Kata
dahsyat dan ajaib selalu dipergunakan untuk menjelaskan hal yang tidak biasa. Jika
hal tersebut kita sebut ajaib berarti sesuatu hal itu ganjil atau ‘aneh’. Yang
namanya ganjil atau aneh sudah pasti hal itu tidak seperti biasanya, dan kita
sering menyebut hal semacam itu dengan sebutan luarbiasa. Demikianlah arti dari
kedua kata dahsyat dan ajaib, yang kemudian kita simpulkan dengan satu kata yakni;
luarbiasa. Jika kita berbicara tentang kata dahsyat dan ajaib, maka orang pada
lazimnya akan menghubungkan hal itu kepada perkara kesembuhan, bencana alam, peperangan,
kemenangan, dsb. Tetapi, sedikit orang yang mau membahas mengenai kelahiran
sebagai hal yang luar biasa! Mereka mengira bahwa kelahiran adalah perkara yang
biasa saja, tidak ada sesuatu yang ajaib di sana.
Saya
yakin, kenyataan miris di atas itu dapat terjadi dikarenakan tidak adanya
pengertian tentang siapa yang berkarya di balik kelahiran seorang anak. Banyak
orang berpikir bahwa dirinya yang menentukan kelahiran seorang anak bayi. Sebab
itu, bagi orang tersebut tidak ada hal yang luarbiasa, atau hal yang dahsyat
dan ajaib di sana, karena mereka beranggapan bahwa semua orang mengalami hal
yang sama sebagai seorang ibu. Ini adalah pemikiran yang salah, dan bertentangan
dengan iman Kristen. Itu sebabnya tidak heran begitu banyak anak-anak hasil
perzinahan yang tidak dianggap dan dihina, bahkan tidak sedikit janin yang
diaborsi. Tentu kita tidak memandang hal ini dari sudut pandang nihilisme, seolah-olah
hal tersebut terjadi hanya semata-mata oleh keputusan tangan manusia belaka; melainkan
semua yang terjadi tersebut tetap ada dalam rencana kehendak Allah yang
berdaulat, yang mengatur segala sesuatu di tengah dunia ini.
Jika
demikian, kita sebagai orang Kristen harus mengerti bahwa kelahiran merupakan kejadian
yang luarbiasa, dahsyat dan ajaib. Itu dikarenakan Allah Sang Pencipta langit
dan bumi, Dialah yang menjadikannya. Mari kita kembali merenungkan sejarah
kehidupan kita dahulu, pada saat pertama kali kita menghirup nafas dan
menghembuskannya kembali; sejak dari kandungan hingga kita dilahirkan. Sebagai
orang percaya, kita adalah orang-orang yang lahir ke dunia ini oleh karena
pekerjaan-Nya. Dan sekarang marilah kita
melihat dua pekerjaan yang Ia lakukan dalam kelahiran kita:
Pertama: Allah Bertindak secara Pribadi
kepada kita (ay 13,15)
Tindakan Allah atas hidup orang percaya
merupakan tindakan-Nya secara pribadi. Artinya Ia bertindak atas hidup kita,
mulai dari hal terkecil hingga terbesar, tanpa terkecuali. Pada saat kita masih
di dalam kandungan ibu, dikatakan bahwa buah pinggang kita dibentuk dan
ditenun, tulang-tulang kita juga tidak luput dari tenunan tangan Allah. Kenyataan
ini merupakan tindakan Allah di dalam tempat yang tersembunyi, yang tak bisa
dilihat dengan kasat mata oleh manusia. Mari kita melihat apa yang dikatakan
oleh pemazmur “Sebab Engkaulah yang
membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku”.
Di sini pemazmur Daud menyadari tentang kemahahadiran Allah
yang tak bisa ia elakkan. Bahkan bukan hanya kehadiran-Nya, tapi kehadiran-Nya yang
bekerja dalam kehidupannya; dari sejak dalam kandungan ibunya hingga pada saat
ia lahir dan sampai pada saat dia
menuliskan mazmur tersebut. Ini merupakan pengakuan Daud yang begitu indah dan
tak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Sebab kemahahadiran Allah adalah perkara
yang tak bisa kita elakkan. Melanjutkan hal yang ingin kita bahas di sini, perihal
Allah bertindak secara pribadi, itu merupakan hal yang Daud sadari. Ia
menyadari bahwa Allah bertindak untuk membuat dia ada, dari sejak dalam
kandungan ibunya. Oleh karena itu, jangan pernah kita mengira bahwa Allah hanya
bertindak atas kehidupan kita hanya pada saat kita menjadi percaya, melainkan
dari sejak kita berada di dalam kandungan ibu kita, bahkan jauh dari itu;
sebelum segala sesuatu ada. Ini merupakan doktrin yang harus diingat. Jika
tidak, kita tidak akan pernah sungguh-sungguh dapat meresapi betapa dalamnya
kasih dan penyertaan Allah atas kehidupan kita.
Jadi, saat seorang anak bayi berada dalam kandungan, sesungguhnya
di sana Allah menenunnya, membentuk ia, dan menjaganya; hingga ia menjadi
seorang anak manusia yang lahir dan melihat dunia serta hidup dalam dunia untuk
memuliakan Allah. Hal ini harus di sadari, bahwa kita ada di tengah dunia ini
adalah karena pekerjaan Allah.
Jika poin sebelumnya adalah pembahasan tentang tindakan
Allah pada saat seorang anak masih berada di dalam kandungan, kini kita
melanjutkan pembahasan mengenai tindakan Allah dalam mempersiapkan masa depan
setelah kelahiran. Dikatakan “mata Mu
melihat selagi aku bakal anak”, ini adalah tindakan Allah selama di dalam
kandungan, namun dilanjutkan “dalam kitab-Mu
semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari
padanya”. Ini adalah ungkapan kejujuran dari seorang pemazmur ulung, yakni
Daud. Dimana ia yakin dan sadar, bahwa kehidupan yang akan ia lewati sewaktu ia
masih di dalam kandungan ibunya dahulu, sesungguhnya sudah dibuat oleh Allah di
dalam rencana-Nya, meskipun hari-hari itu belum ada dan terjadi. Ini merupakan
hal yang penting agar kita mengerti betapa berharganya kelahiran seseorang,
mungkin itu adalah adik kita, anak kita, atau bahkan diri kita sendiri.
Kehadiran kita bukan karena kebetulan, melainkan rencana dari Allah. Bahkan
hari-hari kita telah dirancangkan sedemikian rupa, yang kemudian tergenapi di
dalam kehidupan kita. Ini merupakan doktrin kedaulatan Allah yang sangat indah
tuk kita renungkan bersama!
Baca juga:
* Ingat Selalu Akan Perbuatan Tuhan
Jika demikian, mungkinkah ada sesuatu di dalam kehidupan
kita ini yang tersembuyi dimata-Nya? Tentu tidak. Karena kelahiran seseorang saja
sudah merupakan karya Allah sepenuhnya, apalagi segala yang terjadi kemudian!
Oleh karena itu, seharusnya kita seperti Daud yang berkata diayat ke 14 “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena
kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar
menyadarinya”. Bersyukurlah kepada Allah oleh karena kejadian kita itu
dahsyat dan ajaib. Amin
Oleh: Pdt. Theos M. Purba

Posting Komentar untuk "Renungan Tentang Arti Kelahiran"