zmedia

Pintu Surga Ditatap Membinar : Sebuah Prosa Habakuk 3:17-19



Kenyataan kerap kali memaksa diri
Dengan kekuatannya yang dahsyat
Merayu dan kuasa membujuk
Seakan kita betul-betul di yakinkan

Bahwa memang kefanaan ini dapat menggeser
Kefanaan ini dapat mengubah
Kefanaan ini berkuasa di atas
Dan kefanaan ini menjadi pengganti

Apa yang ada sejak dulu
Seseorang yang Berkuasa dan Penentu
Pribadi yang Benar dan Suci
Serta Sempurna dalam kehendak-Nya

Yah... benarkah demikian?
Aku rasa begitu banyak mahkluk begitu
Seakan suka itu terbenam
Dan duka terbit menyala laksana bintang yang cerah

Di saat kebutuhan menjadi acuan
Di saat makan minum seolah tak mungkin terlewatkan
Seolah pohon ara harus berbunga
Pokok anggur mesti berbuah
Dan hasil padi melambung tinggi!

Mungkinkah kita manaruh hati kita kesana...?
Dapatkah itu menjadi peneguh jiwa!
Membakar gelora nadi kehidupan?
Mungkinkah di sana terlukis sempurna jalan kehidupan?

Tentu tidak... dan niscaya benar!
Sebab semua itu hampa terasa
Semua itu sedikit saja merangsang senyuman di kala menderita
Bahkan menjadi landasan yang cuma-Cuma

Hanya kepada Sang Kehidupan
Layak memberikan segenap hidup
Sekalipun tampak gelap dan curam
Tetapi tidak mungkin Dia salah...!

Tidak mungkin Ia mengecewakan dan berubah
Tidak mungkin Dia menyakiti anak manusia yang ditenun dengan jari manis-Nya...
Pasti Ia siapkan kisah yang indah
Di balik air terjun yang kuat menerpa!

Jika demikian... mungkinkah duka itu dapat di gantikan?
Jika seandainya bola mata ini melirik ke singgasana surgawi!
Ya... tentu saja! Secercah harapan timbul di kala pintu surga di tatap membinar...
Pasti sukacita Dia... turun mengairi kehidupan kita!

Amin, ya amin
Yer. 27 Agustus 2017

Posting Komentar untuk "Pintu Surga Ditatap Membinar : Sebuah Prosa Habakuk 3:17-19"