“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." Matius 20:25-28
Setiap orang ingin agar apa yang
dikerjakannya berhasil. Seseorang berbisnis dengan harapan berhasil. Jika dia
seorang mahasiswa, maka ia bercita-cita agar berhasil dalam masa studinya itu.
Hampir di dalam semua aspek kehidupan kita; kita selalu berharap agar semua hal
tersebut berhasil bukan! Ya, demikianlah manusia dengan harapannya. Tetapi,
pernahkah kita berpikir bahwa melayani juga harus berhasil. Melayani itu adalah
panggilan Tuhan dalam hidup kita, yang semestinya kita lakukan sebagai orang
percaya. Jika tidak berhasil melayani, berarti gagal. Sebab lawan kata dari
berhasil ialah gagal.
Sebelum jauh melangkah dalam perenungan
kita kali ini, saya ingin mengajak anda semua para pembaca yang budiman untuk
menjawab satu pertanyaan penting ini, yaitu; siapakah yang mau menjadi pelayan?
Siapakah yang mau melayani! Karena melayani itu bukanlah hal yang mudah untuk
dilakukan, kenapa? Sebab melayani adalah bukan tentang diri kita, melainkan
tentang orang lain. Melayani itu bukan untuk aku, tetapi untuk mereka. Artinya,
melayani adalah tindakan yang kita lakukan untuk kepentingan orang banyak.
Singkatnya adalah melayani itu bukan menerima namun memberi. Inilah arti yang
hakiki dari melayani.
Itulah sebabnya kata melayani di dalam
Perjanjian Baru menggunakan kata “diakonia” yang berasal dari bahasa Yunani
yaitu “diakonein” artinya pelayan meja. Dan diakonia dianggap sebagai
pelayanan yang dilakukan oleh seorang hamba yang melayani meja makan, dan
pekerjaan ini dianggap rendah. Lalu istilah diakonia ini berkembang menjadi
pelayanan yang bersifat material dan holistik dikemudian waktu. Hal tersebut
dapat kita saksikan juga pada masa kini, di mana kita dapat melihat adanya
jabatan diakonia, juga adanya tim diakonia yang dikhususnya untuk melayani
jemaat yang membutuhkan pelayanan material berupa sokongan ekonomi, bantuan
kesehatan dan pendidikan, dst.
Tetapi, jika kita kembali pada arti dasar
dari diakonia ialah orang yang menyediakan bagi dan hanya untuk orang lain.
Sama halnya seperti seorang pelayan meja yang dengan senang hati menyajikan
makanan di atas meja, dan mempersilahkan tamu untuk makan. Tidak sampai disitu
saja, bahkan ia harus dengan setia menunggu; kalau ada apa-apa yang diperlukan
oleh tamu dan ia harus siap untuk membantu. Inilah melayani, yaitu bagi dan
hanya untuk orang lain.
Sekarang, dengan melihat pada arti dari
kata melayani, apakah ada orang yang mau melayani? Jawabannya ialah harus ada.
Mereka adalah orang-orang Kristen yang mengaku percaya kepada Yesus. Apalagi
bagi anda yang mengaku sebagai “pelayan Tuhan”! Yaitu mereka yang mempunyai
jabatan pelayanan gerejawi, seperti pendeta, evangelis dan para penatua. Mereka
yang mengaku sebagai pelayan mimbar dan tim doa. Mereka yang memperkenalkan
dirinya sebagai hamba Tuhan! Melayani adalah hal yang harus mereka lakukan
dalam melaksanakan semua tugasnya.
Lagi pula melayani itu adalah konsep
hidup yang ideal. Saya yakin bahwa hampir semua manusia suka dengan orang yang
melayani. Tidak ada orang yang suka dengan sikap berlagak bos (nge-bos). Anda
sendiri pasti akan senang dan bahkan ber-empati terhadap orang yang melayani.
Jika ditempat kerja, anda bertemu dengan anggota pekerja yang melakukan
tugasnya dengan baik, dia senang melayani para pekerja-pekerja yang lain, melayani
atasannya dan juga para nasabahnya, maka saya pastikan bahwa anda akan menyukai
orang tersebut bukan! Inilah tandanya bahwa konsep melayani itu diperlukan dalam
banyak aspek kehidupan kita. Dalam bekerja, dalam berhubungan rumah tangga,
dalam kehidupan berkeluarga, dalam pendidikan dan dalam sebuah kumpulan atau
organisasi; melayani adalah konsep yang kita idolakan.
Sampai di sini mari kita menyimpulkan
dulu beberapa poin di atas; bahwa melayani itu ialah panggilan Tuhan bagi semua
orang Kristen. Di mana mereka dipanggil untuk melakukan tugas dan tanggung
jawabnya dengan setia bagi kepentingan banyak orang. Dengan demikian maka hidup
orang yang bersangkutan tersebut pasti menjadi berkat, dan nama Tuhan
dimuliakan, karena konsep melayani adalah konsep hidup yang disukai oleh
sebagian besar manusia yang hidup di muka bumi ini.
Sekarang marilah kita merenungkan hal ini lebih dalam lagi, bahwa melayani itu adalah tanda bahwa seseorang besar. Mari kita perhatikan apa yang Tuhan Yesus katakan:
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (ay 26-27).
Di sini Tuhan Yesus memberitahu bahwa
orang yang ingin menjadi besar, maka ia haruslah menjadi pelayan. Siapa yang
mau terkemuka, mesti menjadi hamba! Saya sendiri meresapi ayat-ayat ini dengan
arti sebagai berikut; bahwa orang yang siap melayani, yang punya hati tulus
untuk melayani, melakukan sesuatu dengan hati yang murni, sesungguhnya mereka
adalah orang yang besar. Kenapa? Karena tanda seseorang besar dan terkemuka
ialah melayani. Pada saat ia melayani sesungguhnya ia telah menjadi orang yang
besar. Bukan menunggu akan besar dan terkemuka. Tidak! Melainkan ia sudah
menjadi besar dan terkemuka, pada saat ia melayani. Sungguh indah bukan apa
yang Yesus katakan ini! Anda disebut sebagai orang yang besar, jika anda
bersedia melayani.
Tetapi, sangat miris sekali kondisi dan
keadaan dunia hari ini. Di mana orang berlomba-lomba untuk besar dan terkemuka
dengan jalan yang salah dan oleh motivasi yang tidak benar. Mereka mengejar
kedudukan dan posisi yang tinggi hanya demi kepentingan pribadi dan haus akan kekuasaan.
Mereka menumpuk sejumlah uang demi kepentingan diri sendiri dan berharap akan
menjadi petinggi. Banyak juga yang ingin besar dan terkemuka, tetapi sombong
dan tidak mau melayani. Wah, semua kondisi ini sangat menyedihkan bukan!
Alih-alih ingin melayani, justru mereka berusaha mengatur semuanya agar mereka
yang dilayani.
Apakah kondisi yang saya lukiskan di
atas hanya terjadi di dalam lingkungan sekularis? Anda akan terkejut jika saya
harus jujur mengatakan; bahwa kenyataan tersebut juga dapat kita saksikan
dengan sangat jelas dalam lingkup gereja. Di mana banyak pula mereka yang
mengaku sebagai hamba Tuhan, tetapi tidak punya kesiapan untuk melayani. Justur
maunya adalah dilayani. Itu tampak pada saat kekuatiran pelayan Tuhan mengenai
tunjangan keuangan yang tidak memadai yang diberikan oleh jemaat kepadanya.
Gembala sidang yang membeda-bedakan suku, ras dan kedudukan. Bahkan
membeda-bedakan kualifikasi ekonomi setiap jemaatnya; yang kemudian ia jauh
lebih banyak mengunjungi jemaat yang ekonominya ke atas, sementara mereka yang
ekonominya ke bawah, nyaris tidak pernah dikunjungi. Mungkin pula dikunjungi,
hanya pada saat jemaat nya itu telah meninggal dunia!
Saya pernah melihat dengan mata dan
mendengar dengan telinga saya sendiri, bahwa seseorang yang mengaku sebagai
pelayan Tuhan, tetapi hanya mau “melayani” ke pedalaman jika perjalanannya
tersebut di nilai dengan materi. Dalam keheningan kami ia berkata kepada saya “ Pak Pendeta, jujur saja, kalau tunjangan
keuangan yang saya terima tidak besar dan tidak cukup untuk anak isteri saya
dirumah, untuk apa saya sampai pergi sejauh ini untuk melayani!”. Ya, saya
pernah mendengarkan pengakuan yang seperti itu. Dari sini saya menarik sebuah
kesimpulan, bahwa melayani itu memang sulit, tetapi bukan mustahil.
Sekarang marilah kita melihat model
pelayan Tuhan yang ideal itu bagaimana. Saya sendiri menemukan ada dua model
pelayan Tuhan yang alkitabiah berdasarkan nas yang saya kutip di atas. Model
pelayan ini adalah model yang berpusat pada pribadi Kristus itu sendiri. Jika
kita tidak menemukan model tersebut dalam hidup kita, maka pengakuan kita
sebagai pelayan perlu dievaluasi kembali. Sekarang mari kita melihat dua model
pelayan Tuhan tersebut.
Pelayan Tuhan harus Berinisiatif
Mari kita menyimak apa yang Yesus
katakan “sama seperti Anak Manusia datang
bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (ay 28a). Garis bawahilah
kata “seperti Anak Manusia datang”, demikianpun
kita melayani; yaitu harus datang. Dari sini kita menemukan poin penting dari
kata-kata Yesus, bahwa melayani itu haruslah atas inisiatif sendiri. Sebelum
kita jauh membahas perihal ini, marilah kita memfokuskan terlebih dahulu kepada
Kristus yang datang untuk melayani.
Yesus Kristus adalah Allah dan dalam
rupa Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai miliki yang
harus Dia pertahankan, melainkan Ia telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil
rupa seorang hamba, dan menjadi sama seperti manusia. Inilah yang dikatakan
dalam Filipi 2:6-7. Kristus yang lahir di Betlehem, bukanlah atas permintaan
kita. Dia datang bukan karena melakukan permohonan anda dan saya, melainkan Dia
datang atas keinginan-Nya sendiri. Kristus datang atas inisiatif-Nya sendiri.
Inilah yang kita sebut sebagai tindakan Allah yang sepihak.
Dia tidak mengharapkan permintaan,
permohonan dan bahkan kebaikan Anda; untuk Dia datang dan menyelamatkan kita
semua. Satu-satunya alasan yang Alkitab katakan tentang kedatangan Kristus
ialah “Karena begitu besar kasih Allah
akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya
setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang
kekal” (Yohanes 3:16). Inilah teladan yang Kristus sendiri berikan pada
kita semua, bahwa Ia datang untuk melayani. Bagaimana dengan kita hari ini?
Kita saat ini lebih sering menunggu dan
mengharapkan orang lain berbuat terlebih dahulu. Kita lebih suka diam dan
menantikan sampai ada orang lain yang memulai, baru kemudian kita menyusul.
Kira-kira kenapa demikian? Saya sendiri merasa itu disebabkan karena adanya
kekuatiran mengenai dirinya sendiri, bahwa jika saya sendiri memulai maka ada
beberapa konsekuensi yang mau tidak mau harus diterima. Memulai berarti harus
siap melanjutkan, memulai harus siap mengakhiri, memulai maka harus juga siap
berkorban dan bekerja lebih dahulu. Inilah beberapa buah pikiran yang
seringkali timbul dan kerapkali membuat orang menjadi takut untuk berinisiatif
melayani.
Sementara, Kristus memberikan teladan
kepada kita; bahwa jika kita mengaku sebagai pelayan, maka kita harus mau
berinisiatif melakukan apa saja yang bersangkutan dengan tanggung jawab kita.
Saya akan memberitahukan kepada Anda bahwa melayani atas inisiatif sendiri, itu
jauh lebih berkualitas ketimbang melayani oleh karena kesepakatan. Mari kita
melihat contoh yang saya angkat ini.
Di dalam sebuah acara pesta, seringkali dibentuk
panitia. Panitia ini dibentuk agar dapat bekerja untuk acara pesta tersebut dapat
terlaksana dengan baik sesuai dengan rencana. Dalam kasus tersebut, sering kita
melihat adanya persoalan di dalam kepanitiaan. Jika ada yang lebih banyak
bekerja dan berkorban dalam hal waktu, biasanya dia akan merasa keberatan
dengan orang yang lalai dengan tugasnya dan bahkan tidak mau mengorbankan
waktunya. Biasanya dia bisa sampai marah dan kecewa, karena merasa kerja
sendiri!
Sekarang coba kita bandingkan jika Anda
melayani oleh karena inisiatif anda sendiri. Anda akan tetap melakukan tanggung
jawab anda dengan maksimal, sekalipun anda diabaikan, tak dihiraukan, dan
bahkan dibiarkan kerja sendiri. Anda tetap setia dengan tugas anda di dalam
kepanitiaan tersebut hingga tuntas acara itu. Meskipun mungkin ada beberapa
orang yang tidak sejalan dengan semangat yang anda miliki. Bahkan anda akan
tetap bekerja sekalipun mungkin anda yang harus berkorban, dan tidak menerima
upah dari jeri lelah anda tersebut. Sungguh, konsep seperti ini adalah konsep
yang ideal yang mestinya kita terapkan dalam setiap tanggung jawab kita. Untuk
mengakhiri poin pertama ini, mari kita melihat apa yang Paulus katakan “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai
saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat” (Roma 12:10).
Pelayan Tuhan itu Berkorban (ay 28b)
Model pelayan yang ideal dan alkitabiah
yang kedua ialah berkorban. Seorang pelayan tidak layak mengaku melayani jika
dia tidak siap dan tidak mau berkorban. Lagipula jika kita mau menyelidiki hal
ini lebih dalam, sesungguhnya berkorban inipun adalah hal yang dituntut dalam
setiap aspek kehidupan kita, dalam setiap tanggung jawab dan dalam setiap
profesi atau pekerjaan. Tanpa anda mengaku sebagai pelayan Tuhan sekalipun, tuntutan
berkorban itu cukup tinggi; apalagi jikalau kita mengaku sebagai pelayan Tuhan!
Tentunya tanggung jawab untuk berkorban menjadi lebih sangat tinggi bagi kita.
Sekarang mari kita sekali lagi
memperhatikan pada apa yang Yesus katakan dalam ayat 28, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk
melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”.
Yesus datang untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi
banyak orang. Inilah model yang harus Anda dan saya teladani hari ini, yakni
kesiapan dan kemauan untuk berkorban. Hal pertama yang perlu untuk kita bahas
ialah kata “memberikan nyawa-Nya”. Di
sini Yesus sebagai Pribadi yang berhak atas diri-Nya sendiri, datang untuk
menyerahkan nyawa-Nya sebagai korban yang sempurna di atas bukit Golgotha. Dia
datang untuk memberi dan bukan datang untuk menerima, apalagi mencari untuk
menerima. Tidak!
Kata kedua yang lebih menarik lagi ialah
kata “menjadi tebusan bagi banyak orang”.
Kristus tidak berkorban demi dan untuk diri-Nya sendiri, melainkan bagi banyak
orang. Anda tidak dipanggil untuk berkorban demi diri sendiri, sebab jika
demikian maka semua orang di dunia ini bisa melakukannya dengan mudah. Kenapa?
Karena sesungguhnya itu bukan melayani, melainkan ke-egoisan! Melayani itu
ialah berkorban untuk orang lain. Melakukan dan berjuang dengan segala upaya
demi banyak orang. Demi kepentingan banyak orang. Mungkin untuk komunitas anda,
untuk gereja anda, untuk perusahaan anda, untuk sekolah anda, untuk anggota
kerja anda, dst.
Sampai di sini kita bisa berkata bahwa seorang pelayan adalah orang yang siap berkorban dan terpanggil untuk berkorban, dengan memberi demi dan untuk orang lain. Mungkin sampai di sini anda akan berkata “apa yang bisa saya berikan pada orang lain, sementara kondisi keuangan saya saja kesulitan!”, “bagaimana mau berkorban dan memikirkan orang lain sementara diriku sendiri saja tidak mampu kuperhatikan dan kupikirkan!”. Wah, kalimat-kalimat yang senada seperti itu sangat sering kita dengar bukan! Namun bagaimana menurut anda? Apakah dengan adanya kalimat-kalimat seperti itu maka kita jadi mundur dan enggan untuk melayani? Apakah kita tidak sadar akan tugas dan panggilan yang Tuhan berikan pada kita untuk berkorban!
Tentunya melayani dan berkorban tidaklah selalu berbicara mengenai uang atau materi. Masih sangat banyak hal yang bisa kita lakukan untuk berkorban selain materi. Dengan memberikan waktu, pikiran dan ide, dengan menyumbangkan tenaga dan kemampuan serta skil yang anda miliki, jika memungkinkan anda bisa memberikan berupa materi atau uang, kenapa tidak? Bukankah semua yang kita miliki kita terima atas dasar anugerah Tuhan! Jika semua itu digunakan untuk melayani Tuhan, bukankah itu adalah untuk kemuliaan-Nya. Sampai di sini marilah kita tersadar dan kembali pada kebenaran firman Tuhan. Bahwa berkorban adalah model yang ideal sebagai seorang pelayan Tuhan. Percayalah bahwa Tuhan yang memanggil, Dia juga yang pasti akan memampukan anda untuk berkorban. Dia pula yang pasti akan memberikan jalan, agar bagaimana anda dapat berkorban. Terakhir, percayalah pula bahwa Tuhan adalah Allah sang Pemelihara, Dia tidak akan diam; sebab Ia pasti akan menyediakan berkat-Nya bagi Anda dan saya. Amin. Tuhan Yesus memberkati.

Posting Komentar untuk "Berhasil Melayani - Matius 20:25-28"