zmedia

Kedalaman Segala Yang Terlihat oleh Mata



(Suatu perenungan tentang Pengharapan Pekerjaan Allah)

“Masih berkelana disini...
mencari-cari dengan harapan yang pasti
Tak sedikitpun hendak berhenti,
Karena ada didalam hati;
Tentang  kedalaman segala yang terlihat oleh mata
Tentang keindahan yang masih jauh,
Tentang kebenaran yang begitu dahsyat 
Dan tak terjangkau penuh oleh hati dan pikiran...
Pekerjaan Engkaulah itu ya Allah"
Oleh : Yer

Demikianlah sajak yang dilantunkan oleh hati ini, yang dapat disimpulkan dengan pernyataan yang diungkapkan oleh seorang teolog yang saya kagumi oleh :

John Piper, "Bahwa selalu ada hal lebih yang bisa dilihat didalam apa yang saya lihat".  Ungkapan ini diucapkan olehnya setelah ia diajari tentang hal tersebut oleh C.S. Lewis dan Clyde Kilby. Saya tidak tahu kapan pastinya hal itu terjadi.

Berbicara tentang hal ini memang sudah lama saya renungkan, yakni bagaimana kita sebagai orang yang percaya kepada Kristus senantiasa mendasarkan penglihatan kita kepada apa yang Allah janjikan dan itulah yang akan Ia singkapkan kedepan. Namun kesulitan dari setiap kita adalah, untuk menanti dengan sabar apa yang masih akan tersingkapkan kemudian...!!!

Satu bagian didalam alkitab yang mungkin dekat dengan apa yang tertuliskan disini adalah Roma 8:24-25 "Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya. Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun". Ayat 24 tentu konteksnya begitu dekat dengan apa yang Paulus bahas didalam keseluruhan pasal 8, yang dimulai dari ayat 18, tentang kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita, itulah yang hendak kelak Allah singkapkan. Lebih tepatnya kemuliaan tersebut adalah apa yang Paul katakan di ayat 23 yakni : pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Disanalah kita menikmati kehidupan kekal bersama Kristus. Disanalah kesempurnaan menjadi bagian kita secara menyeluruh. Pengharapan kita bukanlah pengharapan yang tidak pasti, karena kita telah menerima karunia sulung Roh (ay 23), yakni keselamatan, yang sifatnya kekal dan tak pernah berubah.
Namun ayat 25 memiliki arti ganda, yakni menuju kepada apa yang dikatakan diayat sebelumnya (ay 24) dan ini tak perlu saya jelaskan lagi, dan juga menuju kepada seluruh aspek didalam kehidupan kita sehari-hari. Apa itu...???

Ketika saya membaca ungkapan yang Piper tuliskan diatas, saat itu saya sedang duduk didepan kampus dimana saya kuliah teologi. Disamping tempat duduk tersebut, dibagian bawah, tanah-tanahnya tumbuh begitu lebat rumput-rumput liar beserta dengan sebatang tanaman liar yang cukup besar. Kurang lebih setinggi lutut saya. Maka coba saya tatap dan perhatikan dedaunannya... em... tangan segera menyentuh daun itu,...

Dan.... saya teruskan dengan membolak-balikkan satu daun yang masih menempel dibatangnya dengan hati dan pikiran terus merenungkan ungkapan Piper tersebut.
Sungguh... ia berbicara... daun itu berbicara...!!!

Ungkapnya : Masih banyakkan yang engkau tidak tahu tentang diri ku...
Ungkap ku : Ini...! Aku sudah memegangnya, dan sudah melihatnya... jadi aku sudah cukup tahu tentang diri mu...
Ungkapnya : Tidak...!!! Coba engkau memperhatikan dengan sungguh diri ku... balik lagi, dan balik lagi, dan balik lagi...! Coba tarik mendekat pada mata mu... lihat tubuh ku... perhatikan apa saja yang tumbuh disekujur tubuh panjang ku itu..., apa yang ada didalamnya... terus bagaimana aku bisa tetap tegap berdiri disini meski engkau selalu lalu lalang setiap hari... didepan ku...!!! Dan coba, coba lagi... semampu yang engkau bisa Theos...!!!
Ungkap ku dengan malu... : Sungguh... masih banyak hal yang tak ku ketahui dari apa yang sedang kulihat tentang dirimu....!!! Maafkan daku.
Tentu interaksi diatas adalah anekdot yang saya buat untuk mengungkapkan maksud dari pesan yang hendak saya sampaikan.

Kembali ke ayat diatas... “... jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun”. Apa hubungannya dengan ayat ini...? Saudara-saudara ku, banyak hal yang sesungguhnya kita ingin agar demikian terjadi (sesuai pikiran dan kehendak kita, atau paling tidak, apa yang baiknya) didalam kenyataan yang terjadi, didalam diri orang lain, bahkan didalam diri kita sendiri. Kita sering tidak sabar untuk menyaksikan apa yang hendak nanti Allah singkapkan langkah-demi langkah!!! Bukankah dilihat dalam prespektif konteks yang luas, ayat 25 menjadi teguran bagi kita...! Bukankah alangkah indahnya jika kita mengharapkan saja tentang apa yang baik itu? Tanpa memaksa untuk lekas terjadi, atau berupaya untuk melaksanakannya, atau justru putus asa dan hilang pengharapan.

Mungkin disini saya perlu mengangkat beberapa contoh :

1. Dulu... saya pernah kenal seorang wanita, kita cukup dekat. Namun, ada karakternya yang sulit untuk saya terima. Saya bertanya-tanya tentang dirinya yang demikian kurang dipandangan mata saya. Kenapa bisa begini...? Aduh... seharusnya janganlah begitu diri mu... Sampai disini, saya sudah berhenti untuk berharap. Berharap apa? Berharap akan perkembangannya! Berharap akan karya Tuhan yang besar didalam hidup selanjutnya didalam mengubah karakter negatif tersebut. Jika mau diterapkan ungkapan Piper : maka saya sudah tidak dapat melihat hal lebih yang masih ada didalam apa yang saya lihat tentang dirinya. Dalam hal ini, saya menjengkalnya. Saya menghakiminya, saya tidak benar!!!
  
2. Dulu... saya juga pernah mengalami masalah yang sangat rumit. Bahkan bagi semua pemuda yang lajang seperti saya. Saya berpikir bahwa masalah itu besar bagi ku. Sungguh, sampai bertanya saya : Kenapa ini terjadi ya Tuhan....??? Putus asa, dan hilang harapan melanjutkan hidup untuk melayani diladang Tuhan. Langkah kaki sudah bulat saat itu, yakni meninggalkan tempat pelayanan saya, dan pergi ke kampung halaman. Sampai disini... saya sudah tidak mengarahkan pandangan saya kepada pengharapan. Pengharapan bahwa masih ada hari esok dimana Tuhan dapat melakukan yang mustahil bagi saya. Pengharapan bahwa masih ada perkara besar yang Tuhan akan singkapkan melalui kejadian yang menimpa saya ini. Pengharapan bahwa Allah akan mendatangkan kebaikan melalui kejadian ini (Rom 8:28), bagi saya, bagi orang disekeliling saya.
 
Didalam diri orang lain masih tersimpan begitu banyaknya hal yang belum kita ketahui, bahkan apalagi, yang akan Allah singkapkan didalam diri orang tersebut. Didalam setiap kejadian yang terjadi didalam hidup kita, baik suka maupun duka, dibalik kisah tersebut, Tuhan punya rencana yang jauh melampaui apa yang dapat kita duga.

Oleh karena itu, tetaplah arahkan mata kepada apa yang Tuhan janjikan terhadap segala objek yang dapat kita lihat dengan mata kita. Seperti tanaman yang saya lihat, begitu banyak hal yang jika saya perhatikan, tidak sanggup saya ketahui dengan lekas, bahkan mendetail. Tetaplah nantikan Tuhan menyingkapkannya, dengan “tekun”.


Amin, Tuhan Yesus Memberkati...
Teriring salam : Yer.

Posting Komentar untuk " Kedalaman Segala Yang Terlihat oleh Mata"