zmedia

Kerinduan Mengenal Kristus!

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Filipi 3:10)

             Apakah manusia bisa mengenal Allah? Sementara arti kata mengenal ialah “mengetahui”, tentunya mengetahui yang di maksud adalah secara mendalam dan mengerti objek yang kita kenali tersebut. Apakah mungkin terhadap diri Allah kita dapat berkata bahwa saya mengenal-Nya? Jawabannya adalah ya! Sebab dasar dari pengenalan kita terhadap Allah adalah penyataan diri Allah itu sendiri. Dimana Allah menghendaki kita mengenal Dia melalui penyataan yang Ia berikan. Dalam bahasa teologis perihal ini disebut dengan wahyu.  Wahyu Allah tersebut memiliki dua kategori, yakni wahyu umum dan khusus. Disebut umum karena Allah berkenan menyatakan diri-Nya agar dikenali oleh manusia melalui alam semesta ciptaan-Nya (Mazmur 19:2; 50:6, Yesaya 1:9). Lalu yang kedua disebut wahyu khusus karena Allah berkenan menyatakan diri-Nya melalui Pribadi Yesus Kristus yang turun menjadi manusia, “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:18), dan menyatakan diri-Nya melalui Alkitab yang adalah firman yang tertulis (2 Tim 3:16). Melalui wahyu tersebut mana pada dasarnya manusia dapat mengenal Allah. Umat pilihan-Nya mengenal Dia karena telah menerima semua wahyu tersebut!

            Setelah sarana yang begitu banyak yang Allah berikan atas kehidupan kita untuk mengenal Dia, pertanyaan-Nya adalah apakah anda dan saya rindu untuk mengenal Allah? Seperti Paulus yang berkata “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya...”. Di sini Paulus menggunakan kata “yang kukehendaki”, ini berbicara mengenai hati. Apakah yang menjadi keinginan, kehendak atau niat yang tertinggi dalam kehidupan ini? Paulus menjawab, bahwa Ia hanya ingin mengenal Kristus! Saudara-saudari kita mungkin memiliki banyak keinginan, kerinduan dan niat atas apa saja dalam kehidupan ini. Namun hendaklah ada satu keinginan atau kerinduan yang paling tertinggi dan mendominasi di dalam hidup kita yakni mengenal Kristus. Saat ini kita adalah orang yang telah mengenal Allah. Sebagai orang Kristen maka anda dan saya dipastikan telah mengenal Kristus. Namun sekalipun demikian kita harus memiliki kerinduan yang sama seperti Paulus, yaitu sekalipun ia telah mengenal Kristus namun Paulus tetap berkomitmen untuk terus belajar mengenal Dia lebih dalam lagi! Kita juga setelah menjadi Kristen akan dapat semakin mengenal Allah melalui pengalaman hidup yang dimana didalam pengalaman tersebut kita akan menyaksikan semua penyertaan Tuhan. Pergumulan demi pergumulan, penderitaan dan aniaya yang menimpa hidup Rasul Paulus telah menjadi sarana yang Allah pakai untuk membuat Paulus semakin mengenal Dia. Itu sebab Paulus memiliki kerinduan terbesar dalam hidupnya yakni; mengenal Kristus!

            Sekarang saya hendak menyampaikan beberapa hal yang harus kita hindari dalam proses belajar mengenal Allah, jikalau dua hal di bawah ini tidak kita hindari maka anda dan saya tidak akan bertumbuh dalam pengenalan akan Allah. Lebih dari itu bahkan banyak orang  yang “tersesat” karena tidak memperhatikan dua hal yang harus di hindari di bawah ini, yakni:


Orientasi yang Salah!          

Rasul Paulus berkata “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (ay 13-14).  Kesalahan pertama yang harus kita hindari dalam proses belajar mengenal Allah adalah orientasi yang salah. Orientasi adalah arah. Saya berikan satu contoh sederhana di sini yaitu ada seorang anak laki-laki yang masih sekolah, ia hendak berangkat sekolah dipagi hari, tapi ketika ia keluar dari rumah justru pergi ke warung internet untuk bermain game online. Dalam hal itu anak tersebut telah salah orientasi. Arahnya sudah salah! Demikianpun dalam mengenal Allah, jangan sampai kita salah orientasi alias salah arah.

            Ketika Rasul Paulus dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi orang Kristen dan lebih dari itu menjadi seorang pemberita Injil yang kemudian disebut sebagai Rasul, ia sadar bahwa hidupnya yang lama harus dilupakan. Tidak ada lagi setitikpun masa lalu yang  dahulu ia banggakan hendak dia bawa lagi dalam hidupnya yang baru tersebut. Setelah ia melupakan semua masa lalu yang kelam dan terhilang dari Kristus tersebut, ia mengarahkan diri kedepan dan berlari-lari menuju panggilan-Nya. Inilah orientasi yang benar. Yaitu melupakan kehidupan yang lama, jangan dibawa apalagi dihidupi kembali. Kemudian arahkanlah kepada Kristus! Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose berkata “carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah”, (Kol 3:1-3).

            Mengarahkan hati dan pikiran hanya kepada Kristus, itulah langkah untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Allah. Ketika anda melakukan apa saja anda memiliki orientasi hanya untuk mengenal Kristus.  Saat seorang mahasiswa teologi membaca Alkitab dan buku serta mengerjakan tugas-tugas yang diberikan sang dosen, dia hanya dimotivasi oleh satu tujuan yaitu mengenal Kristus. Ketika seorang pekerja melakukan pekerjaannya, orientasinya tidak hanya tertuju kepada materi yang akan ia dapatkan setelah mengerjakan hal tersebut, tetapi memiliki orientasi yang jauh lebih tinggi yakni agar nama Tuhan dimuliakan dan dapat mengenal Allah lebih lagi. Begitu juga seorang  ibu rumah tangga saat ia melakukan tanggung jawabnya, dia pun melakukan hal tersebut hanya untuk melayani Tuhan dan belajar mengenal-Nya. Ini berlaku untuk semua profesi dan pekerjaan kita! “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan  dan bukan untuk manusia”, (Kol 3:23).


Merasa sudah Cukup!

Bahaya kedua yang harus anda dan saya hindari dalam proses belajar mengenal Kristus ialah merasa sudah cukup. Jenis orang yang seperti ini berpikir bahwa apa yang sudah dia ketahui adalah sudah final. Dia tidak mau lagi dibimbing, diajar, dipimpin dan diarahkan. Orang ini mengira bahwa semua yang sudah dipelajari dan diperoleh selama ini sudah cukup baginya. Sampai-sampai kepada Tuhan pun ia mengira sudah sampai pada puncak pengenalan akan Tuhan. Berpikir bahwa ia sudah pintar dalam hal mengenal Allah! Orang semacam ini adalah orang yang paling sombong dimuka bumi ini. Karena ia tidak sadar bahwa jikalau ia dapat mengenal Allah itu karena ia ditangkap oleh Allah. Itu yang diakui oleh Rasul Paulus “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya...” (ay 12 -13). Sebagai orang Kristen yang rindu untuk mengenal Allah lebih dalam lagi, haruslah kita menjauhkan dari diri kita perasaan cukup. Sebab sesungguhnya mengenal Allah adalah proses belajar yang tiada hentinya.

            Mari kita perhatikan ayat 15-16 “Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu. Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh”. Berdasarkan dua ayat yang barusan saya kutip, di sini diberitahukan bahwa jikalau kita dapat mengenal Allah itu karena kita telah ditangkap oleh-Nya lalu diberikan penyataan. Oleh karena itu tidak ada dasar untuk kita berhenti belajar mengenal Tuhan. Sebab Paulus sendiri sebagai rasul yang besar berkata bahwa baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan. Disini ia tidak berpikir karena sudah memiliki pengertian lantas tidak mau melanjutkan lagi pengertian tersebut! Tidak sama sekali. Justru Paulus dengan rendah hati mengakui akan kekurangannya dan ingin lebih lagi mengenal Kristus.

            Bagaimana dengan anda? Apakah anda mau belajar lebih lagi mengenal Kristus? Jika ya, maka ingatlah perkataan Paulus selanjutnya, yaitu hendaklah “kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh”. Jikalau pada saat itu jemaat Filipi bisa mengenal Allah oleh karena pemberitaan Injil secara langsung dari para rasul, maka bagi kita saat ini hendaklah kita melanjutkan melalui pembacaan dan perenungan Alkitab setiap hari. Bukan dengan ajaran filsafat dunia dan pemahaman manusia yang tidak berlandaskan kepada kebenaran yang sejati.

            Sampai di sini saya bersyukur kepada Allah sebab Ia berkenan untuk memberikan diri-Nya dikenali oleh kita. Sebab jikalau dipikirkan secara mendalam, sesungguhnya anda dan saya adalah orang yang tidak layak menghampiri-Nya, tetapi oleh kasih karunia maka kita dapat datang untuk mengenal Pribadi-Nya! Puji Tuhan, haleluya. Shalom


Posting Komentar untuk "Kerinduan Mengenal Kristus!"