zmedia

Mengatasi Amarah - Renungan Harian Kristen Yakobus 1:19-20

 

Yakobus 1:19-20

19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;

20 sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah

 

Marah adalah hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan manusia yang manusiawi. Siapakah gerangan manusia yang tidak pernah marah! Bahkan, oleh karena perkara sepele sekalipun; kita bisa tersulut emosi dan menjadi marah. Ketika seorang anak kecil tanpa sengaja menjatuhkan gelas berisi kopi yang panas, persis ditepi kaki kita; kita bisa menjadi marah besar terhadapnya. Juga bisa saja kita marah besar oleh karena salah mendengarkan apa yang diucapkan oleh orang lain terhadap kita! Jadi, ada seribu satu alasan untuk marah bukan!

Namun, Alkitab tidak mungkin kita bantah. Yakobus berkata bahwa amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran dihadapan Allah. Lantas bagaimanakah kita meresponi kenyataan ini? Yang dapat kita lakukan ialah meminimalisir amarah. Wah, minimalisir! Apa mungkin bisa. Jawabannya adalah sangat bisa. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan Anda sedikit berkata-kata. Itu sebabnya disini Yakobus mengatakan “setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah”. Yakobus menghubungkan antara cepat mendengar, lambat berkata-kata dengan lambat untuk marah. Kenapa ia menghubungkannya? Karena antara mendengar, berkata-kata dan marah, adalah ketiga hal yang saling berkaitan erat.

Kita seringkali marah disebabkan oleh karena kita kurang mendengar dengan seksama, dan lebih senang berkata-kata. Malas mendengarkan ajaran, kotbah, ceramah dan nasihat. Malas mendengarkan orang berkata-kata! Lebih suka mengajar, lebih suka didengar orang dan lebih mau dihargai orang. Itu sebabnya, orang yang seperti ini akan cenderung menuntut ketimbang memaafkan. Akan lebih suka memaksa, daripada menerima apa adanya. Disinilah letak krusialnya, sesorang kerapkali terbawa emosi dan menjadi marah.

Marilah kita lebih sering mendengar dan memperhatikan orang lain, ketimbang lebih banyak berkata-kata. Lebih sering membatasi diri, dengan sedikit berkata-kata. Ada guyonan para tua-tua yang mengatakan, bahwa mungkin Tuhan menciptakan telinga dua buah sementara mulut satu, dengan tujuan agar kita mendengar dua kali lipat banyaknya dari pada bicara! Wah, ada benarnya juga ya kalimat tersebut.

Diam adalah tanda orang berhikmat, sebab pada saat ia berkata-kata ia akan mengatakannya atas hikmat Tuhan dan apa yang ia sampaikan tersebut menjadi berkat bagi banyak orang, yang mendengarkannya. Amin, Tuhan Yesus memberkati.

Oleh Pdt. Theos M. Purba

Posting Komentar untuk "Mengatasi Amarah - Renungan Harian Kristen Yakobus 1:19-20"