1 Yohanes 2:15-17
15 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
17 Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya
Kalimat atau
ungkapan ini tentunya sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita, sebagai
mahluk sosial. Saat seseorang memperkenalkan diri biasanya diawali dengan
kalimat “tak kenal maka tak sayang”. Memang tidak semua orang melakukan hal ini, tetapi beberapa diantaranya
untuk sekedar menarik perhatian pendengar, melakukannya. Atau memang dengan
sengaja supaya orang benar-benar mengenal dan menyayanginya.
Kata “kenal”
dalam kamus Besar Bahasa Indonesia disama artikan “tahu” atau mengerti. Dalam hal ini sekilas memang tidak ada sesuatu yang menonjol dengan kata
kenal. Tetapi kata “mengenal” sesuatu akan memiliki makna lebih dalam jika
disandingkan dengan kata “tahu” sesuatu.
Imbuhan “Me” menghantarkan kita pada suatu proses untuk lebih serius dalam
mengetahui atau mengenal/mengerti sesuatu. Jelasnya untuk mengenal maka
diperlukan yang namanya “Proses”. Sepasang kekasih sebelum menjadi pasangan suami istri maka ada yang
dinamakan dengan masa pacaran. Dalam masa ini kedua pribadi yang berbeda ini
berusaha saling mengenal satu dengan yang lain, salah satunya melalui
komunikasi. Proses itu akan berjalan terus sampai akhir hayat, karena sampai
kepada titik mengenal dengan sempurna maka diperlukan untuk terus belajar, menggali,
dan sebagainya demi tercapainya pengenalan itu.
Dalam
hubunganya dengan pengenalan akan Tuhan tentu bukan seperti seorang guru
memberikan soal 1+1=... kepada muridnya, lalu diserahkan untuk dia kerjakan.
Pengenalan akan Tuhan adalah berupa pemberian kepada umatnya, bukan usaha
manusia. Karena sehebat apapun seorang belajar untuk mengenalNya tidak akan
pernah bisa jika Allah sendiri tidak menyatakan diri melalui hadirnya Roh kudus
dalam kehidupan kita.
Lalu apa
hubungan dengan renungan ayat di atas? Dalam hal ini Yohanes langsung kepada
inti dari pentingnya sebuah pengenalan akan Allah. Tuhan Yesus dalam
pengajaranya sering menggunakan kata mengenal Dia atau Bapa di sorga, salah
satu contoh dalam doa Yesus kepada murid-murid-nya dalam Yoh 17:3 “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa
mereka mengenal engkau, satu-satunya Alah yang benar, dan mengenal Yesus
Kristus yang telah engkau utus”. Orang yang mengenal Tuhan maka pengenalan
itu yang akan menuntun hidup orang tersebut. Jadi pengenalan itu bukan
pengakuan tetapi lebih kepada praktek hidup. Hal ini juga dikatakan oleh rasul
Yohanes dalam pengajaranya, bahwa kemampuan seseorang dalam melakukan perintah
Tuhan adalah sebagai tanda yang terlihat atau muncul dari kehidupan seseorang
yang mengenal Allah.“Dan inilah tandanya,
bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintahNya.”. Berikut ada
dua bukti atau tanda bahwa seseorang mengenal Allah:
1.
Tidak mengasihi Dunia
Kalau jujur
mengaku dalam hal memilih antara mengasihi dunia dengan mengasihi Allah maka
kebanyakan orang memilih mengasihi dunia. Bukan bermaksud menghakimi tapi
demikianlah yang terjadi, walaupun sudah memilih mengasihi Allah tapi tetap
saja dalam praktek kehidupannya mengasihi dunia. Kata mengasihi adalah suatu
tidakan memperlihatkan kasih itu kepada seseorang. Yang terlihat dalam
kehidupan seseorang saat mengasihi adalah penyerahan diri. Jika seorang
laki-laki mengalami jatuh cinta maka dalam hal menunjukkan rasa kasih/
cintanya, ia akan rela mengorbankan apapun yang ia miliki, waktu, uang, bahkan
dirinya. Setiap hari dalam setiap kegiatanya maka yang ada dalam pikirannya
hanya wajah sang kekasih. Jika dihubungkan dengan mengasihi Allah maka hal yang
harus terlihat adalah demikian. Pertanyaannya adalah sungguhkah yang ada dalam
pikiran, tindakan kita adalah mencerminkan cinta kita kepada Tuhan? Bukankah
cenderung mengasihi diri? Kita adalah manusia yang gagal untuk mengasihi
Allah!! Lalu bagaimana, apakah kita akan binasa? Mari kita perhatikan..
Justru
disinilah keunikan iman kekristenan itu. Kegagalan orang percaya untuk
mengasihi Allah bukan supaya mereka binasa, tapi justru ini dipakai Allah untuk
menunjukkan betapa besar kuasa kasih karunia yang diberikan Allah kepada
umatNya. Paulus dalam suratnya “aku
manusia celaka siapakah yang akan melepaskan aku dari dari tubuh maut ini? tapi
syukur kepada Allah!Oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”(Roma 7 : 24-25) Dalam hal ini rasul Yohanes bukan untuk memerintah atau anjuran supaya
setiap orang berusaha untuk mengasihi Allah. Ini pemberitahuan!! Ini suara
kepastian! Bahwa kasih Allah yang diperkenalkan atau dinyatakan pasti membuat
orang tersebut mengasihi Allah. “jangan
kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi
dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada dalam orang itu. ”Kalimat “kasih
akan Bapa tidak ada dalam orang itu” adalah ukuran atau sebagai penyebab orang
tidak mengasihi dunia tetapi mengasihi Allah oleh karena adanya kasih Bapa
dalam orang itu. Rasul Yohanes sedang menproklamirkan keberadaan orang yang
telah melihat, mengenal, merasakan kasih Bapa maka yang akan terlihat dalam
hidupnya sebagai tanda, adalah ia dipastikan mengasihi Allah.
2.
Tetap Hidup Selama-lamanya
Ayat 17 “Dan dunia ini sedang
lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap
hidup selama-lamanya.” Kekuatan yang diberikan Allah untuk melakukan
kehendakNya akan membawa pada kehidupan kekal. Kehidupan disini bukan hanya
mengacu pada kehidupan yang akan diterima orang percaya setelah kematian,
tetapi juga tentang kehidupan kini. Kehidupan yang dialami adalah kehidupan
dimana Allah menyatakan kasihNya
senantiasa melalui hal-hal yang terjadi dalam masa kehidupannya. Kasih Allah
akan membawa kepada kehidupan lebih bermakna bukan kehidupan yang sia-sia.
Seperti pada kalimat sebelumnya bahwa keinginan daging sedang lenyap dengan
keinginannya, yang membedakan antara orang yang melakukan kehendak Allah dengan
orang yang mengasihi dunia ini.
Melakukan kehendak Allah adalah mempercayai firmanNya. Dan pemazmur
berkata “orang yang demikian adalah orang yang paling berbahagia”. Karena
kepercayaan kita terhadap firmanNya akan sangat menentukan bagaimana sikap atau
cara kita menjalani kehidupan ini. Orang benar akan hidup oleh iman. Orang yang
hidup dengan suatu kepercayaan serta pengenalan yang benar akan Tuhan maka akan
terlihat berbeda kehidupannya. Dalam Flp 1:22
“Tetapi jika aku harus hidup di
dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus
kupilih, aku tidak tahu..dan juga dalam suratnya paulus berkata
sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam
segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan
bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah,(Kol 1:10).
Seorang yang telah merasakan kasih Allah dalam hidupnya tidak akan
membuat orang tersebut menjadi orang mengasihi diri, tetapi justru akan hidup
untuk memberi buah. Memberi buah adalah kehidupan yang dimana orang lain dapat
menikmati kehidupannya. Kepuasan yang dirasakan orang percaya terhadap kasih
dan anugerah Allah akan membuat orang tersebut berhenti untuk mengasihi diri
dan justru kepuasan itu akan menghantarkan dia kepada kehidupan yang berarti.
Hidup memberi buah, dan tidak mengasihi dunia adalah tanda atau bukti yang
terlihat bahwa adanya pengenalan akan Allah itu di dalam dirinya. Jadi dalam
renungan ini jika tema diatas “tak kenal maka tak sayang” maka jelaslah, kalau sudah kenal pasti sayang. Dan kalau
sudah disayang pasti melakukan perintahNya. Sola gracia.
Mzm 103:5 Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali
Sumber gambar: Pexels.com

Posting Komentar untuk "Tak Kenal Maka Tak Sayang Renungan 1 Yohanes 2:15-17"