zmedia

Pemeliharaan Allah atas Krisis Ekonomi

 


Krisis ekonomi menjadi momok yang sangat menakutkan bagi banyak orang. Berbagai upaya telah dan masih akan terus dilakukan untuk menghindar dari krisis ekonomi. Namun faktanya, krisis ekonomi tidak akan pernah sirna dari kehidupan kita; entah itu sebuah negara atau bangsa, lembaga atau organisasi, gereja dan keluarga Kristen, bahkan setiap individu, tidak luput dari yang namanya krisis ekonomi.

Melihat kenyataan itu, bagaimanakah cara kita sebagai orang Kristen memandang dan menyikapi hal tersebut? Apa yang harus kita lakukan sebagai orang yang percaya kepada Kristus di dalam menghadapi saat-saat krisis ekonomi yang sedang terjadi dan yang mungkin akan terjadi? Sebelum jauh melangkah, ada baiknya jikalau kita terlebih dahulu mengetahui arti dari judul tulisan ini. Apakah yang di maksud dengan krisis ekonomi dan pemeliharaan Allah? Arti krisis adalah keadaan yang berbahaya, atau keadaan suram, sementara ekonomi memiliki arti sebagai berikut: tata kehidupan perekonomian, urusan keuangan rumah tangga, organisasi atau negara. Jikalau krisis dan ekonomi di satukan itu artinya: kemerosotan dalam kegiatan ekonomi yang dapat menimbulkan depresi (KBBI).

Keadaan krisis tentu menimbulkan kekuatiran di dalam diri manusia. Dan kenyataan ini juga menimpa begitu banyak orang Kristen. Tetapi sebagai orang percaya, kita tetap harus mempercayai Tuhan di dalam segala keadaan; sebagai Pribadi yang selalu ada dan menopang segala yang ada. Inilah yang disebut sebagai pemeliharaan Allah. Apakah pemeliharaan Allah itu? Pemeliharaan berasal dari kata pelihara yang memiliki arti: menjaga dan merawat. Pemeliharaan itu artinya proses atau cara dalam perbuatan memelihara. Di dalam ranah teologi: pemeliharaan Allah tersebut di kenal dengan istilah providensi Allah. Dalam bahasa Inggris, ‘Providence’ berarti ‘pemeliharaan baik’. Tetapi dalam teologia, ‘Providence’ berarti lebih dari sekedar ‘pemelihara-an baik’. ‘Providence’ adalah pelaksanaan yang tidak mungkin gagal dari rencana Allah, atau pemerintahan serta pengaturan terhadap segala sesuatu sehingga rencana Allah terlaksana. B. B. Warfield di dalam bukunya Biblical and Theological Studies pernah berkata Pekerjaan-Nya dalam providence semata-mata merupakan pelaksanaan dari rencana-Nya yang mencakup segala sesuatu”. Jadi sekalipun Providence berbeda dengan rencana Allah, tetapi keduanya berhubungan sangat erat.

Sekarang marilah kita melihat kondisi ekonomi kita terlebih dahulu dari sisi ekonomi bangsa. Dampak dari penularan COVID-19 yang berkepanjangan atas Indonesia telah mengubah banyak hal, terutama pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi itu sendiri mungkin saja bisa positif, tetapi dengan angka yang lebih rendah. Menurut Bhima Yudhistira (Direkrut Center of Economic and Law Studies), Indonesia butuh waktu lebih lama untuk kembali ke pertumbuhan sebelum adanya COVID-19. Misalnya pada tahun 2019 ekonomi secara satu tahun penuh tumbuh 5,02 persen. Oleh karena itu, jikalau saat ini bisa tumbuh mencapai 2 persen sampai 4 persen hingga tahun 2022 saja, itu sudah bagus. Artinya Indonesia jadi lebih lama kembali ke posisi negara berpendapatan menengah atas. Kata dia kepada merdeka.com (10/8/21). Dengan kondisi tersebut, maka Indonesia diperkirakan akan mengalami secular stagnation atau pertumbuhan rendah, ini terjadi karena sisi permintaan tidak bergerak signifikan.

Akibat kondisi ekonomi yang melemah dalam masa pandemi ini, kita melihat terjadi pemutusan hubungan kerja di mana-mana, pengangguran semakin marak, gaji tenaga kerja dipangkas, pergerakan ekonomi pasar merosot dan keadaan ini semua telah banyak membuat orang menjadi putus asa dan hanya mengharapkan pertolongan orang lain. Tentunya kita sebagai anak Tuhan tidak boleh juga hanya melihat aspek penyebab ekternal seperti pandemi, karena sesungguhnya krisis ekonomi juga bias terjadi oleh karena faktor internal dari diri kita sendiri, seperti; hutang yang dibuat sendiri, manajemen keuangan yang salah, tidak bisa membedakan antara yang prioritas dan yang tidak prioritas, antara kebutuhan dan keinginan, dan yang terakhir adalah malas. Semua faktor ini dapat menyebabkan krisis ekonomi individu dan krisis ekonomi keluarga Kristen. Pernahkah kita mendeteksi semua itu? Atau kita hanya cenderung menyalahkan kondisi! Ada baiknya kita merenungkan semua hal ini, sebab kemungkinan besar krisis ekonomi juga disebabkan oleh faktor internal diri kita sendiri.

Dengan melihat kepada kondisi ekonomi kita hari ini, maka tulisan kali ini sangat relevan. Ditambah maraknya anggapan-anggapan yang salah tentang topik tulisan kita kali ini, membuat tulisan ini menjadi sangat penting untuk diketahui orang Kristen, agar dapat meneguhkan mereka ditengah badai krisis ekonomi. Sebut saja dua anggapan yang salah perihal topik ini adalah: ada diantara orang Kristen yang beranggapan bahwa Allah telah menjamin kita dan memelihara kita, itu berarti kita tidak akan pernah mengalami masa krisis ekonomi. Lalu ada juga yang beranggapan bawa Allah memberkati kita dan itu pasti, maka secara otomatis kita pasti akan menerimanya, jadi kita tidak perlu berbuat apa-apa dan cukup menantikan saja pertolongan Tuhan! Dua anggapan ini jelas bertentangan dengan apa yang dikatakan Alkitab mengenai pemeliharaan Allah. Oleh sebab itu mari kita melihat apa yang dimaksud dengan pemeliharaan Allah.

Pemeliharaan Allah bersifat Terancang

Allah tidak merancang dan bertindak setelah sesuatu terjadi terlebih dahulu, tetapi sesungguhnya Allah telah merancang, mengetahui dan kemudian bertindak sehingga sesuatu terjadi. Ini artinya pemeliharaan Allah itu tidak bersifat temporal. Allah tidak merencanakan untuk berbuat setelah sesuatu terjadi. Allah tidak bertindak dan mencari solusi setelah masalah terjadi. Ini tidak cocok dengan Allah dan lebih cocok kepada manusia; karena manusialah yang berencana dan mencari solusi setelah masalah terjadi! Allah mahatahu sehingga Dia tidak perlu menyaksikan apa yang akan terjadi untuk kemudian Ia  mencari solusi. Justru apa yang terjadi atas alam semesta ini, semua dapat terlaksana hanya oleh karena pemeliharaan Allah.

Allah berkata “Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan, yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusan-Ku dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya” (Yes 46:9-11). Ada beberapa kalimat yang harus kita perhatikan dari nas di atas, yakni; ‘yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian’, ‘dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana’, ‘Keputusan-Ku akan sampai dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan’ dan ‘Aku telah merencankannya, maka Aku hendak melaksanakannya’. Dari kalimat-kalimat tersebut kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa Allah di dalam bertindak tidak bersifat temporal, melainkan terencana. Allah tidak bersifat dadakan di dalam mengontrol segala yang terjadi, tetapi sedemikian rupa dan penuh hikmat telah merancang, mengatur dan menghendaki apa yang telah Ia pikirkan untuk terjadi. Entah itu adalah hal yang baik maupun hal yang buruk menurut kita. Apakah itu adalah perkara yang besar maupun perkara yang kecil; semua di dalam kehendak pemeliharaan-Nya!

Krisis ekonomi yang sering terjadi dalam kehidupan orang percayapun, tidak luput dari pemeliharaan Allah. Ini artinya; krisis yang sedang terjadi merupakan hal yang terjadi oleh karena kehendak atau izin Allah. Ya, ini sungguh benar! Bahwa krisis ekonomi oleh karena pandemi COVID-19 merupakan kehendak Allah. Allah mengizinkan hal tersebut terjadi atas kehidupan manusia, sekalipun manusia mengira bahwa hal ini terjadi oleh karena tindakan manusia belaka. Di balik semua yang terjadi, tanpa kita sadari; ada tangan Allah yang tersembunyi yang merajut semua hal ini sehingga dapat terjadi. Tentang hal ini Erwin W. Lutzer berkata “Kita harus membedakan antara penyebab langsung peristiwa-peristiwa ini dengan penyebab utamanya. Penyebab langsung suatu gempa bumi adalah suatu gerakan di bawah lapisan bumi; khususnya bagian atas lapisan bumi bergerak ke satu arah; lapisan yang dibawahnya secara bertahap bergerak ke arah yang berlawanan. Penyebab langsung suatu angin ribut adalah pola-pola angin dan suhu, namun penyebab utama peristiwa-peristiwa ini adalah Allah. Ia mengatur alam semesta baik secara langsung ataupun melalui penyebab-penyebab sekunder, namun dengan cara apapun, Dialah yang berkuasa. Bagaimanapun, Ia adalah Pencipta, pemelihara segala sesuatu” (10 Kebohongan Tentang Allah, hal 137).

Sekarang mari kita melihat kisah krisis ekonomi yang pernah terjadi di dalam Alkitab; dan itu atas kehendak Allah. Kisah itu dimulai dari seorang anak laki-laki yang masih muda bernama Yusuf. Ia mendapat mimpi bahwa suatu saat nanti seluruh saudaranya akan menyembah kepadanya. Oleh karena mimpi itu diceritakan kepada ayahnya Yakub dan didengar juga oleh kesebelas saudaranya, maka Yusuf dibenci oleh saudara-saudaranya. Singkat cerita maka Yusuf mengalami tindakan kejam dari saudara-saudaranya tersebut; di mana ia difitnah telah mati padahal sesungguhnya dia dibuang ke dalam sumur dan kemudian di jual kepada orang Ismael ke Mesir. Pada awalnya Yusuf mengalami penderitaan yang begitu berat di Mesir, tetapi Allah mengangkatnya kemudian menjadi orang nomor dua setelah Firaun. Yusuf penuh hikmat dan kuasa dari Allah, sehingga ia dapat mempersiapkan Mesir untuk menghadapi masa krisis ekonomi besar-besaran pada saat itu (Kej 41:56-57). Kelaparan terjadi di mana-mana, sehingga menyebabkan bangsa-bangsa disekeliling Mesir berdatangan ke Mesir untuk meminta pertolongan persediaan makanan; demikian pula dengan anak-anak Yakub.

Saudara-saudara Yusuf pergi ke Mesir untuk meminta pertolongan persediaan makanan, yang kemudian melalui cara ini Yusuf dan saudara-saudaranya bertemu kembali. Diakhir dari kisah tersebut Yusuf pun mengakui siapa dirinya di hadapan saudara-saudaranya; yakni orang yang dahulu mereka mau bunuh dan telah mereka jual hingga sampai di Mesir. Dibalik semua yang terjadi: penderitaan Yusuf dan krisis ekonomi, Yusuf berkata “Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir” (Kej 45:7-8). Kisah mengenai krisis yang terjadi saat kepemimpinan Yusuf atas Mesir telah memberitahukan kepada kita bahwa semua hal tersebut terjadi atas kehendak Allah.

Jikalau kini kita percaya dan mengetahui bahwa krisis ekonomi yang terjadi atas kehidupan kita adalah bagian dari rencana Allah; maka seharusnya kita tidak perlu menjadi lemah, putus asa dan bahkan menyalahkan siapapun. Karena kita percaya bahwa Allah adalah yang memerintah atas segala keadaan ini. Semua aman terkendali dalam rencana-Nya yang sempurna dan kekal. Sekalipun kenyataan tampak tiada harapan, Allah selalu ada untuk memelihara anda dan saya. Meskipun hari ini anda mungkin harus di PHK, kehilangan mata pencaharian, tiada persediaan uang, bahkan mungkin tiada makanan untuk hari esok; percayalah bahwa Tuhan Allah kita adalah pemelihara yang kekal dan sempurna. Keadaan anda saat ini aman dalam rencanan Tuhan! Tuhan punya maksud di balik semua kenyataan tersebut.

Pemeliharaan Allah atas umat-Nya tidak selalu dengan cara yang sama

Jikalau Allah pernah menyatakan pemeliharaan-Nya atas anda melalui hal yang baik, maka tidak menutup kemungkinan Allah mewujudkan pemeliharaan-Nya tersebut melalui hal yang tidak baik; menurut kita. Karena Allah selalu memelihara anda dengan cara yang bermacam-macam; baik suka maupun duka.  Allah kita adalah Allah tidak bisa diformat dan sekaligus Allah yang tidak mungkin bersedia anda format. Artinya; jika Allah ingin melakukan sesuatu kepada kita maka Dia juga berhak menggunakan cara dan sarana seperti yang Ia mau. Kita tidak bisa mengatur Tuhan agar Dia berbuat seperti ini dan seperti itu. Demikian pula dengan kondisi ekonomi kita. Allah berhak melakukan apapun atas anda melalui kondisi ekonomi yang cukup dan juga melalui kondisi ekonomi yang kurang atau krisis.

Coba kita perhatikan apa yang Paulus pernah katakan tentang dirinya mengenai pembahasan kita ini “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:11-13). Perhatikan kalimat ‘Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan’, kalimat ini menunjukkan kepada kita hari ini bahwa Paulus sebagai rasul pada saat itu tidak pernah hidup hanya di dalam kelimpahan saja. Ada kalanya ia masuk dalam masa yang berlimpah-limpah dan ada masanya juga ia di bawa oleh Tuhan untuk masuk dalam masa-masa yang sukar, sampai-sampai ia pernah kelaparan dan hamper mati!

Dalam kenyataan yang Paulus alami itu, apakah ia pernah berkata bahwa Allah meninggalkannya? Apakah Paulus pernah meragukan pemeliharaan Allah atasnya? Sama sekali tidak. Justru Paulus yakin bahwa  semua keadaan itu membawa kepada kebaikan (Roma 8:28). Jikalau Allah memelihara umat-Nya dengan cara yang berbeda-beda, oleh karena itu seharusnya kita tidak perlu menolak krisis ekonomi yang terjadi atas kita. Sebab sangat besar kemungkinan, bahwa demikianlah cara Allah memelihara umat-Nya. Melalui penderitaan!

Sampai di sini kita pasti sudah mengerti bahwa Allah memang benar-benar memelihara kita meskipun saat ini kita sedang dalam masa krisis ekonomi. Namun akan jauh lebih besar lagi rasa syukur dan teguhnya iman kita, setelah kita mengetahui tujuan mengapa Allah mengizinkan krisis ekonomi terjadi atas kehidupan kita sebagai anak-anak-Nya.

Belajar menaruh pengharapan kita kepada Allah yang kekal dan yang sanggup melakukan mujizat, bukan kepada materi yang sementara.

Kecenderungan orang-orang yang mengaku Kristen adalah; lebih percaya kepada uang ketimbang kepada Tuhan! Lebih percaya kepada uang yang akan menyelamatkan kondisi ekonomi ketimbang kepada Allah sebagai juruselamat ekonominya. Itu sebabnya jikalau kita ingin jujur; kita lebih cenderung menjadi seorang ateis praktis. Sekalipun kita tidak pernah mengaku bahwa Tuhan itu tidak ada (ateis teoritis), tetapi di dalam kehidupan kita sehari-hari kita lebih sering percaya kepada uang. Kita lebih sering kuatir tentang makanan, minuman dan pakaian. Tentu hal ini tidak dapat kita benarkan, karena jelas-jelas bertentangan dengan firman Tuhan. Di satu sisi kita juga tidak dapat merasa benar dan suci, karena memang demikianlah keadaan manusia yang lemah. Namun setidaknya kita belajar untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Kita merasa ada tanggung jawab untuk hidup meneladai Tuhan kita; Yesus Kristus.

1 Yohanes 2:17 berkata “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya”. Semua yang ada di dunia ini akan lenyap dan sedang menuju pada kelenyapan. Lantas mengapa kita mengharapkannya menjadi penyelamat kita! Harusnya kita berharap dan bersandar kepada Tuhan; sebagai satu-satunya penolong atas masa krisis ekonomi. Inilah yang hendak Tuhan ajarkan kepada kita jikalau krisis ekonomi menimpa. Yaitu agar kita tetap berharap kepada Allah dan bukan kepada apa yang bersifat sementaran. Uang boleh tidak ada tetapi Allah akan selalu ada. Ekonomi boleh krisis dan melemah, tetapi Allah akan selalu eksis dan kuat untuk menopang anda.

Lebih peka untuk saling berbagi dan menanggung beban, terutama dengan saudara seiman dan gereja Tuhan

Hal kedua yang Allah ingin ajarkan kepada kita melalui krisis ekonomi ialah: peka untuk menolong orang lain. Hal ini adalah perkara yang sangat penting dan genting. Kenapa? Penting karena saling menolong adalah perintah Tuhan, lalu genting karena saat-saat ini; kita sudah kehilangan hati untuk menolong sesama kita. Kita lebih cenderung menjadi orang yang egois dan mementingkan diri sendiri, kelompok sendiri dan mungkin keluarga kita sendiri. Sementara Ibrani 13:16 berkata “Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah”.

Melalui pandemi COVID-19 yang terjadi selama hampir dua tahun ini, telah banyak membuat orang tergerak untuk saling menolong. Begitu banyak diantara kita telah menyaksikan aksi donasi dan dukungan berupa bahan pokok kepada sesama kita. Ini semua terjadi bukan karena sebuah kebetulan, tetapi terencana oleh Pribadi yang sempurna yakni Tuhan Allah. Dimana Tuhan sendiri telah melihat betapa sedikitnya hati yang mau saling berbagi, terkhusus atas orang-orang percaya yang mengaku memiliki kasih dan hidup dalam kasih. Dengan krisis ekonomi, Allah mau mengajari kita untuk tolong menolong! Iman Kristen tidak pernah membanggakan orang yang memberi dari kelimpahannya, sebab jikalau demikian maka apa bedanya anda dengan orang yang diluar Kristus? Sama sekali tidak ada perbedaan! Iman Kristen mengajarkan bahwa kita harus siap memberi dari kekurangan. Inilah yang benar dan yang dikehendaki oleh Allah.

Agar tergerak untuk bertindak dan berkreasi

Tujuan terakhir dari Allah mengizinkan krisis ekonomi terjadi adalah agar setiap kita tergerak untuk bertindak dan berkreasi. Merupakan kesalahan yang besar jika ada orang beranggapan setelah kita menjadi Kristen dan percaya kepada Allah sebagai pemelihara, maka dia tidak perlu berbuat sesuatu untuk hidupnya, sebab Allahlah yang akan mengerjakan semuanya bagi anda. Kenyataan seperti ini adalah respon yang salah terhadap doktrin pemeliharaan Allah. Ingatlah bahwa Allah memelihara anda dan saya melalui sebuah cara dan sarana, seperti yang telah di bahas dalam poin sebelumnya. Allah menggunakan orang lain, Allah memakai diri anda sendiri di dalam berkarya dan berkreasi, dan Allah memakai segala yang anda miliki.

Coba perhatikan apa yang diucapkan oleh penulis Amsal, “Si pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja” (Amsal 21:25). Berdasarkan ayat ini maka seharusnya anda bekerja sekalipun saat ini sedang ditimpa krisis ekonomi. Bekerja? Ya, anda harus bekerja. Pikirkan dan lakukanlah apa yang anda bisa lakukan dengan apa yang ada di sekeliling anda hari ini. Jangan diam dan menunggu Allah turun dari surga untuk memberikan anda kekayaan dan makanan yang banyak, sebab ini keyakinan yang semu. Allah tidak akan pernah melakukan itu, sebab Dia bekerja melalui anda dan apa yang ada di sekeliling anda.

Mulailah berpikir untuk melakukan hal-hal yang bisa anda kerjakan dirumah. Seperti yang marak terjadi akhir-akhir ini, lebih tepatnya selama masa pandemi COVID-19. Banyak orang yang bekerja sebagai: asisten virtual, tutor online, pembukuan online, layanan konsultasi, penerjemah, penulis lepas, pelatih online, katering kuliner, desainer grafis, editor teks dan video, jual kerajinan, pernak-pernik dsb. Jual pakaian. Budidaya peliharaan dan bercocok tanam di rumah. Anda bisa mulai dari hal-hal yang bisa anda konsumsi sendiri, setelah itu berhasil barulah anda berpikir untuk mengembangkannya agar bisa menjadi sarana anda mendapatkan pemasukan. Sebagai orang Kristen; anda dipanggil untuk berkarya ditengah dunia ini. Itulah sebabnya etos kerja orang percaya didasari atas panggilan Allah.

Bagi anda yang melayani sebagai seorang gembala sidang, pendeta, penginjil, pengajar dan dosen serta guru agama; anda masih tetap bisa melayani sekalipun saat ini pandemic COVID-19 telah banyak mempengaruhi pergerakan pelayanan Kristen di seluruh tanah air Indonesia. Contohnya adalah anda bisa melakukan ibadah lewat online, penginjilan di media sosial dan tulisan atau blog, mengajar melalui zoom, layanan konseling via video call dan telfon. Di atas semuanya ini; anda adalah orang yang memiliki begitu banyak kesempatan untuk berkreasi selagi Tuhan masih memberikan kesempatan.

Untuk mengakhiri poin tentang tujuan mengapa Allah mengizinkan krisis ekonomi terjadi, saya hendak mengutip apa yang pernah dikatakan Martyn Lloyd Jones yakni “Oleh karena itu aku harus memandang keadaan dan kondisi sebagai bagian dari perlakukan Allah terhadapku di dalam menyempurnakan kerohanianku dan membawa aku pada kesempurnaan akhir”  (Buluh Yang Terkulai, Hal 332). Kemudian Roma 8:28 berkata “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.

Akhir dari semua pembahasan kita kali ini, izinkan saya untuk menuliskan hal ini kepada anda: krisis ekonomi akan terus terjadi dalam kehidupan manusia, termasuk kehidupan orang-orang Kristen. Tetapi, hanya orang yang percaya dan bersandar pada pemeliharaan Allah yang dapat kuat dan konsisten menghadapi masa-masa sukar tersebut. Dia akan menyaksikan dan mengalami pertolongan Tuhan dalam hidup dan keluarganya. Sebab ia akan terus percaya kepada Allah, sekalipun uang tidak ada; Allah selalu ada! Amin. Soli Deo Gloria.

Oleh Pdt. Theos M. Purba, S.Th, M.Pd

Posting Komentar untuk "Pemeliharaan Allah atas Krisis Ekonomi"