Kenyataan
kerap kali memaksa diri
Dengan kekuatannya yang dahsyat
Dengan kekuatannya yang dahsyat
Merayu
dan kuasa membujuk
Seakan
kita betul-betul di yakinkan
Bahwa
memang kefanaan ini dapat menggeser
Kefanaan
ini dapat mengubah
Kefanaan
ini berkuasa di atas
Dan
kefanaan ini menjadi pengganti
Apa
yang ada sejak dulu
Seseorang
yang Berkuasa dan Penentu
Pribadi
yang Benar dan Suci
Serta
Sempurna dalam kehendak-Nya
Yah...
benarkah demikian?
Aku
rasa begitu banyak mahkluk begitu
Seakan
suka itu terbenam
Dan
duka terbit menyala laksana bintang yang cerah
Di
saat kebutuhan menjadi acuan
Di
saat makan minum seolah tak mungkin terlewatkan
Seolah
pohon ara harus berbunga
Pokok
anggur mesti berbuah
Dan
hasil padi melambung tinggi!
Mungkinkah
kita manaruh hati kita kesana...?
Dapatkah
itu menjadi peneguh jiwa!
Membakar
gelora nadi kehidupan?
Mungkinkah
di sana terlukis sempurna jalan kehidupan?
Tentu
tidak... dan niscaya benar!
Sebab
semua itu hampa terasa
Semua
itu sedikit saja merangsang senyuman di kala menderita
Bahkan
menjadi landasan yang cuma-Cuma
Hanya
kepada Sang Kehidupan
Layak
memberikan segenap hidup
Sekalipun
tampak gelap dan curam
Tetapi
tidak mungkin Dia salah...!
Tidak
mungkin Ia mengecewakan dan berubah
Tidak
mungkin Dia menyakiti anak manusia yang ditenun dengan jari manis-Nya...
Pasti
Ia siapkan kisah yang indah
Di
balik air terjun yang kuat menerpa!
Jika
demikian... mungkinkah duka itu dapat di gantikan?
Jika
seandainya bola mata ini melirik ke singgasana surgawi!
Ya...
tentu saja! Secercah harapan timbul di kala pintu surga di tatap membinar...
Pasti
sukacita Dia... turun mengairi kehidupan kita!
Amin,
ya amin
Yer.
27 Agustus 2017

Posting Komentar untuk "Pintu Surga Ditatap Membinar : Sebuah Prosa Habakuk 3:17-19"