zmedia

Hak Untuk Mengatur Urusan Pribadi Saya Sebagaimana Saya Kehendaki





“Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudara ku”, 1 Korintus 8:13.

“Maaf Guru”, terdengar suara disamping saya (Miss Will), “Apakah anda tidak ingin membasuh wajah anda?”. Kami sedang melayani dipedalaman selama satu pekan. Untuk kelima kalinya hari itu, hari pertama kami disana, isteri pendeta berdiri disana, mengulurkan sebuah baskom berisi air mendidih kepada saya. sikapnya menunjukkan perpaduan yang tepat dari kerendahan hati dan kebanggaan. Saya segera menahan keinginan untuk berkata, “Saya tidak ingin membasuh wajah! Untuk apa saya membasuh wajahku lima kali sehari? Maka saya bergumam mengucapkan terimakasih, dan dengan segan mengambil handuk kecil saya. tetapi tak lama kemudian saya menanyainya tentang hal itu. “Apakah anda selalu membasuh wajah sesering ini?”, “Tentu saja” jawabnya segera. “Semua orang yang suka kebersihan melakukannya! Dan saya dibesarkan dalam keluarga yang sangat bersih!!!”.

Kemudian Miss Will meresponi hal tersebut demikian “Saya tidak memperpanjang masalah itu, dan membasuh wajah saya dan kaki saya, sesering yang dianggapnya baik selama perjalanan itu”.

Ada satu kisah yang bermula dari sesuatu hal yang wajar kepada hal yang menyedihkan... yakni :

Ada seorang misionaris wanita yang muda masuk ke pedalaman, ke pos misisnya yang pertama. Ia berkata didalam hati “saya tidak mau kelihatan jelek”, dan ia membawa semua gaunnya yang bagus bagus. Ia mengenakan pakaian warna warni dan pendek lengan yang bagi orang kampung tersebut adalah hal yang asing sekali bahkan tidaklah sopan. Pada awalnya anak anak ditempat tersebut suka sekali berkumpul dengan dia untuk diajari mengenai kebenaran Allah... namun, beberapa waktu kemudian, ada dua anak yang ia ajar tidak datang lagi. Singkat cerita, ia mengetahui alasan mengapa kedua anak tersebut tidak mau datang lagi ke pos misinya atau berjumpa dengan dia, setelah ia mendengar bahwa kedua orang tua dari anak anak tersebut melarang mereka untuk bergaul dengan misionaris wanita yang muda itu, karena penampilannya bagaikan wanita tuna susila, atau wanita yang tidak tahu sopan santun. Ia menangis berjam jam dikamar pos misinya pada waktu itu... dan berdoa kepada Allah.

Apa yang salah...??? Menurut teman teman ku, apa kah yang salah terhadap wanita muda itu? Mengapa misionaris muda yang penuh semangat ini harus mengalami semua kepedihan ini? Hanya karena ia tidak mau melihat dengan mata orang lain. Normanya sendiri adalah satu satunya kebenaran baginya. Akhirnya, melalui pengalaman tersebut, ia belajar keras bahwa orang orang lain memang melihat hal hal dengan cara yang berbeda dari kita, dan hal ini memang membuat perbedaan. Bagaimanapun, ini adalah negeri mereka, dan inilah adat istiadat mereka. Kita tidak dapat mengharapkan mereka untuk menyesuaikan diri dengan kita atau adat kita.

Bukankah hal berpakaian adalah urusan pribadi ku...??? Hal model rambut dan cara kerja ku adalah urusan pribadi ku? Bukankah mengenakan uang ku untuk membeli handphone atau obat ku adalah urusan pribadi ku? Mengapakah ada hal hal yang menjadi pembatas untuk aku mengaturnya dengan sesuka ku sendiri....???
Saya masih ingat ada dua kasus yang saya alami menyangkut hal ini... yang hendak saya bagikan kepada teman teman yang membaca...

Pertama... Masih tak terlupakan kehidupan di seminari dimana saya dibentuk menjadi seorang hamba Tuhan yang mengerti dengan ketat apa yang Alkitab ajarkan (teologia/doktrin), dan apa yang perlu saya lakukan didalam hidup ini (praktika). Suasana itu tentu berbekas dihati ini... dan aku tidak tahu, apakah dalam hitungan bulan lagi aku sudah tidak akan lagi merasakan itu (berhubung pertengahan tahun ini aku akan berdiri diantara para dosen dan seluruh mahasiswa untuk menerima tanggung jawab baru, yakni, selesai dari bangku pertama yang akan menuju pada bangku kedua). Disana bisa dikatakan tidak ada satu hal sistim pun yang menyebabkan kita hanya menikmati urusan kita pribadi sendiri. Semua adalah : BERSAMA. Apakah tidak ada hak ku untuk mengurus urusan keuangan ku bagi diri ku sendiri... apakah tidak ada hak ku untuk mengurus perihal buku ku sendiri, menggunakannya sendiri, bagi aku dan untuk aku...!!! Apa salahnya itu?

Kedua, ... Jemaat yang sekarang saya gembalai (sementara waktu ini), adalah jemaat yang dahulu saya rintis bersama satu rekan ku, baru berusia satu setengah tahun. Usia yang muda bagaikan seorang anak bayi yang berharap ibunya senantiasa memberikan susu asi kepadanya. Sehingga... sering kali urusan pribadi yang mengharuskan aku untuk pergi agak jauh dan agak lama meninggalkan pastori/jemaat dibatasi oleh fakta tersebut. Pernah satu kali “buah hati ku” (ini adalah nama bagi jemaat ku ketika setiap pagi aku menyebutkan mereka didalam doa ku kepada Bapa disorga) bercerita kepada ku, dan, hal terakhir yang aku sebutkan adalah tentang kepergian ku untuk suatu perjalanan misi ketempat yang cukup jauh sekali. Maka ia seketika menimpali kata kata ku dengan demikian “Ya Om... tolong jangan lama ya.... jangan tinggalin kita”... dan orang inilah yang pernah berkata kepada ku “Saya kira om sudah pergi dan tidak akan kembali lagi kesini... hampir saya kecewa dan sedih om”.

Siapakah berhak untuk mengatur urusan pribadi ku untuk berpergian...? Siapakah berhak mengatur hak ku untuk berlaku ini dan berbuat itu...??? Sungguh... mereka berhak untuk itu. Justru aku tidaklah berhak untuk itu.....!!!

Jika boleh jujur.... semua kehidupan ku selama diladang pelayanan, adalah tidak ada kesempatan dimana aku bisa dan harus bisa mendirikan pengaturan ku sendiri menyangkut urusan pribadi ku. Semua adalah sesuai dengan keadaan dimana aku hidup dan mengabdi.

Posting Komentar untuk "Hak Untuk Mengatur Urusan Pribadi Saya Sebagaimana Saya Kehendaki"