Setiap manusia
memerlukan teman. Teman di sini adalah orang-orang disekeliling kita yang
melalui mereka kita mendapatkan dukungan dan bantuan. Lebih dari pada itu,
sesungguhnya kita adalah manusia yang diciptakan oleh Allah sebagai pribadi
yang memerlukan orang lain. Kita tidak dapat hidup sendiri ditengah dunia ini.
Dirumah kita perlu teman, di tempat bekerja kita memerlukan teman, di tempat
pelayanan kita juga membutuhkan teman. Teman tersebut adalah orang yang bekerja
bersama dengan kita dalam melaksanakan tanggung jawab yang Tuhan percayakan
kepada kita.
Tetapi kita tidak
dapat memungkiri kenyataan yang terjadi, bahwa ternyata dilapangan sering kali
kita dapati bahwa perihal teman sekerja kerap menjadi persoalan. Bahkan dalam
dunia pelayanan Kristen sekalipun, seringkali kita mendapati kenyataan bahwa
yang namanya teman sekerja, selalu menjadi masalah serius. Hal ini dapat
dibuktikan melalui fakta-fakta akan adanya perpecahan antar golongan gereja,
perpisahan teman hamba Tuhan yang sebelumnya mereka bekerja di tempat yang
sama, dan saya sendiri pernah mendapati kenyataan, bahwa ada dua orang pelayan
Tuhan yang diutus oleh satu lembaga misi yang sama tetapi mengalami konflik
yang berkepanjangan, hingga mengorbankan pelayanan bahkan jemaat.
Tentu kenyataan
tersebut tidak dapat kita setujui. Tetapi apakah kita dapat menghindari
kenyataan-kenyataan itu? Saya merasa sebagai manusia yang manusiawi, terlalu
berlebihan dan naif jikalau kita berkata bahwa kita tidak akan pernah dan akan
terhindari dari yang namanya konflik. Dimanapun dan kapanpun, hal tersebut akan
selalu ada! Tetapi, sebagai orang Kristen, kita harus mengedepankan pentingnya
rekan kerja dan harus siap menghadapi kenyataan apapun untuk menciptakan dan
memelihara persatuan sebagai rekan sekerja Allah.
Ketika saya
mencoba untuk mencari kata kunci ‘teman sekerja’ di dalam Alkitab, dan saya
menemukan ada lima ayat yang mengatakan hal tersebut; lebih spesifik lagi
adalah di dalam surat Paulus. Lima ayat tersebut adalah Roma 6:9 dan 21, 2
Korintus 6:1, Filipi 2:25, Filemon 1:1. Berdasarkan analisa yang saya lakukan,
semua ayat tersebut adalah kalimat yang tertuju kepada anak-anak rohani Paulus.
Salah satunya Filemon 1:1 yang berkata “Dari
Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius saudara kita,
kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami”. Di sini Paulus mengatakan
bahwa Filemon sebagai ‘teman sekerja kami’, dan di lain suratnya Paulus juga
mengatakan bahwa Epafroditus, Timotius, Urbanus dan Stakhis adalah teman
sekerjanya. Dari semua ayat-ayat tersebut kita dapat menarik sebuah kesimpulan
bahwa Paulus yang notabene adalah seorang hamba Tuhan senior dan sekaligus
orang tua bagi mereka secara rohani, tetap mengakui bahwa anak-anak rohaninya
tersebut sebagai teman sekerja.
Paulus yang
sedemikian hebat dalam pelayanan dan rasul yang terkenal, tetap membutuhkan
rekan kerja. Bagaimana dengan kita hari ini? Apakah kita merasakan bahwa kita
memerlukan teman sekerja? Apakah anda hari ini mau mengakui bahwa anda tidak dapat
berjalan dan mengerjakan semua tanggung jawab anda ini tanpa kerja sama dan
dukungan banyak orang yang telah bersedia menjadi teman sekerja anda? Saya harap
anda bersedia mengatakan ya terhadap semua pertanyaan di atas, karena Paulus
sendiri telah memberikan teladan tentang hal itu, di mana ia mengakui bahwa ia
memerlukan teman sekerja.
Di sini saya
hendak mengangkat sebuah ilustrasi untuk menegaskan kepada anda akan pentingnya
teman sekerja atau bekerja dengan tim. Bekerja bersama-sama dengant teman
sekerja itu seumpama bagaikan api unggun. Saya masih ingat dulu sewaktu saya
masih kecil, ketika malam pergantian tahun. Dihalaman rumah kami membuat api
unggun bersama keluarga inti. Satu persatu bongkahan kayu kami kumpulkan dan
kami susun sedemikian rupa sampai mengerucut ke atas, menyerupai gunung. Ada
potongan kayu yang besar, juga ada potongan kayu yang kecil. Kemudian, setelah
siap maka kami akan membakar kumpulan kayu api unggun tersebut. Lalu pada satu
kesempatan saya pernah melakukan sebuah tindakan yang menurut saya
menggambarkan tentang pentingnya teman sekerja. Yaitu saya memisahkan satu
potong kayu yang terbakar dari kumpulan kayu lainnya yang sedang terbakar
dengan sangat hebat. Kenyataan yang saya dapati pada saat itu ialah; bahwa
ternyata potongan kayu yang terbakar yang saya pisahkan itu apinya menjadi
padam. Kayu yang sebelumnya terbakar bersama-sama kini telah padam, karena saya
pisahkan.
Ilustrasi di atas
memberikan arti bahwa sebuah kerja sama dalam melayani Tuhan atau bekerja, itu
sangat penting. Karena jikalau anda mencoba untuk berjalan sendiri, mengerjakan
sendiri dan tidak mau bekerja bersama-sama, maka anda akan padam seperti
potongan kayu yang dipisahkan tadi. Fakta ini membuktikan bahwa memang pada
hakekatnya kita memerlukan teman dalam kehidupan kita.
Sekarang, mari
kita melihat dasar yang harus kita bangun di dalam bekerja bersama teman
sekerja. Saya menemukan ada dua dasar yang harus kita bangun di dalam hubungan
kita dengan teman-teman sekerja kita, di manapun dan apapun profesi serta
panggilan kita. Secara khusus hal ini sangat berguna bagi mereka yang memimpin
sebuah lembaga, organisasi atau kelompok. Sangat relevan bagi seorang pendeta
dan gembala sidang yang harus bekerja bersama rekan hamba Tuhan di satu tempat
pelayanan. Juga sangat cocok bagi kita yang berkecimpung dalam dunia pendidikan
dan harus bekerja bersama tim.
1) Membangun Kepercayaan
Kita sering
mendengar bahwa, untuk membangun sebuah kepercayaan membutuhkan waktu yang
panjang. Memang tidak mudah bagi seorang pemimpin lembaga mempercayakan
pekerjaan yang beresiko kepada bawahannya, jikalau orang tersebut belum
terbukti dapat dipercaya melalui sepak terjangnya. Tetapi di sini saya harus
tegaskan bahwa, dalam segala hal kita harus mengawalinya dengan percaya! Dalam
segala pekerjaan kita harus mengawalinya dengan percaya. Juga di dalam bekerja
sama dengan teman, kita harus mengawalinya dengan percaya. Kenapa? Karena
perihal percaya merupakan tema yang cukup sentral di dalam Alkitab, terkhusus
Perjanjian Baru. Di dalam Injil kita sering menemukan di mana Tuhan Yesus
selalu mengatakan hal yang senada dengan kalimat ini “Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah
kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah
hambanya” (Matius 8:13).
Percaya kepada
Tuhan tidak membuat kita jadi tidak perlu percaya kepada orang yang ada di
sekeliling kita. Saya juga yakin bahwa Allah tidak mungkin setuju jikalau kita
menjadi orang yang selalu mencurigai orang lain. Justru dengan percaya kepada Allah,
maka itu membuat kita harus percaya kepada orang lain, dalam hal ini adalah
teman sekerja kita. Jikalau dia adalah teman anda dalam bekerja, maka
percayailah dia. Tentu percaya kepada dia bukan berarti anda mengandalkan dia,
melainkan anda percaya kepadanya karena anda menyerahkan dia dan hubungan anda
dengannya, serta pekerjaan anda dengannya, hanya kepada Tuhan. Izinkan saya
sekali lagi mengatakannya; bahwa anda hanya menyerahkannya kepada Tuhan. Inilah
percaya!
Coba kita melihat
kepada Paulus. Dia adalah orang yang percaya kepada teman sekerjanya, sekalipun
mereka adalah anak-anak binaannya. Epafroditus dipercayai oleh Paulus untuk
mengirimkan surat Filipi kepada jemaat Filipi. Pada saat itu Paulus berada
dipenjara dan Epafroditus adalah utusan jemaat Filipi yang bertugas untuk membantu
Paulus (Flp 2:25-30). Tetapi setelah kemudian, Paulus mengirimkan kembali
Epafroditus, namun tidak dengan tangan kosong. Dia bertugas untuk membawa surat
yang harus dengan selamat sampai ke Filipi. Pada zaman itu, untuk mengirimkan
surat tidak semudah hari ini. Saat itu setiap peredaran surat diawasi oleh
pemerintahan romawi. Keluar masuk surat antar kota dan provinsi di bawah
kekaisaran romawi, harus melewati sebuah proses pengecekan. Tentu ini
menyulitkan gerak Epafroditus, tetapi Paulus percaya bahwa dia bisa. Dan
akhirnya ternyata kepercayaan Paulus itu terbukti, dengan sampaikan surat
tersebut ke Filipi. Demikian juga dengan Epafroditus, dia telah berhasil
menjaga dan menghargai kepercayaan teman sekerjanya yaitu Paulus.
Tidak cukup
sampai di situ saja. Timotius adalah anak rohaninya Paulus, tetapi ia mengakui
bahwa Timotius adalah teman sekerjanya. Sebagai teman sekerjanya, Paulus
mempercayai anak rohaninya ini menjadi seorang pemimpin jemaat (1 Tim 1:18-19,
2:2, 4:14, 1 Tim 4:1-5,6). Di sini Paulus sama sekali tidak meragukan Timotius
yang masih muda, tetapi sepenuhnya percaya kepada dia.
Keberhasilan
sebuah proyek atau pelayanan, hanya akan didapatkan jikalau anda sebagai sesama
tim saling mempercayai. Jikalau kepercayaan ini tidak dibangun dalam sebuah
hubungan kerja sama, maka mustahil keberhasilan akan dicapai. Marilah anda
membangun hubungan anda atas dasar saling mempercayai. Serahkanlah kepada Tuhan
apapun yang menjadi masalah dalam hubungan anda dengan rekan kerja anda, dan sementara
itu, hubungan anda harus tetap anda jaga agar harmonis dan berjalan dengan
baik.
2) Membangun Visi
Visi adalah
impian atau cita-cita. Jika saya menyederhanakannya, visi itu adalah tujuan
utama. Jikalau di dalam membangun sebuah kelompok, anda tidak memiliki visi,
yaitu sesuatu hal yang ingin dicapai; maka kelompok tersebut tidak akan
bertahan lama. Demikian juga di dalam membangun relasi dengan rekan kerja. Anda
perlu menyatukan visi terlebih dahulu! Apakah visi anda sama dengan visi dia.
Jikalau sama atau setidaknya anda saling melengkapi visi, maka keberhasilan ada
didepan mata.
Sebagai seorang
rasul, Paulus adalah orang yang memiliki visi yang jelas dan selalu berjalan
dan bekerja untuk tercapainya visi tersebut. Saya menemukan visi yang luar
biasa dari hidup Paulus yaitu di dalam Filipi 1:21-22 yang berbunyi “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati
adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku
bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu”. Paulus
tahu tujuan dia hidup, yakni hidup untuk Kristus dan bekerja memberi buah,
yaitu memberitakan Injil Kristus. Itu sebabnya dia selalu mengajak anak-anak
rohaninya dan teman-teman sekerjanya untuk berlari sekencang mungkin dalam
memberitakan Injil. Tidak ada kata berhenti atau lelah, karena tugas
memberitakan Injil adalah visi hidupnya.
Sekarang mari
kita melihat kenyataan tentang adanya orang yang tidak sevisi dengan Paulus,
membuat Paulus tidak bisa bekerja sama dengannya. Itu terdapat dalam Filipi
2:19-21 “Tetapi dalam Tuhan Yesus kuharap
segera mengirimkan Timotius kepadamu, supaya tenang juga hatiku oleh kabar
tentang hal ihwalmu. Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir
dengan aku dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu; sebab
semuanya mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus”. Berdasarkan
keterangan ini, maka kita mendapati bahwa ada orang-orang yang bekerja bersama
dengan Paulus tetapi ternyata mereka adalah orang-orang yang hanya
memperhatikan kepentingannya sendiri. Bahkan Paulus katakan bahwa mereka adalah
orang-orang yang tidak dapat sehati sepikir dengannya. Tentu dapat dipastikan
bahwa Paulus tidak mungkin bisa bekerja sama dengan orang-orang yang demikian.
Oleh karena itu
perlu bagi kita untuk menyatukan visi agar dapat bekerja sama sebagai teman
sekerja. Jikalau anda adalah seorang wirausaha, maka anda harus terlebih dahulu
memastikan bahwa orang-orang yang anda ajak bekerja sama adalah orang-orang
yang memahai dunia wirausaha dan satu tujuan dengan anda. Jikalau anda saat ini
sedang ingin membangun sebuah usaha rumah makan, maka anda harus pastikan
orang-orang yang bekerja dengan anda memiliki hati yang sama untuk
mengembangkan usaha rumah makan. Jikalau anda adalah seorang pendeta yang
visioner, saat ini sedang memimpin sebuah kelompok misi penginjilan atau
lembaga pendidikan, maka anda harus terlebih dahulu membangun visi yang sama
dalam pemberitaan Injil dan sehati sepikir dalam melayani Allah.
Demikianlah dasar-dasar yang benar yang harus anda bangun dalam hubungan bekerja sama dengan teman sekerja anda. Yaitu anda harus membangun kepercayaan dan visi. Orang yang berhasil adalah orang yang sebelumnya telah didukung, dibantu dan didoakan oleh orang lain. Oleh karena itu, bangunlah hubungan yang baik dengan teman sekerja anda dalam segala tanggung jawab anda, maka anda akan berhasil bersama dengan teman anda.

Posting Komentar untuk "Teman Sekerja"