zmedia

Mengakhiri Pertandingan!


Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu! Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.  (2Timotius 4:5-7)



            Pada usia 12 tahun saya pernah menyaksikan upacara penguburan saudara yang saya kenal. Lebih dekat lagi ialah pada usia 16 tahun saya juga pernah menyaksikan tubuh yang sudah dibungkus dengan kain putih, tak bergerak, tertidur bujur dengan kondisi ia telah kehilangan hidupnya, ia adalah sahabat saya yang cukup lama menemani sejak kecil. Lalu saya juga pernah menyaksikan secara langsung upacara dan penguburan keluarga kami yang meninggal di usia 17 tahun! Semua itu adalah kisah tentang dimana saya sungguh-sungguh pernah melihat, merasakan dan terlibat langsung dalam menyaksikan seorang anak manusia mengakhiri hidupnya! Dengan rasa yang penuh dengan duka serta ketakutan yang mendalam.

            Itu adalah kisah dan perasaan yang tercipta ketika dahulu saya sama sekali belum mengerti apa itu kehidupan dan apa itu kematian! Berjalannya waktu, kini saya telah dihantarkan kepada situasi yang berbeda, kehidupan yang berbeda dan masa depan yang berbeda. Situasi yang berbeda adalah; kini saya ada dalam situasi sebagai seorang pelayan Tuhan yang memimpin sebagian kecil jemaat. Kehidupan yang berbeda ialah; kini saya hidup dalam kehidupan yang baru bersama dengan Kristus dan telah menerima kehidupan yang kekal. Masa depan yang berbeda; adalah hari ini dan sampai akhir hidup saya ialah untuk melayani Tuhan, dan bukan yang lain. Lebih khususnya adalah sebagai seorang Pemberita Injil!

            Ketika hal serupa yang dahulu pernah saya saksikan dan sekarang terjadi, yakni melihat orang-orang disekeliling saya yang pernah saling mengenal, bersapa dan duduk bersama pergi meninggalkan saya terlebih dahulu atau meninggal terlebih dahulu, sungguh respon saya sudah sangat berbeda. Ketika dipertengahan tahun ini seorang rekan hamba Tuhan meninggal, selama satu bulan saya dipenuhi dengan perenungan. Disusul oleh rekan hamba Tuhan yang meninggal dengan cara yang cukup “tragis” beberapa bulan yang lalu, lebih membuat saya tersungkur dalam keheningan. Lalu dalam beberapa hari belakangan ini, dalam satu minggu yang sama saya melayani penguburan salah satu jemaat yang meninggal dunia ditambah dengan meninggalnya satu kenalan dan satu kampung dimana saya hidup dan melayani (Betung).

            Ketika sekarang saya menyaksikan kematian seorang manusia (terkhusus rekan hamba Tuhan), yang terbesit dalam hati terdalam saya hanyalah satu hal; yakni apa yang diucapkan oleh Rasul Paulus kepada anaknya Timotius:

 “Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu! Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2Tim 4:5-7).

Hati saya bergetar begitu kencang dalam kegentaran yang teramat kuat! Ketika suatu masa hal yang sama menimpa saya akankah saya dapat mengucapkan hal yang sama seperti yang Rasul Paulus ucapkan! Kematian merupakan hal yang pasti terjadi atas kehidupan kita semua. Lahir dan mati itu merupakan kepastian, tetapi kelahiran kita tidak ditentukan oleh hidup kita, namun kematian kita merupakan hal yang ditentukan oleh kehidupan kita. Bagaimana kehidupan kita demikianpun kematian kita! Ketika kalimat-kalimat semacam demikian muncul dalam perenungan saya, saya semakin sadar bahwa :

1.    Kehidupan ini adalah sebuah kesempatan! Kesempatan untuk menguasai diri dalam segala hal, kesempatan untuk sabar menderita, kesempatan untuk melakukan pekerjaan pemberita Injil dan kesempatan untuk menunaikan tugas pelayanan! Seharusnya saya harus berpikir bahwa dalam setiap kesempatan yang Tuhan masih berikan adalah merupakan kesempatan terakhir untuk saya berbuat. Agar dengan demikian saya tidak lengah, bermalas-malasan dan putus asa dalam mengerjakan tugas yang Tuhan berikan tersebut. Ini sejalan dengan apa yang Rasul Paulus ucapkan dalam Filipi 1:21 “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”.
2.   Kehidupan ini ialah sebuah persembahan! Ketika suatu saat kematian itu datang menghampiri, saya hanya ingin agar semua kehidupan yang pernah saya lalui hingga detik itu ialah menjadi persembahan kepada Allah. Saat darah Paulus sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan kepada Allah, demikianpun hendaknya daku hanya mau mempersembahkan segenap hidup dan mati kepada Allah, hingga titik darah terakhir!
3.    Kehidupan ini haruslah dijalani dengan konsep pertandingan! Dalam setiap tanggung jawab yang Tuhan sudah berikan, khususnya dalam melayani Tuhan sebagai Pendeta, Pemberita Injil dan Gembala, saya harus menjalaninya dalam kerangka konsep pertandingan. Pertandingan ini pasti akan sampai pada garis akhir. Sehingga suatu saat daku dapat berkata kepada Allah, bahwa tugas yang telah Engkau berikan, memang begitu berat bagi ku dan memang tidaklah mungkin sanggup untuk aku lakukan, tetapi setidaknya yang paling tidak mampu untuk aku lakukan itu telah aku coba. Dan kini hanya Allah saja yang menjadi hakim atas pekerjaan tersebut.
 Kiranya melalui perenungan singkat tentang kematian ini, kita semakin sadar bahwa Tuhan memberikan saat, waktu dan hari-hari ini adalah “sebuah kesempatan terakhir”, dengan demikian anda dan saya akan lebih sungguh-sungguh lagi melayani Tuhan dan menyenangkan hati-Nya. Amin, Haleluya! Tuhan Yesus memberkati saudara-saudari sekalian.

By. Pdt. Theos M. Purba, S.Th
Gembala GKBI Betung 

Posting Komentar untuk "Mengakhiri Pertandingan!"