zmedia

Berdukalah dan Merataplah!



“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur”.
(Mat 5:4)

Ketika mendengarkan kata berdukacitalah maka kemungkinan besar banyak orang akan heran! Kenapa kita disuruh untuk berduka? Bukankah setiap manusia berjuang dalam hidup ini agar terhindar dari duka! Bukankah setiap kita tidak ingin mendengarkan kabar duka apalagi mengalaminya! Kenapa? Karena duka adalah hal yang menyulitkan dan menyedihkan buat kita. Kita akan coba untuk memperhatikan beberapa kasus yang terjadi dalam kehidupan manusia; ketika orang yang kita kasihi mengalami sebuah musibah kecelakaan, maka kita akan berkata “kenapa hal ini menimpa keluarga ku?”. Ketika kita mendengarkan kabar bahwa saudara kita baru saja meninggal, maka kita akan berkata “mengapa secepat itu? baru saja kemarin saya berjumpa dengannya!”. Atau ketika usaha yang anda kerjakan tidak berjalan dengan baik, justru anda mengalami sebuah kerugiaan, yang mungkin menghantarkan anda pada kebangkrutan! Semua hal ini adalah sebagian kecil dari banyaknya hal-hal duka yang kerapkali menimpa kita dalam hidup ini. Lantas apakah yang Tuhan Yesus maksudkan ketika Ia berkata “Berbahagialah orang yang berdukacita”?

Tentu Tuhan Yesus sedang tidak mengajarkan kita untuk meminta duka terjadi atas kita saat ini! Tetapi yang Yesus maksudkan adalah mengajarkan kita agar; merenungkan dan meratapi dengan sungguh-sungguh setiap hal duka yang menimpa kita, agar kita belajar dari kenyataan duka tersebut! Baik hal duka yang menimpa kita sendiri ataupun hal duka yang menimpa orang lain, kita harus belajar dan mengambil pesan yang Tuhan sampaikan melalui kenyataan tersebut. Coba perhatikan dua ayat Pengkotbah ini : “Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya(Pkh 7:2). “ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;” (Pkh 3:4). Dua pesan penting dari dua ayat tersebut adalah; pertama; bahwa hendaknya orang yang hidup memperhatikan ketika ada duka yang terjadi atas hidup seseorang, dalam konteks ayat tersebut adalah kematian. Kedua adalah bahwa setiap kita akan ada waktunya untuk meratap dan bersedih/menangis.

Dengan demikian, apakah yang menjadi keuntungan buat kita ketika kita mau turut berduka dan meratap? Ketika kita mau sejenak merenungkan setiap kejadian duka yang ada, baik yang menimpa kita sendiri maupun kejadian duka yang menimpa orang di sekeliling kita? Saya temukan ada 4 keuntungan yang akan kita dapatkan ketika kita mau berduka dan meratap:

1.       Kita akan Di Hibur (Mat 5:4a)
Tuhan Yesus tidak mengakhiri ayat tersebut dengan berkata “Berbahagialah orang yang berdukacita” dan tanpa alasan! Kalimat tersebut ditutup dengan perkataan “sebab mereka akan dihibur”. Ternyata sebuah penghiburan itu akan jauh dinikmati bagi orang-orang yang mengalami sebuah duka! Mengapa? Sebab sebuah penghiburan akan sangat berarti bagi kita ketika kita memang benar-benar telah mengalami sebuah duka. Oleh karena sangat berarti dan begitu diperlukan maka sebuah penghiburan itu akan begitu penting bagi kita, sampai kita sangat bersukacita sekali ketika penghiburan tersebut datang! Ada dua sisi dalam memaknai ayat ini: pertama bagi kita yang mengalami duka. Akankah sebuah duka mengantarkan kita kepada sukacita atau penghiburan?
Ketika Tuhan Yesus berkata “Marilah kepada Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Jaminan yang Tuhan berikan  kepada kita adalah sebuah kelegaan! Ketika kita datang menyerahkan letih lesu dan beban berat kita. Sebuah duka tidak mungkin membuat kita tertawa dan bahagia! Namun yang Tuhan minta adalah agar kita menyerahkan duka tersebut kepada Bapa yang mengerti setiap hidup kita.
Bagaimana dengan anda saat ini? Apakah engkau sedang mengalami sebuah duka? Kuatirkah anda saat ini oleh karena duka yang menimpa anda atau saudara anda sendiri? Percayalah bahwa Tuhan adalah Allah yang setia dan akan memberikan penghiburan bagi anda yang sedang berduka. Coba saat ini kita sejenak merenungkan semua anugerah Allah dan menyadari akan kasih-Nya yang besar! Maka seharusnyalah kita bukan justru berduka dalam duka, tetapi terhibur dalam duka.

2.       Kita akan Belajar untuk Bersyukur atas Keadaan saat ini
Beberapa waktu yang lalu saya bersama dengan beberapa rekan hamba Tuhan di sini (team misi) mengadakan pelayanan misi ke penjara dan kemudian dilanjutkan pada minggu berikutnya pelayanan misi diakonia pada orang-orang fakir miskin dan terlantar. Pertama kami melayani ke penjara yang di mana di sana saya berjumpa dengan banyak orang yang merasa hidupnya hancur dan tak berguna lagi. Mereka dipenuhi dengan duka yang mendalam, sampai-sampai saya tidak bisa melupakan betapa derasnya air mata dari sebagian mereka jatuh bercucuran oleh karena duka yang berat, saat kami mendoakan mereka. Lalu saya berkata dalam hati “Tuhan... sungguh aku bersyukur atas keadaan ku saat ini, Engkau memberikan sebuah kesempatan yang berbeda dari yang mereka alami”. Lalu di minggu berikutnya saya bersama team melakukan pelayanan ke beberapa kampung untuk mendatangi orang-orang yang miskin dan terlantar yang memerlukan uluran tangan. Di sana juga saya banyak melihat orang yang begitu berduka berat oleh karena keadaan susah yang mereka alami! Mereka sakit, mereka terlantar, mereka terpukul, mereka dihina dan dikucilkan oleh banyak orang!
Lantas saya teringat oleh apa yang Tuhan Yesus pernah katakan “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Rom 12:15). Di saat mereka menangis maka kita menangis? Maksudnya apa! Saya sangat yakin bahwa yang dimaksudkan adalah agar kita sebagai orang Kristen memiliki hati yang dapat merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang bersedih dan membutuhkan kasih! Setelah melewati kisah tersebut, saya sangat bersyukur disertai duka yang mendalam, karena Tuhan Yesus terlalu baik bagi saya! Dimana Ia masih memberikan kesempatan yang jauh lebih nikmat dari banyak orang yang saya temui dalam beberapa minggu tersebut. Ini membuat saya semakin sadar untuk giat melayani Tuhan dan bekerja dengan sungguh atas tanggung jawab yang Allah berikan bagi saya saat ini. Bagaimana dengan saudara-saudari sekalian? Pernahkah kita menyadari bahwa melalui duka dan meratap maka kita akan berlimpah dengan syukur! Karena Allah masih mengasihi kita. Andaikatapun saat ini kita sedang mengalami duka, bukankah janji penghiburan dari Allah telah cukup untuk membuat kita bersyukur kepada-Nya! Dan bersyukur karena tidak diizinkan-Nya hal duka yang jauh lebih berat dari yang saat ini sedang kita alami? Sebab masih begitu banyak orang yang mengalami duka yang jauh lebih berat dan besar ketimbang yang kita rasakan detik ini. Perhatikanlah hal ini dengan sungguh-sungguh!

3.       Kita akan Mengevaluasi Diri kita Sendiri (Mazmur 90:12)
Pemazmur pernah katakan “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mzm 90:12). Setiap hari-hari yang kita lalui dikatakan agar kita menghitungnya! Menghitung bagaimanakah? Tentu tidak mungkin hanya sebatas menghitung satu hingga seratus. Tetapi lebih kepada memperhatikan. Atau yang jauh lebih mendekat adalah mengevaluasi! Menimbang-nimbang setiap hari yang kita lewati, agar kita semakin beroleh bijaksana untuk menghadapi hari esok. Termasuk ketika kita sedang mengalami sebuah duka atau pun menyaksikan kenyataan duka yang menimpa orang lain, hendaklah kita mengevaluasi diri kita sendiri.
Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk berbahagialah ketika kita mengalami sebuah duka, karena dengan demikian kita belajar untuk mengevaluasi hidup kita saat ini. Sebuah kejadian terjadi bukanlah terjadi dengan begitu saja oleh karena hukum sebab akibat, karena tiada satu hal pun dapat terjadi dimuka bumi ini tanpa pengaturan kehendak dari Allah. Oleh karena itulah, kejadian duka yang menimpa pasti Tuhan memiliki sebuah maksud dibalik itu semua! Mari kita mengambil kesempatan itu untuk mengevaluasi diri kita, keluarga kita dan hubungan kita dengan Tuhan. Ketimbang kita berlarut dalam duka atau menyalahkan diri sendiri dan orang lain, lebih baik kita jadikan saat itu sebagai saat untuk memperbaiki diri kita. Ini akan sangat berarti dalam hidup saudara dan saya!

4.       Kita akan Belajar untuk Berbuat agar hidup kita Menjadi berarti
Setelah keuntungan yang ketiga, kini adalah hal yang jauh lebih penting dari semua itu, yakni kita akan belajar untuk menjadikan hidup kita lebih berarti bagi Tuhan dan bagi orang banyak. Melalui kejadian duka Tuhan sering kali memulihkan dan mengangkat kita kembali. Ingatlah saat itu terjadi adalah kesempatan untuk kita menjadikan hidup kita itu menjadi hidup yang berarti. Saat duka menimpa, kita tetap kuat menghadapinya, kita memohon penghiburan dari Allah, kita tetap bersyukur karena Allah masih pelihara dan oleh sebab itu jadikanlah hidup kita berarti.
Jika orang lain yang alami duka dan kita ada di sisi mereka, maka berbuatlah dan jangan diam, sebab itulah yang dikehendaki oleh Allah atas kita anak-anak-Nya. Jikalau kita sendiri yang mengalami duka tersebut, maka mari sadari hidup kita ini hanyalah oleh kesempatan yang Tuhan beri, manfaatkan dan berilah untuk Tuhan. Berbuatlah untuk menyenangkan hati Tuhan, agar hidup kita berarti! Ini merupakan aksi nyata dari orang yang mengalami penghiburan, limpahan ucapan syukur dan yang telah mengevaluasi dirinya, yakni berbuat! Berbuat bagi Tuhan dan bagi sesama. Ingatlah, jadikanlah hidup mu berarti! Amin Haleluya.

Posting Komentar untuk "Berdukalah dan Merataplah!"