(Suatu
perenungan tentang hati yang begitu lekas untuk pesimis)
Diikuti dari belakang aku
Selalu saja ia ada disitu
Pada waktu yang tepat ia menampakkan dirinya
Hingga aku tak kuat dan lemah...
Akan ku katakan ia tidak benar
Akan ku teriakkan bahwa itu bukanlah yang Dia mau...
Juga yang aku sendiri tak kehendaki
Tetapi sering ada diwaktu yang tepat baginya
Jiwa yang lekas untuk putus asa dan lemah
Hati yang cepat untuk tawar dan tak yakin
Tentang hasil yang akan didapatkan
Bahkan, pengharapan yang baik nantinya...
Sungguh akan kusebut itu pesimisme...
Keadaan yang terlalu ciut untuk diikuti
Terlalu lemah untuk diteladani
Juga begitu jauh dibawah kemungkinan untuk naik dan
bangkit...
Aku sendiri sering bertanya kepada diri ku ini
Mengapa seperti ini...???
Kenapa lekas jiwa ku untuk lemah seperti ini
Kenapa......
Dikala kenyataan begitu tak mendukung dimata ku
Disaat mereka tak sesuai harapan untuk keberhasilan
Bahkan sampai ku lupakan betapa bejatnya diri ku
Sangat bodohnya aku...
Huh... biarlah aku meninggalkan tubuh ini
Dan pergi meninggalkannya
Sebab tak sanggup ku lihat wajah kemunafikan ini
Berselimutkan keindahan alam raya yang fana
Aku mungkin dapat menyampaikan alasan mengapa hati
ini begini
Mungkin jika orang bodoh yang mendengar aku yakin
Bahwa ia akan memandang aku baik dan layak untuk di
beri tepuk tangan yang indah
Lebih dari itu, ternyata aku lebih pantas dari semua
orang yang ada didunia ini
Tentunya demikianlah jeritan hati nurani yang murni
ini
Dikala kupandang sikap ku yang sedemikian
Sulitnya untuk senantiasa yakin akan cara Tuhan
bekerja
Dibalik kesulitan yang kupandang didepan mata ku
setiap harinya
Tuhan... mau mati rasanya aku
Jika seperti ini setiap hari aku
Mau kemana aku
Jikalau hancur hati ku...!!!
Oh Bapa...
Bukan mata ku
Untuk melihat terang yang ajaib dibalik kenyataan
yang sulit
Hendak menguatkan hati ini untuk kuat dan berdiri
disini
Melewati setiap hal yang terjadi
Tanpa keputus asaan dan kelemahan batin
Yakin akan perkembangan dan keberhasilan yang masih
menanti
Tunggu waktu indah Mu ya Allah ku...
Akan
saya mulai, setelah sajak dari hati ini berbicara, dengan mengutip Yosua 1:9 :
“Bukankah
telah Ku perintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Jangan kecut dan
tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi”
Sungguh...
jika Yosua ada bersama untuk duduk disamping saya dibangku arena pertandingan,
akan kutanya kepadanya “apakah aku pantas untuk kecut dan tawar hati
disaat-saat ini, ketika melihat kenyataan tak sesuai dengan pengharapan untuk
kedepan demi perkembangan pelayanan???” Aku yakin... ia akan menarik nafas
panjang, dan mengarahkan pandangan matanya kepada saya dengan tajam, lalu mulai
berbicara... apakah itu? Ia memulai dari terbit hidupnya ketika ia dipersiapkan
Tuhan untuk mengemban tanggung jawab yang begitu besar, hingga ia menghadapi
bangsa Israel dengan seluruh tantangan yang ada menuju Kanaan serta kedegilan
hati bangsa itu. Dengan seluruh jerih lelahnya... dengan seluruh air mata dan
kelemahannya, dengan seluruh kesulitan yang ia alami... hingga Tuhan menggenapi
rencanaNya merebut tanah Kanaan bagi Israel. Tak terasa hari sudah begitu larut
malam... dan itupun tidaklah tersedia untuk ia habiskan ceritanya tentang bagaimana
Tuhan senantiasa menguatkan ia dikala ia lemah... dengan meningat pesan yang
Tuhan sudah sampaikan jauh-jauh hari sebelum ia berdiri didepan bangsa Israel :
kuatkan dan teguhkanlah hati mu!!! Satu hal yang membuat ia tetap melakukan itu
adalah karena Allahnya senantiasa menyertai dia kemanapun ia pergi!!!
Ketika coba untuk merenungkan
tentang keputus asaan yang cendrung hadir didalam hati saya... saya tahu bahwa
itu tidak berkenan dihati Tuhan. Namun sulit sekali untuk lepas dari itu! Kerap
saya sampai sulit untuk duduk didepan buku belajar saya hanya karena melihat
perkara sepele yang tidak sesuai dengan harapan. Lari meninggalkan tempat itu,
dan bergegas untuk menyendiri, berdiam, tak berkata-kata... dan menjadi ciut!!!
Tak lama kemudian terang Tuhan hadir... memberi warna semangat yang kuat... tak
lama lagi kembali....!!! Lemah dan putus asa lagi, disaat terulang kembali hal
yang tak sesuai dengan kehendak “baik” hati ini...! Aduh... bagaikan kapal yang
terombang ambingkan kian kemarilah daku ini....
Saya yakin kepada setiap kita yang
ada, sering kali mengalami hal yang sama seperti yang saya alami! Tak jarang
kita menjadi sulit untuk tidur malam... gelisah dan menjadi orang yang
sepertinya tak punya pengharapan! Orang lain dapat melihat wajah kita yang tak
memancarkan kehidupan itu, hanya akan berdiam disana tak mengerti dan tak mau
tahu! Oh.. siapakah gerangan yang hendak menghibur dan menjadi teman untuk
mendengarkan? Manusia akan lari untuk meninggalkan ucapan yang seperti ada
dihati saya...
Tetapi... dikala merenungkan apa
yang Yosua katakan diatas... terhibur dan menjadi kuatlah hati ini. Sadar akan
kelemahan yang harus dilawan dengan keyakinan kemampuan dari pada Allah.
Percaya bahwa Allah menyertai dan bekerja dengan segala kesempurnaan daulatNya
dan kasihNya. Dikala hati kita tawar dan kecut... hendaknya mengarahkan mata
untuk memandang kedepan bagaimana Allah masih berperkara untuk segala yang
terjadi disekeliling kita. Dia punya maksud untuk diri kita dan orang lain.
Jujur saya harus mengakui... kerap
saya berjumpa dengan kenyataan yang tidak mendukung akan keberhasilan pelayanan
yang hendak kami rintis bersama kedepannya. Didalam ranah pelayanan tentunya
seorang hamba Tuhan tidaklah harus cepat untuk putus asa ketika melhat itu
semua, karena bukankah akan berhadapan dengan perkara yang lebih besar lagi
dari itu? Ya. Itulah sebabnya keputusan untuk mengambil langkah meninggalkan
sikap pesimisme seperti yang saya alami atau yang saudara/i juga alami, sedini
mungkin kita singkirkan dengan percaya kepada Tuhan bahwa Ia menyertai langkah
kita dalam segala perkara.
Saya tidak menyangkal bahwa hati
yang lekas untuk lemah pasti akan selalu ada, tetapi saya tidak juga mengakui
bahwa sikap hati yang demikian memang sudah ada sejak Tuhan ciptakan. Semua
karena dosa manusia yang menyebabkan semua ini menjadi kacau berantakkan. Ordo
yang berubah, menyebabkan kekacauan didalam relasi, baik dengan Allah, sesama,
dan dengan diri sendiri. Mungkin perkara yang saya tuliskan ini didalam
kategori yang terakhir, yakni relasi dengan diri sendiri. Pertanyaannya
sekarang, bukankah Kristus sudah menebus kita? Bukankah Kristus datang kedalam
dunia menyelamatkan kita dari dosa dan dengan seluruh kuasa serta pengaruhnya?
Dia menyelesaikan itu dikayu salib dengan sempurna. Kini Ia memanggil kita
untuk melakukan apa yang kudus dan bukan apa yang cemar (2Tes 4:7). Sikap hati
yang lekas lemah atau pesimis merupakan hal yang dapat dipastikan bukan kudus,
juga bukannya tidak cemar. Oleh karena itu, hendaknya kita bersama-sama percaya
kepada Allah yang senantiasa memberikan kekuatan, memampukan kita untuk
menghadapi berbagai kenyataan yang jika dilihat tidaklah mendukung
perkembangan.
Saya ada diranah pelayanan...
terlebih juga ada diranah pendidikan teologi, masih studi, namun sudah punya
pengharapan akan kesatuan didalam pelayanan kami (Gereja Kabar Baik Indonesia,
dimana saya ada didalamnya dibentuk dan dipersiapkan melayani di organisasi
ini). Saudara mungkin juga sama seperti saya, atau didalam ranah yang lainnya :
dalam pekerjaan, dalam rumah tangga, dan masih banyak lagi. Jadilah seperti
Yosua, yang mengingat Tuhan, dan senantiasa menaruh percaya kepada Tuhan yang
selalu menyertai kemanapun kakinya melangkah. Ini merupakan perjalanan ziarah
yang panjang untuk ia hadapi, terlebih kita yang jika mau dibandingkan tidaklah
seberat yang Yosua alami. Tetapi puji Tuhan, diarena pertandingan itu, ia duduk
bersama dengan saya dan saudara serta berkata seperti yang Tuhan katakan
kepadanya, dari sejak mudanya : “Jangan
kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun
engkau pergi”.
By
Yer
Tuhan
Yesus memberkati!

Posting Komentar untuk "Kenapa Lekas Jiwa ku untuk Lemah seperti ini...!"