zmedia

Tempat Perteduhan!

“Doa Musa, abdi Allah. Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun. Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.
(Mazmur 90:1-2)
Pada tahun 2016 saya pernah melakukan perjalanan yang cukup panjang bersama dengan team misi ke salah satu daerah yang cukup terpencil. Perjalanan tersebut kami tempuh dengan berjalan kaki selama 2 hari. Situasi kondisi mengharuskan kami menempuh perjalanan tersebut dengan berjalan kaki. Masih teringat jelas oleh saya langkah demi langkah perjalanan tersebut, yang di mana dalam setiap perjalanan ada saat di mana kami benar-benar merasa begitu lelah sekali. Saya sendiri tidak pernah melakukan perjalanan sejauh itu, sehingga sangat terasa sekali beratnya! Hanya ada satu hal yang sangat menghibur hati saya ketika tengah berjalan, yakni di depan nanti kami akan segera berteduh. Walaupun hanya sebentar, tetapi itu sangat saya rindukan. Ya..., demikianlah pentingnya berteduh bagi kami saat itu!

Kita berteduh karena ingin agar kita terhindar dari teriknya matahari atau sejuknya air hujan! Kita berteduh agar tenaga kita bisa kembali pulih untuk melanjutkan perjalanan! Dan kita berteduh oleh karena kita adalah manusia yang rentan dan tidak kuat! Itulah sebabnya tempat perteduhan menjadi keharusan bagi kita. Contoh sederhana itu ialah rumah kita! Rumah kita adalah tempat perteduhan kita siang dan malam. Di rumah juga kita bisa menemukan kebahagiaan dan ketenangan! Wah..., begitu penting sekali ya tempat perteduhan itu.

Demikianpun dengan kehidupan kita! Sesungguhnya ada kala dimana hidup ini terasa begitu berat untuk kita lalui, sampai kita merasa begitu lelah. Jika hal ini melanda kita, pertanyaannya adalah; kemanakah kita akan berteduh? Nabi Musa memberikan sebuah jawaban ketika ia berkata “Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun”. Harta kekayaan, jabatan, teknologi dan kekuatan manusia, tidak akan pernah bisa menjadi tempat perteduhan kita! Itu semua hanyalah tempat perteduhan yang fana, yang justru dapat membawa kita kepada kehancuran! Namun hanya Tuhan yang layak menjadi tempat perteduhan yang kekal, sebab Ia bukan hanya tempat perteduhan mu, tetapi tempat perteduhan semua keturunan mu! Adakah yang seperti Dia? Mungkinkah masih kita temukan tempat berteduh sehebat Allah kita? Sungguh hanya Dialah yang menjadi tempat kita bersadar ketika perjalanan hidup ini terasa begitu sukar untuk dilalui!
Sekarang, kita akan belajar dua hal yang menjadi alasan mengapa hanya Allah saja yang menjadi tempat perteduhan kita sampai selama-lamanya?

1.    Karena Allah Berhak Mutlak atas Kehidupan kita (ay 3-6)
Saya pribadi sangat suka sekali ketika mengetahui bahwa saya tidak berhak atas kehidupan saya sendiri! Kenapa? Karena ketika kita mengamati kehidupan ini, benarlah apa yang dikatakan nabi Musa “Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu” (ay5-6). Coba lihat orang-orang disekeliling anda! Mungkin dahulu ia kokoh kuat dan tegar berdiri, tetapi saat ini telah menjadi lelah dan lisut, bahkan mungkin tinggal dipenghujung usianya! Sampai-sampai raja Salomo pernah berkata “Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari” (Pkh 2:11).  Itulah sebabnya kita harus bersyukur karena kita tidak berhak atas kehidupan kita, karena ternyata Allah lah yang berhak mutlak atas kehidupan anda dan saya!

Ketika kita berpikir kita berhak atas waktu kita sendiri, ternyata dalam hitungan detik, waktu itu bisa berubah! Saat kita mengira rencana kita lah yang akan terjadi, namun ternyata semua rencana itu pun berubah! Waktu kita berpikir semua harta kekayaan kita akan kita simpan sebanyak-banyaknya, tetapi karena harus berobat dirumah sakit, semua tabungan anda dapat habis lenyap dalam satu malam! Juga ketika kita merasa kita berhak atas orang-orang disekeliling kita, ternyata dalam hitungan hari, mereka bisa pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya dari dunia ini. Lalu yang terakhir, ketika kita menyangka kita berhak atas hidup kita sendiri, ternyata juga dalam waktu yang singkat, kita sendiri akan meninggalkan semua ini!

Di sini kita belajar, bahwa ternyata Allah sajalah yang berhak atas kehidupan kita! Karena Allah yang berhak, maka seharusnyalah kita datang kepada Dia untuk berteduh. Kita berteduh kepada-Nya karena kita perlu! Kita perlu kekuatan yang baru, kita butuh semangat yang baru, juga kita harus memiliki damai sejahtera dalam setiap waktu. Untuk dapat meneruskan kehidupan ini dengan semua masalah dan tantangan yang ada. Satu-satunya tempat dan tiada yang lain, yakni Tuhan Allah kita yang hidup. Datanglah kepada-Nya, maka Ia akan menolong engkau!

Tuhan Yesus pernah berkata “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Kelegaan yang Tuhan Yesus berikan adalah kelegaan yang sempurna, tak terbayar oleh apapun! Karena kelegaan tersebut akan membuat kita menjadi orang yang kuat dan menang atas setiap persoalan yang ada. Kelegaan itu bagaikan mesin pendorong yang akan memompa hidup anda untuk terus melangkah menghadapi badai kehidupan!

Jika kehidupan kita sudah demikian, maka dapat dipastikan ia akan terpanggil untuk terus giat dalam pekerjaan Tuhan! Ia akan lebih mengutamakan Tuhan dalam hidupnya. Ia akan terpanggil untuk berbakti kepada Tuhan dengan setia. Sebab ia telah menemukan tempat perteduhan yang sempurna! Lalu selanjutnya adalah tiada tempat bagi kekuatiran dan ketakutan dalam kehidupan kita. Sebab Allah adalah tempat perteduhan yang kekal. Kita akan menjadi orang yang tenang dalam hidup ini. Dipenuhi dengan keceriaan dan sukacita senantiasa, sebab tiada satu hal pun yang terlalu menakutkan ketika kita berada di tempat perteduhan tersebut, yakni Tuhan Allah kita. Dia adalah Bapa yang setia dan penuh dengan kuasa kekuatan yang tak terukur!

Bagaimana dengan anda saat ini? Apakah anda kuatir dan takut? Apakah anda lelah? Mari..., saya mengajak anda untuk bersama-sama kita datang tersungkur di kaki Tuhan dan berteduhlah kepada-Nya! Maka hidup anda akan berarti dan dipenuhi dengan berkat-berkat Allah.

2.    Karena Didikan Tuhan juga Penuh Penderitaan (ay 7-12)
Ketika kehidupan ini terasa mulus tanpa masalah, maka mengucap syukur dan berbahagia tampak mudah sekali untuk kita lakukan! Tetapi bagaimana ceritanya ketika suatu saat kita sedang dalam penderitaan, ketika hidup terasa begitu berat untuk di lalui, apakah kita akan mudah untuk mengucap syukur dan berbahagia??? Saya rasa kita akan menjawab hal yang sama, yakni; sulit! Kita sulit untuk bahagia dan bersyukur ketika penderitaan menimpa. Itu adalah sebuah kenyataan yang tak dapat kita sangkali dan hanya bisa kita akui dengan jujur. Sebab nabi Musa pun mengakui hal yang sama, ketika ia berkata “Sungguh, kami habis lenyap karena murka-Mu, dan karena kehangatan amarah-Mu kami terkejut” (ay 7). Inilah pengakuan Musa dan harus kita sadari! Kita harus sadar bahwa ketika kita dididik oleh Allah itu akan terasa berat sekali.

Menjadi orang Kristen adalah menjadi orang yang siap menerima didikan Tuhan! Didikan Tuhan akan penuh dengan kesulitan, karena memang demikianlah jalan hidup yang harus kita tempuh. Rasul Paulus pernah berkata “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Flp 1:29). Namun penderitaan ini jangan hanya dimengerti sampai di sini, sebab dalam bagian yang lain, Alkitab berkata; “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Roma 5:3-5). Di sini kita harus mengerti bahwa tiada pengharapan dan kebahagiaan jika tanpa penderitaan! Kita harus diuji oleh penderitaan, agar kita tahu diri dan sadar bahwa kita sangat-sangat-sangat memerlukan tempat perteduhan!

Kita harus datang kepada Allah yang adalah tempat perteduhan bagi kita, ketika kita dididik oleh Dia. Saat pukulan-Nya begitu sakit, ketika ikatan-Nya sangat sesak kita rasakan, juga waktu beban-Nya terasa berat bagi kita, datanglah kepada-Nya dalam doa dan penyembahan, maka Ia akan meluputkan engkau dan saya! Perhatikan apa yang Ayub katakan ketika penderitaan berat menimpa hidupnya, semua anaknya mati, harta kekayaan habis dan ia mengalami penderitaan fisik, bahkan isterinya ingin pergi meninggalkan dia, Ayub berkata dengan teguhnya “Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula” (Ayub 5:18). Ingatlah dengan sungguh; bahwa Allah adalah yang mengizinkan engkau masuk dalam didikan penderitaan, juga Allahlah yang akan bertanggung jawab untuk mengangkat engkau dari penderitaan tersebut!

Bagi kita, penderitaan tidak akan membuat sampai kita putus asa dan menyerah dalam kehidupan ini. Seberat apapun didikan Tuhan, jangan pernah menyalahkan Tuhan dan diri sendiri. Sebab didikan itu bagaikan anak tangga, yang akan membawa engkau dan saya menuju tangga berikutnya. Sampai kita berada di puncak yang tertinggi dan berbahagia ketika mengetahui bahwa ternyata Allah mengizinkan kita melalui penderitaan itu semua adalah demi kebaikan kita sendiri, dan bukan hanya demi kita, tetapi juga demi keturunan kita, seperti yang nabi Musa katakan!

Orang yang mengetahui hal ini ia akan bergegas untuk datang kepada Tuhan sebagai tempat perteduhannya! Ia tidak akan pernah mau mencari yang lain, karena ia tahu mana yang benar. Bagaimana saat ini dengan anda? Apakah anda ada di tempat perteduhan yang benar? Maukah anda datang kepada orang yang salah! Tentu tidak. Oleh sebab itu saat ini saya mengundang anda untuk bersama-sama datang kepada Tuhan Yesus, dan katakanlah “Aku memerlukan Engkau Tuhan, jadilah tempat perteduhan bagi ku, di saat aku lelah dan menderita seperti saat ini, amin”. Haleluya, Tuhan Yesus memberkati! Shalom.

By. Pdt. Theos M. Purba, S.Th

Posting Komentar untuk "Tempat Perteduhan!"