“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari
situlah terpancar kehidupan”
(Amsal
4:23)
Ada apa
dengan hati? Mengapa Tuhan berpesan kepada kita melalui firman-Nya untuk kita
menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan? Sebelum jauh membahas perihal
pentingnya hati, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu bahwa sesuatu yang di
jaga adalah sesuatu yang bernilai tinggi. Jika kita memiliki barang yang begitu
kita sukai, sayangi dan berharga maka akan kita jaga sebaik mungkin. Bandingkan
jika anda membeli perhiasan emas atau berlian yang mahal, jika anda tidak
memakainya maka dapat dipastikan bahwa
anda akan menyimpannya dengan baik-baik bahkan ditempat yang tersembunyi. Agar
apa? Agar aman! Dari sini dapat kita simpulkan bahwa jika sesuatu barang kita
jaga dengan baik-baik berarti barang tersebut adalah barang yang sangat
berharga bagi kita. Barang itu bernilai tinggi!
Berdasarkan ayat yang kita
kutip maka hati adalah hal yang begitu berharga dan sangat bernilai tinggi.
Hati adalah pusat yang dapat mengendalikan banyak hal dalam diri kita.
Sampai-sampai Tuhan berpesan agar kita harus menjaga hati kita itu bukan dengan
sembarangan, tetapi dengan “kewaspadaan”.
Ada apa? Mengapa?
Pertama: Hati adalah pusat Berpikir. Dengan hati anda dapat berpikir dengan jernih dan
tenang. Orang sadar (insaf) akan sesuatu di dalam hati mereka (Ul 8:5), berdoa
dalam hati (1Sam 1:12-13), merenungkan dalam hati (Mzm 19:14), menyimpan firman
Allah di dalam hati (Mzm 119:11), merencanakan sesuatu di dalam hati (Mzm
140:3), menyimpan kata-kata dalam hati (Ams 4:21), berpikir dalam hati (Mrk
2:8), ragu dalam hati (Mrk 11:23), merenungkan dalam hati (Luk 2:19), percaya
dalam hati (Rom 10:9), dan menyanyi dalam hati (Ef 5:19). Semua kegiatan hati
ini terutama adalah hal-hal yang menyangkut pikiran. Jika saja seseorang
berpikir namun dengan tidak memperdulikan hati nuraninya, maka orang tersebut
akan menjadi orang yang kasar dalam bertindak dan jahat dalam berpikir!
Kedua: Hati adalah pusat
Perasaan. Bagaimana perasaan anda hari ini hanya ditentukan oleh hati
anda! Alkitab berbicara tentang hati yang gembira (Kel 4:14), hati yang
mengasihi (Ul 6:5), hati yang takut (Yos 5:1), hati yang berani (Mzm 27:14),
hati yang bertobat (Mzm 51:19), hati yang khawatir (Ams 12:25), hati yang marah
(Ams 19:3), hati yang hidup kembali (Yes 57:15), hati yang menderita (Yer 4:19;
Rom 9:2), hati yang senang (Yer 15:16), hati yang berduka (Rat 2:18), hati yang
rendah (Mat 11:29), hati yang berkobar-kobar atau bersemangat (Luk 24:32), dan
hati yang susah (Yoh 14:1). Semua kegiatan hati ini terutama bersifat
emosional. Semua perasaan ini dikendalikan oleh hati kita!
Ketiga: Hati adalah pusat
Kehendak Manusia. Keputusan yang kita buat dalam hidup ini haruslah
melalui hati kita! Kita membaca dalam Alkitab mengenai hati yang keras yang
menolak untuk melakukan perintah Allah (Kel 4:21), hati yang tunduk kepada
Allah (Yos 24:23), hati yang berniat melakukan sesuatu (2 Taw 6:7), hati yang
dengan setia mencari Tuhan (1 Taw 22:19), hati yang mengambil keputusan (2 Taw
6:7), hati yang rindu menerima dari Tuhan (Mzm 21:2-3), hati yang terarah
kepada hukum-hukum Allah (Mazm 119:36), dan hati yang ingin melakukan sesuatu
(Rom 10:1). Semua kegiatan ini terjadi di dalam kehendak manusia.
Berdasarkan apa yang sudah
dijelaskan di atas maka di sini kita harus tersentak sadar bahwa hati kita
benar-benar menentukan bagaimana kita hidup. Hati kita akan menentukan apakah
akan terpancar kehidupan atau tidak! Sebab “dari
situlah terpancar kehidupan” (ayt 23b).
Terpancar apakah? Terpancarkan pikiran, perasaan dan keputusan yang
baik, mulia dan menjadi berkat. Dari hati kita akan terpancar ketiga hal
tersebut yang akan menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang hidup dan bukan
mati! Kehidupan yang sesungguhnya adalah jika kehidupan kita dipenuhi dengan
pikiran, perasaan dan keputusan yang memuliakan Tuhan! Dari hati kita orang
akan menilai! Dari hati kita, kita akan bertindak bagaimana! Karena apa yang
keluar dari kehidupan kita berasal dari hati kita. Jika hati kita penuh dengan
kasih Tuhan dan Firman-Nya, maka kehidupan kita akan membuahkan hal-hal yang
baik dan memuliakan Tuhan. Namun jika sebaliknya? Jika kita tidak menjaga
hati kita maka dapat dipastikan bahwa yang keluar dari kehidupan kita adalah: hal-hal yang buruk dan tidak sedap didengar. Tentu ini akan sangat memalukan bukan!
Sakit penyakit, iri dengki, kebencian,
tidak ada kegembiraan, marah-marah, putus asa, kecewa, tidak berpikir panjang
dan jernih, selalu menuntut dan menyalahkan orang lain bahkan nekat melakukan
hal yang tidak wajar. Ini semua akan nampak dari hidup orang yang tidak
bisa menjaga hatinya! Sekarang? Bagaimanakah caranya untuk menjaga hati kita?
Apakah ada resepnya agar dapat hidup bahagia dengan menjaga hati?
1. Menyimpan
Firman Tuhan Didalam Hati (Mazmur 119 : 11)
Apa yang sering kita simpan didalam hati kita?
Apakah anda lebih memilih hal-hal yang buruk tersimpan didalam hati untuk waktu
yang cukup lama dan membiarkannya untuk tetap didalam hati anda serta terus
saja anda kenang-kenang? Ketika perkataan seseorang menyakiti anda dan anda
langsung menyimannya ketempat yang begitu berharga dan bernilai tinggi itu,
maka anda telah mengambil sebuah keputusan yang salah! Bagaikan menyimpan
kotoran busuk di mangkuk emas murni. Itu karena anda telah gagal untuk menjaga
hati anda. Kita sering kali menyimpan hal-hal yang buruk didalam perbendaharaan
hati kita. Setiap hari kita selalu dihadapkan dengan keputusan apakah kita mau
menyimpan didalam hati kita; kata-kata
kotor yang diucapkan oleh orang yang tidak menyukai anda, kebohongan oleh mereka yang tidak
bertanggung jawab, kebencian dari
orang yang mungkin iri melihat anda dalam posisi yang diberkati, keputusasaan ketika orang berkata bahwa
anda kecil, anda tidak mampu, anda miskin, anda rendah, anda tidak layak dan
bukan orang yang berpengaruh, serta kenyataan
yang mungkin tidak sesuai dengan harapan anda.
Perlu kita perhatikan di sini bahwa hidup dan
identitas diri kita tidak ditentukan oleh apa yang orang lain katakan tentang
kita tetapi hidup dan identitas diri kita ditentukan oleh apa yang Tuhan Allah
katakan tentang kita dalam firman-Nya. Oleh sebab itu pilihkan untuk lebih mendengarkan firman Tuhan ketimbang
perkataan dunia. Pililah untuk menyimpan firman Tuhan dan janji-janji-Nya
didalam hati anda, seperti yang pemazmur lakukan bahwa ia memilih agar “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya
aku jangan berdosa terhadap Engkau” (Mazmur 119:11). Perhatikan kata “menyimpan janji-Mu”, janji apa? Dalam
konteks pasal 119 ini pemazmur sedang mengumandangkan akan betapa besarnya
kuasa dan pengaruh dari firman Tuhan. Betapa bahagianya orang yang hidup
menurut perintah-perintah Tuhan. Atau bisa dikatakan; betapa indahnya hidup
orang yang selalu membaca dan melakukan apa yang dikatakan dalam Alkitab setiap
hari. Jika begitu maka janji-Nya adalah Firman-Nya. Apa yang Ia firmankan semua
adalah janji-Nya. Janji-janji Tuhan adalah firman yang Ia sampaikan kepada kita
semua dalam Alkitab dan semua ini akan terjadi tanpa ada satupun yang meleset
dari yang telah difirmankan.
Sekarang apakah kita mau menyimpan firman itu
didalam hati kita setiap hari? Apakah kita lebih memilih mendengarkan suara
Tuhan ketimbang suara manusia? Jika ya, maka mulailah dengan secara rutin
membaca firman Tuhan lalu mengutip satu atau dua ayat untuk kita renungkan
dengan mendalam dan selalu mengingatnya. Jika perlu di saat-saat tertentu kita
mengucapkannya untuk melawan setiap perkataan-perkataan yang berasal dari dunia
yang ingin menggangung hati kita. Jika begini maka hati kita akan tetap terjaga
sebab yang ada didalam hati kita adalah firman Tuhan. Mereka yang melakukan hal
ini Tuhan katakan bahwa “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi
aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu
daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mzm 1:3). Sebagai contoh sederhana adalah ketika anda
berasa putus asa dan orang lain berkata-kata tentang ketidakmungkinan anda
untuk melakukan perkara yang besar, pilihlah untuk lebih mendengar Ayub 42:2 “"Aku tahu, bahwa Engkau sanggup
melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal”. Maka anda
akan selalu bahagia meski di tengah kesulitan sebab anda dapat menjaga hati
dengan baik. Mari kita lakukan bersama!
2. Ingat...., Selalu Waspada! (Ams 4:23b)
Sekali lagi perlu kita ulangi ayat utama dari
perenungan kita kali ini “Jagalah hatimu
dengan segala kewaspadaan, karena
dari situlah terpancar kehidupan”. Kita akan coba untuk melanjutkan
ilustrasi kita tentang emas murni yang kita sudah simpan ditempat tersembunyi.
Kita sudah menyimpannya dengan aman, menurut kita itu adalah satu-satunya
tempat yang paling aman yang pernah kita ketahui. Tetapi..., siapakah yang
dapat mengira bahwa ternyata ditengah malam yang panjang, anda tertidur lelap
dan para pencuri telah meninggalkan rumah anda dengan membawa semua perhiasan
emas dan berlian yang anda sembunyikan itu. Lalu esok pagi tanpa anda sadari
bahwa ternyata ketika anda bangun pagi dan pergi kerja, perhiasan anda sudah
tidak ditempatnya lagi. Kenapa? Kenapa harus waspada? Karena apa yang ada
miliki dan simpan itu adalah sesuatu yang dicari atau diincar oleh orang. Itu
adalah barang yang semua orang sukai! Sampai-sampai demi barang yang berharga
dan bernilai tinggi tersebut orang rela melakukan kejahatan. Sekali lagi
kenapa? Karena barang tersebut adalah incaran! Barang tersebut disukai oleh
semua orang.
Apa hubungannya dengan hati? Perhatikan apa yang
Tuhan katakan dalam firman-Nya “Sadarlah
dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa
yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1 Pet 5:8). Iblis tidak akan pernah bisa mengambil
engkau kembali untuk lepas dari tangan Allah dan membawa engkau bersamanya
ketempat penghukuman kekal, tetapi Iblis bisa mempengaruhi hati mu melalui tipu
muslihatnya yang licik agar engkau tidak menikmati kehidupan yang penuh dengan
kemenangan dan anugerah Tuhan. Engkau bisa dibuatnya tidak sadar! Engkau bisa
dibuatnya menjadi hilang harapan karena kenyataan dan engkau bisa dibuatnya
menjadi orang yang lupa akan kasihmu yang semula kepada Kristus! Dengan cara
yang bagaimana? Dengan ia menggangung ketenangan hati mu. Ia merusak damai
sejahtera dihati mu! Sebab ternyata kita gagal menjaga hati kita dengan
waspada. Kita mungkin waspada, tetapi tidak “dengan
segala kewaspadaan”. Kita lebih cepat terbawa oleh perkataan dunia atau
perkataan orang dan menjadi orang yang agresif dalam merespon sesuatu.
Ketika seseorang melaporkan kepada saya tentang
perkataan si dia yang sepertinya ‘menyudutkan’ dan ‘menyinggung’ saya, saya
terbuka untuk mendengar terlebih dahulu, setelah itu saya membalasnya dengan
senyuman! Saya lanjutkan untuk mendengar dengan setia - sebab saya masih ingat
dahulu ketika dosen saya berkata: Jika
engkau mau memenangkan orang, jadilah pendengar setia terlebih dahulu – setelah
usai, lagi-lagi saya membalas dengan senyuman. Dan kini saya sedang ditengah
ambang pintu penentuan! Apakah saya waspada atau tidak! Apakah saya mulai
mengerahkan kekuatan firman didalam hati saya atau tidak. Jika tidak..., maka
saya akan rubuh dibawa oleh api kemarahan dan ketersinggungan. Namun puji Tuhan
saya belajar untuk menjaga hati saya dan tidak mau diganggu oleh laporan
tentang dia! Saya memilih untuk percaya pada Tuhan yang sunggup menyingkapkan
kebenaran ketimbang saya sendiri. Maka saya mulai mengabaikannya dan berkata
dalam hati saya “Mungkin dia lelah dan
sedang tidak bahagia, dan salah mengira lalu berpikir seperti itu. Mungkin dia
belum mengerti dengan benar, maka saya yang harus memaklumi dia dan tetap
mengasihi dia”. Maka esok saya menjumpai dia dan mengajaknya untuk duduk
ngopi bersama dan ditemani senda gurau yang semakin membuat kami mengerti satu
dengan yang lain. Ya... semua menjadi baik-baik saja! Sampai hari ini. Jadi...,
waspadalah dalam segala keadaan! Sebab hati mu diincar oleh mereka untuk
dihancurkan dan diganggu. Hati mu dicari oleh si Iblis untuk dirusak dengan
kegelisahan dan laporan-laporan yang buruk tentang anda. Mari kita bersiap-siap
bergegas untuk segera berwaspada diri!
By. Theos M. Purba, S.Th

Posting Komentar untuk "Jagalah Hatimu!"