“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” Roma 8:17.
Ketika seorang anak dilahirkan oleh ibunya, maka ia telah
menjadi ahli waris dari orang tuanya tersebut. Kenapa? Karena dasarnya adalah
statusnya sebagai anak. Posisi sebagai anak telah membuat dia menjadi sah
sebagai ahli waris, yang artinya adalah orang yang berhak menerima warisan
atau harta pusaka yang dimiliki oleh orang tuanya. Inilah keindahan menjadi
seorang anak, dimana statusnya itu berharga bagi orang tuanya. Kecuali anda
menemukan orang tua yang kejam dan tidak mengerti kebenaran ini, maka mungkin
kita akan menemukan kasus yang berbanding terbalik dari apa yang kita sebut
sebagai ahli waris. Namun dalam hal ini perkara tersebut kita kecualikan dulu,
karena kasus seperti itu hanya segelintir saja. Pada dasarnya orang tua yang
normal akan memikirkan apapun yang terbaik bagi anak-anaknya, termasuk warisan
yang akan di berikan kepada anaknya. Di sini hendaklah orang percaya jangan
mengira bahwa warisan itu akan selalu berbicara perihal harta materi! Sebab
sesungguhnya warisan adalah peninggalan, dan peninggalan tersebut bisa dalam
berbagai bentuk. Baik bersifat fisik maupun non fisik.
Tahukah anda bahwa posisi kita dihadapan Allah pun
demikian! Anda adalah anak Allah yang menjadi ahli waris-Nya. Wah... benarkah?
Mari kita lihat dasarnya: “jika kita
adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris” itu dikatakan oleh Rasul
Paulus untuk menyadarkan mereka akan posisi jemaat di hadapan Allah. Bahwa
barangsiapa yang percaya kepada Allah ia tidak menerima roh perbudakan,
melainkan menerima Roh yang menjadikan ia anak Allah (ay 15). Sesungguhnya ini
adalah perihal posisi atau status dan soal posisi ini ditegaskan oleh ayat 14
bahwa “Semua orang, yang dipimpin Roh
Allah, adalah anak Allah”. Dari beberapa ayat di atas maka kita dapat
menarik sebuah kesimpulan, bahwa barang siapa yang percaya kepada Kristus, maka
ia menerima Roh yang menjadikan dia anak, lalu posisi sebagai anak itu secara
otomatis membuat ia menjadi ahli waris. Artinya, orang-orang yang berhak
menerima janji-janji Allah!
Apakah warisan dari Allah tersebut? Berdasarkan nas yang
kita kutip di atas, bahwa ternyata warisan yang Allah berikan kepada kita
adalah janji-janji-Nya. Apa-apa saja
janji-janji Allah tersebut? Di sini saya merangkum semua janji Allah tersebut
menjadi 3 yakni; a. Kerajaan Allah atau hidup yang kekal (Mat 19:29, Yoh 3:16),
b. Memelihara kehidupan umat-Nya (Mat 6:25-34), c. Menepati janji-janji-Nya (I Pet 1:4, 5:10)
Sekarang
mari kita merenungkan hal ini lebih dalam lagi, soal ahli waris ini hendaklah
kita mengingat bahwa, warisan yang kita terima memiliki 2 sifat, yakni:
1. Bersifat Sempurna
Warisan yang Allah berikan kepada orang percaya adalah sempurna! Sempurna artinya adalah “utuh dan lengkap segalanya atau tidak bercacat dan bercela” (KBBI), kata ini adalah kata yang tidak pernah bisa kita ucapkan terhadap sesama manusia. Sebab sesungguhnya manusiapun sadar bahwa dirinya dan semua yang ia miliki tidaklah sempurna. Tidak ada warisan yang dapat manusia berikan kepada sesamanya dan warisan tersebut bersifat sempurna! Hanya warisan dari Tuhanlah yang sempurna dan warisan tersebut diterima oleh setiap orang percaya.
Yakobus 1:17 berkata “Setiap pemberian yang baik dan
setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala
terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran”, dari
ayat ini kita menerima sebuah penegasan yang lebih eksplisit bahwa apa yang
Allah berikan kepada kita, yang baik dan yang sempurna, datangnya dari atas
yaitu dari Bapa! Masalahnya hari ini adalah ada begitu banyak orang diluar
sana, bahkan ini menimpa kalangan orang Kristen sekalipun, dimana mereka
mengandalkan apa yang mereka miliki sebagai sesuatu yang layak untuk di
andalkan. Mereka berpikir bahwa warisan yang mereka terima adalah jaminan atas
kehidupan mereka! Bahkan lebih jauh lagi yaitu ada banyak orang yang mengira
bahwa apa yang mereka persiapkan untuk anak cucu nya nanti adalah yang akan
menyelamatkan kehidupan keturunan mereka! Wah..., ini sangat miris sekali. Jika
orang Kristen mempersiapkan segala sesuatu atau memiliki segala sesuatu, jangan
pernah mengira bahwa semua itu akan menjadi jaminan. Karena semua itu adalah
bersifat sementara, dan yang kekal adalah hanya warisan yang dari Allah, yakni
janji-janji-Nya. Kenapa? Karena sempurna. Mari kita mendalami arti kata
sempurna dari warisan Allah ini:
Dikatakan warisan Allah
itu sempurna, ini artinya bahwa warisan dari Allah ini tidak akan pernah
berubah, hilang, diambil orang atau salah. `Janji Allah akan hidup yang kekal
dan pemeliharaan-Nya serta janji terhadap janji-Nya , tidak akan pernah berubah
atau hilang! Inilah sempurnanya warisan yang kita terima dari Allah.
Keyakinan yang demikian
terhadap warisan dari Allah tersebut, hendaklah membuat setiap orang percaya
lebih percaya kepada Allah ketimbang apa yang dia miliki. Contohnya adalah ketika anda hari ini mungkin
sedang krisis keuangan dan tidak dapat membeli atau memenuhi sebuah keperluan
yang sangat penting, jangan pernah mengira bahwa Allah diam dan anda menjadi
putus asa! Begitu juga sebaliknya, yakni ketika anda hari ini mungkin sedang
memiliki banyak hal dalam hal materi, lalu sedang mengerjakan sebuah proyek,
jangan pernah menyangka bahwa dengan apa yang anda miliki tersebut maka akan
dapat menyelesaikan proyek itu. Di sini yang benar adalah anda mengerjakan
semua tanggung jawab anda tersebut dengan keyakinan bahwa hanya Tuhanlah
satu-satunya yang akan melakukan segala perkara! Allah yang akan bekerja atas
diri anda, atas apa yang anda miliki, bahkan atas kelemahan anda sendiri. Jika
begini tampilan hidup orang Kristen, maka saya dapat pastikan anda akan menjadi
berkat bagi banyak orang dan memuliakan Tuhan. Layaklah anda disebut sebagai
ahli warisnya Tuhan. Haleluya
2. Bersifat Seimbang
Sifat warisan Allah yang kedua adalah seimbang. Seimbang memiliki arti “sama; seimbang; sebanding; setimpal” (KBBI). Ketika kita menyebut warisan Allah bersifat seimbang, itu artinya bahwa apa yang Allah berikan dalam diri setiap anak-anak-Nya adalah sama, seimbang dan tidak ada perbedaan! Seolah-olah anda menerima dan saya tidak. Seolah-olah anda lebih spesial dan saya tidak. Di sini saya ingin memberitahukan kepada setiap pembaca sekalian, bahwa yang menyebabkan banyak orang iri, dengki, cemburu dan bahkan kecewa terhadap dirinya sendiri, adalah karena tidak menyadari bahwa apa yang Allah berikan dan janjikan terhadap-Nya adalah seimbang. Apa yang Allah berikan bagi hidupnya adalah sama, sebagai anak-anak Allah.
Garis bawahi Roma 8:17
yang menjadi nas utama renungan kita kali ini, ketika di katakan “maksudnya orang-orang yang berhak
menerima janji-janji Allah”, di sana digunakan kata “orang-orang”, ini
mengartikan bahwa yang berhak menerima warisan tersebut adalah banyak orang
atau lebih dari satu orang. Dia adalah setiap orang yang percaya kepada Kristus,
tanpa terkecuali. Tak pandang ras, suku, bentuk dan rupa. Tak pandang golongan
atau posisi. Siapapun anda, selama anda adalah orang percaya, maka anda adalah
Anak dan anak adalah ahli warisnya Bapa di sorga!
Sekarang yang harus
lebih lanjut kita renungkan bersama di sini ialah; sebagai ahli waris yang
menerima janji Allah secara seimbang, maka haruslah kiranya setiap orang
percaya termotivasi untuk siap tampil dan berkarya! Dia tidak merasa bahwa
dirinya tidak mampu, tidak kuat, tidak ada apa-apanya dan tidak akan pernah
bisa berbuat apapun. Sebaliknya dia akan menjadi orang yang percaya bahwa
begitu banyak talenta dan berkat yang Allah berikan dalam hidupnya, yang harus
ia nyatakan dalam perbuatan dan menjadi berkat bagi orang-orang di
sekelilingnya. Kenapa? Sekali lagi, karena dia adalah ahli warisnya Allah!
Ketika dahulu, sekitar
4 tahun yang lalu saya terpilih menjadi ketua persekutuan alumni di Kalimantan
Barat, saya merasa bahwa diri saya belum siap! Tetapi ketika saya mencoba untuk
merenungkan kebesaran Tuhan dan anugerah-Nya, maka saya belajar untuk siap
menerima tanggung jawab tersebut. Akhirnya semua tanggung jawab yang
berhubungan dengan alumni saya kerjakan satu-satu, dan puji Tuhan hari ini saya
berani bersaksi bahwa semua yang telah kita kerjakan selama menjadi ketua
alumni tersebut, cukup memuaskan. Ini adalah sedikit kesaksian dari saya akan
keyakinan bahwa saya adalah anak Allah, sebagai ahli waris-Nya yang menerima
warisan yang seimbang! Puji Tuhan, Tuhan Yesus memberkati. Shalom.



Posting Komentar untuk "Ahli Waris?"