![]() |
| Kondisi sekitar 3 Bulan yang lalu |
Taraf Kehidupan...!!! Apa dampaknya? Seberapa
pentingkah hal ini? Apakah ada bedanya apabila kita, para
misionaris/penginjil/hamba Tuhan, tidur diatas kasur pegas atau diatas alas
tidur yang terbuat dari papan-papan, apakah kita makan dengan sumpit, sendok
atau dengan tangan, atau dengan garpu. Apakah kita mengenakan pakaian dari
sutra atau kain tenunan sendiri, apakah kita duduk di kursi atau di lantai?
Apakah ada bedanya apabila kita miskin atau kaya? Apakah ada bedanya apabila
kita makan nasi atau kentang? Apakah ada bedanya apabila kita hidup dengan cara
yang sudah biasa kita jalani, atau mengikuti cara hidup orang-orang yang kita
datangi?
Kebanyakan dari kita lebih menyukai keadaan yang
sudah biasa kita jalani dari pada keadaan yang berbeda. Bagaimanakah seharusnya
perilaku kita diladang misi? Apakah kita bebas untuk berusaha mengatur hal-hal
itu sebagaimana yang kita sukai dan hidup sedapat mungkin seperti cara kita
hidup dirumah?
Untuk menjawab pertanyaan diatas, perlu diketahui
bahwa seorang misionaris hendaklah hidup sesuai dengan keadaan dimana ia diutus
untuk melayani Tuhan.
Sampai disini, Mabel Williamson menyampaikan hal
yang begitu indah bagi saya, ketika ia berkata bahwa : Setelah beberapa waktu orang menjadi terbiasa, dan hal yang sulit itu
menjadi mudah, bahkan sering kali apa yang dahulu tidak disukai itu kini
disukai!
Puji Tuhan... kerinduan saya untuk mencatatkan ke 11
poin “TIDAKKAH KAMI MEMPUNYAI HAK” yang dituliskan oleh Misionaris yang luarbiasa
Mabel Williamson tercapai juga. Setelah satu Minggu ini saya merenungkan apa
yang telah ia kemukakan, dengan penjelasan yang baik dan rapi untuk
menghancurkan benteng hak-hak yang saya pikir harus saya tuntut dan
perjuangkan. Poin pertama ini, Hak Atas Taraf Kehidupan yang Saya Anggap Wajar
merupakan perenungan yang penting sekali bagi saya. Karena tidak bisa tidak,
saya akan segera menuju (bahkan sekarang sedang dipersiapkan Tuhan untuk itu),
Hak atas taraf kehidupan yang saya pikir baik bagi saya.
Apakah taraf kehidupan yang saya pikir baik bagi
saya itu?
<<>> Kelak jika saya sudah ditempatkan
Tuhan seusai studi teologia ini, ingin rasanya mempunyai tempat pelayanan yang
enak : fasilitas yang lengkap, setidaknya akses jalan dan telekomunikasi yang
mendukung. Terlebih dalam dunia era modern kini, internet menjadi hal yang
penting juga bagi saya. Jadi, saya butuhkan itu kelak ditempat saya melayani.
<<>> Kebutuhan makan dan minum yang
tercukupi. Air setidaknya leding... Tersedia toilet yang baik, juga dapur yang
indah dan lengkap untuk mempersiapkan makanan.
<<>> Kamar istirahat yang indah, bila
perlu di lantai dua, disana akan ku tata sesuai dengan kesukaan hati ku.
Dikamar tidur itu tersedia tempat tidur yang berpegas, tersedia AC atau
setidaknya kipas. Tersedia meja dan bangku untuk belajar ku setiap sore hingga
malam yang terletak persis berhadap dengan matahari yang akan segera terbenam.
Oh... alangkah indahnya meja belajar ku, yang terpangpang komputer didepan
sebelah kiri, dan ada salon/speaker disebelah kanan untuk ku persilahkan musik
instrumental nan indah untuk membawa hati ku dalam suasana memuji Allah
ku...!!! Lalu... tak lupa, entah dimana diruangan kamar itu akan ku buat rak
buku ku yang banyak ini... ya... ada perpustakaan ku dikamar tersebut. Aduh...
inginnya itu sekarang juga....
<<>> Ingin ada ruangan sendiri dipastori
tersebut, tidak besar dan tidak kecil, namun hanya cukup satu orang saja.
Tertutup dan tersedia gitar disana untuk ku setiap pagi dan malam dapat
menaikkan pujian penyembahan kepada Allah ku yang hidup.
<<>> Ruangan tamu yang tersedia...
lengkap meja dan kursi yang nyaman untuk digunakan.
<<>> Halaman depan yang indah... penuh
dengan rerumputan yang cukup luas. Dan di belakang pastori tersedia juga lahan
yang dapat ku buat menjadi tempat berduduk santai dibawah pohon mangga yang
rindang nan sejuk menawan mata. Bisa baca Alkitab dan buku disana... bisa
menulis disana... bisa conecting to internet...!!! Wah... apa tidak enak itu
ya...!!! Tentunya...
<<>> Kemudian... ingin ada kendaraan
kelak. Setidaknya motor, untuk aku bisa melakukan perjalanan kemana-mana. Baik
dalam pekerjaan Misi, berkunjung dan pelayanan lokal, dapat ku gunakan
kendaraan tersebut.
<<>> Gereja yang indah dan memadai
fasilitasnya... berdampingan dengan pastori dimana aku hidup dan melayani
Tuhan....!!!
Ya.... oh ya...!!! Masih ingin sendiri hidup
ditempat itu... dengan demikian dapat fokus pada pelayanan yang ada, belajar
dan mengenal Dia lebih dalam lagi. “Semua
itu, aku janji ya Allah...... bagi kemuliaan Mu...!!!”.
Demikianlah apa yang ku anggap baik sebagai
taraf kehidupan bagi ku, seorang hamba
Tuhan...!
“Oh
Tuhan....
Pikiran
ku berlabuh jauh disana... disana... entah dimana... hanya ilusi yang ada...
Membayangkan
semua taraf hidup yang kuanggap baik bagi ku diatas
Namun...
apakah itu semua adalah hak yang harus ku pertahankan...
Apakah
itu, adalah hak ku....
Bagaimana
jika sekarang... :”
Sekarang.... ya sekarang....
< Sekarang saya ada ditempat yang cukup dalam...
di dusun yang jauh dari kota Kabupaten. 50 KM dari kota kabupaten, 25 KM dari
kota Kecamatan, 8 KM dari pusat Desa, dan 4 KM dari jalan raya. Jalan tanpa
aspal... merupakan perjuangan yang berat jika hendak keluar dimusim hujan.
< Tanpa listrik dan sulit sinyal telekomunikasi
(sinyal hp dan internet). Gereja pedalaman... diatas tanah yang berluas 30x30
M. Hidup dilingkungan kampung yang tidak sebersih dibeberapa tempat elit.
Binatang babi dan anjing, ayam yang bekeliaran dimana-mana dikampung tersebut.
Bertanah kuning, penuh dengan hutan mengelilingi.
< Gereja... Bangunan yang apa adanya...(tentu
lebih baik dari 1 setengah tahun yang lalu ketika pertama kali “aku” datang
untuk memberitakan Injil dikampung tersebut) setengah tembok, berlantaikan
tanah... berduduk diatas kayu papan tebal... beratapkan seng yang panas tanpa
dek/plafon.
< Pastori yang hanya sebesar 3x5 M. Hanya satu
ruangan kamar... kecil... dengan satu lemari sederhana buatan tangan, yang tak
cukup semua baju ku disitu. Tempat tidur diatas papan beralaskan tikar...
dengan kelambu menghindar dari gigitan jahat sang nyamuk. Berdindingkan papan
yang tak menentu lobangnya.... cela yang banyak... juga tak jarang jika hujan
akan ditemani oleh tempias air hujan itu, dari atas dan dari samping kiri kanan
depan belakang. Jika disini... dahulu aku mengunakan pelita atau lilin dimalam
hari guna membaca dan mempersiapkan kotbah, diatas meja yang kecil tanpa
satupun perabotan yang memadai.
< Jika mau mandi, bab dan bak... harus berjalan
dulu sekitar 500 M untuk mencapai sungai kecil diujung kampung. Mencuci dan
memancing... sering dilakukan disitu. Begitu menyenangkan....!!!
< Dapur yang sederhana... buatan tangan dari kayu
dikampung itu. Tungku tersedia untuk memasak dengan kayu bakar. Memasak air
hujan yang ku tampung... memasak sayur yang dicari ke hutan hutan... dan
sekarang puji Tuhan sudah menanamnya sendiri ditepian pastori. Tersusun rapi
piring dan gelas diatas rak yang dibuat dari kayu... jadi indah juga dipandang
mata.
< Tidak jarang aku makan ketempat kediaman
jemaat... juga tidak jarang aku istirahat malam dikediaman mereka. Tidak jarang
aku harus menghabiskan waktu ku setengah hari bersama mereka. Tidak jarang aku
terlambat makan oleh karena kurang cakapnya aku memasak makanan. Tidak jarang
aku gelap gelapan disini bersama angin malam yang menyentuh sekujur tubuh ku...
Tidak jarang aku berlutut diatas pasir yang melukai lutut ku dihadapan mimbar
Tuhan digedung gereja ini....
< Halaman belakang yang langsung berhadapan
dengan sawah milik jemaat yang terbentang cukup luas... hijau terkadang
cokelat...! Masih ada beberapa meter kebelakang sebelum menyentuh padi
mereka... aku, dan kini bersama rekan ku, memanfaatkan halaman belakang
tersebut untuk bertanam: kacang panjang, cabe, timun... dll!!! Demikian juga
halaman depan sebelah kiri, yang dipenuhi tanam tanaman... kacang panjang,
timun, sawi, bayam, jagung, kangkung, dll!!! Ada pisang, ada singkong, ada
pepaya, ada terong, ada juga rumput yang dengan sendirinya tampil dimuka
halaman ini... Hiii.
< Ruang tamu yang sederhana... menjadi tempat
bertumpuknya buku buku yang cukup banyak ini. Terkadang terkena basah oleh
tempias hujan... disitu juga kami sering makan pagi, siang dan malam. Disitu
sering kami kedatangan tamu dari kampung yang kami layani. Disitu kami sering
duduk bersama menceritakan berbagai macam hal, mulai dari cabe, ke jam, jam ke
ayam, ayam ke Firman, Firman ke Jemaat, dan jemaat ke Hidup... dan masih banyak
lagi. Disitu kami kadang duduk berdua bersama rekan penginjil ku, untuk
menikmati kopi saset yang dibeli di kota... ditemani dengan kerupuk goreng
buatan sendiri, entah dari berbagai bahan yang ada. Tak lelah untuk menyapunya
hampir belasan kali dalam satu hari....!
Yang pasti.... jika aku ada disana... ditempat yang
tersedia segala yang ada... begitu rindu aku untuk kembali ketempat ini lagi...
dan jika Tuhan kehendaki, bagi Dia sajalah seumur hidup ku begini... asal, 1
jiwa kembali kepada Dia Sang Juruselamat dunia....! Amin... Haleluya..!
Benar bahwa Williamson berkata “Setelah beberapa waktu orang menjadi terbiasa, dan hal yang sulit itu
menjadi mudah, bahkan sering kali apa yang dahulu tidak disukai itu kini
disukai!” Kini kusukai keadaan ku sekarang ini....
Hak Atas Taraf Kehidupan yang Ku Anggap Wajar bagi
ku... runtuhlah sudah... sebab bukan untuk itu aku hidup... Tidak ada bedanya
bagi ku dipedalaman kampung yang terpelosok sekalipun dengan dikota besar
seperti Jakarta yang dahulu aku ada disana hampir 2 tahun lebih. Tidak ada
bedanya bagi ku jika harus menantikan tangan Tuhan menggerakkan hati jemaat untuk
membawa kantong plastik berisi beras dan minyak goreng beserta rempah rempah
memasak dari pada dapur yang dipenuhi segala macam yang dibutuhkan untuk
memasak. Tidak ada bedanya bagi ku jika ada lampu dan ada lampu/listrik. Tidak
ada bedanya bagi ku ada sinyal telekomunikasi dengan area yang ada fasilitas
telekomunikasi dan informasi. Tidak ada bedanya... bagi ku... apa aku miskin
atau kaya...!!!
Sungguh... sekali lagi ku katakan.... TIDAK ADA BEDANYA...!!!
Amin...
Sejak aku memutuskan untuk menjadi seorang
Misionaris... Sudah ku tahu apa yang akan ada dihidup ku... kesusahan hidup
disana sini untuk memberitakan Injil...!!! 4 Tahun sudah diladang Tuhan... ada
kalanya aku hidup ditaraf yang enak bagi ku... namun kini taraf hidup itu
berbeda sekali.. dan aku berkata dihadapan Tuhan dan teman teman, bahwa kini
hati ini lebih siap untuk kehilangan hak atas taraf kehidupan yang aku anggap
wajar bagi ku...! Bukan karena siapa siapa... namun oleh karena Yesus Kristus
Tuhan kita...!!! Yang memanggil ku bukan hidup bagi ku sendiri, tetapi bagi
Kristus saja...
Mungkin sampai disini saja catatan ku kali ini...
memang cukup panjang, bahkan tak ingin berhenti rasanya. Oleh karena itu...
sampai jumpa dicatatan saya selanjutnya pada poin ke dua yang membahas “Hak atas Tindakan Pencegahan yang Wajar
untuk Kesehatan yang Baik”...!!!
Note : Poin kedua ini... jujur...
merupakan perenungan yang penting sekali bagi ku... sebab kupunyai pergumulan
yang berat untuk hal itu.
Terimakasih... Tuhan Yesus Memberkati!!!
Khusus kepada, rekan ku Misionaris : David Brainerd
dan Mabel Williamson...

Posting Komentar untuk "Hak Atas Taraf Kehidupan yang Saya Anggap Wajar...!"