zmedia

Melepaskan Hak: Pdt. Mangurup Siahaan (Ketum Sinode GKBI)

 

Ada apa dengan ‘hak’? Supaya kita dapat memahami ‘ada apa dengan hak’, terlebih dahulu kita harus mengeri apa arti hak. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, ‘hak’ adalah kekuatan/kekuasaan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh, segala sesuatu yang dipajang sebagai barang dagangan, kita berhak untuk membelinya selagi kita memiliki uang yang memadai sesuai dengan harga barang tersebut. Dengan sebaliknya, pedagang yang memiliki barang tersebut berkewajiban untuk menyerahkan barang tersebut untuk kita miliki setelah selesai transaksi pembelian sesuai dengan harga yang tertera. Contoh lain: seorang pelajar berhak mendapatkan pelajaran dari gurunya, dan jika gurunya tidak memberikan pelajaran kepada sang murid, maka sang murid berhak untuk menuntut sang guru. Dengan demikian, berarti yang ada dibalik hak adalah tuntutan demi tuntutan. Oleh karena itu, biasanya orang yang memiliki atau merasa berhak atas sesuatu akan selalu terdorong untuk menuntut. Orang itu akan selalu tidak puas jika ‘hak’nya tidak terwujud. Orang itu akan merasa dibodoh-bodohi jika haknya tidak menjadi miliknya. Dalam hati, orang itu akan berkata ‘tidak’, … aku harus menuntut.

Sebaliknya orang yang merasa tidak berhak, akan diam seribu bahasa. Dengan pasti dia merasa tidak memiliki dalil untuk menuntut. Dia akan menerima kenyataan sekalipun dia tidak mendapat apa-apa. Sebab dia sungguh-sungguh tidak berhak. Orang itu akan berkata dalam hatinya, ‘seharusnya aku diam’, sebab dia menyadari bahwa dirinya tidak mempunyai hak untuk menuntut. Yang merasa tidak berhak akan diam, sedangkan yang merasa berhak akan selalu menuntut. Demikianlah hak itu akan menjadi kekuatan untuk menuntut.

Dalam nats di atas (1 Kor. 9:1-18), Paulus menerangkan bahwa sebagai seorang rasul, dia memiliki hak untuk mendapatkan kebutuhannya dari pelayanan yang dia laksanakan. Artinya jemaat wajib memikirkan kehidupannya sehari-hari. Itulah sebabnya dia berkata, “Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.” (1 Kor. 9:14). Dengan demikian berarti dia berhak. Dia memiliki kekuatan untuk menuntut sesuatu yang berhubungan dengan dirinya sebagai seorang pelayan dari orang yang dilayaninya. Namun demikian, dia lebih memilih kehilangan hak. Bahkan dia berkata, “Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya aku pun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada ...! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapa pun juga!” (1 Kor. 9:15). Anak kalimat yang berkata “Sebab aku lebih suka mati dari pada ...!”, dalam terjemahan lain dikatakan, ‘sebab aku lebih baik mati dari pada dirusak oleh hakku’.

Paulus menyadari bahwa banyak orang yang rusak oleh karena hak-hak yang dimilikinya. Sebab biasanya hak-hak itu selalu mendorong kita untuk terus menuntut, menuntut dan menuntut. Bahkan lebih lanjut Paulus berkata, “Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.” (1 Kor. 9:18). Dengan berkata demikian berarti, sekalipun dia berhak untuk menuntut kebutuhannya sehari-hari dari jemaat yang dilayaninya, tetapi dia lebih suka untuk tidak mempergunakan haknya. Itulah sebabnya dia katakan bahwa upahnya tanpa upah. Inilah yang dimaksud dengan kehilangan hak. Artinya Rasul Paulus mengaku lebih suka kehilangan hak. Dengan tegas dia berkata bahwa upahnya adalah tanpa upah. Apa tujuannya dia berkata begitu? Kenapa harus rela kehilangan hak? Ada 2 tujuan, kenapa kita harus kehilangan hak:

Pertama: Supaya nyata bahwa hidup yang kita jalani adalah kehendak Tuhan  (band. ay. 16-17)

Kita hidup bukan dalam kehendak kita tetapi atas kehendak Tuhan. Kita mendapat panggilan Tuhan untuk menghidupi hidup kita di dunia ini. Kita mengharapkan segala sesuatu dari Tuhan dan bukan dari manusia sesuai dengan tuntutan kita. Jika Paulus mengaku bahwa dirinya dipanggil Tuhan untuk suatu pekerjaan (dalam hal ini sebagai pemberita Injil) kita pun sebagai orang yang sama dengan Paulus, yaitu sama-sama pengikut Kristus, mendapatkan panggilan dari Tuhan sebagaimana kita sekarang bekerja.

Jika Paulus mengaku tidak berhak untuk mendapat upah dari apa yang dia lakukan – karena pekerjaan itu adalah dari Tuhan – maka kitapun sama halnya, tidak perlu selalu menuntut-nuntut hak dalam segala hal dari setiap yang kita lakukan. Setiap orang yang tidak menuntut pasti akan mendapat jika Tuhan yang mempercayakan kepadanya. Jika kita mendapat karena menuntut maka itu bukanlah hasil pemberian Tuhan melainkan hasil dari usaha kita dengan menuntut. Dan kalau kita selalu menuntut maka kehendak Tuhan tidak akan pernah nyata dalam kehidupan kita. Sebaliknya dengan tidak menuntut, tetapi kita mendapat, maka nyatalah kehendak Tuhan dalam hidup kita.

Jika kita hubungkan dengan konsep teologi Kristen, hal kehilangan hak adalah sesuatu yang benar-benar teologis. Kita harus menyadari dengan benar, bahwa Tuhan tidak menuntut hakNya kepada kita. Sekilas mungkin banyak orang yang tidak setuju dengan pernyataan ini. Sangat diharapkan supaya kita sungguh-sungguh merenungkan konsep ini. Kemungkinan sangat banyak orang Kristen dan para rohaniwan yang belum menyadari hal ini. Hal yang sudah nyata tercatat di dalam Alkitab, namun sangat banyak orang yang belajar teologipun tidak menyadari hal itu. Apakah hak Tuhan yang tidak Dia tuntut kepada kita?

Dari mulanya setelah Tuhan menciptakan manusia, Dia memberitahukan hakNya dengan berfirman, “… Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kej. 2:16-17). Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan supaya Dia dipermuliakan melalui hidup kita. Sebab dipermuliakan adalah merupakan hak Tuhan. Dan sebaliknya manusia berkewajiban untuk memuliakan Tuhan. Namun fakta dalam Alkitab mencatat, bahwa manusia lebih tertarik menuruti rayuan Iblis dan mengabaikan perintah Tuhan. Hak Tuhan terabaikan dan tidak terlaksana dan menyebabkan manusia harus masuk ke dalam kebinasaan kekal. Namun dengan kenyataan yang demikian, Tuhan tidak memakai hakNya itu sebagai dasarNya untuk menuntut manusia dalam kelemahannya. Sebab Hukum Taurat tidak diberikan sebagai sarana manusia untuk membebaskan diri dari dosa, sekalipun Hukum Taurat itu merupakan tuntutan-tuntutan dari Tuhan untuk manusia. Yang dilakukan Tuhan adalah dengan kasih Dia melepaskan semua hakNya untuk mengasihi manusia. Itulah sebabnya kepada jemaat di Filipi Paulus berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Flp. 2:5-7). Tuhan tidak menuntut manusia untuk membebaskan diri dari dosa untuk layak masuk Surga. Sebaliknya Tuhan turun dari Surga dan datang ke dunia dengan melepaskan semua hak kehormatan dan kemuliaaNya. Setelah melepaskan semua hak kehormatan dan kemuliaanNya itu, puncaknya Yesus harus menanggung dosa manusia di kayu salib. Paulus berkata, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2 Kor. 5:21). Dan selanjutnya Paulus berkata kepada jemaat di Galatia, “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Gal. 3:13). Itulah konsep teologi yang harus kita ketahui dan harus benar-benar kita sadari dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen.

Dalam hal hubungannya dengan hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan, kita jangan melupakan suatu peristiwa di taman Getsemani ketika Tuhan Yesus berdoa tentang cawan yang menggambarkan tanggung jawab yang harus ditanggungNya. Dengan jelas dan lugas dalam Alkitab tercatat tiga kali Yesus berdoa kepada Bapa dengan berkata, “… Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat. 26:39). Sungguh nyata bahwa Tuhan Yesus menyadari tanggung jawab yang ditanggungkan oleh Bapa kepadaNya sangat berat. Itulah sebabnya Dia berkata demikian. Namun perlu kita hayati anak kalimat yang Dia sebut, “janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”. Inilah pola pikir yang harus kita miliki, yaitu dengan rela kehilangan hak dan menyerahkan semua hak itu kepada Bapa di Surga, dengan berkata “biarlah kehendakMu yang jadi”. Berbahagialah orang yang kepadanya kehendak Tuhan benar-benar jadi. Inilah tujuan yang pertama, yaitu supaya nyata bahwa hidup yang kita jalani adalah kehendak Tuhan. 

Kedua: Supaya tercapai tujuan

Paulus berkata, “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.” (1 Kor. 9:19). Tujuan Paulus adalah untuk memenangkan jiwa sebanyak mungkin supaya percaya kepada Kristus. Untuk mencapai tujuan itu dia tidak menjadi penguasa supaya bisa mengendalikan orang lain, namun sebaliknya dia memposisikan dirinya sebagai hamba, dan sesuai dengan ayat ini berkata, supaya dia memenangkan sebanyak mungkin orang.

Pada umumnya orang beranggapan bahwa dengan – jangankan kehilangan hak – bahkan hanya mengabaikan hak saja maka tujuan tidak akan tercapai. Bagi kebanyakan orang bahwa kehilangan hak sama dengan kehilangan harapan. Dengan pemikiran, sedangkan memiliki hak untuk dijadikan alasan untuk mendapatkan sesuatu belum tentu tercapai, apalagi tidak memiliki hak alias kehilangan hak! Tidak mungkin bagi kita untuk mengharapkan tujuan tercapai. Sungguhkah demikian kenyataannya? Justru jika kita selalu menuntut dengan perasaan berhak dan tanpa mau kehilangan hak, kita bukan hanya melakukan yang sia-sia tapi sudah gagal total. Paulus mengakui, justru dengan menjadikan dirinya sebagai hamba (hamba tidak memiliki hak sama sekali sesuai dengan tradisi Yahudi saat itu), maka tujuannya tercapai, yaitu untuk memenangkan banyak jiwa.

Siapapun kita dan sebagai apapun kita sekarang ini, yang pasti semua orang menginginkan supaya tujuannya tercapai. Konsep ini harus kita mengerti semaksimal mungkin, supaya kita benar-benar menerapkan dalam hidup kita. Jika konsep ini kita terapkan dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, maka apapun tujuan dan yang kita harapkan akan terwujud jika kita rela kehilangan hak. Ratusan kali tercatat dalam Alkitab, bahwa Allah selalu menyertai umatNya. Bukankah sidang pembaca adalah umat Tuhan? Jika pembaca adalah umat Tuhan berarti Allah menyertai. Oleh karena itu, jangan ragukan penyertaan Tuhan. Jika Tuhan menghendaki kita untuk rela kehilangan hak,  maka Tuhan yang akan memberikan hak itu sebagai tujuan yang kita capai. Jika tujuan tercapai oleh karena tuntutan kita, itu adalah kedagingan. Paulus berkata, “… keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah …” (Rom. 8:6). Tetapi jika tujuan kita tercapai oleh pertolongan Tuhan, inilah kasih karunia dan hidup yang kekal. Berbahagialah mereka yang tercapai tujuannya oleh pertolongan Tuhan dengan kasihNya.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, alangkah indahnya jika dalam kehidupan kita nyata kehendak Tuhan dan tujuan kita tercapai bukan karena selalu menuntut orang lain melainkan karena Tuhan yang mengaruniakannya kepada kita. Petrus berkata, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (I Pet.5:7). Kemenangan dipihak kita bukan karena menuntut orang, tapi karena menyerahkannya kepada Sang Penguasa alam semesta yaitu Yesus Kristus. Amin.

Pdt. Mangurup Siahaan

(Ketua Sinode Gereja Kabar Baik Indonesia // Ketua Sekolah Tinggi Teologi Kabar Baik)

Posting Komentar untuk "Melepaskan Hak: Pdt. Mangurup Siahaan (Ketum Sinode GKBI)"