zmedia

Tak Kenal Maka Tak Sayang Renungan 1 Yohanes 2:15-17


Ditulis oleh Endras Setiawan (alm)

1 Yohanes 2:15-17

15 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.

16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

17 Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya


Kalimat atau ungkapan ini tentunya sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita, sebagai mahluk sosial. Saat seseorang memperkenalkan diri biasanya diawali dengan kalimat “tak kenal maka tak sayang”. Memang tidak semua orang melakukan hal ini, tetapi beberapa diantaranya untuk sekedar menarik perhatian pendengar, melakukannya. Atau memang dengan sengaja supaya orang benar-benar mengenal dan menyayanginya.

Kata “kenal” dalam kamus Besar Bahasa Indonesia disama artikan “tahu” atau mengerti. Dalam hal ini sekilas memang tidak ada sesuatu yang menonjol dengan kata kenal.  Tetapi kata “mengenal” sesuatu akan memiliki makna lebih dalam jika disandingkan dengan kata  “tahu” sesuatu. Imbuhan “Me” menghantarkan kita pada suatu proses untuk lebih serius dalam mengetahui atau mengenal/mengerti sesuatu. Jelasnya untuk mengenal maka diperlukan yang namanya “Proses”. Sepasang kekasih sebelum menjadi pasangan suami istri maka ada yang dinamakan dengan masa pacaran. Dalam masa ini kedua pribadi yang berbeda ini berusaha saling mengenal satu dengan yang lain, salah satunya melalui komunikasi. Proses itu akan berjalan terus sampai akhir hayat, karena sampai kepada titik mengenal dengan sempurna maka diperlukan untuk terus belajar, menggali, dan sebagainya demi tercapainya pengenalan itu.

Dalam hubunganya dengan pengenalan akan Tuhan tentu bukan seperti seorang guru memberikan soal 1+1=... kepada muridnya, lalu diserahkan untuk dia kerjakan. Pengenalan akan Tuhan adalah berupa pemberian kepada umatnya, bukan usaha manusia. Karena sehebat apapun seorang belajar untuk mengenalNya tidak akan pernah bisa jika Allah sendiri tidak menyatakan diri melalui hadirnya Roh kudus dalam kehidupan kita.

Lalu apa hubungan dengan renungan ayat di atas? Dalam hal ini Yohanes langsung kepada inti dari pentingnya sebuah pengenalan akan Allah. Tuhan Yesus dalam pengajaranya sering menggunakan kata mengenal Dia atau Bapa di sorga, salah satu contoh dalam doa Yesus kepada murid-murid-nya dalam Yoh 17:3 “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal engkau, satu-satunya Alah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah engkau utus”. Orang yang mengenal Tuhan maka pengenalan itu yang akan menuntun hidup orang tersebut. Jadi pengenalan itu bukan pengakuan tetapi lebih kepada praktek hidup. Hal ini juga dikatakan oleh rasul Yohanes dalam pengajaranya, bahwa kemampuan seseorang dalam melakukan perintah Tuhan adalah sebagai tanda yang terlihat atau muncul dari kehidupan seseorang yang mengenal Allah.“Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintahNya.”. Berikut ada dua bukti atau tanda bahwa seseorang mengenal Allah:

 

1.              Tidak mengasihi Dunia

Kalau jujur mengaku dalam hal memilih antara mengasihi dunia dengan mengasihi Allah maka kebanyakan orang memilih mengasihi dunia. Bukan bermaksud menghakimi tapi demikianlah yang terjadi, walaupun sudah memilih mengasihi Allah tapi tetap saja dalam praktek kehidupannya mengasihi dunia. Kata mengasihi adalah suatu tidakan memperlihatkan kasih itu kepada seseorang. Yang terlihat dalam kehidupan seseorang saat mengasihi adalah penyerahan diri. Jika seorang laki-laki mengalami jatuh cinta maka dalam hal menunjukkan rasa kasih/ cintanya, ia akan rela mengorbankan apapun yang ia miliki, waktu, uang, bahkan dirinya. Setiap hari dalam setiap kegiatanya maka yang ada dalam pikirannya hanya wajah sang kekasih. Jika dihubungkan dengan mengasihi Allah maka hal yang harus terlihat adalah demikian. Pertanyaannya adalah sungguhkah yang ada dalam pikiran, tindakan kita adalah mencerminkan cinta kita kepada Tuhan? Bukankah cenderung mengasihi diri? Kita adalah manusia yang gagal untuk mengasihi Allah!! Lalu bagaimana, apakah kita akan binasa? Mari kita perhatikan..


Justru disinilah keunikan iman kekristenan itu. Kegagalan orang percaya untuk mengasihi Allah bukan supaya mereka binasa, tapi justru ini dipakai Allah untuk menunjukkan betapa besar kuasa kasih karunia yang diberikan Allah kepada umatNya. Paulus dalam suratnya “aku manusia celaka siapakah yang akan melepaskan aku dari dari tubuh maut ini? tapi syukur kepada Allah!Oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”(Roma 7 : 24-25) Dalam hal ini rasul Yohanes bukan untuk memerintah atau anjuran supaya setiap orang berusaha untuk mengasihi Allah. Ini pemberitahuan!! Ini suara kepastian! Bahwa kasih Allah yang diperkenalkan atau dinyatakan pasti membuat orang tersebut mengasihi Allah. “jangan kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada dalam orang itu. ”Kalimat “kasih akan Bapa tidak ada dalam orang itu” adalah ukuran atau sebagai penyebab orang tidak mengasihi dunia tetapi mengasihi Allah oleh karena adanya kasih Bapa dalam orang itu. Rasul Yohanes sedang menproklamirkan keberadaan orang yang telah melihat, mengenal, merasakan kasih Bapa maka yang akan terlihat dalam hidupnya sebagai tanda, adalah ia dipastikan mengasihi Allah.

 

2.              Tetap Hidup Selama-lamanya

Ayat 17 “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” Kekuatan yang diberikan Allah untuk melakukan kehendakNya akan membawa pada kehidupan kekal. Kehidupan disini bukan hanya mengacu pada kehidupan yang akan diterima orang percaya setelah kematian, tetapi juga tentang kehidupan kini. Kehidupan yang dialami adalah kehidupan dimana  Allah menyatakan kasihNya senantiasa melalui hal-hal yang terjadi dalam masa kehidupannya. Kasih Allah akan membawa kepada kehidupan lebih bermakna bukan kehidupan yang sia-sia. Seperti pada kalimat sebelumnya bahwa keinginan daging sedang lenyap dengan keinginannya, yang membedakan antara orang yang melakukan kehendak Allah dengan orang yang mengasihi dunia ini.


Melakukan kehendak Allah adalah mempercayai firmanNya. Dan pemazmur berkata “orang yang demikian adalah orang yang paling berbahagia”. Karena kepercayaan kita terhadap firmanNya akan sangat menentukan bagaimana sikap atau cara kita menjalani kehidupan ini. Orang benar akan hidup oleh iman. Orang yang hidup dengan suatu kepercayaan serta pengenalan yang benar akan Tuhan maka akan terlihat berbeda kehidupannya. Dalam Flp 1:22  Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu..dan juga dalam suratnya paulus berkata  sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah,(Kol 1:10).


Seorang yang telah merasakan kasih Allah dalam hidupnya tidak akan membuat orang tersebut menjadi orang mengasihi diri, tetapi justru akan hidup untuk memberi buah. Memberi buah adalah kehidupan yang dimana orang lain dapat menikmati kehidupannya. Kepuasan yang dirasakan orang percaya terhadap kasih dan anugerah Allah akan membuat orang tersebut berhenti untuk mengasihi diri dan justru kepuasan itu akan menghantarkan dia kepada kehidupan yang berarti. Hidup memberi buah, dan tidak mengasihi dunia adalah tanda atau bukti yang terlihat bahwa adanya pengenalan akan Allah itu di dalam dirinya. Jadi dalam renungan ini jika tema diatas “tak kenal maka tak sayang” maka jelaslah,  kalau sudah kenal pasti sayang. Dan kalau sudah disayang pasti melakukan perintahNya. Sola gracia.

Mzm 103:5  Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali

Sumber gambar: Pexels.com

Posting Komentar untuk "Tak Kenal Maka Tak Sayang Renungan 1 Yohanes 2:15-17"