Sudah lama sekali ingin
mengajak diri mu duduk berdua bersama... untuk membicarakan sesuatu hal yang
sebenarnya tak layak untuk diceritakan...! Namun... ku tunggu masa yang tepat
untuk hal itu... ternyata hingga larut begitu lama, sampai aku tak tahu lagi
bagaimana cara untuk menceritakan hal yang hendak ku sampaikan.
Maaf kan daku... jika
melalui tulisan ini akan membuat dirimu tak tentu tenang..., Maaf kan daku...
jikalau melalui tulisan ini mungkin akan mengganggu hati dan pikiranmu.
Menguras waktu, menguras kesempatan, menguras tenaga, juga yang terpenting akan
menguras hati mu...!!! Sebab hal ini menuntut pemikiran yang matang dan
perenungan hati yang indah...!
Ini bukan tentang kabar
mu dan kabar ku..., juga ini bukan tentang orang lain, tetapi ini tentang hati
ku... ya, tentang hati ini...!!!
Maaf kan daku... jika
tanpa engkau sadari, kekaguman atas diri mu timbul didalam hati ini... jauh,
sejak perjumpaan pertama kita dahulu. Wanita... entahlah, apakah engkau mau
untuk ku panggil demikian...!!! Sebagai tanda bahwa begitu ku Cintai
Dirimu...!!!
Di bawah ini... hendak
ku salinkan beberapa catatan harian ku mengenai diri mu... beberapa sajak yang
pernah ku tuliskan dengan jari dan pena ku, yang ku percaya cukuplah itu
menjadi pesan hati ini untuk mu... yang ku harap, sekalipun tak terdengar hati
ini bersuara, namun engkau bisa mendengarnya...! Amin...
...........
Malam, 09 September 2015
“Ya ampun.... tak ku sangka perasaan gejolak ini
seketika terbit, laksana senja pagi yang pasti akan meninggalkan malam yang
panjang. Bagai embun yang indah dipesisir danau, mempesona dan meluluhkan hati
ini, sanubari yang terdalam seolah merasakan sejuk dan syahdunya susasana
itu...
Gejolak asmara yang timbul sejak hari kedua ‘ku
tatap’ keindahan jiwamu yang terpancar dengan sangat tenang, diam, begitu indah
bagai kan indahnya mentari di senja sana. Sungguh... tak mungkin ku sampaikan
ini seketika ini juga... karena ku tahu itu akan ‘mengganggu’ hidup mu sekarang
ini.
Cukuplah ku pendam ini.... biarlah Tuhan yang tahu
akan kekaguman ku terhadap diri mu yang jika ku lihat : Diam... meski sulit
yang engkau harus langkahi, Tersenyum indah... meski tak tentu indah dihati,
Setia... meski tahu, bahwa tak ada dasar tuk percaya, Duduk manis... sekalipun
keadaan terlalu memaksa untuk lari dan bergesa.... Tunduk.... kalaupun engkau
tahu, tak tentu bahagia dan aman.... Manis jiwa luhur mu, dan ku sukai itu,
Baik sikap mu, dan kagum ku lihat itu...!”
...............
15 September 2015
Tak ku ketahui.... apakah engkau rasakan gejolak
perasaan ini. Ketika ku lihat mata mu yang indah... sungguh, tak dapat ku
pendam perasaan ku tuk ingin melirik lagi... dengan harapan “tuk engkau dapat
rasakan getaran cinta itu...” Aku yakin, bahwa tak mungkin sekarang ini...
masih panjang... masih lama kebersamaan kita... teruslah jalani...
.................
21 September 2015
Dapatkah ku sapa diri mu “Kekasih...”.... Cinta yang
terukir dengan lembut dihati ini.... terus saja ada dan tak mau ia pergi....
Hanya aku yang katakan ini, sebab ku tahu hati ku, bahwa ku dapati, aku jatuh
cinta kepada mu...! Cinta yang murni.... cinta yang seketika hadir dikala
harapan untuk demikian tidaklah ada, bahkan sudah lama tuk ku lupakan.
Entahlah.... Dapatkah kusapa engkau kekasih... Disaat
ku lihat jiwa mu yang luhur, tak tahan hati ku, yang hanya menjerit kepada
Tuhan...” Oh Tuhan... bilakah ia tahu perasaan ini”. Perasaan indah nan manis
yang terkadang membuat aku mau merenung panjang memikirkannya dan berdiam diri
disaat engkau ada dihadapan ku... Sungguh... dapatkah kunyatakan engkau
kekasih... sampai saatnya nanti, tepat pada waktunya Tuhan!
......................
30 Nov 2015
Terkadang... lekas juga untuk terbawa dengan
perasaan ini. Perasaan yang ingin memiliki seorang anak manusia... Aku tahu
bahwa itu pasti mengganggu hidup ku untuk sekarang ini. Itulah sebabnya aku
lekas-lekas sadar dan meminta jawaban Tuhan atas hal ini... Aku takut,
kalau-kalau studi ku akan terganggu (yang sesungguhnya, adalah studi mu juga
wahai anak manusia)...!!!
Beberapa sajak pernah
ku tuliskan tentang engkau wahai wanita... terkhusus, pada hari engkau Ulang Tahun
dahulu... pada 6 November 15, ku sisihkan waktu untuk menuliskan satu sajak
(yang aku yakin, dirimu sudah pernah tahu sajak itu) :
..........................
Dengan
ku pegang hati mu tanpa mengambilnya
(Suatu perenungan tentang kerinduan cinta)
Tak pernah engkau tahu itu
Tak pernah engkau akan ketahui itu
Mungkin sampai nanti...
Dan aku tak tahu kapan
Tentang hati ini, tentang perasaan ini
Gejolak asmara yang ada
Sudah cukup lama terpendam dibawah kalbu ketidak
sanggupan
Berdiam disana dengan tetap memberikan
pancarannya...
Memang sudah ku mulai untuk mematikannya...
Dengan berat ku mainkan hati ini untuk tidak sediakala
Menganggap tiada dan sirna
Dengan harapan... engkau baik baik dibangku mu...
Aku yang memberi dan engkau tak pernah menerima
Tak pernah sampai, namun disana engkau ada
Kepada siapa ku labuhkan perasaan ini?
Hanya kepada Dia... Sang Ilahi yang mengerti
Dengan keyakinan bahwa engkau jauh lebih baik begini
Tetap seperti ini... tanpa adanya diri ku
Takut... rasanya hadir disisi bangku mu
Kalau kalau ini akan menjadi goresan yang tak sedap
dihati
Ya... takut...
Takut jika engkau tersandung dan tak kuat berdiri
Takut kalau engkau jatuhkan air mata tanda sulit
hati mu
Tak enggan hati ini memulai tapak yang pasti akan
meninggalkan bekas
Dihati dan hidup mu...
Aduh... tak tahu aku
Tak pernah ku alami ini
Tak biasa seperti ini
Dan... aku tak tahu mengapa???
Begitu ku hargai keindahan mu dan keelokan paras mu
Kemanisan jiwa mu yang luhur dan anggun
Tak sanggup jika ku tatap mata mu
Ingin pergi dari sini aku...
Oh... cinta...
Mengapa ini disebut cinta
Jika sulit untuk terima gejolak yang ada
Dan tak sanggup untuk menyatakannya...
Em... ini anugerah Tuhan
Ini perasaan cinta yang Ia karuniakan
Mungkin tidak untuk memiliki
Tetapi untuk melihat dan mendukung
Memberi dan menguatkan
Duduk bersama disuasana yang biasa saja
Sepantasnya sahabat mu yang sabar dan mengenal mu
Bak air mata yang tak mungkin dapat pergi tanpa
mata...
Jadilah demikian saja
Tetaplah begitu sahaja...
Dengan ku pegang hati mu tanpa mengambilnya
Tetap ku ada tanpa adanya engkau
Ia jauh lebih baik
Ia lebih kuat untuk mengerti
Tak mungkin ada yang lain
Tuhan yang manis hatinya... menghibur dikala pelipur
lara...
Yer.
06 Nov
Ultah mu...
.........................................................................
Hanya
sebatas ini... dan tak bisa lebih...
(Suatu perenungan tentang perasaan cinta kepadanya)
Sepucuk cinta yang mulai tampak
Tak kusiram dengan baik pun
Taklah menjadi badai yang akan menghancurkan aku
Dan, menyingkirkan aku dari perjalanan ini
Lama sudah itu tumbuh dihati ini
Dan tak ada seorang pun yang tahu itu
Dia pun tidak... mereka pun tidak
Hanya aku dan Sang Ilahi yang menatap...
Ingin ku miliki dia, tanda ku sayang kepada nya
Kasih yang tulus tumbuh seraya perjumpaan terus
berlanjut
Setiap hari harus menatap hal yang tak dapat ku
gapai
Hanya sebatas ini... dan tak bisa lebih...
Mungkin orang akan katakan ini salah
Atau mengolok sikap ku yang diam seperti ini
Bukan karena aku tak memiliki perasaan ini
Tetapi sulitnya aku untuk menunjukkannya!!!
Ya... sulit untuk ku tunjukkan...
Tak mungkin itu...
Berat itu...
Cukuplah begini... dan baik-baik engkau disitu
Tersenyum manis dikala susah
Tetap kuat, disaat kenyataan mengajak untuk lemah
Berdiri selalu, diwaktu situasi memaksa untuk duduk
Tetap maju, dan teruskan langkah mu
Biarlah Dia yang tahu
Hendaknya ku sampaikan ini kepadaNya
Dan kiranya Ia lemahkan perasaan ini
Hingga tiada sedikitpun...
Yer, 01 Nov
................................................................................................
Jika engkau mengikuti seluruh sajak yang pernah
tertulis karena dirimu itu, betapa beratnya hati ini berjuang untuk melawan
dirinya sendiri. Dimana hendak ku buang dengan jauh rasa cinta yang ada...
berjuang untuk membuat sirna perasaan itu... dan, Wahai Wanita... apa engkau
masih ingat malam terakhir saat hendak kepulangan ku dulu, ingin rasanya
memberitahukan perasaan ini kepada mu... namun, yang aku lakukan adalah...
datang kepada Dia Sang Ilahi yang memberikan perasaan ini... untuk menundanya
lebih lama.... lebih lama lagi.... lebih
lama................................................ entah, dan aku tak tahu
itu kapan...!!!
Maafkanlah daku... jika sekarang ini kusampaikan
itu, dikala diri mu telah bersama......!!! Ini tidaklah menjadi tanda bahwa
engkau harus menjadi milik ku.... tidak sama sekali....!!! Betapa beratnya aku
mencoba selama ini, sejak kepergian ku dari hadirnya diri mu jauh disana...
untuk lupakan perasaan cinta itu..., dengan ku fokus pada tanggung jawab ku
sekarang ini, terkadang dengan ku coba “bermain hati” dengan pribadi yang
lain...!!!! Juga, berjuang berat aku.... untuk tidak menghubungi diri mu
semampu ku. Namun, jujur... semua usaha itu tetap saja tak kunjung sampai pada
hilangnya perasaan ini. Hingga detik jika engkau membaca tulisan ini... aku
harus mengaku... betapa ingin ku miliki dirimu wahai wanita...!!! Hanya...
cukuplah sampai disini... hanya sebatas inilah kita... dan tidak bisa lebih...
tidak bisa lebih...!!!
Ku hormati diri mu dengan segala kebaradaan mu...
dan ku cintai dirimu... dengan segala yang ada pada mu...!!! Kiranya Dia...
menuntun hati ini ke lembah yang indah dipandangan mataNya...!
Jika ada lagu yang berjudul Jodoh Pasti Bertemu...
sepertinya itu indah sekali, hanya sayang sang pencipta lagu tersebut mungkin
tak mengalami perasaan seperti yang ku rasakan selama ini...! Sang Ilahi...
yang hidup dan memelihara hidup kita, pasti akan mempertemukan kita pada jalan
yang telah Ia gariskan...!
Amin...
Sampai disinilah pesan ini kusampaikan kepada mu....
Dari HambaNya....
Kepada diri mu, yang jauh disana..... yang jika ku lihat...
“.... ....”???

Posting Komentar untuk "Kepada Dia... Yang Hanya Sebatas ini, dan Tak Dapat Lebih...!"