zmedia

Bersukacita di dalam Berkotbah


Berkotbah adalah salah satu tugas utama seorang hamba Tuhan. Melalui khotbah, seorang hamba Tuhan dapat membagikan Firman Tuhan dan membimbing jemaatnya. Namun, yang membedakan seorang hamba Tuhan yang luar biasa adalah kemampuannya untuk membawa sukacita dalam berkotbah. Artikel kali ini akan membahas tentang pentingnya sukacita bagi seorang hamba Tuhan dalam pelayanan berkotbah. Tentunya, perihal sukacita tidak hanya menarik untuk dibahas di dalam kalangan hamba Tuhan, di dalam kalangan jemaat awam pun, hal ini sangat menarik untuk kita diskusikan. Tetapi, kita akan coba untuk fokus terlebih dahulu pada jabatan seorang Pendeta Gembala (mungkin lebih tepatnya adalah Pengkotbah).

Sukacita dalam Pelayanan

Sukacita adalah perasaan positif dan gembira yang seringkali muncul dalam hati seseorang ketika mereka mengalami kebahagiaan, kepuasan, atau kedamaian. Dalam konteks sebagai seorang pelayan Tuhan, sukacita adalah ekspresi yang muncul ketika seseorang membagikan pesan Firman Tuhan dengan penuh semangat. Mengapa ini penting? Karena sukacita adalah penanda jiwa yang sehat dalam pelayanan. Lagipula, Paulus pernah berkata “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4)

Membawa Sukacita dalam Pesan Firman Tuhan

Seorang pelayan Tuhan harus menggali firman Tuhan dengan tekun, dan ketika mereka berbicara tentang firman Tuhan tersebut, sukacita mereka harus tercermin dalam kata-kata dan ekspresi wajah mereka. Ketika seorang pelayan berkotbah dengan sukacita, pesan yang mereka sampaikan akan lebih meyakinkan dan bermakna bagi jemaat. Ini adalah seperti sinar matahari yang menerangi hati para pendengar. Anda bisa bayangkan, ketika seorang pengkotbah naik ke atas mimbar dan berkotbah dengan letih lesu, tanpa adanya semangat yang terlihat dari gaya, mimik dan penekanan bahasa? Kemungkinan, pesan yang disampaikan tidak akan diterima dengan maksimal.

Tentu saja, dalam Kitab Suci kita menemukan banyak contoh tentang sukacita dalam pelayanan kotbah. Sebagai contoh dalam Nehemia 8:10, kita melihat bagaimana Imam Ezra ahli kitab itu, berdiri di atas mimbar kayu membacakan Taurat Musa dan memberikan keterangan-keterangan atas Taurat tersebut. Sekalipun pada saat itu keadaan jemaat yang mendengarkan firman tersebut sedang berduka, tetapi Nehemia, Imam Ezra dan orang Lewi, mengajak semua yang hadir pada saat itu untuk bersukacita. Tentunya, mereka tidak akan bisa mengajak umat Israel untuk bersukacita kalau mereka sendiri tidak bersukacita. Sekali lagi, sukacita adalah kekuatan dalam pelayanan.

Menangani Tantangan dan Kesulitan

Meskipun pelayanan berkotbah adalah panggilan yang mulia, tugas itu juga dapat menjadi pekerjaan yang menantang. Ada saat-saat di mana seorang pelayan akan menghadapi tantangan dan kesulitan yang berat agar dapat berkotbah. Namun, sukacita adalah alat yang dapat membantu Anda melewati semua itu. Seorang pelayan yang mampu tetap bersemangat dan berbicara dengan sukacita dalam situasi sulit adalah sumber inspirasi bagi jemaatnya. Terkadang, seorang pengkotbah masih membawa pergumulan berat didalam batinnya, tetapi pada saat detik-detik terakhir hendak naik ke atas mimbar, ia harus mampu melepaskan ingatannya dari pergumulannya tadi. Lalu berkotbah bagaikan tanpa ada masalah!

Saya pernah mengalami masa-masa yang sukar dalam hidup saya tetapi pada saat itu saya tetap harus berkotbah. Ketika Tuhan mengizinkan duka terjadi dalam hidup keluarga saya; anak yang saya kasihi dipanggil oleh Tuhan didalam kandungan, yang sesungguhnya hanya tinggal menunggu 2-3 minggu lagi anak kami akan lahir. Minggu pertama kami lalui penuh dengan duka, tetapi tercipta suka. Suka yang tak terkatakan, tak terbayangkan dan tidak terpikirkan. Sebab Tuhan sampai memampukan saya berdiri tegar untuk berkotbah pada hari minggu dalam ibadah di gereja yang saya pimpin. Saya percaya bahwa Anda pasti pernah mengalami masa-masa seperti ini, hanya mungkin dengan kisah yang berbeda.

Disini saya hendak mengutip apa yang dikatakan oleh Warren W. Wiersbe “Bila seorang pendeta kehilangan sukacita panggilannya, berarti ia kehilangan kuasa. Ia tidak lagi menjadi berkat bagi gerejanya. Hal ini tidak berarti bahwa para pendeta atau gembala tidak pernah mengalami masa-masa tawar hati, bahkan nabi-nabi besar sekalipun di dalam Alkitab dan sejarah gereja pernah mengalami kesuraman. Sebaliknya, ini berarti bawha dalam masa pencobaan dan ujian ia masih merasa senang bahwa ia adalah milik dan penyambung sabda Allah. Hatinya meluap dengan kegembiraan setiap membuka Alkitab dan mempelajarinya sebagai persiapan untuk mengajar jemaatnya. Sukacita dalam berkotbah itu begitu besar sehingga mengatasi semua masalah dan beban. Sukacita ini menolong pendeta menanggung semua beban serta memberi kekuatan dalam menghadapi dan menyelesaikan semua persoalan. (Dalam buku “Prioritas Seorang Pendeta” Penerbit Gandum Mas, Hal.11)

Sukacita sebagai Sumber Inspirasi

Ketika seorang pelayan Tuhan membawa sukacita yang melimpah di dalam berkotbah, itu tidak hanya memengaruhi dirinya sendiri, tetapi juga orang lain. Orang-orang dalam jemaat merasakan kehadiran Tuhan melalui sukacita yang ditampilkan oleh sang pelayan tersebut. Mereka merasa terinspirasi untuk hidup dalam kasih dan iman yang teguh. Sukacita dalam pelayanan menjadi sumber inspirasi yang menular. Bahkan sampai terkadang jemaat berkomentar “Saya heran melihat Anda Pak Gembala, bagaimana mungkin Anda bisa tetap berkotbah dengan semangat dan berapi-api, sementara Anda saat ini sedang dalam keadaan yang susah dan penuh pergumulan?”, maka Anda akan mengatakan bahwa “Tuhan Yesuslah yang menjadi sumber sukacita kita Pak”. Wah, betapa indahnya pelayanan seperti itu ya.

Kesimpulan

Sukacita dalam berkotbah bagi seorang pelayan Tuhan adalah hal yang sangat penting. Ini adalah cara yang efektif untuk menyampaikan pesan Firman Tuhan dengan daya tarik dan meyakinkan. Meskipun tantangan dan kesulitan pasti ada dan muncul dalam pelayanan, sukacita adalah kekuatan yang membantu kita melewatinya. Mari kita selalu ingat betapa pentingnya membawa sukacita dalam pelayanan kita sebagai pelayan Tuhan.


Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1.      Apakah sukacita dalam berkotbah hanya diperlukan oleh pendeta?

Tidak, sukacita dalam berkotbah penting untuk semua pelayan Tuhan, termasuk pendeta, pastor, dan anggota jemaat yang berkotbah.

2.      Bagaimana cara mengatasi perasaan cemas atau gugup saat berkotbah?

Salah satu cara adalah berdoa dan bersandar pada Tuhan. Persiapkan diri dengan baik dan ingatkan diri Anda tentang tujuan berkotbah: membawa pesan Firman Tuhan dengan sukacita.

3.      Apakah sukacita selalu harus terlihat ceria dan riang?

Tidak selalu, sukacita dapat hadir dalam berbagai bentuk. Yang penting adalah ekspresi sukacita yang tulus dan berkaitan dengan pesan yang disampaikan.

4.      Apakah sukacita dalam berkotbah dapat memengaruhi pertumbuhan jemaat?

Ya, sukacita dalam berkotbah dapat menjadi sumber inspirasi bagi jemaat dan membantu dalam pertumbuhan rohani mereka.

5.      Bagaimana cara menjaga sukacita dalam pelayanan dalam jangka panjang?

Selalu membangun hubungan dengan Tuhan dalam doa dan pembacaan Alkitab, selalu berkomunikasi dalam komunitas pelayanan, dan ingatkan diri Anda tentang tujuan dan panggilan Anda dalam pelayanan Tuhan.

Posting Komentar untuk "Bersukacita di dalam Berkotbah"