Sudah menjadi janji saya kepada teman teman untuk
menuliskan kedua poin dari seri Tidakkah Kami Mempunyai Hak?, yakni : Hak Atas
Kehidupan Asmara yang Normal, Jika Ada! Dan Hak Atas Kehidupan Rumah Tangga Yang
Normal? Bahkan pengantarnya telah saya berikan di catatan saya yang sebelumnya.
Dan, sekarang ini, di tengah kesibukan saya yang begitu menguras waktu (karena
sudah kembali ke seminari untuk meneruskan studi teologi saya, yang akan segera
meninggalkannya sebentar lagi) saya memberikan waktu untuk menuliskan hal ini.
“Anda
mempunyai keluarga yang aneh”! Mungkin anda berkata
demikian. “Kakak-kakak anda masuk dalam
pernikahan dengan cara yang begitu tiba-tiba dan dramatis!”.
Sama sekali tidak aneh. Cara berkencan seperti itu
memang lazim di antara para misionaris. Alasannya sudah jelas. Sangat jarang
ada kesempatan di ladang misi untuk dapat berkenalan dengan lawan jenis yang
sesuai. Pilihan seorang misionaris terbatas hanya seputar misionaris-misionaris
lain, kecuali apabila ia siap untuk meninggalkan panggilannya jika ia menikah;
dan para misionaris, apabila sedang bekerja, biasanya tersebar di tempat-tempat
yang berjauhan. Kebanyakan dari pos-pos misi biasanya mempunyai satu rumah
tangga, dengan hanya dua tiga atau empat orang misionaris. Niscaya kecil
kemungkinannya bahwa dua orang pekerja lajang yang berlawanan jenis akan di
tempatkan dalam satu kelompok, di samping itu, pembagian pekerja seperti itu
biasanya di anggap melanggar peraturan.
Jadi yang di maksud oleh Miss Will adalah, setiap
sesama misionaris akan terpisahkan oleh ruang dan waktu, sehingga, wajar saja
jika terjadi perjumpaan yang begitu dramatis yang membawa mereka kepada
hubungan yang lebih serius : pacaran hingga menikah.
Ada apa dengan kehidupan asmara yang normal?
Disana,
Tidaklah mengherankan untuk bisa duduk berdua dan
bercumbu bersama...
Tidaklah menjadi masalah untuk berjalan bersama
menikmati suasana sore menjelang malam yang syahdu....
Tidaklah menjadi persoalan jika orang lain melihat
mereka berdua jika bergandengan tangan seraya bibir berbicara banyak mengenai
masa depan dan perasaan cinta yang ada...
Tidak apa-apa jika selalu bersama dan tidak ingin
satu saat pun terpisah...
Tidak menjadi masalah jika ada kecemburuan yang
besar ketika melihat si dia bersama dengan mereka disana...
Tidak perlu khawatir dengan lingkungan dimana mereka
hidup, sebab sudah menjadi sepasang kekasih...!!!
Apakah hanya ini yang di maksud dengan kehidupan
asmara yang normal? Saya berpikir masih begitu banyak yang dapat kita lanjutkan
dari daftar di atas mengenai kehidupan asmara yang normal. Terlebih jika kita
mau melihat era sekarang ini... sungguh, asmara sudah kehilangan arti yang
murni, dan sudah tercemar oleh sikap yang tidak baik di hadapan Allah. Dan
maaf, jika ini juga masuk merongrong ke dalam lingkungan misionaris, hamba
Tuhan dan mahasiswa teologi. Oleh karena itu, melalui tulisan Miss Will ini,
sungguh saya di ajari perkara penting ini... dan saya berharap melalui tulisan
saya ini, pembaca juga mengalami hal yang sama seperti yang saya rasakan.
Bagi para misionaris muda mungkin sering kali merasa
bahwa peluang untuk kehidupan asmara yang normal telah di renggut dari mereka.
Maka tidak heran bila tempat liburan, kantor misi, waktu waktu kosong dari
pelayanan akan di manfaatkan dengan maksimal untuk menjalin asmara dengan
begitu banyaknya keterbatasan dan halangan. Itulah sebabnya juga tidaklah heran
jika di antara para hamba Tuhan kerap kali terjadi pernikahan yang secara
dramatis singkat pertemuannya.
Namun, kita tidak mungkin berani berkata bahwa
pernikahan tersebut di luar kehendak dan kendali Allah yang berdaulat penuh
atas hidup kedua pasangan tersebut. Oleh karena itu, pernikahan itu pun
merupakan cara Allah yang unik untuk mempertemukan kedua pasangan di dalam
melayani Dia untuk tahap selanjutnya. Ya... beginilah cara mereka menjalin
asmara...... yang di pertimbangkan adalah (banyak sekali, dan yang ini adalah
dari saya secara pribadi);
Pertama : Mereka harus mempertimbangkan waktunya
Tuhan
Kesalahan pertama yang kerap kali menimpa para
pasangan misionaris adalah, kurangnya untuk berserah pada waktunya Tuhan
(jujur... saya secara pribadi sedang mengalami hal ini sekarang), sehingga
suatu hubungan berhenti hampir di sebabkan karena kurang pekanya di dalam
perkara yang satu ini sejak awalnya. Waktunya Tuhan... ya waktunya Tuhan...
seringkali membuat hati ini menjerit dengan kuat, untuk ingin sesegera mungkin.
Ingin segera bersamanya... langsung saja... lekas... lekas.. kemarilah...!!!
Waktunya Tuhan kerap membuat kita bertanya tanya; kapan Tuhan...??? Namun,
adalah bijaksana sekali jikalau seorang pria dan wanita yang saling
mencintai... tidak terburu-buru untuk selekas mungkin memasuki masa-masa
berpacaran (SUNGGUH, HAL INI SEDIKIT SEKALI. Dan, saya secara pribadi mengalami
perkara ini). Ia jeli melihat dan menunggu, bagaimana keadaan perasaan
tersebut. Sebab, dapat di pastikan bahwa suka bukanlah berarti cinta (yg
dimaksud cinta sejati yang berlanjut kepada pernikahan kudus dihadapan ALLAH).
Mereka berdua bersama menantikan waktu yang indah dari Tuhan untuk mereka
menikmati masa-masa sebagai sepasang kekasih ataupun masa penantian sebagai
sepasang suami isteri.
Kedua : Mereka harus memikirkan di kehidupan
selanjutnya
Hal kedua yang penting juga adalah ketika harus
mempertimbangkan kehidupan pribadi dari setiap pasangan. Sebagai seorang calon
misionaris/mahasiswa teologia, ia harus berpikir panjang bagaimana kedua calon
pasangan kekasih bisa menjalani kehidupan mereka bersama di dalam melayani
Tuhan. Tentu ini berat sekali, karena menyangkut dua yang harus di satukan. Dua
pribadi yang berbeda harus menyatu di dalam visi misi melayani Tuhan, bagi
kemuliaan Allah. Jadi, terkadang ini yang menyebabkan beberapa pasangan hamba
Tuhan tidak ingin terburu-buru untuk menikah, atau di sibukkan oleh berpacaran
yang berlebihan.
Ketiga : Mereka harus mempertimbangkan perasaan yang
ada, mungkin akan hilang sirna
Hal ketiga yang kerap kali menyebabkan calon
sepasang kekasih tidak ingin terburu-buru untuk segera berpacaran, adalah
karena ingin menguji apakah perasaan yang ada sekedar saja... atau sungguh
bertahan lama dan tidak hilang atau semakin menurun, namun semakin meningkat!
Ini penting sekali agar mereka tidak salah langkah di dalam menjalani kehidupan
asmara. Kerap kali sepasang yang saling mencintai ingin dengan segera menjalin
hubungan, sementara waktu berjalan dengan indah sekali, dan ......... tanpa
disadari, sementara itu jugalah di dapati bahwa cinta itu seketika hilang sirna
bagai embun yang meninggalkan pagi yang terhilang. Ini menakut kan sekali bagi
saya secara pribadi... Oleh karena itu, penting bagi kita untuk
mempertimbangkan perasaan kita sendiri, dan bukan calon pasangan kita saja.
Keempat : Mereka harus mempertimbangkan posisi
mereka masing masing
Posisi... ya, posisi. Di kalangan pelayan, hal ini
juga sudah hampir memasuki masa yang kritis. Sudah banyak sekali para
misionaris lupa akan perkara ini karena terbawa oleh gejolak asmara yang ada.
Katakanlah si pria adalah seorang pemuda yang baru di utus oleh Tuhan untuk
mengerjakan perintisan baru di salah satu pedalaman, ia harus bisa mengerti
posisi dirinya sendiri yang harus terfokus pada tanggung jawab tersebut, tanpa
mau TERLALU di risaukan dengan perasaan gejolak yang ada. Begitu juga dengan
sang wanita, harus bisa melihat posisi sang pria dan dirinya sendiri, yang
mungkin tengah di persiapkan untuk turun kelapangan, atau sudah sama-sama di
lapangan hanya di pisahkan oleh ruang. Jadi, ini penting sekali agar ketika
menjalani suatu hubungan asmara kita dapat sehati dan sepikiran.
Kelima : Mereka harus mempertimbangkan lingkungan
dimana mereka hidup dan melayani
Perkara yang satu ini begitu berat sekali menurut
saya. Karena, sepasang kekasih misionaris/pelayan Tuhan harus bisa membatasi
kehendak hatinya oleh karena lingkungan dimana ia hidup dan melayani. Jika
mereka ada kesempatan untuk berjumpa di ladang misi, maka mereka harus
membatasi diri oleh karena adat istiadat yang tidak lazim untuk duduk berdua di
depan rumah, atau berdua saja di kantor misi, atau di pastori gereja. Jika
mereka tengah dalam masa-masa persiapan untuk menjadi misionaris/hamba Tuhan,
maka mereka harus membatasi diri oleh karena lingkungan asrama, rekan-rekan di
asrama, dan peraturan yang ada. Mereka harus bisa melihat orang lain dapat
bergandengan tangan berdua untuk pergi ke toko buku bersama, serta bercerita
banyak hal sementara ia dengan kekasihnya hanya bisa duduk berdua sekali
seminggu, atau sebulan sekali. Namun, hal ini bukanlah aneh, tidak sama sekali.
Yang menyebabkan hal ini bukanlah sesuatu yang aneh adalah karena, siapa kita
yang mempunyai hak untuk menikmati kehidupan asmara yang seperti lazimnya?
Bukankah Allah yang mempertemukan kami? Maka ia jugalah yang akan membuat
semuanya indah pada waktunya bagi kami!
Keenam : Mereka harus memikirkan hati setiap orang
yang mengasihi dan mengenal mereka
Yang pertama di posisi ini adalah orang tua,
kemudian rekan di lingkungan pelayanan. Mereka harus bertanya, apakah hubungan
asmara ini akan “merusak” relasi ku dengan kedua golongan ini? Solusinya pasti
ada, yakni, mereka akan berusaha untuk menunggu waktu lebih lama untuk menjalin
suatu hubungan asmara, sekalipun mereka sudah saling tahu perasaan satu dengan
yang lain, sampai orang tua siap menerimanya. Bisa jadi di masa studi seorang
calon misionaris di batasi untuk berpacara oleh orang-orang yang mengasihinya
seperti orang tua, gembala sidangnya atau bapa/ibu rohaninya atau juga
pimpinannya. Juga, bisa terjadi bahwa melalui hubungan asmara tersebut akan
membatasi jalinan partner pelayanan, terlebih jika di lapangan, ini sangat
merusak pelayanan!!! Ini juga ada solusinya, mungkin mereka harus membatasi
diri di dalam berjumpa, di dalam bermanja ria, atau siap untuk menjalinya kelak
ketika semua tanggung jawab studi selesai, dan segera memasuki masa yang lebih
serius lagi. Ini bukanlah sesuatu yang aneh, karena kasih itu sabar dan ia
tidak menuntut (menuntut harus sekarang, harus kita bersama, harus kita selalu
bermanja ria, dll).
Kedelapan : Dan terahkir yang terutama, mereka harus,
dan harus membawa hubungan asmara itu ke hadapan Allah, dan menjaganya.
Poin inilah yang begitu terpenting dari yang
lainnya, yang menyebabkan pasangan seorang hamba Tuhan tidaklah mudah, karena
ia di tuntut lebih dalam hal ini. Apakah itu?
Seberapa seringkah mereka membawa perasaan cinta
yang ada kepada Dia, sang Ilahi yang membuat perasaan tersebut timbul? Didalam
doanya secara pribadi! Seberapa seringkah mereka menyerahkan kegundah gulanaan
yang ada kepada Tuhan menyangkut hubungan mereka? Seberapa seringkah mereka mau
duduk berdua di kala kesempatan ada lalu berdoa bersama menyerahkan hidup
mereka bersama? Seberapa seringkah mereka saling mendoakan satu dengan yang
lain, menyangkut pelayanannya, studinya, hidup pribadi dan keluarganya, serta
rekan kerjanya, bahkan keselamatan fisik dan jiwanya? Juga, seberapa banyak dan
seringkah (jika mau bisa di presentasekan, silahkan dalam hitungan 100%) ketika
mereka bertemu membicarakan perkara-perkara rohani yang memuliakan Allah? Atau
hanya sekedar : “Aku rindu kepada mu, aku
sangat sayang kepada mu” dsb. Terlebih sepasang hamba Tuhan? Ini
harus-harus-harus di perhatikan dengan sungguh, sebab mereka berdua akan segera
berdiri bersama di hadapan umat Allah untuk memberitakan Injil keselamatan.
Semua pertanyaan retorik ini begitu penting, dan
menentukan apakah hubungan seseorang tersebut kudus dihadapan Allah, Tuhan kita
Yesus Kristus.
Jika mau melihat semua ke delapan butir di atas,
maka sungguh saya akan berkata bahwa “Sungguh....
Tuhan mau aku tidak mengalami kehidupan asmara yang normal seperti yang mereka
alami disana, guna mempersiapkan aku berjalan bersamanya lebih lama dari pada
mereka di ladang-Nya”.
Sampai di sini saya menuliskan catatan ini, dengan
besar harapan saya menjadi berkat bagi para pembaca, teman-teman saya sekalian.
Silahkan di bagikan kepada siapa saja, terkhusus bagi setiap pasangan
misionaris/hamba Tuhan atau mahasiswa teologi yang sering mengalami perkara
yang namanya “asmara”. Hee....
Terimakasih
Yer,
08 Juni 2016
God
Bless You...
(Terimakasih
kepada engkau wahai adik ku, yang jika sekarang ini engkau juga membaca catatan
ini, sebab mengajari ku tentang arti “bersabar”... Menunggu lebih lama... ya,
waktunya Tuhan kita. Allah mengasihi mu, dan aku selalu mendoakan mu adik ku).

Posting Komentar untuk "Hak Atas Kehidupan Asmara yang Normal, Jika Ada!"