah tuntutan demi tuntutan. Oleh karena itu, biasanya orang yang memiliki
atau merasa berhak atas sesuatu akan selalu terdorong untuk menuntut. Orang itu
akan selalu tidak puas jika ‘hak’nya tidak terwujud. Orang itu akan merasa
dibodoh-bodohi jika haknya tidak menjadi miliknya. Dalam hati, orang itu akan
berkata ‘tidak’, … aku harus menuntut.
Sebaliknya orang yang merasa tidak berhak, akan diam
seribu bahasa. Dengan pasti dia merasa tidak memiliki dalil untuk menuntut. Dia
akan menerima kenyataan sekalipun dia tidak mendapat apa-apa. Sebab dia
sungguh-sungguh tidak berhak. Orang itu akan berkata dalam hatinya, ‘seharusnya
aku diam’, sebab dia menyadari bahwa dirinya tidak mempunyai hak untuk
menuntut. Yang merasa tidak berhak akan diam, sedangkan yang merasa berhak akan
selalu menuntut. Demikianlah hak itu akan menjadi kekuatan untuk menuntut.
Dalam nats di atas (1 Kor. 9:1-18), Paulus menerangkan bahwa sebagai seorang rasul, dia memiliki hak untuk mendapatkan kebutuhannya dari pelayanan yang dia laksanakan. Artinya jemaat wajib memikirkan kehidupannya sehari-hari. Itulah sebabnya dia berkata, “Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.” (1 Kor. 9:14). Dengan demikian berarti dia berhak. Dia memiliki kekuatan untuk menuntut sesuatu yang berhubungan dengan dirinya sebagai seorang pelayan dari orang yang dilayaninya. Namun demikian, dia lebih memilih kehilangan hak. Bahkan dia berkata, “Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya aku pun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada ...! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapa pun juga!” (1 Kor. 9:15). Anak kalimat yang berkata “Sebab aku lebih suka mati dari pada ...!”, dalam terjemahan lain dikatakan, ‘sebab aku lebih baik mati dari pada dirusak oleh hakku’.
Paulus menyadari bahwa banyak orang yang rusak oleh karena hak-hak yang dimilikinya. Sebab biasanya hak-hak itu selalu mendorong kita untuk terus menuntut, menuntut dan menuntut. Bahkan lebih lanjut Paulus berkata, “Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.” (1 Kor. 9:18). Dengan berkata demikian berarti, sekalipun dia berhak untuk menuntut kebutuhannya sehari-hari dari jemaat yang dilayaninya, tetapi dia lebih suka untuk tidak mempergunakan haknya. Itulah sebabnya dia katakan bahwa upahnya tanpa upah. Inilah yang dimaksud dengan kehilangan hak. Artinya Rasul Paulus mengaku lebih suka kehilangan hak. Dengan tegas dia berkata bahwa upahnya adalah tanpa upah. Apa tujuannya dia berkata begitu? Kenapa harus rela kehilangan hak? Ada 2 tujuan, kenapa kita harus kehilangan hak:
Pertama: Supaya nyata
bahwa hidup yang kita jalani adalah kehendak Tuhan (band. ay. 16-17)
Kita hidup bukan dalam kehendak kita tetapi
atas kehendak Tuhan. Kita mendapat panggilan Tuhan untuk menghidupi hidup kita
di dunia ini. Kita mengharapkan segala sesuatu dari Tuhan dan bukan dari
manusia sesuai dengan tuntutan kita. Jika Paulus mengaku bahwa dirinya
dipanggil Tuhan untuk suatu pekerjaan (dalam hal ini sebagai pemberita Injil)
kita pun sebagai orang yang sama dengan Paulus, yaitu sama-sama pengikut
Kristus, mendapatkan panggilan dari Tuhan sebagaimana kita sekarang bekerja.
Jika Paulus mengaku tidak berhak untuk
mendapat upah dari apa yang dia lakukan – karena pekerjaan itu adalah dari
Tuhan – maka kitapun sama halnya, tidak perlu selalu menuntut-nuntut hak dalam
segala hal dari setiap yang kita lakukan. Setiap orang yang tidak menuntut
pasti akan mendapat jika Tuhan yang mempercayakan kepadanya. Jika kita mendapat
karena menuntut maka itu bukanlah hasil pemberian Tuhan melainkan hasil dari
usaha kita dengan menuntut. Dan kalau kita selalu menuntut maka kehendak Tuhan
tidak akan pernah nyata dalam kehidupan kita. Sebaliknya dengan tidak menuntut,
tetapi kita mendapat, maka nyatalah kehendak Tuhan dalam hidup kita.
Jika kita hubungkan dengan konsep teologi
Kristen, hal kehilangan hak adalah sesuatu yang benar-benar teologis. Kita
harus menyadari dengan benar, bahwa Tuhan tidak menuntut hakNya kepada kita.
Sekilas mungkin banyak orang yang tidak setuju dengan pernyataan ini. Sangat
diharapkan supaya kita sungguh-sungguh merenungkan konsep ini. Kemungkinan
sangat banyak orang Kristen dan para rohaniwan yang belum menyadari hal ini. Hal
yang sudah nyata tercatat di dalam Alkitab, namun sangat banyak orang yang
belajar teologipun tidak menyadari hal itu. Apakah hak Tuhan yang tidak Dia
tuntut kepada kita?
Dari mulanya setelah Tuhan menciptakan
manusia, Dia memberitahukan hakNya dengan berfirman, “… Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,
tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah
kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”
(Kej. 2:16-17). Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan supaya Dia
dipermuliakan melalui hidup kita. Sebab dipermuliakan adalah merupakan hak
Tuhan. Dan sebaliknya manusia berkewajiban untuk memuliakan Tuhan. Namun fakta
dalam Alkitab mencatat, bahwa manusia lebih tertarik menuruti rayuan Iblis dan
mengabaikan perintah Tuhan. Hak Tuhan terabaikan dan tidak terlaksana dan
menyebabkan manusia harus masuk ke dalam kebinasaan kekal. Namun dengan
kenyataan yang demikian, Tuhan tidak memakai hakNya itu sebagai dasarNya untuk
menuntut manusia dalam kelemahannya. Sebab Hukum Taurat tidak diberikan sebagai
sarana manusia untuk membebaskan diri dari dosa, sekalipun Hukum Taurat itu
merupakan tuntutan-tuntutan dari Tuhan untuk manusia. Yang dilakukan Tuhan
adalah dengan kasih Dia melepaskan semua hakNya untuk mengasihi manusia. Itulah
sebabnya kepada jemaat di Filipi Paulus berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan
yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak
menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang
hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Flp. 2:5-7). Tuhan tidak menuntut
manusia untuk membebaskan diri dari dosa untuk layak masuk Surga. Sebaliknya
Tuhan turun dari Surga dan datang ke dunia dengan melepaskan semua hak
kehormatan dan kemuliaaNya. Setelah melepaskan semua hak kehormatan dan
kemuliaanNya itu, puncaknya Yesus harus menanggung dosa manusia di kayu salib.
Paulus berkata, “Dia yang tidak mengenal
dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita
dibenarkan oleh Allah.” (2 Kor. 5:21). Dan selanjutnya Paulus berkata
kepada jemaat di Galatia, “Kristus telah
menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita,
sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!”
(Gal. 3:13). Itulah konsep teologi yang harus kita ketahui dan harus
benar-benar kita sadari dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen.
Dalam hal hubungannya dengan hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan, kita jangan melupakan suatu peristiwa di taman Getsemani ketika Tuhan Yesus berdoa tentang cawan yang menggambarkan tanggung jawab yang harus ditanggungNya. Dengan jelas dan lugas dalam Alkitab tercatat tiga kali Yesus berdoa kepada Bapa dengan berkata, “… Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat. 26:39). Sungguh nyata bahwa Tuhan Yesus menyadari tanggung jawab yang ditanggungkan oleh Bapa kepadaNya sangat berat. Itulah sebabnya Dia berkata demikian. Namun perlu kita hayati anak kalimat yang Dia sebut, “janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”. Inilah pola pikir yang harus kita miliki, yaitu dengan rela kehilangan hak dan menyerahkan semua hak itu kepada Bapa di Surga, dengan berkata “biarlah kehendakMu yang jadi”. Berbahagialah orang yang kepadanya kehendak Tuhan benar-benar jadi. Inilah tujuan yang pertama, yaitu supaya nyata bahwa hidup yang kita jalani adalah kehendak Tuhan.
Kedua: Supaya tercapai tujuan
Paulus berkata, “Sungguhpun
aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang,
supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.” (1 Kor. 9:19). Tujuan
Paulus adalah untuk memenangkan jiwa sebanyak mungkin supaya percaya kepada
Kristus. Untuk mencapai tujuan itu dia tidak menjadi penguasa supaya bisa
mengendalikan orang lain, namun sebaliknya dia memposisikan dirinya sebagai
hamba, dan sesuai dengan ayat ini berkata, supaya dia memenangkan sebanyak
mungkin orang.
Pada umumnya orang beranggapan bahwa dengan –
jangankan kehilangan hak – bahkan hanya mengabaikan hak saja maka tujuan tidak
akan tercapai. Bagi kebanyakan orang bahwa kehilangan hak sama dengan
kehilangan harapan. Dengan pemikiran, sedangkan memiliki hak untuk dijadikan
alasan untuk mendapatkan sesuatu belum tentu tercapai, apalagi tidak memiliki
hak alias kehilangan hak! Tidak mungkin bagi kita untuk mengharapkan tujuan
tercapai. Sungguhkah demikian kenyataannya? Justru jika kita selalu menuntut
dengan perasaan berhak dan tanpa mau kehilangan hak, kita bukan hanya melakukan
yang sia-sia tapi sudah gagal total. Paulus mengakui, justru dengan menjadikan
dirinya sebagai hamba (hamba tidak memiliki hak sama sekali sesuai dengan
tradisi Yahudi saat itu), maka tujuannya tercapai, yaitu untuk memenangkan
banyak jiwa.
Siapapun kita dan sebagai apapun kita
sekarang ini, yang pasti semua orang menginginkan supaya tujuannya tercapai.
Konsep ini harus kita mengerti semaksimal mungkin, supaya kita benar-benar
menerapkan dalam hidup kita. Jika konsep ini kita terapkan dalam kehidupan kita
sebagai orang percaya, maka apapun tujuan dan yang kita harapkan akan terwujud
jika kita rela kehilangan hak. Ratusan kali tercatat dalam Alkitab, bahwa Allah
selalu menyertai umatNya. Bukankah sidang pembaca adalah umat Tuhan? Jika
pembaca adalah umat Tuhan berarti Allah menyertai. Oleh karena itu, jangan
ragukan penyertaan Tuhan. Jika Tuhan menghendaki kita untuk rela kehilangan
hak, maka Tuhan yang akan memberikan hak
itu sebagai tujuan yang kita capai. Jika tujuan tercapai oleh karena tuntutan
kita, itu adalah kedagingan. Paulus berkata, “… keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan
damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah …”
(Rom. 8:6). Tetapi jika tujuan kita tercapai oleh pertolongan Tuhan, inilah
kasih karunia dan hidup yang kekal. Berbahagialah mereka yang tercapai tujuannya
oleh pertolongan Tuhan dengan kasihNya.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, alangkah indahnya jika dalam kehidupan kita nyata kehendak Tuhan dan tujuan kita tercapai bukan karena selalu menuntut orang lain melainkan karena Tuhan yang mengaruniakannya kepada kita. Petrus berkata, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (I Pet.5:7). Kemenangan dipihak kita bukan karena menuntut orang, tapi karena menyerahkannya kepada Sang Penguasa alam semesta yaitu Yesus Kristus. Amin.
Pdt. Mangurup Siahaan
(Ketua Sinode Gereja Kabar Baik Indonesia // Ketua Sekolah Tinggi Teologi Kabar Baik)

Posting Komentar untuk "Melepaskan Hak: Pdt. Mangurup Siahaan (Ketum Sinode GKBI)"