Jadi
sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota
anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat
untung,” sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok.... Sebenarnya kamu
harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan
itu.” Yakobus 4:13-15
“IBU NING DAN SAYA akan pergi mengunjungi Nenek Woo
yang baru saja sakit. Apakah kamu mau ikut juga?”
Saya sedang duduk di depan meja tulis, dengan semua
pernak-pernik yang dibutuhkan untuk pelajaran bahasa Cina yang berserakan di
depan saya. Saya menatap ke meja saya, menatap ke jam dinding, memandang kakak
saya, dan kemudian bertanya, “Berapa lama kamu akan pergi?”
“Oh, kita tidak akan pergi terlalu lama! Memang Ibu Ning
jalannya lambat, karena kakinya yang kecil itu; tetapi jaraknya hanya satu mil,
dan kita tidak perlu tinggal di sana lama-lama. Sulit untuk memperkirakan,
tetapi seharusnya kita akan tiba di rumah jauh sebelum makan malam.”
Yah, saya berpikir dalam hati, saya rasa saya perlu pergi,
tetapi saya ingin menyelesaikan pekerjaan menerjemahkan bab ini, dan saya
membutuhkan setidaknya tiga jam untuk itu. tadinya saya berpikir saya bisa
menyelesaikannya pagi ini, sehingga saya bisa menulis surat nanti sore.
Tapi.......
Sayangnya hati saya tidak merasa damai, sebab saya mengetahui
dua hal. Pertama saya tahu bahwa kakak saya berpendapat saya perlu pergi, dan
kedua, saya tahu bahwa itu benar.
“Baiklah,” akhirnya saya berkata, “Saya ikut, tetapi jangan
terlalu lama disana.”
Kami mengambil topi pelindung terhadap matahari, mengajak Ibu
Ning, dan berangkat. Kaki ibu Ning tida lebih panjang dari lima belas
sentimeter dan langkah-langkahnya sungguh amat kecil! Meskipun saya sudah
berusaha berjalan perlahan-lahan, berulang kali saya mendapati diri saya
berjalan mendahului keduanya. Kakak saya tabiatnya cenderung menhendaki
segalanya berlangsung serba cepat, lebih dari saya. Tetapi lihatlah dia
sekarang, berjalan di samping ibu Ning seolah-olah tidak mengenal waktu, dengan
penuh minat mendengarkan cerita Ibu Ning tentang sepupu dari bibinya yang
ketiga, sambil kadang-kadang menyela dengan beberapa kata seru dan pertanyaan
yang menandakan perhatiannya.
Saya tidak bisa merasa tertari pada cerita itu, meskipun ibu
Ning sedang bercerita bagaimana dia telah berusaha menasihati sepupu dari bibi
ketiganya ini untuk membawa semua kesulitannya kepada Juruselamat. Saya tidak
bisa memahami semua yang dikatakannya, dan tidak mampu berkonsentrasi pada semua
kesulitan yang sedang dan sudah dialami oleh si sepupu yang malang itu,
sehingga akhirnya saya berhenti berusaha. Hari itu benar-benar hari yang indah.
Langit berwarna biru, dan tanaman gandum yang tinggi berwarna hijau keemasan,
berdesir ditiup angin. Kami berbelok dari jalan dan melewati sebuah jalan
setapak di antara ladang gandunm. Kakak saya, tanpa menyadarinya, berjalan
sambil membelai bulir-bulir gandum yang masak itu di antara jari-jarinya, satu
per satu. Dia sejak dahulu menyukai tanaman gandum, saya pun demikian, tetapi
entah mengapa hari ini saya tidak ingin menyentuh gandum itu. Saya hanya ingin
agar kami bisa cepat sampai.
Akhirnya kami tiba di desa itu, dan menuju rumah ibu Woo yang
sudah lanjut usianya. Seperti biasa, kerumunan anak-anak kecil yang kotor
memandangi dan mengikuti kami masuk ke dalam rumah. Kami duduk di atas
bangku-bangku yang lebarnya kira-kira dua puluh sentimeter, dan menyeruput
“teh” yang bisa di namakan teh hanya demi sopan santun; sebab, karena tidak
mempunyai daun teh, sebagai gantinya mereka memasukkan beberapa iris ketela
mentah ke dalam ceret ketika merebus air. Ibu Woo yang tua itu sudah sembuh dan
beraktivitas kembali, dan penuh semangat.
“Saya senang sekali anda datang! Saya sudah menceritakan
kepada tetangga-tetangga saya segala hal mengenai Tuhan Yesus, dan bahwa mereka
seharusnya percaya kepada Dia, tetapi saya kuatir saya tidak melakukannya
dengan benar. Sekarang karena anda datang, anda bisa menceritakannya kepada
mereka. Kemarilah, Kucing Kecil!’ ia berseru kepada salah seorang anak dari
kerumunan yang mengikuti kami ke dalam rumah, “larilah pula dan ajak nenek mu
kemari. Dan kamu, Gadis Kecil, nenek bibi mu yang kedua mengatakan bahwa ia mau
percaya. Cepatlah lari dan katakan padanya bahwa guru-guru sudah datang. Kalian
anak-anak semuanya, larilah pulang secapat kaki mu bisa berlari dan bawa kemari
ibu dan nenek kalian untuk mendengarkan pengajarannya!”
Dibutuhkan keahlian besar untuk membujuk anak-anak itu agar
mau pergi dan mungkin ibu-ibu dan nenek-nenek mereka sedang sibuk. Kami
menunggu dengan sia-sia cukup lama, tetapi akhirnya masuklah tiga atau empat
orang wanita, yang seorang membawa sebuah alas sepatu dari kain yang sedang
dijahitnya, dan yang lain menggendong bayinya. Setelah usai penyambutan, mereka
semua duduk dan mangkuk-mangkuk teh di sajikan. Kemudian kakak saya
mengeluarkan poster yang selalu dibawanya, dan Injil di jelaskan kepada mereka
dengan kata-kata yang amat sederhana. Saya berusaha keras untuk memusatkan
perhatian saya pada berita yang disampaikan, dan saya dapat memahami sebagian
besar dari berita itu. Dalam hati saya memberi selamat pada diri saya sendiri.
Akhirnya saya berhasil mengalihkan pikiran saya dari subjek yang sejak tadi
merisaukan dan memenuhi benak saya, yakni semua tugas yang sebenarnya ingin
saya selesaikan hari itu!
Pemberitaan Firman sudah selesai. Wanita-wanita itu berdiri
untuk pulang, sambil menyakinkan kami bahwa mereka akan ikut bersama ibu Woo
pergi ke gereja pada hari Minggu mendatang. Kami berdiri juga, dan mulai
berpamitan.
“Apa? Pulang?” seru Ibu Woo. “Bagaimana anda bisa memikirkan
hal itu! Tentu saja anda harus tinggal untuk makan bersama saya! Benar, makanan
sudah hampir siap!” (Kami tahu benar bahwa wanita dalam keluarga itu hanya dia
sendiri dan menantu perempuannya, dan keduanya belum meninggalkan ruangan sejak
teh di hidangkan).
Kakak saya dan ibu Ning menyatakan keberatan mereka, dan saya
pun berhasil menambahkan beberapa patah kata yang sopan. Tetapi pikiran yang
ada dalam benak saya tidak begitu sopan. Tinggal untuk makan di sana!
Bayangkan! Itu berarti kami baru akan tiba dirumah paling cepat setelah sore
hari! Dan di samping itu, hidangannya mungkin akan berupa makanan yang
menyedihkan yang mungkin sulit saya telah! Ah, mungkin dia hanya meminta kami
tinggal demi sopan santun, dan dia tidak benar-benar menghendakinya!
Dengan susah payah kami berusahan berjalan ke pintu. Ibu Woo
dan menantu perempuannya bergelayut pada kami sehingga kami nyaris tidak bisa
bergerak, sambil berseru dengan suara nyaring bahwa mereka tidak mau membiarkan
kami pergi. Darah saya mulai mendidih. Saya rasa kami punya hak untuk pulang
kapan saja kami menginginkannya! Mereka benar-benar berusaha memaksa kami untuk
tinggal! Nah, bagaimanapun juga saya tidak mau tinggal lebih lama! Ini sudah
keterlaluan!
Tepat ketika kami sampai di pintu yang terbuka, kami melihat
seorang ibu tua sedang bergegas sambil tertatih-tatih melintasi halaman depan
menghampiri kami.
“Ah, nenek bibi kedua dari Gadis Kecil” seru ibu Woo.”
Akhirnya anda datang! Mengapa anda tidak datang lebih awal???”
“Saya sedang ada tamu, dan saya tidak bisa meninggalkan
mereka. Tetapi akhirnya menantu perempuan saya pulang, dan saya meninggalkan
mereka bersama dia dan datang secepat mungkin. Saya begitu kuatir bahwa para
guru sudah pulang. Tetapi, wah, tentunya anda belum mau pulang sekarang bukan?”
“Oh tidak, tentu saja mereka tidak pulang! Apakah anda pikir
saya akan menerima mereka di rumah saya tanpa mengajak mereka makan? Memang
tidak akan sama dengan makanan yang biasa mereka makan, tetapi makanan tetap
makanan! Nah, saya mohon, duduklah, para guru dan ibu Ning. Nenek bibi kedua
dari Gadis Kecil sudah beberapa lama ingin percaya, tetapi anak laki-lakinya
sangat jahat terhadap dirinya, dan tidak mengizinkannya pergi ke gereja.
Menurut anda, apakah bisa menjadi orang percaya jika dia di rumah saja?”
Saya tidak mempercayai penglihatan saya. Kakak saya dan ibu
Ning dengan patuh duduk kembali dan mulai berbicara dengan ramah kepada ibu tua
yang baru saja datang itu. Apa? Mereka benar-benar mau tinggal makan? Dan tanpa
mengucapkan sepatah kata pun kepada saya, seolah-olah apa yang saya inginkan
sama sekali tidak penting! Mereka bisa berbicara dengna itu tua ini, dan saya
tidak bisa berbuat apa-apa selain duduk saja! Memang seharusnya saya
mendengarkan, tetapi orang tidak bisa memusatkan pikirannya untuk mendengarkan
bahasa Cina yang asing ini sepanjang hari! Dan bagaimana pula dengan semua
tugas yang tadinya ingin saya selesaikan itu?
Makan malam tidak lebih baik daripada yang saya perkirakan.
Bahkan, lebih buruk. Nenek bibi kedua dari Gadis Kecil juga tinggal untuk
makan, setelah di desak, dan mereka semua terus bercakap-cakap. Mereka berusaha
mengajarkan kepadanya sebuah doa singkat, dan dia begitu bodoh! Diulang dan diulang
dan diulang lagi, dan masih juga dia belum mampu mengucapkannya sendiri.
Pada akhirnya, setelah saya berhenti berharap, saya duduk diam
seribu bahasa sepanjang sore hari itu, kami berdiri, berpamitan, dan berjalan
pulang. Matahari terbenam ketika kami memasuki pintu pagar kami. Saya letih,
(mengapa, saya tidak tahu, saya tidak melakukan apapun seharian), lapar (saya
tidak bisa makan banyak dari hidangan tadi, betapapun saya didesak-desak), dan
merasa amat kebal. Dan yang paling buruk, kakak saya sepertinya sama sekali
tidak merasa terganggu. Ia menerima semuanya sebagai suatu hal yang wajar.
Apakah hal ini akan selalu saya alami, apakah untuk ini saya datang ke Cina?
Sebab saya berangsur-angsur mulai menyadari bahwa pengalaman hari ini bukanlah
satu insiden khusus, melainkan bisa terjadi pada hari apa saja sepanjang tahun.
Ada sesuatu yang salah dengan hal ini. Apakah itu?
Tiba tiba saya
menyadarinya. Semua ini hanya karena saya telah merencanakan hari saya, dan
tidak ingin rencana saya di kacaukan. Karena rencana saya digagalkan, akhirnya
saya tidak melakukan apa-apa selain merajuk. Semua hal yang seharusnya bisa
saya nikmati, sama sekali tidak saya nikmati. Saya telah membuat diri saya
sendiri merasa kebal selama sehari penuh, semata-mata karena waktu saya
dihabiskan oleh orang lain, dan bukan oleh diri saya.
“Ya Tuhan, “kata saya, “saya tidak akan melakukan ini lagi!
Saya tahu sebenarnya Engkaulah yang mempergunakan waktu saya ketika saya ingin
melakukan sesuatu hal yang lain hari ini! Berilah saya pikiran yang terbuka,
Tuhan, supaya setiap kali saya pergi ke desa, setiap kali saya mengawali hari
yang baru, saya bisa menerima apapun yang datang, dan bersukacita di
dalamnya!”.
Sungguh menakjubkan betapa banyak perubahan yang bisa terjadi
oleh suatu hal yang kecil, yakni sikap mental seseorang. Sejak itu, apabila
saya pergi ke desa, saya tidak pernah menetapkan sebelumnya pada jam berapa
saya akan pulang. Mungkin saya akan tiba di rumah sebelum makan siang, atau
saya akan tiba di rumah menjelang matahari terbenam, atau mungkin saya bahkan
menginap, apa bedanya? Waktu saya adalah milik Tuhan, dan adalah hakNya untuk
mempergunakannya. Saya dapati bahwa dengan cara berpikir seperti ini, saya bisa
pergi kemana saja, memanfaatkan setiap peluang yang ditawarkan, tinggal lebih
lama atau lebih singkat daripada yang saya perkirakan sebelumnya, dan tetap
menikmati setiap saat, sebab Allah telah merencanakannya, dan telah
mengerjakannya dalam cara yang terbaik.
Demikianlah kisah hidup
dari Miss Will (Missionaris Williamson), yang sepenuhnya saya salin satu bab
dari bukunya yang berjudul “Tidakkah Kami Mempunyai Hak?”. Mengapakah saya
menyalinkannya di catatan seri Tidakkah Kami Mempunyai Hak ini secara utuh???
Jujur... ketika saya
masuk dibagian ini (membaca, merenungkannya, menganalisanya)... Hak Atas Waktu Saya Sendiri, seketika
bagaikan air jernih dari surga membasuh seluruh tubuh ku. “Saya pikir, saya
adalah raja yang tak ingin waktu saya terganggu oleh siapapun”. Saya pikir saya
paling egois dengan waktu saya sendiri... Jika sudah saya katakan A, maka tidak
akan saya izinkan apapun untuk menghancurkannya.
Jika
sudah saya katakan bahwa saya mau melakukan ini dan itu, maka jangan kiranya
hadir sosok yang lain hendak mencampuri urusan tersebut.
Jika
saya sudah berkata bahwa pagi ini saya mau belajar... Awas, akan saya abaikan
siapapun yang hendak mengganggu.
Jika
saya sudah mempersiapkan skejul harian saya (Jujur, bagaikan orang gila skejul
saya dahulu, sebelum diruntuhkan oleh Alkitab), saya tidak senang jika itu
berantakan, jangankan oleh orang lain, bahkan oleh diri saya sendiri yang
terkadang malas dan mengantuk, akan saya lawan, akan saya kutuki diri saya
sendiri, akan saya tengking segala kemalasan didalam tubuh saya.
Jika
seluruh rencana saya tidak tercapai dihari itu, maka, bagai orang yang berutang
besar saya untuk mengejarnya lagi esok hari (Pernah dulu, sekitar 3 tahun yang
lalu, saya membaca buku 400 halaman, dan sudah berencana di dalam dua hari akan
saya habiskan. Namun ternyata, karena ada kegiatan seminari/sekolah Alkitab
saya, maka jadwal itu berantakan. Maka hari ketiga, dimalam itu juga, saya
tidak tidur hanya karena mau habis membaca seluruh buku itu. Dari pukul 09
hingga larut malam, sampai kepada subuh, jam menunjuk pukul 4 subuh, maka saya berhenti
untuk istirahat dan pukul 5 harus bangun lagi untuk doa pagi bersama).
Selanjutnya, pengalaman
yang pernah terjadi bukan karena saya hendak belajar Alkitab, namun, karena
saya sudah hendak istirahat. Karena kegiatan pada hari itu cukup padat, Pagi harus
mengajar anak-anak kecil usia dini, sore mengajar anak-anak membaca dan
berhitung, malam harus melayani sidang jemaat, maka saya mencuri waktu untuk
beristirahat di siang hari. Namun, disitupun terdengar gelak tawa anak-anak
kampung berusia 4-12 tahun. Datang dan menghampiri tempat kediaman saya di
pastori, mengerjakan segala sesuatu yang membuat saya tidak bisa istirahat di
siang itu. Sungguh, (aku begitu kesal sekali) saya tidak tahu bagaimana cara
lagi untuk istirahat. Maka dengan terpaksa, saya menemani mereka untuk bermain
di siang itu.
Pengalaman yang berbeda lagi adalah, kurang lebih 2 bulan yang
lalu, dan ini terjadi dua kali :
Pertama, pagi itu saya sudah berencana disore hari nanti akan
belajar (menyelesaikan karya tulis saya yang harus saya kejar dilapangan untuk
memperoleh gelar seorang sarjana teologia dari seminari saya), buku-buku sudah
saya persiapkan, alat tulis dan Alkitab. Saya berpikir, wah... akan asik sekali
sore ini, sebab akan saya habiskan hingga larut malam. Tibalah waktunya, berserakan
buku dilantai pastori, didepan saya, dengan pulpen ditangan untuk menulis.
Berjalan hanya beberapa menit, anak anak gadis dari anak-anak jemaat lewat
didepan gereja dengan berteriak kuat : “Om
Theos... Om Theos... Ayo mancing om...”. Seketika saya langsung berdiri
didepan pintu menghadap mereka yang beramai-ramai menunggu didepan pagar gereja
dengan membawa segala perkakas memancing ikan disungai. Mengharapkan keikut
sertaan saya... tiada henti-hentinya mereka mengajak.
Dengan menghela nafas
panjang, saya meninggalkan seluruh pekerjaan saya sore itu dengan pikiran :
tidak mungkin dapat saya teruskan pekerjaan ini. Maka, bergegas saya mengambil
segala perkakas memancing dan mengikuti mereka. (Sungguh, kejadian itu hingga
kami sampai di tempat pemancingan dan pulang, telah menjadi kenangan yang indah
diantara saya sebagai pembimbing rohani anak-anak muda itu, dan mereka).
Kedua, Sore yang indah segera berlalu di pos yang saya layani
dipedalaman Kalimantan Barat. Puji Tuhan.. malam ini akan indah sekali untuk
aku belajar. Ya... aku harus belajar... sudah lelah sekali hari ini dengan
segala kegiatan yang ada. Mulai dari berkunjung ke rumah jemaat, bermain dengan
anak-anak sekolah minggu, bercocok tanam, dll. Kini sudah waktunya bagi ku
untuk mempergunakan waktu ku hanya untuk aku sendiri. Kebetulan rekan saya
sedang pergi untuk memancing bersama salah seorang jemaat dewasa hingga larut
malam. Jam menunjukkan pukul 07 malam, waktu belajar di mulai...!!! Belum
begitu lama aku mulai sesi itu, pintu pastori terketuk... dan suara langkah
seseorang telah terdengar oleh telinga ku. Tok... tok... bunyi ketukan itu, “Om... Om... bolehkah aku tidur disini”??? Demikian
suara seorang pemuda dari kampung tersebut. Waduh.... waduh... demikian suasana
hati ku. Saya membuka pintu dan mempersilakan dia untuk masuk dan beristirahat......
Uh... Puji Tuhan dia
mengerti keadaan saya yang sedang membutuhkan waktu untuk belajar dan bukan
untuk mengobrol panjang seperti biasanya dimalam-malam sebelumnya. Dengan cepat
aku memberikan bantal dan selimut untuk dia istirahat. Maka... yah... Dia
terlelap tidur. Dan ku lanjutkan cerita ku sendiri...
Baru saja mulai
mengetik di notebook apa yang perlu saya tuliskan di karya tulis, ternyata
pulang satu rekan ku bersama dengan jemaat dewasa yang memancing tadi,,,
aduh... berantakan sudah...!!!
Singkat cerita, aku
harus pergi bersama mereka ke kampung (tempat kediaman seluruh jemaat yang saya
layani), untuk berkunjung kesana, menikmati ikan hasil pancingan mereka berdua
tadi.
Uhuhhhh....... Menghela
nafas panjang dan segera menikmati apa yang terjadi, tanpa hendak menggerutu
didalam hati seolah-olah tiada lagi hari esok. Puji Tuhan...!
Puji Tuhan... Puji Tuhan...! Sejak hari-hari yang saya lalui
demikian terjadinya, maka mulai ku sadari juga seperti apa yang Miss Will
katakan, sekali lagi saya kutip disini : “Waktu
saya adalah milik Tuhan, dan adalah hakNya untuk mempergunakannya”, Waktu
saya adalah miliknya Tuhan, dan terserah Dialah... mau gunakan untuk apa...!!!
Demikian yang selalu ku tanamkan didalam hati ini. Itulah sebabnya senantiasa
ku nikmati kemana dan kapan pun saya pergi untuk melayani Tuhan, yang saya tahu
adalah : Waktu adalah anugerah Tuhan... tak mungkin ku sia-sia kan anugerah
Tuhan itu, oleh karena itu, sekecil apapun kegiatan saya, hanya ini yang saya
pikirkan : sekarang waktunya Tuhan...!!!
Satu konsep yang
senantiasa ku pegang didalam cara pandang ku tentang waktu adalah : Didalam
Kronos ada Kairos-nya Tuhan...!!! Amin.
Yer
11
Mei 2016
Serian,
Sarawak, Malaysia.
Tuhan
memberkati!

Posting Komentar untuk "Hak Atas Waktu Saya Sendiri"