Pada
tahun 2016 saya pernah melakukan perjalanan yang cukup panjang bersama dengan
team misi ke salah satu daerah yang cukup terpencil. Perjalanan tersebut kami
tempuh dengan berjalan kaki selama 2 hari. Situasi kondisi mengharuskan kami
menempuh perjalanan tersebut dengan berjalan kaki. Masih teringat jelas oleh
saya langkah demi langkah perjalanan tersebut, yang di mana dalam setiap
perjalanan ada saat di mana kami benar-benar merasa begitu lelah sekali. Saya
sendiri tidak pernah melakukan perjalanan sejauh itu, sehingga sangat terasa
sekali beratnya! Hanya ada satu hal yang sangat menghibur hati saya ketika
tengah berjalan, yakni di depan nanti kami akan segera berteduh. Walaupun hanya
sebentar, tetapi itu sangat saya rindukan. Ya..., demikianlah pentingnya
berteduh bagi kami saat itu!
Kita
berteduh karena ingin agar kita terhindar dari teriknya matahari atau sejuknya
air hujan! Kita berteduh agar tenaga kita bisa kembali pulih untuk melanjutkan
perjalanan! Dan kita berteduh oleh karena kita adalah manusia yang rentan dan
tidak kuat! Itulah sebabnya tempat perteduhan menjadi keharusan bagi kita.
Contoh sederhana itu ialah rumah kita! Rumah kita adalah tempat perteduhan kita
siang dan malam. Di rumah juga kita bisa menemukan kebahagiaan dan ketenangan!
Wah..., begitu penting sekali ya tempat perteduhan itu.
Demikianpun
dengan kehidupan kita! Sesungguhnya ada kala dimana hidup ini terasa begitu
berat untuk kita lalui, sampai kita merasa begitu lelah. Jika hal ini melanda
kita, pertanyaannya adalah; kemanakah kita akan berteduh? Nabi Musa memberikan
sebuah jawaban ketika ia berkata “Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun”. Harta
kekayaan, jabatan, teknologi dan kekuatan manusia, tidak akan pernah bisa
menjadi tempat perteduhan kita! Itu semua hanyalah tempat perteduhan yang fana,
yang justru dapat membawa kita kepada kehancuran! Namun hanya Tuhan yang layak
menjadi tempat perteduhan yang kekal, sebab Ia bukan hanya tempat perteduhan
mu, tetapi tempat perteduhan semua keturunan mu! Adakah yang seperti Dia?
Mungkinkah masih kita temukan tempat berteduh sehebat Allah kita? Sungguh hanya
Dialah yang menjadi tempat kita bersadar ketika perjalanan hidup ini terasa
begitu sukar untuk dilalui!
Sekarang,
kita akan belajar dua hal yang menjadi alasan mengapa hanya Allah saja yang
menjadi tempat perteduhan kita sampai selama-lamanya?
1. Karena Allah Berhak Mutlak atas Kehidupan kita (ay
3-6)
Saya
pribadi sangat suka sekali ketika mengetahui bahwa saya tidak berhak atas
kehidupan saya sendiri! Kenapa? Karena ketika kita mengamati kehidupan ini,
benarlah apa yang dikatakan nabi Musa “Engkau
menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di
waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu” (ay5-6).
Coba lihat orang-orang disekeliling anda! Mungkin dahulu ia kokoh kuat dan
tegar berdiri, tetapi saat ini telah menjadi lelah dan lisut, bahkan mungkin
tinggal dipenghujung usianya! Sampai-sampai raja Salomo pernah berkata “Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang
telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan
jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring
angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari” (Pkh 2:11). Itulah sebabnya kita harus bersyukur karena
kita tidak berhak atas kehidupan kita, karena ternyata Allah lah yang berhak
mutlak atas kehidupan anda dan saya!
Ketika
kita berpikir kita berhak atas waktu kita sendiri, ternyata dalam hitungan
detik, waktu itu bisa berubah! Saat kita mengira rencana kita lah yang akan
terjadi, namun ternyata semua rencana itu pun berubah! Waktu kita berpikir
semua harta kekayaan kita akan kita simpan sebanyak-banyaknya, tetapi karena
harus berobat dirumah sakit, semua tabungan anda dapat habis lenyap dalam satu
malam! Juga ketika kita merasa kita berhak atas orang-orang disekeliling kita,
ternyata dalam hitungan hari, mereka bisa pergi meninggalkan kita untuk
selama-lamanya dari dunia ini. Lalu yang terakhir, ketika kita menyangka kita
berhak atas hidup kita sendiri, ternyata juga dalam waktu yang singkat, kita
sendiri akan meninggalkan semua ini!
Di sini
kita belajar, bahwa ternyata Allah sajalah yang berhak atas kehidupan kita!
Karena Allah yang berhak, maka seharusnyalah kita datang kepada Dia untuk
berteduh. Kita berteduh kepada-Nya karena kita perlu! Kita perlu kekuatan yang
baru, kita butuh semangat yang baru, juga kita harus memiliki damai sejahtera
dalam setiap waktu. Untuk dapat meneruskan kehidupan ini dengan semua masalah
dan tantangan yang ada. Satu-satunya tempat dan tiada yang lain, yakni Tuhan
Allah kita yang hidup. Datanglah kepada-Nya, maka Ia akan menolong engkau!
Tuhan
Yesus pernah berkata “Marilah kepada-Ku,
semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat
11:28). Kelegaan yang Tuhan Yesus berikan adalah kelegaan yang sempurna, tak
terbayar oleh apapun! Karena kelegaan tersebut akan membuat kita menjadi orang
yang kuat dan menang atas setiap persoalan yang ada. Kelegaan itu bagaikan
mesin pendorong yang akan memompa hidup anda untuk terus melangkah menghadapi
badai kehidupan!
Jika
kehidupan kita sudah demikian, maka dapat dipastikan ia akan terpanggil untuk
terus giat dalam pekerjaan Tuhan! Ia akan lebih mengutamakan Tuhan dalam
hidupnya. Ia akan terpanggil untuk berbakti kepada Tuhan dengan setia. Sebab ia
telah menemukan tempat perteduhan yang sempurna! Lalu selanjutnya adalah tiada
tempat bagi kekuatiran dan ketakutan dalam kehidupan kita. Sebab Allah adalah
tempat perteduhan yang kekal. Kita akan menjadi orang yang tenang dalam hidup
ini. Dipenuhi dengan keceriaan dan sukacita senantiasa, sebab tiada satu hal
pun yang terlalu menakutkan ketika kita berada di tempat perteduhan tersebut,
yakni Tuhan Allah kita. Dia adalah Bapa yang setia dan penuh dengan kuasa
kekuatan yang tak terukur!
Bagaimana
dengan anda saat ini? Apakah anda kuatir dan takut? Apakah anda lelah? Mari...,
saya mengajak anda untuk bersama-sama kita datang tersungkur di kaki Tuhan dan
berteduhlah kepada-Nya! Maka hidup anda akan berarti dan dipenuhi dengan
berkat-berkat Allah.
2. Karena Didikan Tuhan juga Penuh Penderitaan (ay
7-12)
Ketika
kehidupan ini terasa mulus tanpa masalah, maka mengucap syukur dan berbahagia
tampak mudah sekali untuk kita lakukan! Tetapi bagaimana ceritanya ketika suatu
saat kita sedang dalam penderitaan, ketika hidup terasa begitu berat untuk di
lalui, apakah kita akan mudah untuk mengucap syukur dan berbahagia??? Saya rasa
kita akan menjawab hal yang sama, yakni; sulit! Kita sulit untuk bahagia dan
bersyukur ketika penderitaan menimpa. Itu adalah sebuah kenyataan yang tak
dapat kita sangkali dan hanya bisa kita akui dengan jujur. Sebab nabi Musa pun
mengakui hal yang sama, ketika ia berkata “Sungguh,
kami habis lenyap karena murka-Mu, dan karena kehangatan amarah-Mu kami
terkejut” (ay 7). Inilah pengakuan Musa dan harus kita sadari! Kita harus
sadar bahwa ketika kita dididik oleh Allah itu akan terasa berat sekali.
Menjadi
orang Kristen adalah menjadi orang yang siap menerima didikan Tuhan! Didikan
Tuhan akan penuh dengan kesulitan, karena memang demikianlah jalan hidup yang
harus kita tempuh. Rasul Paulus pernah berkata “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada
Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Flp 1:29). Namun
penderitaan ini jangan hanya dimengerti sampai di sini, sebab dalam bagian yang
lain, Alkitab berkata; “Kita malah
bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu
menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan
pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah
dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada
kita” (Roma 5:3-5). Di sini kita harus mengerti bahwa tiada pengharapan dan
kebahagiaan jika tanpa penderitaan! Kita harus diuji oleh penderitaan, agar
kita tahu diri dan sadar bahwa kita sangat-sangat-sangat memerlukan tempat
perteduhan!
Kita
harus datang kepada Allah yang adalah tempat perteduhan bagi kita, ketika kita
dididik oleh Dia. Saat pukulan-Nya begitu sakit, ketika ikatan-Nya sangat sesak
kita rasakan, juga waktu beban-Nya terasa berat bagi kita, datanglah kepada-Nya
dalam doa dan penyembahan, maka Ia akan meluputkan engkau dan saya! Perhatikan
apa yang Ayub katakan ketika penderitaan berat menimpa hidupnya, semua anaknya
mati, harta kekayaan habis dan ia mengalami penderitaan fisik, bahkan isterinya
ingin pergi meninggalkan dia, Ayub berkata dengan teguhnya “Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang
memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula” (Ayub 5:18). Ingatlah
dengan sungguh; bahwa Allah adalah yang mengizinkan engkau masuk dalam didikan
penderitaan, juga Allahlah yang akan bertanggung jawab untuk mengangkat engkau
dari penderitaan tersebut!
Bagi
kita, penderitaan tidak akan membuat sampai kita putus asa dan menyerah dalam
kehidupan ini. Seberat apapun didikan Tuhan, jangan pernah menyalahkan Tuhan
dan diri sendiri. Sebab didikan itu bagaikan anak tangga, yang akan membawa
engkau dan saya menuju tangga berikutnya. Sampai kita berada di puncak yang
tertinggi dan berbahagia ketika mengetahui bahwa ternyata Allah mengizinkan
kita melalui penderitaan itu semua adalah demi kebaikan kita sendiri, dan bukan
hanya demi kita, tetapi juga demi keturunan kita, seperti yang nabi Musa
katakan!
Orang
yang mengetahui hal ini ia akan bergegas untuk datang kepada Tuhan sebagai
tempat perteduhannya! Ia tidak akan pernah mau mencari yang lain, karena ia
tahu mana yang benar. Bagaimana saat ini dengan anda? Apakah anda ada di tempat
perteduhan yang benar? Maukah anda datang kepada orang yang salah! Tentu tidak.
Oleh sebab itu saat ini saya mengundang anda untuk bersama-sama datang kepada
Tuhan Yesus, dan katakanlah “Aku
memerlukan Engkau Tuhan, jadilah tempat perteduhan bagi ku, di saat aku lelah
dan menderita seperti saat ini, amin”. Haleluya, Tuhan Yesus memberkati!
Shalom.
By. Pdt. Theos M. Purba, S.Th

Posting Komentar untuk "Tempat Perteduhan!"