(Sebuah Perenungan Ketika Harus Merelakan Sesuatu dari
Bagian Hidup ku untuk Dapat Memulai Apa yang Terbaik kedepan)
Sejak dahulu, ketika Engkau merajut
langkah hidup ku
Membawa nya pada apa yang disebutkan
sebagai;
Penyerahan, Pengabdian dan
Pengorbanan
Serta menyingkirkan segala apapun
yang dapat merintangi pekerjaan Mu
Aku telah belajar untuk melepaskan sesuatu
yang sering disebut sebagai;
Bagian ku, hak ku, kepunyaan ku dan
milik dalam hidup ku
Dengan tidak mengungkit-ungkit
Namun dengan rela hati menganggap itu
semua justru sebagai kebanggaan!
Bagaimana jika sesuatu itu baru saja
kita miliki dalam waktu yang cukup singkat?
Haruskah daku rela menontonnya dan
membiarkan nya pergi dibawa sayap nya sendiri?
Bagaimana jika sesuatu itu harus ku
biarkan berkelanan
Atas dasar perintah, pemikiran dan
perenungan ku sendiri yang terlalu larut panjang?
Bisakah aku berkata bahwa mungkin
masih ada jalan yang lain?
Bolehkah aku berseru kepada jiwa ku
untuk segera beralih dari pikiran itu!
Lalu mencoba menunggu, menunggu, dan
menunggu
Sampai aku dapat melihat ada sebuah
keajaiban yang mustahil bagi ku?
Yah..., iman ku memang berkata
demikian!
Keyakinan ku teguh berpegang pada
kedaulatan Allah yang mutlak...
Bahkan aku lebih yakin dari banyak
orang lainnya,
Bahwa satu kedipan mata ku adalah
Perintah-Nya yang mulia!
Aku juga percaya bahwa tidak ada satu
inci pun di bawah kolong langit ini
Dapat bergerak tanpa Pekerjaan Tangan
Sang Ilahi yang tidak tampak
Apalagi untuk persoalan seringan ini;
bagi Dia...
Dan persoalan yang terlalu berat ini;
bagi ku...
Ia dapat dengan sekejap mata
mengubahkan
Bahkan sesaat daku menutup mata untuk
terlelap dalam mimpi!
Ia juga bisa membuat ku kuat untuk
tetap mempertahankan
Sekalipun daku harus tersungkur dalam
sebuah penderitaan jiwa yang tertekan!
Namun...,
Apakah yang harus aku katakan dan
lakukan saat ini?
Dapatkah aku terdiam dan menanti
saja?
Lalu berkata “Sudah, semua akan
baik-baik saja”
Sementara aku mau remuk rasanya!
Sampai aku terkadang melamun dalam
perenungan yang panjang
Tubuh ku bergerak dan jiwa ku diam
Raga ku terlihat, sementara jiwa ku
terselimuti oleh kehancuran yang mendalam!
Sementara penantian sudah cukup
lama...
Sementara aku tidak dapat berharap
kepada anak manusia siapapun!
Aku tidak bisa menunggu lebih lama
lagi
Hingga sebuah duka kan tercipta tanpa
ada yang ingin mengundangnya untuk menghampiri
Oleh sebab itu ya jiwa ku
Aku mau berkata kepada mu...
Dengarlah... dengarlah...,
perhatikanlah dengan seksama!
Perkataan ku ini tidak pernah aku
ucapkan sebelumnya kepada mu;
Mari engkau lepaskan...
Dan terimalah apa yang baru yang akan
Bapa berikan pada mu!
Mari engkau relakan...
Maka jiwa mu akan terbang bersama
Malaikat-Nya dalam kenikmatan
Engkau tidak akan lagi ditekan
olehnya
Oleh karena engkau mengambil
keputusan untuk mengakhiri,
Engkau akan ringan dalam langkah mu
Kedepan akan terarah mata mu dan
tidak kebelakang!
Tidak akan ada tuntutan yang begitu
membebani
Sebab apa yang engkau lepaskan adalah
cara supaya dapat meringankan beban itu,
Percayalah bahwa engkau bisa
Dan Ia akan berikan kekuatan untuk
engkau rela melepaskan!
Melepaskan adalah cara satu-satunya
untuk dapat menerima!
Ketika aku pergi dari nya, maka ia
akan tetap menjadi milik ku
Tetapi ketika ia yang pergi dari
hidup ku, maka aku dapat belajar merelakannya!
Walau berharga, walau baru di pagi
hari ku miliki dan harus melepasnya di malam itu juga...
Ini Aku lakukan dengan penuh
perenungan dan pertimbangan
Kini telah sampai pada kesimpulannya
Sebab melepaskan ini, adalah awal
yang baik untuk memulai yang baru
Melepaskan ini, adalah cara untuk aku
dapat melangkah ke depan dengan penuh kefokusan!
Bapa..., Ku serahkan pada Mu
Jadilah kehendak Mu!
Aku hendak terbang bersama Mu
Dalam sebuah melodi hidup yang penuh
irama yang mempesona!
Yer, 25 Januari 2020

Posting Komentar untuk "Sebuah Sajak : "Melepaskan dan Menerima Sesuatu yang Baru""