Satu minggu ini saya
sedang menyelesaikan pembacaan dua poin dari buku “Tidakkah Kami Mempunyai Hak?” Yang ditulis oleh Misionaris Mabel
Williamson. Sebagian dari isi buku itu sudah saya tuliskan di dalam catatan
blog saya ini, dan mungkin teman-teman sudah membaca itu semua di dalam seri
Tidakkah Kami Mempunyai Hak. Dua poin yang tengah saya baca dalam minggu ini,
sudah pernah 2 kali saya baca dahulu, dan kini saya mengulanginya lagi karena
hendak membagikannya dalam blog saya ini.
Dua poin itu merupakan
pembahasan yang begitu membuat saya tersenyum sendiri selama membacanya, juga
membuat ‘hati’ saya kerap kali ‘menari-nari’ (hiii), sebagai tanda bahwa dua
topik tersebut begitu menyentuh bagian yang terdalam, di dalam privasi saya,
yang tentu juga semua manusia. Apakah itu...?
Pertama adalah : “Hak Atas Kehidupan Asmara yang Normal, Jika
Ada! Dan yang kedua adalah : “Hak
Atas Kehidupan Rumah Tangga yang Normal! Em... bagi para misionaris/hamba
Tuhan yang sudah berumah tangga mungkin ini tidak begitu membuat ia gelisah,
namun bagi saya secara pribadi, seorang pria yang lajang (saya sungguh pria
teman-teman...!!! Heee), dua pembahasan ini begitu menyentuh ke bagian terdalam
jiwa saya, dan mengajar saya untuk mempersiapkan diri jikalau seandainya Allah
mengizinkan dua keadaan tersebut saya alami di kemudian hari nanti.
Kenapakah dua bagian
ini dibahas oleh Miss Will? Bukankah buku tersebut membahas mengenai hak?
Sangat mudah sekali untuk di jawab pertanyaan ini. Itu karena setiap kita
(pelayan Tuhan) adalah manusia yang Allah ciptakan sama hal nya dengan
orang-orang yang kita injili atau kita layani di ladang misi, dalam hal : memiliki perasaan cinta atau ketertarikan
yang membawa kita masuk ke dalam hubungan yang lebih serius (Kehidupan Asmara)
sampai kepada kehidupan rumah tangga seorang hamba Tuhan. Perkara ini tidak
perlu di bantah, apalagi di abaikan, tentu salah. Oleh karena itu, Miss Will
mendeteksi ini dengan sangat baik sekali menurut saya. Dimana ia dengan
gamblang dan jujur apa adanya menjelaskan bagaimana seharusnya seorang
misionaris di dalam menjalin hubungan asmara serta didalam membina rumah
tangga.
Terlebih, keadaan yang
ia alami adalah di dalam era tahun 1930an...! Wah... betapa sulitnya keadaan
ini bagi misionaris lajang (baik itu pria atau wanita), untuk mendapat
kesempatan berjumpa dan berkomunikasi dengan lawan jenis yang telah memikat
hatinya. Tidak ada alat komunikasi seperti sekarang. Tidak ada sms, tidak ada
BBM dan WhatsApp, tidak ada Facebook, Twitter dan Line. Tidak ada Video Call,
tidak ada sent record, tidak ada, tidak ada, tidak ada, dan tidak ada. Ya...
ini sudah kita nikmati semasuknya dunia ini pada awal abad 21. Juga, situasi
ladang misi dahulu belumlah seperti sekarang, dimana tidak begitu di tuntut
untuk banyak meninggalkan ladang misi yang satu kepada ladang misi yang
lainnya, yang menyebabkan sering kali sang isteri tidak dapat melihat wajah
sang suaminya selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu karena melakukan
perjalanan misi Injil ke berbagai-bagi kampung lainnya yang jauh, dan harus
berjalan kaki untuk menempuh itu semua. Begitulah sedikit gambaran keadaan
ladang misi pada masa Miss Will melayani, yang menyebabkan ia menuliskan kedua
poin ini di bukunya, guna mengajarkan kepada setiap hamba Tuhan yang melayani
sebagai utusan Injil di pedalaman-pedalaman, untuk sadar bahwa mereka tidak
mempunyai hak menikmati hubugan asmara yang normal seperti pasangan pada
umumnya di dalam dunia ini. Begitu juga dengan para misionaris yang sudah
berkeluarga, memiliki isteri atau suami, memiliki anak, yang bersama-sama di
utus di ladang misi, untuk sadar, bahwa mereka berdua tidak memiliki hak untuk
hidup sebagai suami isteri seperti biasanya : ada waktu untuk duduk berdua
bercanda gurau, dan menghabiskan waktu untuk retret ke puncak bersama anak
isteri SETIAP MINGGUnya.
Wow... Jujur, ketika
saya membaca pertama kali pembahasan kedua topik tersebut, yang lebih
menggetarkan hati saya adalah poin kedua, mengenai kehidupan rumah tangga.
Sungguh, ini pelajaran yang begitu berharga sekali bagi saya secara pribadi,
yang saya yakin akan menjadi pelajaran berguna bagi teman-teman sekalian.
Sekarang saya berkata
bahwa setiap orang (terkhusus hamba Tuhan/Misionaris), hendaknya membaca kedua
bagian yang dituliskan oleh Mabel Williamson ini. Sekalipun fokus buku ini bagi
para Misionaris/ Hamba Tuhan, namun tidaklah menutup pintu bagi para kaum awam
mempelajarinya, sebab bagi saya ini sama saja bagi setiap orang yang percaya
kepada Kristus, hanya berbeda panggilan saja, namun implikasinya dalam kehidupan
kita menyentuh seluruh kalangan. Oleh karena itu, dalam dua minggu ini saya
berjuang untuk menuliskan kedua poin tersebut, membahasnya, dan memberikan
sedikit perenungan saya mengenai kedua hal itu.
Puji Tuhan...
Tuhan memberkati...!

Posting Komentar untuk "Pengantar : Hak Atas Kehidupan Asmara yang Normal, Jika Ada! Dan “Hak Atas Kehidupan Rumah Tangga yang Normal!"