Shalom
teman-teman, kali ini catatan yang hendak saya tuliskan adalah tentang hal yang
sering kali menjadi problema didalam hidup setiap kita, orang-orang yang
percaya kepada Kristus. Apakah itu? Yakobus 1:19-20 berkata :
“Hai saudara-saudara yang kukasihi,
ingatlah akan hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi
lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia
tidak mengerjakan kebenaran dihadapan Allah”
Pastinya
sudah dapat diterka apa yang ada dipikiran saya, yakni tentang amarah. Ya...
ini merupakan bagian firman Tuhan yang beberapa hari yang lalu kami renungkan
bersama didalam doa malam bersama mahasiswa disekolah teologi dimana saya
dibentuk oleh Tuhan. Ketika pembawa firman pertama yang hendak men-sharingkan
firman ini, saya bersyukur karena beberapa kebenaran dapat dikumandangkan
dengan indah saat itu. Dan saya tertegun sekali dengan yang Yakobus katakan di
ayat 20, bahwa amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran dihadapan Allah!
Apa... tidak mengerjakan kebenaran? Lantas mengerjakan apa dong??? Maka saya
berpikir kebalikan dari kebenaran atau benar adalah salah atau kesalahan.
Seperti ketika saya dulu waktu duduk dibangku sekolah dasar, mengumpulkan tugas
yang sudah diberikan oleh guru saya, harap-harap mendapat nilai yang baik,
namun ternyata tanda salah diberikan, yang lazimnya dengan tanda kali atau x.
Guru tersebut bukan memiliki standarnya sendiri untuk menilai salah atau benar,
tetapi memanglah ada standar yang yang umum dan mutlak untuk memberikan salah
atau benar. Juga ketika beberapa hari yang lalu saya menerima kembali bab satu
skripsi saya setelah dianalisa oleh dosen pembimbing saya, pada halaman pertama
ada tanda kali sebanyak tiga dibagian-bagian tertentu, yang memberitahukan
bahwa itu salah atau tidak perlu. Jadi, itu saya kerjakan adalah mengerjakan
kesalahan.
Sederhananya
demikianlah contoh yang mendekati yang dapat kita angkat didalam kehidupan kita
sehari-hari, yang bersangkut pautan dengan salah dan benar. Didalam poin ini
kita hanya fokus kepada apa yang Tuhan katakan tentang amarah, sebab jika
hendak melihat segala aspek didalam kehidupan kita maka akan begitu banyak
terlihat kesalahan-demi kesalahan yang kita perbuat, dan ini akan membuat kita
tak sanggup untuk menghitungnya. Ya... tak sanggup menghitungnya... banyak
banget ya...!!! Hiiii.....
Sekali
lagi saya tertegun ketika membaca dan merenungkan ayat 20 itu. Mengapa saya
tertegun? Karena saya tahu berarti selama ini (saat-saat tertentu), saat saya
terbawa oleh hati saya yang panas oleh ketidak puasan dan segera
melampiaskannya didalam ekspresi amarah : ucapan, tingkah laku... dsb, bukanlah
mengerjakan kebenaran, dan yang lebih lagi, tak pernah bisa saya terlepas dari
gejala tersebut. Ya... tidak pernah bisa lepas. Dan saya yakin saudara/i juga
demikian halnya. Kita sama. Masih ada disini, didunia ini, hidup bersama dengan
manusia yang berbeda satu dengan yang lain, latar belakang dan pola pemikiran
yang tidak mungkin sempurna dan sama dengan kita. Maka perselisihan sering kali
terjadi didalam relasi kita dengan orang lain disekeliling kita. Jikalau
demikian bagaimanakah???
Saya
percaya bahwa anugerah Tuhan melimpah... Ia tidak pernah memperhitungkan
sedikitpun pelanggaran dari setiap anak-anakNya :
“Berbahagialah
orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya;
berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya” Roma
4:7-8.
Tetapi... bukan berarti
kita membiarkan amarah senantiasa terus bergejolak bak bom nukril yang berhak
untuk setiap waktu menyerang orang disaat hati kita panas!!! Tidak.... namun
kita dapat meminimalisirnya. Sebab biar bagaimanapun, Tuhan katakan itu tidak
benar dan sebagai orang percaya hendaknya hidup didalam kekudusan (kekudusan
yang dinamis/progresif). Jika demikian, bagaimanakah meminimalisir amarah???
Saya juga percaya Yakobus tidaklah salah menempatkan ucapannya diayat 20
sesudah ia mengatakan hal penting diayat 19, yang berkata :
“... setiap orang hendaklah cepat
untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah”.
Amarah sering kali
timbul dan diolah dengan baik saat kita lebih cepat untuk berkata-kata. Jika
hendak kita renungkan sejenak, seberapa seringkah kita menjadi marah, atau
panas hati itu sudah ada namun melonjak menjadi marah yang tidak dapat
dikendalikan timbul melalui pendengaran atau pada saat berkata-kata? Saya yakin
pada saat berkata-kata. Ketika teman kita tidak mengerti maksud kita dan
bertindak salah dipandangan kita, kita lebih cepat meresponi ketimbang
mendengar alasan dia dan argumentasinya yang kemungkinan lebih cemerlang
dibanding kita. Ketika kita dipersalahkan, kita tidak siap sebagai pendengar
yang setia dan cenderung segera berdiri dan menunjuk kesalahannya juga dan
membela diri. Aduh... teman-teman, saya tidak sanggup mengangkat contoh-contoh
yang terlalu banyak itu!!! Biarlah saudara/i yang membaca merenungkan hal itu
pelan-pelan.
Cepatlah untuk mendengar... seperti kita lekas-lekas
pergi ketempat saat atasan memanggil kita. Cepatlah untuk mendengar seperti
kita bergegas untuk menolong anak kita yang berteriak saat tenggelam dilautan
yang dalam... Sebab inilah yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan didalam
kehidupan kita. Kebalikan dari itu adalah, lambat untuk berkata-kata. Karena
dengan banyaknya kata-kata yang terucap dari bibir kita, terlalu banyak potensi
menghina dan menyakiti hati sesama kita.
“Di dalam banyak bicara pasti ada
pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi” Amsal 10:19.
Amarah akan kita
kurangi dengan lambatnya kita untuk berkata-kata. Baik saat melihat kesalahan
orang lain dengan menantikan Tuhan berperkata, ataupun disaat perselisihan itu
sudah terjadi, hendaknya telinga lebih kita besarkan dan lapang dada untuk
menerima : mungkin inilah waktu demi terciptanya kesadaran diri kita yang
mungkin kita yang salah dan perlu memperbaiki diri. Ini berlaku didalam segala
aspek kehidupan kita : keluarga, suami isteri, anak-anak, didalam bekerja,
berelasi dengan orang-orang disekeliling kita, bersekolah, terlebih bagi saya
yang ada dibahtera pelayanan Allah : sungguh begitu sering berjumpa dengan
kenyataan yang membuat hati ini ingin melonjak dan menyatakan ketidak sukaan
atau ketidak puasan terhadap rekan-rekan sepelayanan dan kenyataan tersebut.
Namun bersyukur sekali ketika merenungkan Yakobus 1 :19-20 ini. Betapa kita
harus menyadari bahwa amarah itu adalah tidak benar dimata Tuhan, namun Ia
tidaklah tidak memberi jalan keluar, sebab Ia ajarkan kita saat ini untuk lebih
cepat untuk mendengar dan lambat untuk berkata-kata yang menjadi sarana
terciptanya amarah didalam kehidupan kita sehari-hari.
Oleh karena itu teman-teman ku yang dikasihi Tuhan...
mari kita hidup rukun dengan melakukan apa yang Tuhan katakan tentang hal ini.
Saya tahu bahwa ini hal yang begitu sulit, tetapi saya yakin Tuhan tidak akan
beritahu ini jika Ia tidak akan memampukan kita dan memberikan penghiburan
kepada kita, dikala kita mengalami kenyataan tersebut. Inilah yang saya dapat
bagikan kepada kita semua, harapan saya dicatatan selanjutnya saya akan
membagikan perenungan saya tentang sikap saya yang terlalu sering dilanda oleh
pesimisme akan keberhasilan dan perkembangan. Saya yakin, kita kerap kali
mengalami hal itu. Tentu tidak akan tuntas menyeluruh, tetapi cukuplah catatan
singkat berupa devosional seperti yang sekarang ini untuk merenungkan apa yang
Tuhan katakan tentang hal itu. Dengan demikian kita dapat hidup didalam
kemenangan senantiasa didalam hal-hal sedemikian, bagi kemuliaan Tuhan.
Selamat
meneruskan kehidupan
Jauh
disana, dan aku tidak tahu
Namun
yang kuyakin bahwa
Engkau
sahabat ku, dan Ia mengasihi engkau...
Tuhan
memberkati!!!!
By Yer.

Posting Komentar untuk "Amarah! Aku dapat menguranginya"