Postingan saya kali ini adalah membagikan cuplikan dialog saya bersama salah satu Pendeta dan dosen teologi yang luar biasa di pakai oleh Tuhan, ketika dahulu pada tahun 2016 saya baru saja menyelesaikan studi teologi dan sangat semangat untuk berdialog dengan banyak orang! Kami membahas sebuah topik tentang hak seorang pemberita Injil berdasarkan tulisan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 9. Dialog tersebut berlangsung via whatsApp selama 4 hari dan berlangsung dengan penuh kasih dan kelembutan. Beliau adalah salah satu guru bagi saat saat itu (tentu hingga saat ini juga), sekalipun tidak pernah mengajar secara langsung di bangku kuliah tetapi pada tahun 2013 saya secara rutin setiap minggu menghadiri kebaktian di gereja yang beliau pimpin, mendengarkan kotbah-kotbahnya yang membangun iman dan penuh dengan kekayaan teologis.
Dialog tersebut tercipta oleh karena saya meresponi tulisan nya yang berjudul "KABAR BAIK UNTUK PEMBERITA INJIL" yang beliau posting di salah satu grup saat itu. Oleh sebab itu di bawah ini saya cantumkan terlebih dahulu tulisannya baru di lanjutkan pada percakapan kami. Semua percakapan ini tidak saya edit kembali agar menjaga keasliannya ya. Oh ya, percakapan ini waktu itu saya salin dan saya simpan di microsoft word yang terjaga hingga saat ini.
Ketika mencoba untuk membaca kembali dialog ini serta mengenang masa-masa tersebut ada beberapa hal yang timbul di hati saya:
1. Saya rindu ingin kembali pada masa-masa studi teologi dulu! Mengenang semua perjuangan kuliah, belajar bersama para pendahulu yang luar biasa, saling berdiskusi dan bahkan berdebat dengan serius soal hal-hal teologis. Tetapi semua ini telah berlalu dan kini menjadi kenangan yang berharga untuk di ambil pelajarannya.
2. Ingin berjumpa kembali dengan mereka yang dahulu telah mengajarkan banyak hal kepada saya selama di bangku kuliah. Mengajar saya untuk mengerti kehendak Tuhan, memahami kedalaman teologi dan setia kepada pekerjaan Tuhan sampai akhir. Mereka mengajarkan ku tentang arti sebuah pelayanan dan membuat daku bisa sampai saat ini melayani Tuhan.
3. Terkadang ingin juga berdialog kembali seperti itu, karena belakangan ini sibuk sekali dengan pelayanan penggembalaan dan misi penginjilan di daerah. Saya lebih sering mengunjungi jemaat dan pelayanan ke kampung-kampung. Lebih sering berkotbah dan mengajar, lebih sering berbicara ketimbang berdialog. Sudah jarang membaca buku-buku teologi lagi, yang dahulu menjadi kesukaan (hingga saat ini jika saya tidak salah hitung, saya punya sekitar 800 eksemplar buku).
4. Ternyata pembahasan saya soal hak waktu itu telah menjadi salah satu hal yang utama yang saya seirng bicarakan saat ini. Di Gereja yang saya pimpin, saya sendiri sudah hampir 4 kali mengkotbahkan "Kehilangan Hak" kepada jemaat dan terus saya ulang-ulang! Sungguh pembicaraan topik Hak saat itu telah menjadi warna kehidupan saya saat ini.
Sekarang mari kita membaca kisahnya di bawah ini:
Dialog tersebut tercipta oleh karena saya meresponi tulisan nya yang berjudul "KABAR BAIK UNTUK PEMBERITA INJIL" yang beliau posting di salah satu grup saat itu. Oleh sebab itu di bawah ini saya cantumkan terlebih dahulu tulisannya baru di lanjutkan pada percakapan kami. Semua percakapan ini tidak saya edit kembali agar menjaga keasliannya ya. Oh ya, percakapan ini waktu itu saya salin dan saya simpan di microsoft word yang terjaga hingga saat ini.
Ketika mencoba untuk membaca kembali dialog ini serta mengenang masa-masa tersebut ada beberapa hal yang timbul di hati saya:
1. Saya rindu ingin kembali pada masa-masa studi teologi dulu! Mengenang semua perjuangan kuliah, belajar bersama para pendahulu yang luar biasa, saling berdiskusi dan bahkan berdebat dengan serius soal hal-hal teologis. Tetapi semua ini telah berlalu dan kini menjadi kenangan yang berharga untuk di ambil pelajarannya.
2. Ingin berjumpa kembali dengan mereka yang dahulu telah mengajarkan banyak hal kepada saya selama di bangku kuliah. Mengajar saya untuk mengerti kehendak Tuhan, memahami kedalaman teologi dan setia kepada pekerjaan Tuhan sampai akhir. Mereka mengajarkan ku tentang arti sebuah pelayanan dan membuat daku bisa sampai saat ini melayani Tuhan.
3. Terkadang ingin juga berdialog kembali seperti itu, karena belakangan ini sibuk sekali dengan pelayanan penggembalaan dan misi penginjilan di daerah. Saya lebih sering mengunjungi jemaat dan pelayanan ke kampung-kampung. Lebih sering berkotbah dan mengajar, lebih sering berbicara ketimbang berdialog. Sudah jarang membaca buku-buku teologi lagi, yang dahulu menjadi kesukaan (hingga saat ini jika saya tidak salah hitung, saya punya sekitar 800 eksemplar buku).
4. Ternyata pembahasan saya soal hak waktu itu telah menjadi salah satu hal yang utama yang saya seirng bicarakan saat ini. Di Gereja yang saya pimpin, saya sendiri sudah hampir 4 kali mengkotbahkan "Kehilangan Hak" kepada jemaat dan terus saya ulang-ulang! Sungguh pembicaraan topik Hak saat itu telah menjadi warna kehidupan saya saat ini.
Sekarang mari kita membaca kisahnya di bawah ini:
KABAR BAIK UNTUK PEMBERITA INJIL
(oleh: Tjepy Jones) [8/12, 22:06]
Injil adalah power yang sangat dahsyat lebih dari bom nuklir
dan segala jenis power yang ada. Memberitakan Injil itu memerlukan biaya yang
besarnya tergantung ukuran yang Tuhan percayakan kepada masing-masing pelayan
Tuhan. Karena dampak pemberitaan Injil akan banyak sekali, yang jelas akan
terjadi peningkatan kualitas hidup manusia dimanapun injil diberitakan. Disisi lain Alkitab juga menulis
bahwa memberitakan Injil itu adalah upah, artinya seorang pemberita Injil harus
mau diisi dan juga mengerti kebenaran Injil ini dari Tuhan terlebih dahulu,
baru layak mendapatkan upah ini. Para murid Yesus mendapatkan upah ini
setelah mereka belajar 3,5 tahun bersama Yesus. Paulus sendiri belajar dari
pewahyuan, di Galatia 1:11” Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku,
bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan
menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku,
tetapi aku menerimanya oleh penyataan(pewahyuan) Yesus Kristus”.
Kepada jemaat Tesalonika Paulus berkata, I Tesalonika 2:4:
"Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan
Injil kepada kami....". Mengapa upah?, alasannya sederhana saja, Injil
adalah kuasa (power) Allah dan power ini akan menjadi tidak efektif bekerja jika
di handel dengan cara yang salah. Hanya 2 alasan mengapa Injil tidak bekerja
sempurna, yang pertama karena ketidak percayaan, yang kedua karena pembawa
beritanya error.
Lalu kalau kita dapat upah kemudian disuruh membiayai upah
itu, bagaimana jadinya.....?!,apakah jadi tergantung pada kekayaan/kemampuan si
pemberita injil..?!, inilah kabar baiknya, I
Kor. 9:18:"....upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan injil
tanpa biaya.”. saya ganti kata
"upah" dikalimat terakhir dengan kata "tanpa biaya" karena
itulah yang tertulis dalam bahasa aslinya, dalam Amplified Bible ditulis
"free of expenses". Lalu siapakah yang membiayai pemberitaan Injil di
Korintus yang Paulus lalukan?, II Kor 11:7-8:"Apakah aku berbuat salah,
jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan Injil
Allah kepada kamu dengan cuma-cuma? Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan
menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu!" , di ayat
selanjutnya dikatakan bahwa jemaat di MAKEDONIA yang mencukupkan keperluan
pelayanan Paulus.
Lalu siapa jemaat Makedonia ini? Kalau kita baca II Kor. 8,
inilah jemaat yang sebetulnya miskin tetapi yang terkena dampak power dari
injil kasih karunia yang diberitakan Paulus, sehingga sukacita mereka meluap
dan kemudian memaksa Paulus agar mereka boleh ambil bagian dalam pelayanan
orang kudus di Korintus, mereka memberi lebih dari kemampuan mereka (ayat3)
wow!!…, inilah akibatnya kalau power bekerja, karena seorang pemberita Injil
hidup dari dampak pemberitaan Injil itu adalah suatu ketetapan Allah yang
merupakan suatu Kebenaran mutlak (IKor 9:14). Pemberitaan Injil adalah tugas
dari Kerajaan Allah, maka Kerajaan Allahlah yang akan menanggung biayanya,
karena kalau tidak maka secara naluri seorang pemberita injil akan memakai
cara-cara dunia untuk membiayai pekerjaan Kerajaan Allah ini. Cara-cara dunia
ini yang disebut sebagai hidup dalam daging yang menghasilkan perbuatan daging
yaitu, iri hati, kecemaran, kepentingan diri, roh pemecah,dll.. (Gal. 5:20)
Paulus memang tidak mempergunakan haknya di Korintus tetapi Allah tidak
membiarkan Paulus hidup diluar Kebenaran Allah ini, dan Allah memakai jalur
jemaat Makedonia. Paulus tahu betul hal ini dan Pulus juga bermegah dalam
kebenaran ini, II Kor 11: 9 Dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah
kamu, aku tidak menyusahkan seorangpun, sebab apa yang kurang padaku,
dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia. Dalam segala hal
aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu, dan aku akan tetap
berbuat demikian”, Paulus akan tetap berbuat seperti itu karena dia tahu itulah
hidup dalam kebenaran.
Betapa bahagianya hidup kita ini sebagai pemberita kabar
baik karena memiliki power yang maha dahsyat ini dan mari kita bertekun terus
didalam pewahyuan akan Injil Yesus Kristus sampai Tuhan datang agar kita tetap
dianggap layak sebagai pemberita InjilNya sampai Dia datang kembali. AMIN.
Hari ke 1
[8/12, 22:06] Yer. Purba: Shalom pak...!
[8/12, 22:06] Yer.
Purba: Tertarik untuk mendiskusikan tulisan bapak ini...!!!
[8/12, 22:07] Pdt Tjeppy: Boleh Theos...
[8/12, 22:09] Yer. Purba: Pertama..., ini pak : Bpk katakan
di sisi lain Alkitab menulis bhwa memberitakan Injil adalah upah! Berdasarkan itu, yg menjadi upahnya adalah
memberitakan Injil....! Di mnakah letak datanya pak?
[8/12, 22:16] Pdt Tjeppy: di I kor 9:18 itu ada 2 kata upah,
yg pertama dipakai kata misthos artinya upah, tp yg kedua dipakai kata adapanos
artinya without expenses, jadi kalau dibaca upahku adalah memberitakan injil...
[8/12, 22:17] Pdt Tjeppy: tapi yang tanpa ekspenses, karena
kerajaan Allahlah yang akan atur sistem pembiayaannya..
[8/12, 22:40] Yer. Purba: Oh iya pak. Saya setuju dgn arti
dri teks Yunani. Memang demikian. Saya cek juga benar. Namun kenapa jadi di
baca "upahku adalah memberitakan injil" dan bukan "memberitakan
injil tanpa biaya"...?
[8/12, 22:41] Yer. Purba: Yg saya maksud adalah yg menjadi
upah? Kenapa bukan upahku ialah ini: memberitakan injil tanpa biaya?
[8/12, 22:44] Pdt Tjeppy: nah itu benar ada titik
duanya...jd memberitakan injil tanpa biaya itu satu kesatuan upah...
[8/12, 22:45] Pdt Tjeppy: trus yang diayat I tes diatas juga
ada kata "dianggap layak", ya itu maknanya sama
[8/12, 22:48] Pdt Tjeppy: intinya theos, memberitakan injil
itu kan perlu biaya, dan kita nggak mungkin minta-minta sama orang...
[8/12, 22:49] Pdt Tjeppy: tapi karena tugas itu diberikan
kepada kita karena kita dianggap layak ....plus full support dari kerajaan
Allah, itulah yang dimaksud oleh Paulus.
[8/12, 22:50] Pdt Tjeppy: sebagi upah
[8/12, 22:51] Pdt Tjeppy: karena kalau tidak menginjil
celaka aku katanya....tp biayanya bagaimana?
Hari ke 2
[8/13, 10:41] Pdt Tjeppy: Shalom Theos, tulisan saya
mengenai ELia & Musa yang saya share di Group sinode udah dapat belum?
[8/13, 10:41] Pdt Tjeppy: Kalau tertarik bisa saya
forward...
[8/13, 17:54] Yer. Purba: Pak, melanjut disksi kita semalam.
Yg saya pikirkan mengenai ayt 18 adalah begini pak: Bahwa yg menjadi upah
Paulus adalah tanpa upah/tanpa biaya (sya lihat hakikatnya sama saja pak antara
tanpa upah dn tanpa biaya, tdk ada perbedaan yg signifikan yg menjadikan ada
perbedaan yg jauh). Dan bukan memberitakan Injil nya. Sebab dia sudah katakan
bahwa tugas pemberitaan itu adalah yg di percyakan kpd nya (panggilan Tuhan)
sehingga ia sampai berkata : celaka jika tdk britakan Injil, krna itu
keharusnya baginya; alasannya karena sdh di percayakan.
[8/13, 17:56] Yer. Purba: Apa kurang tepat ya pak, jika di
katakan bahwa upah nya adalah memberitakan Injil! Sementara konteks pembicaraan
Paulus dsna jelas menyinggung kpd perkara jasmani/lahiriah... dan bukannya upah
yg bersifat rohaniah/abstrak....!
[8/13, 17:57] Yer. Purba: Bagaimana menurut bpk?
[8/13, 17:57] Yer. Purba: 😊😊
[8/13, 18:04] Pdt Tjeppy: tepat atau tidak tepat kan
tertulisnya begitu, upahku ialah:....., kalau sasarannya adalah tanpa upah,
kenapa dia terima tunjangan dari jemaat makedonia?, makanya saya bilang ada hal
yang lebih penting dari soal gaji..
[8/13, 18:06] Pdt Tjeppy: bedakan upah jabatan kerasulan,
yang disemua agama ada, yang lain dengan ketetapan Allah bahwa pemberita injil
hidup dari pemberitaaan injilnya.
[8/13, 18:07] Pdt Tjeppy: kalau upah jabatan boleh, orang
dunia banyak melakukan itu, tapi kalau ketetapan Allah ditolak itu jadinya
"pride" itu sebabnya paulus menerima tunjangan dari jemaat lain..
[8/13, 18:08] Pdt Tjeppy: belum lagi kalau Theos renungkan
mengapa pakai kata-kata merampok? wow....lebih dalam lagi, saya nggak kupas
disini
[8/13, 18:14] Pdt Tjeppy: theos, kalau saya boleh
sarankan..., jangan terlalu takut dokrin yang kita pegang gugur kalau ada loh..😊, mungkin kita mulai dengan kasihi Firman Tuhan
sehingga kita lebih netral membacanya.
[8/13, 18:17] Yer. Purba: Utk pembahasan jemaat Makedonia,
apa bisa ya pak saya katakan bahwa terhadap jemaat Makedonia hak Paulus (hal2
lahiriah) tergenapi. Namun terhadap jemaat Korintus ia tdk mempergunakan haknya
itu. Hanya yg menentukan adalah: masalah tdk mempergunakan, apalagi sampai
menuntut...! Paulus tdk demikian. Knp ia tdk mempergunakannya, sebab ia terlebih
dahulu sudah mencukupkan dirinya dgn apa yg ada.
[8/13, 18:17] Pdt Tjeppy: nah itu dia....mantap theos....
[8/13, 18:18] Yer. Purba: Ya pak. Saya setuju dgn pesan bpk
yg terakhir. Mmg demikian lah adanya. Mungkin dgn diskusi ini kita (terutama
sya) akan lebih dalam.memahami teks tersebiut.
[8/13, 18:18] Pdt Tjeppy: jadi kita bahwa seorang pemberita
injil nggak usah takut kekurangan
[8/13, 18:19] Pdt Tjeppy: karena dimanapun injil kita tabur
pada saatnya kuasa itu akan bekerja
dahsyat.
[8/13, 18:20] Pdt Tjeppy: saya juga dulu gitu kok Theos...😀😀,kalau dokrin saya terganggu, alkitab aja
saya "lawan", padahalkan itu Firman Allah ya...
[8/13, 18:21] Yer. Purba: Ada pertanyaan sya yg selanjutnya
pak, apakah pemberiaan Makedonia adalah upah dri pemberitaan Injil Paul?
[8/13, 18:23] Pdt Tjeppy: iya, ingat nggak waktu Paulus
dapat mimpi dipanggil sama orang makedonia, ada dikisah rasul
[8/13, 18:23] Yer. Purba: Ya....maksudnya pak???
[8/13, 18:25] Pdt Tjeppy: nah sejak itulah terbentuk jemaat
di makedonia hasil penginjilan Paulus.
[8/13, 18:27] Pdt Tjeppy: kalau di II kor 8:2 bagus tuh
kalimat pengantarnya "....kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat
makedonia..."
[8/13, 18:29] Pdt Tjeppy: jadi kasih kasih karunia itu kuasa
yang membuat jemaat makedonia seperti "dipaksa" sekaligus
"dimampukan" untuk memberi lebih dari kemampuannya.
[8/13, 18:38] Pdt Tjeppy: ok Theos, saya harus pimpin ibadah
warga dulu ya..., next time kita sambung...Jesus Bless you..
[8/13, 18:41] Yer. Purba: Siap pak, besok!
Hari ke 3
[8/15, 07:29] Yer. Purba: Shalom. Pak, melanjutkan diskusi
kita 2hr yg lalu. Saya senang sekali dgn yg bpk katakan bhwa kasih karunia itu
membuat jemaat Makedonia seperti "dipaksa".... memberi...
[8/15, 07:32] Yer. Purba: Pertama, yg menyebabkannya memberi
karena pekerjaan Tuhan dlm hati setiap jemaat. Lalu yg kedua, justru karna itu
pekerjaan Allah (kasih karunia), maka apa lebih baik tdk kita katakan itu
sebagai upah pak...?
[8/15, 07:35] Yer. Purba: Karena yg sya yakini begini pak:
kebenaran dri ayat 18 (tanpa upah/tanpa biaya) adalah universal, sekalipun mmg
surat itu Paulus krim ke Korintus. Antara jemaat Makedonia dan Korintus sama2
mengenai perkara HAK, dan bukan perkara UPAH. Sebab hak belum tentu selalu
berbicara mengenai upah, apalagi dlm hal pelayanan.
[8/15, 07:38] Yer. Purba: Terhdp jemaat Makedonia hak Paulus
terpenuhi, terhadap jemaat Korintus hak Paulus tak dipergunakan. Saya juga
yakin pak, bahwa terhdp jemaat Makedonia Paulus tak bermaksud mempergunakan
haknya itu.
[8/15, 07:44] Yer. Purba: 2 Korintus 8:1-3 (TB)
1 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu
tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.
2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan,
sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya
dalam kemurahan.
3 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut
kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.
[8/15, 07:45] Yer. Purba: Itu "kasih karunia yang
dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia".
[8/15, 08:32] Pdt Tjeppy: Shalom Theos, nanti siang saya
bales ya, masih ngajar nih di Obaja....
[8/15, 10:00] Yer. Purba: Siap pak....
[8/15, 10:00] Yer. Purba: Selamat mengajar ya Pak, GBU!
[8/15, 16:44] Pdt Tjeppy: shalom Theos..., jangan dipisahkan
antara jemaat korintus dan makedonia, mereka dalam satu cerita yang sama. I
Kor. & II Kor. adalah surat kepada jemaat/orang yang sama. Dalam I Korintus
dimulai dengan teguran karena perpecahan dalam jemaat, dan berbagai nasihat,
disitulah Paulus mengatakan bahwa sekalipun ketetapan Allah bahwa seorang
pemberita injil hidup dari pelayanannya, tetapi dalam hal ini Paulus tidak
mempergunakan itu atau tidak mau terima upah dari jemaat korintus. Tapi
sebenarnya Paulus menerima upah dari jemaat lain dan termasuk jemaat makedonia
pada saat ia melayani di Korintus itu. Hal ini Paulus akui di surat kedua (II
Kor) dimana sudah terjadi rekonsiliasi dan sukacita karena pertobatan. mengenai
sikapnya yang ditulis di I Kor. 9: 14-18 itu Paulus jelaskan dikemudian hari
dalam suratnya di II Kor. 11:7-10. Jadi kalau kita anggap penekanannya bahwa
Paulus sedang mengajarkan utk tidak menerima upah, Paulus sedang berdusta
karena faktanya disaat itu semua kebutuhannya disupport oleh jemaat lain dan
jemaat makedonia alias menerima upah/tunjangan (II Kor. 11:8). kalau kita baca
II Kor 10 dan II Kor. 11, tertulis alasan lengkap mengapa paulus menjaga
dirinya dengan tidak mengambil upah dari korintus. TAPI INGAT, ketetapan Allah
tidak bisa dilanggar bahwa Paulus harus hidup/bergantung sepenuhnya dari berita
injil (I Kor. 9:14) dan bukan sekedar dari tabungannya/simpanannya, maka dalam
kasus ini Allah memakai jemaat lain & makedonia untuk mengupah Paulus, dan
bagi Paulus ini adalah kemegahan dirinya yang tidak bisa dirintangi oleh
siapapun (II Kor. 11:10).
[8/15, 16:53] Pdt Tjeppy: satu hal lagi, bahwa tidak
mengambil upah /hak adalah hal yang lazim bagi orang diluar Kristus sekalipun.
itu bukan suatu prestasi atau hal yang perlu digembar-gemborkan. Diperguruan
tinggi termasuk dikampus saya ITB-Bandung sudah biasa seorang dosen dan para
pakar yang mengabdi kepada pendidikan untuk tidak mempergunakan
haknya/mengambil gaji. Dibeberapa perusahaan asing termasuk tempat saya bekerja, sudah biasanya beberapa
profesional tidak memakai haknya termasuk upahnya. Di Organisasi Sosial
termasuk tempat saya beraktivitas, kami dilingkaran management tidak mengambil
upah tapi memberi uang utk memperhatikan anak-anak terlantar diseluruh
indonesia. Jadi kayaknya agak aneh kalau hal yang biasa-biasa aja dikalangan orang
dunia tetapi menjadi standar di kalangan pelayan Tuhan.
Hari ke 4
[8/16, 08:35] Yer. Purba: Shalom, selamat pagi pak.
[8/16, 08:35] Yer. Purba: Pisahkan yg mna maksudnya pak?
[8/16, 08:46] Pdt Tjeppy: Shalom Theos, Ini kata Theos:
Terhdp jemaat Makedonia hak Paulus terpenuhi, terhadap jemaat Korintus hak
Paulus tak dipergunakan. Saya juga yakin pak, bahwa terhdp jemaat Makedonia
Paulus tak bermaksud mempergunakan haknya itu....
[8/16, 08:50] Pdt Tjeppy: Ini kesannya 2 cerita yg terpisah.
Padahal jemaat lain & jemaat makedonia dalam cerita ini berperan sebagai
orang-orang yang menggaji Paulus pada waktu Paulus melayani di Korintus,
Tuhanlah yang menggerakan jemaat makedonia untuk menggaji Paulus karena saat
itu ada konflik serius didalam komunitas jemaat di korintus sehingga Paulus
tidak mau terima upah dari jemaat dikorintus.
[8/16, 09:07] Yer. Purba: Baik lah pak. Mungkin bpk katakan
itu dgn istilah gaji, upah.... Yg saya lihat adalah begini : Karena tugas
pemberitaan Injil itu adlh tugas penyelenggaraan yg di tanggungkn kpdnya(1 Kor
9:17), itu berarti pekerjaan Allah sepenuhnya (bukan menurut kehendak Paulus
sendiri) maka upah adalah hal yg tak sejalan dgn konsep tersebut. Upah adalah
imbalan dri apa yg "KITA KERJAKAN" Sementara pengakuan Paulus pekerjaan
itu bukan menurutn kehendak ku sendiri, tetapi menurut kehendak Allah. Jadi yg
kerjakan semua adalah Allah. Maka disinilah terbangun konsep bahwa penginjil
adalah alat di tangan Tuhan. Mengenai pemberiaan Makedonia(dll), sy mengutip 2
kor 8:1-3 dan menggaris bawahi kata "kasih karunia yg di anugerahkan kpd
jemaat2 di Makedonia" . Jika itu kasih karunia (seperti yg bpk katakan dgn
kasih karunia yg seperi "memaksa".....) maka total adalah pemberiaan
Tuhan/peekrjaan Tuhan. Mmg jika kita melihat dri sudut pandang manusia, sebab
akibatnya jelas karena Paulus memberitakan Ijnjil ke Makedonia (dll) lalu
mereka bertobat, lalu memberikan persembahan. Sepertinya "upah"
namun, jika melihat dri sisi Allah, maka itu semua adalah kasih karuniaNya.
[8/16, 09:23] Yer. Purba: Dua poin dri saya pak utk
menanggapi pesan bpk yg kedua kemarin: 1. Jelas berbeda pak, antra tdk
mengambil upah/hak di kalangan EV dgn di kalangan non kristen. semua contoh yg
bpk angkat di atas (Dosen, kaum profesional dan org sosial) adalah perkara2 yg
sifatnya sementara dan tidak "berkaitan" bagi hidup kekal(keselamatan
jiwa2 mereka), tentu tak dpt dibandingkan dgn PI dimna ini adalah pekerjaan
membawa kabar keselamatan (jiwa nya yg kembali kepd Allah) tentu keselamatan
ini begitu di perlukan oleh semua manusia, dan pekerjaan tersebut yg jelas
lebih tinggi nilainya dri semua pekerjaan (sya tak brmaksud inklusif hanya bagi
pdt/ev, namun yg menyampaikan injil), tdk dgn adanya/mengharapkan/apalagi
menuntut upah. Ini hal yg luarbiasa, dan yg membuat nya berbeda. yg ke 2. Kerap
kali manusia mampu melakukan itu dari kelimpahannya (bahkan terkadg dgn
motivasi yg tdk tulus murni), sementara dlm Alkitab Yesus menekankan memberi
dri kekurangan, termasuk mengerjakam pekerjaan PI dri kekurangnanya dgn tdk
adanya upah. (Sekali lagi pak, menurut saya, jika terima uang pun, bukan
berarti upah... tetapi kasih karunia Tuhan, total pemberiaan. Dan tdk ada
sdikitpin seolah2 perbuatan sya yg layak diperhitungkan Tuhan sebagai sebab yg
mendatangkan akibat, yakni upah)
[8/16, 09:25] Yer. Purba: Saya bersyukur pak, beberapa hari
ini dpt berdiskusi dgn bpk, sya berhrp dpt berlanjut terus... sya byk belajar
jg dri bpk...! Bagaimana menurut bpk dgn balasan sya di atas pak....??? 😊😊☺☺
[8/16, 12:05] Pdt Tjeppy: Its OK Theos, kita berjalan dengan
tingkat pengertian yang kita punya aja dulu.😊😊
Bukan saya loh yang katakan dengan
istilah gaji, tetapi Firman Tuhan sendiri, II Kor 11:7" Apakah aku berbuat
salah, jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku
memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan cuma-cuma? 11:8 Jemaat-jemaat lain
telah kurampok dengan menerima TUNJANGAN dari mereka, supaya aku dapat melayani
kamu! ".
Kata tunjangan dalam bahasa gerikanya opsonion atau bhs
inggris wages atau soldiers pays atau allowance, dalam bahasa Indonesia gaji.
Tuhan tahu kok kalau organisasi dunia beli rumah atau
kebutuhan sehari-hari pakai uang, pelayan Tuhan juga beli rumah/kebutuhannya
pakai uang, kalau organisasi dunia makan nasi, pelayan Tuhan juga makan nasi
sekalipun pekerjaan pelayan Tuhan dan organisasi dunia berbeda jauh bobotnya.
Saya pikir kita tidak usah terlalu mempermasalahkan untuk
mendefinisikan yang mana upah atau gaji atau tunjangan, apa yang tertulis dan
termaksud didalam Alkitab kita percayai saja. Alkitab itu kan Firman Allah yang
hidup, Dan Firman Allah ini pernah mati untuk menebus kita dari dosa, jadi
lebih baik kita berpihak pada Firman Allah dan tidak lagi memakai istilah saya
setuju atau tidak setuju, lebih tepat kita bertanya pada Roh Kudus" apa
maksudnya Tuhan?". Tidak usah pikirkan soal pamrih atau bukan, layak atau
tidak layak, Allah itukan Bapak kandung kita sendiri dan bukan orang lain, Dia
sangat baik jauh lebih baik dari orang tua kita didunia. Jauhlah dari pikiran
Bapa kita dari soal hitung-hitungan berkat atau upah. Dia ingin kita hidup
layak sebagaimana seharusnya anak-anakNya sebagai warga KerajaanNya. Dia cuma
minta kita percaya, itu saja yang memperkenankan hatiNya.
[8/16, 12:06] Pdt Tjeppy: Ini ada renungan sedikit mengenai
uang dan Hikmat....:
[8/16, 12:10] Pdt Tjeppy: Uang adalah power dalam sistem
didunia ini, tetapi cinta uang adalah akar kejahatan. Dilain pihak, Pengurapan
adalah power bagai anak-anak Tuhan. Kata "pengurapan/yang diurapi
"itu dalam bahasa ibraninya Mesias atau Kristus dalam bahasa inggris. Dulu
Kristus ini adalah kehidupan seorang manusia namanya Yesus. Maka Yesus Yang
Diurapi = Yesus Kristus, tidak pernah dipengaruhi uang, untuk bayar pajakpun
Dia perintahkan uang masuk kemulut ikan dahulu. Jadi, Yesus Sang Pengurapan itu
memperalat mamon, seperti yang Dia ajarkan dalam Lukas 16:9 “Dan Aku berkata
kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur,
supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah
abadi." Dalam pelayanannya Yesus tidak anti uang, tetapi uang tunduk
dibawah otoritasNya. Pelayanannya juga ada yang mendukung, Lukas 8:3b
Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka. Team
pelayanan Yesus juga punya bendahara yaitu Yudas.
Sekarang ini Kristus sudah menjadi kehidupan kita, kolose
3:4 "Apabila Kristus, yang adalah hidup kita... ", Kehidupan kita
adalah pengurapan itu sendiri. Lalu didalam Ikor 1:30 "Tetapi oleh Dia
kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi Hikmat bagi
kita...", jadi KRISTUS adalah juga HIKMAT kita. Kemudian di Pengkotbah
7:12” Karena perlindungan hikmat adalah seperti perlindungan uang. Dan
beruntunglah yang mengetahui bahwa hikmat memelihara hidup pemilik-pemiliknya”.
Jadi seperti Yesus melayani dengan pengurapan itu demikian juga kita sekarang
ini tidak usah repot dengan urusan gaji, upah, tunjangan dan lain sebagainya,
karena kita sudah punya yang lebih dahsyat yaitu Pengurapan sekaligus Hikmat,
dan ketetapan Kerajaan Surga bahwa pemberita injil hidup dari pemberitaan injil
itu, lalu caranya ?, Tuhan yang atur, kita tidak perlu mendefinisikan apa-apa
lagi, jangan-jangan nanti kita malah menggangu pengaturan Tuhan.😀😀😀
Dialog Pdt. Tjeppy J Budidarma dan Ev. Theos M. Purba - 2016

Posting Komentar untuk "Kenangan Dialog Teologi WhatsApp 2016 : SOAL HAK PEMBERITA INJIL (Pdt. Tjeppy & Ev. Theos)"