zmedia

Hak Atas Kehidupan Rumah Tangga yang Normal!





Puji Tuhan, sungguh saya bersyukur kepada Allah yang memelihara kita sampai pada hari ini. Terlebih, di izinkannya kita memasuki suatu kisah cinta yang manis bersama dengan Dia di kala perjalanan pekerjaan Tuhan sedang kita kerjakan. Memang tidaklah menjadi suatu prioritas setiap pelayan Tuhan yang sungguh sungguh, mengenai asmara, namun tak dapat di pungkiri bahwa ada dua dampak yang tak dapat disangkal mengenai hal asmara, yakni: pertama, asmara kerap kali membuat pelayan Tuhan gugur dari ladang misi, yang kedua, begitu banyak para hamba Tuhan begitu eksis melayani Tuhan oleh karena bantuan sederhana dari seorang pasangan hidupnya.

Sebelum saya memasuki pembahasan judul yang sudah saya janjikan, saya hendak memberikan sedikit kisah lucu yang terjadi di ruang kuliah saya, ketika memasuki mata kuliah Pendidikan Agama Kristen. Di saat itu pembahasan memasuki lingkup peranan keluarga dalam pendidikan, maka tanpa di sengaja, dosen tersebut memberikan pertanyaan kepada kami, dengan pertanyaan; “bagi kalian, ke nomor berapakah bahwa anak menjadi tujuan kalian berkeluarga?” Ada yang menjawab, ke 3... dll. Dosen itu tidak menanyakannya kepada saya, namun di sanubari saya yang terdalam saya menjawabnya dengan penuh perenungan; mungkin saya akan menjawab : SAYA TIDAK ADA PILIHAN. Alasannya adalah :

Pertama : Tidak ada hak bagi ku untuk memiliki anak kelak sekalipun akan berkeluarga di ladang Misi. Bukankah itu kehendak Dia? Bukankah itu apa yang Dia mau? Bukankah hal urusan punya anak atau tidak adalah urusan Dia Sang Pencipta seorang janin di dalam kandungan . Oleh karena itu tidaklah begitu saya pikir menjadi sesuatu yang saya prioritaskan sebagai no 1,2,3,4, atau berapa saja.
Kedua : Tidak ada sesuatu yang menjadi paksaan bagi ku untuk memiliki anak jika Tuhan tidak katakan ya atas kehidupan rumah tangga saya kelak di ladang Tuhan. Dan sekali lagi, bukankah ini adalah kedaulatan Tuhan?

Em... mungkin orang akan segera berkata bahwa, ini sungguh jarang ada di dalam pikiran seorang pemuda seperti saya yang menyerahkan hidup bagi pekerjaan Tuhan. Ini tidak normal... ini tidak biasanya...!!! Maka sungguh juga saya katakan, bahwa ini sangat normal sekali, sebab kehendak Tuhan adalah penentu segala sesuatu dalam kehidupan setiap kita, termasuk di dalam berumah tangga. Inilah kisahnya :

Rumahnya sendiri, itulah yang di dambakan Mary. Dia dan John telah menikah beberapa bulan sebelum berangkat ke ladang Misi, sudah belajar selama satu semester di sekolah bahasa, dan kini mereka hidup bersama sepasang suami isteri yang lebih tua, sampai pengenalan mereka atas bahasa dan budaya rakyat cukup memungkinkan mereka di utus ke pos misi mereka sendiri. Bagi Mary, bahasa itu mudah, tetapi bagi John sukar sekali, dan mereka bekerja di ladang misi selama lebih dari dua tahun sebelum kerinduan mereka untuk mendapat rumah mereka sendiri terealisasi. Suatu keuntungan bagi Mary bahwa ia mampu mempelajari bahasa dengan sangat cepat. David kecil dilahirkan ketika mereka baru berada di sana selama satu tahun, dan dengan mengasuh Daivd waktunya untuk belajar bahasa berkurang beberapa jam sehari di bandingkan oleh suaminya John.

Ketika mereka akhirnya tiba di pos Misi mereka yang baru, mereka begitu kaget ketika menemukan bahwa hampir tidak mungkin untuk meluangkan waktu beberapa jam tanpa terganggu untuk mempelajari bahasa yang masih mereka perlukan. Ada sebuah gereja kecil di tempat pengutusan mereka, dan tentu saja mereka ingin melakukan apa saja yang dapat dilakukannya untuk menolong, dengan pengenalan bahsa mereka yang terbatas. Mereka menemukna seorang guru bahasa, tetapi dia tidak sebaik guru mereka yang sebelumnya. Mary mengambil seorang anak perempuan untuk membantunya di rumah, tetapi anak itu belum bisa apa-apa, dan selama beberapa bulan pertama Mary berpikir bahwa melatih anak itu lebih menyita waktu dan tenaganya daripada seandainya pekerjaan itu dilakukannya sendiri. Mereka menerima banyak tamu, baik orang-orang Kristen maupun orang-orang lain. John senang duduk dan berbincang bincang dengan kaum pria yang datang, dan meskipun kemahirannya dalam penggunaan bahasa secara verbal berkembang, kemajuan yang dicapainya dalam bahasa tertulis yang diperlukan dalam pelajaran bahasa sangat lambat. Mary sering kali ingin menyuruh tamu-tamu pria pulang, menarik John masuk ke ruang belajarnya, mendudukan dia di depan meja tulis, dan mengunci dia di sana bersama buku-bukunya.

Dengan kesibukan mengasuh bayi dan tanggung jawab rumah tangga dialihkan kepadanya, untunglah Mary menyukai belajar. Dia sering kali mengatakan bahwa dia merasa Tuhan telah memberi dia, sebagai seorang ibu muda, pertolongan khusus untuk belajar bahasa itu, sebab Dia tahu betapa banyaknya tugas-tugas yang harus di lakukannya! Namun karena dia begitu sibuk, sering kali dia duduk sampai larut malam menghadapi buku-bukunya, hal yang tidak baik bagi kesehatannya, sehingga dia menjadi kelelahan dan letih lesu. Kemudian datanglah wabah flu, dan dia menjadi mangsa yang empuk. Kasihan si John! Dia harus menjadi perawat, pengurus rumah, dan pengasuh bayi, semuanya sekaligus! Hal yang paling merisaukan Mary ketika dia sakit adalah, dia menyebabkan John tidak bisa belajar...!!!

Kesehatan Mary masih belum pulih sepenuhnya ketika adik perempuan David dilahirkan. Betapa lucunya bayi itu! Sebelum sakit, Mary telah memberi pelajaran Alkitab singkat pada pertemuan kaum wanita yang diadakan setiap dua minggu sekali, tetapi kini sepertinya tidak mungkin menyediakan waktu berjam-jam untuk mempersiapkan pembahasan seperti itu. Karena proses pemulihannya yang begitu lambat, akhirnya di putuskan agar dia dan anak-anaknya ke rumah peristirahatan di bukit lebih awal dari pada biasanya pada musim panas itu. Sekembalinya dari liburan, ia terkejut ketika menyadari bahwa enam bulan telah berlalu sejak terakhir kali ia menyampaikan pesan firman dalam bahasa pribumi.

Namun ia sudah merasa jauh lebih sehat dalam segala hal dan ia segera melanjutkan pekerjaan itu kembali. Anak perempuan yang membantunya sekarang sudah bisa diandalkan untuk mengurusi rumah dan 2 anaknya. Oleh dorongannya, mereka sudah membentuk sebuah kelompok penginjilan, dan mereka pergi ke kota-kota dan desa-desa sekitar untuk menyampaikan Injil. Ada kalanya mereka bepergian sampai beberapa pekan lamanya. Mereka mendesak John agar pergi bersama mereka, dan memang itulah yang diinginkannya. Tetapi, Mary makin lama makin sering mendapati dirinya ditinggalkan sendirian di rumah bersama anak-anaknya. Dimanakah rumah tangga yang bahagia yang hendak dibangunnya untuk Joh??? John masih tetap dekat di hatinya dan tetap seramah dahulu apabila mereka bertemu, tetapi dia begitu sering pergi! Dan waktu dia ada di rumah, sering kali banyak tamu mengunjungi dia. Pada malam hari ketika tidak ada tamu, Mary selalu ingin mengatakan “Mari.... kekasih ku, suami ku, kita duduk di kursi malas, dan kita akan menikmati saat-saat yang menyenangkan bersama”,,, tetapi... karena dia di didik secara Puritan, hati nuraninya biasanya mengalahkan dorongan hatinya dan nafsunya, dan sebagai gantinya dia akan menoleh ke jam dinding dan berkata dengan riang, “Nah... masih ada waktu bagimu untuk belajar selama satu atau dua jam! Bagus bukan?.

Waktu bergulir dengan begitu cepat...! John sungguh-sungguh bertekun dalam pelajaran bahasa dan alkitabnya, juga aktiv di dalam penginjilannya. Namun, di dalam bahasa, Mary jauh lebih mahir dari pada John, tetapi ia tidak pernah berniat untuk menyaingi John. Pada awalnya, sering kali Mary ingin mencurahkan kesulitan-kesulitan hatinya kepada John, namun kerap kali Mary mendapati bahwa sekembalinya dari perjalanan ke pedesaan, John selalu begitu lelah sehingga ia tidak ingin menambah bebannya, dan akhirnya ia bergumul sendiri dengan kebanyakan masalahnya pribadi.

Ketika David sudah berumur 4 tahun, dua orang misionaris baru, yang baru saja menyelesaikan semester mereka di sekolah bahasa, di utus untuk tinggal bersama mereka, dua orang gadis yang riang dan ceria, di sambut Mary dengan sepenuh hati : meskipun akan begitu banyak kesulitan-kesulitan bagi keluarga muda ini untuk di hadiri oleh dua tanggungan misionaris, yang jelas akan lebih lagi membatasi keinginan hati kedua suami isteri misionaris ini. Mary selalu berjuang untuk mengawasi ke dua anaknya untuk tidak sesekali mengganggu kedua gadis misionaris tersebut, karena Mary menyadari betul bahwa mereka ada di sini untuk belajar bahasa dan menginjil, hanya itu saja...!
Alice adalah salah seorang dari dua misionaris yang tinggal bersama mereka, dia begitu pesat sekali perkembangannya dalam bahasa dan penginjilan, sehingga kerap kali ia bepergian untuk penginjilan sepekan ke kampung kampung pedalaman bersama tim yang di rintis Mary sendiri, namun Mary sendiri tidak bisa mengikuti perjalanan itu, yang sesungguhnya ia ingin sekali... kerap kali ketika Alice pulang dan menceritakan semua pekerjaan Allah dalam penginilan mereka, bagaimana orang-orang lahir barukan oleh Roh Kudus... Mary hanya bisa mendengar saja, ia harus menjaga anak-anaknya di rumah, dan melayani di sekitar rumahnya. Mary yang malang harus bersuka cita bersama mereka yang bersuka cita. Malam itu, dalam kesendirian di kamar tidurnya sendiri (John tidak ada di rumah, dan anak-anak sudah tidur), ia akhirnya melepaskan semua yang terpendam dalam hatinya, dan isak tangisnya pecah di dalam doanya kepada Allah... di redam dengan selimut, supaya anak-anaknya tidak terbangun...!!! Sungguh... memilukan hati ini...

Kemudian... tibalah waktunya untuk berlibur..! Singkat cerita mereka kembali ke tanah air, meninggalkan ladang misi untuk sementara waktu. Namun, yang lebih menyedihkan lagi bagi Mary adalah... terkadang Mary sempat berpikir, sambil menghela nafas panjang, bahwa ia semakin jarang melihat John di masa cuti dibandingkan ketika di ladang misi, karena John harus sibuk berkotbah, memberi pelajaran Misi, melatih misionaris-misionaris muda... memimpin pedalaman Alkitab dan mengajar di seminari dalam seminar-seminar atau lokakarya...!!! Masa cuti, justru bukan menjadi masa cuti bagi mereka suami isteri dan anak-anak...

Kini... sudah waktunya untuk kembali ke ladang misi... ada dua hal yang membuat ini menjadi begitu berat lagi bagi sepasang misionaris muda ini :

Pertama, David si kecil mereka harus berpisah, sebab sudah waktunya untuk dia sekolah di sekolah bagi anak-anak misionaris di China... David harus berpisah dari mereka... dan ini terjadi pula. David jauh dari pegangan sang Mary, sudah tidak seperti biasanya... Mary hanya bisa berdoa dan sesekali saja dapat berjumpa, mungkin di akhir musim dingin...

Kedua, ternyata mereka menemukan diri mereka tidak dapat kembali ke ladang misi sebelumnya, namun harus menggantikan misionaris yang meninggalkan pos misinya yang berada begitu jauh di pedalaman China... jauh... jauh dari pada pos sebelumnya...! diantara orang-orang asing, tinggal di dua buah kamar sewaan dan berusaha membereskan sebuah situasi yang amat sulit dalam gereja, situasi yang belum pernah mereka alami sebelumnya.

Cerita-cerita berakhir, tetapi kehidupan berjalan terus. Dan pikiran manusia sepertinya selalu membesarkan kesulitan yang dihadapi di masa kini, dan menyanjung masa depan yang diharapkan. John dan Mary menyangka bahwa tugas mereka yang pertama agak berat, dan bahwa yang kedua akan lebih mudah, tetapi ketika tugas kedua sudah di mulai, dan mereka memandang kembali kepada tugas pertama, mereka menganggapnya tidak lebih dari permainan kanak-kanak.

Ini memang sulit bagi mereka... mulai dari perkara kecil urusan gereja, penginjilan dan tim, bahkan urusan rumah.. kesulitan adalah hal normal di ladang misi, dan mereka juga tidak luput dari perkara itu. Tetapi mereka menghadapi kesulitan-kesulitan itu, dan mereka berhasil. Bagaimana caranya? Terutama dengan melepaskan beberapa dari “hak” mereka, dan yang paling penting dari hak-hak yang mereka lepaskan adalah kesempatan untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang normal.

Jarang sekali mereka melewatkan sore hari di mana John ada di rumah dan tanpa ada tamu, dan jika sore hari demikian bisa ada, John malah menghabiskan waktu itu menggeluti Alkitab dan buku-bukunya. Di kemudian hari John sering jauh dari rumah selama berhari-hari atau berminggu-minggu, sehingga keluarga itu sering kali harus berjalan tanpa kehadiran sang Ayah... John harus melepaskan haknya untuk bisa meluangkan cukup banyak waktu bersama anak isterinya. Juga Mary tidak bisa meluangkan waktu bagi anak-anaknya sebanyak yang diinginkannya. Ia juga tidak bisa mengatur semuanya bagi mereka seperti yang mereka kehendaki. Dan kemudian, setelah beberapa tahun pertama berlalu, rumah mereka bukan lagi milik mereka sendiri. Sebagian besar dari masa itu, ada orang-orang lain yang tinggal bersama mereka. Senantiasa mereka harus menempatkan pekerjaan Tuhan di tempat pertama, dan rumah tangga mereka di tempat yang kedua...

Namun bukankah kerelaan hati untuk pengorbanan diri inilah yang membuat rumah tangga mereka menjadi rumah tangga Kristen yang sejati? Seandainya mereka mendahulukan rumah tangga mereka, dan bukan pelayanannya, -seandainya rumah tangga itu membuat mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri, dan menjadikannya sesuatu yang mereka nikmati-, bukankah berarti rumah tangga itu tidak menjadi sebagaimana yang mereka inginkan? 

Rumah tangga yang sibuk dengan dirinya sendiri bukanlah rumah tangga Kristen yang sejati. John bersedia bepergian begitu sering, dan berkorban begitu banyak, karena kasihnya bagi Tuhannya adalah gairah yang paling membara dalam hidupnya. Karena alasan inilah maka kehadirannya, dan bahkan kesadaran akan ketidakhadirannya, dan alasan untuk hal itu, menjadi berkat bagi rumah tangga mereka...!!! John dan Mary dengan senang hati menerima orang-orang lain dalam rumah mereka, mereka benar-benar menghendaki orang-orang itu, bukan karena mereka tidak ingin memiliki rumah itu bagi mereka sendiri, tetapi karena kepedulian mereka bagi pekerjaan pelayanan lebih besar daripada keinginan alami mereka. Mereka menghitung harga yang harus dibayar, dan mengirim anak mereka pergi jauh dari mereka, kesekolah, sebab mereka tahu bahwa itulah yang terbaik bagi anak itu dan yang terbaik bagi pekerjaan Tuhan.

Kasih kepada Kristus lebih besar daripada kasih kepada rumah tangga, atau kepada anak-anak, dan bahkan lebih besar daripada kasih kepada pasangan...!!! Seandainya mereka mempertahankan hak mereka atas rumah tangga, dan menempatkannya di tempat pertama, itu berarti mereka akan kehilangan rumah tangga itu – kehilangan rumah tangga yang berpusat pada Kristus. Namun, dengan melepaskannya, mereka menemukannya, menemukan rumah tangga yang benar-benar memancarkan kasih Kristus, karena kasih itulah kekuatan besar yang menggerakkan kehidupan pribadi mereka...!!!

Saya, Theos... menjadi kesaksian dari dua rumah tangga yang pernah ku saksikan mengalami perkara yang serupa...!

Pertama, dia adalah bapa rohani saya... rektor saya, pimpinan saya... lebih dari itu, dia adalah “tulang punggung” saya...!!! Dan yang lebih lagi dari pada itu, dia... adalah ku samakan dengan tingginya mount everst... yang menjulang tinggi mengapai langit yang biru bagi kemuliaan Allah...!!! Pekerjaannya berat... dan tak dapat saya tuliskan satu persatu disini, yang melalui kenyataan itu, banyak yang ia harus korbankan. Dan pada satu seketika, kami bersama dengan dia untuk berkumpul bersama dalam suasana menyambut tahun baru... hendak menyampaikan isi hati kepada sesama, guna mengevaluasinya, dan membuat komitmen baru untuk menyongsong tahun yang akan segera datang...! Setelah usai kami anak binaanya, kini tibalah sang penolong dari bapa rohani ku ini untuk menyampaikan isi hatinya kepada sang belahan jiwanya yang selama ini begitu sibuk sekali bagi pekerjaan Tuhan... Masih ingat jelas di telinga ku kalimat yang terucap dari bibir sang ibu ku tersebut, yakni :

“Bang... abang boleh abaikan saya......!!! (Di sini dia sudah tersedu menangis... berlinang dengan air matanya yang berharga sekali...) tetapi... tolonglah.... jangan abaikan anak kita.....!!!”............................................................................................................................................

Sungguh... saya menjatuhkan air mata juga ketika waktu itu... begitu tak ku sangka isi hati seorang ibu yang selama ini terpendam di sanubarinya mengenai seringnya suaminya bepergian, yang tanpa di sadari, telah terabaikan kebersamaan diantara mereka. Namun, hari ini saya menjadi saksi bagi mereka demi Tuhan dan dihadapan Allah yang berkuasa... mereka adalah sepasang suami isteri yang paling berbahagia di dunia yang pernah saya temukan...!!! Demi Tuhan saya katakan itu....!

Kedua, dia adalah sahabat saya, mereka adalah sepasang hamba Tuhan muda... diladang misi ku temukan mereka begitu berpangku tangan dan mencukupkan diri dengan apa yang ada. Satu seketika saya datang ke tempat pelayanan mereka, dan untuk waktu yang hanya hitungan jam suami dari seseorang wanita manis ini harus pergi bersama saya dalam pekerjaan Misi kesalah satu pedalaman Kalimantan Barat... Isteri nya yang baru saja bangun dari istirahat siangnya, karena kelelahan melayani, terlebih dalam keadaannya sedang mengandung (hamil tua), harus mendengarkan perintah sang suaminya yang berkata “Dek... siapkan pakaian abang, abang akan pergi mungkin 1 minggu, jaga diri mu, cepat....!!!”, ia berdiam diri dan kembali ke kamarnya, lalu... saya tidak tahu apa yang terjadi. Namun, sang suami akhirnya bercerita dengan saya ketika di perjalanan Misi itu, bahwa ketika ia mempersiapkan pakaian suaminya itu, satu helai baju demi helai masuk ke dalam tas di temani dengan air mata...!!! Ini memilu kan sekali.... sungguh, jiwa besar yang di miliki sang isteri tersebut, membuat saya berdoa bagi dia pada seketika ku dengar hal itu di perjalanan oleh suaminya.

Lihatlah.. mereka menomor satukan pekerjaan Tuhan... atas keluarga mereka!!!

Puji Tuhan... saya rasa cukuplah tulisan saya kali ini. Kiranya menjadi berkat bagi kita semua, dan hendak saya sampaikan satu bait sajak di bawah ini yang saya gugah berdasarkan perenungan yang panjang... :

Ada Mawar itu disini...
Namun ku pilih duri-nya....
Dan ku buang bunganya...
Sebab Allah akan menyediakan bunga itu kelak, dan kita akan tersenyum indah bersama...!!!

GBU,
Yer, 18 Juni 16

Posting Komentar untuk "Hak Atas Kehidupan Rumah Tangga yang Normal!"