“Jagalah
hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”
Amsal
4:23
Amsal
4:23, telah membuat saya sedikit demi sedikit, belajar untuk menjadi pribadi
yang berhati-hati dalam hidup ini. Sejak 2 tahun yang lalu, saya mengkotbahkan
bagian ini kepada jemaat yang saya layani, maka sejak saat itu jugalah saya
menjadikan “menjaga hati” sebagai perenungan panjang di dalam hidup saya.
Hingga detik ini, harus saya akui bahwa sudah banyak sukacita yang saya
dapatkan ketika hal tersebut saya lakukan, dan, harus saya akui juga bahwa
sudah banyak kedukaan yang saya alami ketika hal itu tidak saya lakukan.
Semakin saya merenungkannya, semakin pula Tuhan
menekan jiwa saya dengan berat, untuk tersadar akan kelalaian yang kerap kali
saya lakukan tentang hal menjaga hati. Masih kerap kali saya mendapati diri
saya mengalami kesusahan hati ketika melihat hal-hal yang tidak sesuai dengan
keinginan hati (ha-ti ku), ketika berhadapan dengan situasi kondisi yang
menyedihkan, ketika permasalah hidup datang silih berganti, ketika tidak dapat
bekerja sama dalam pekerjaan Tuhan... namun, tak luput juga dalam hal ketika
Tuhan menempatkan di posisi yang nikmat, ketika merasa sudah mampu dan suasana
hidup tampak baik-baik saja, semua serba tersedia, di kala demikian, banyak
sekali momen itu tak saya pakai untuk menjaga hati ini...! Sedih... menggerutu,
tidak setuju, ketidak puasan, menuntut hak, dan dengan diam-diam di dalam hati
ku menyimpan ketidak sukaan...!!! Sungguh, ini memalukan sekali....
Seketika saya teringat akan apa yang Amsal 25:28
katakan “Orang yang tidak dapat
mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya”. Pernah saya
mendengar bahwa musuh terbesar dan terberat dalam hidup kita bukanlah di luar
diri, namun di dalam diri kita sendiri. Diri kita sendiri dengan seluruh sifat
kedagingan yang masih tinggal bagi mematangkan iman kita kepada Kristus,
keinginan hati, keegoisan, ketidak puasan diri, dan masih banyak lagi, letaknya
ada di dalam diri kita sendiri.
Hal yang terberat di sini adalah bagaimana
mengendalikannya? Ini penting sekali teman-teman, sebab Alkitab dengan jelas
menyamakan orang yang tidak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang
roboh temboknya. Sekarang, mari kita memikirkan hal itu!
Pada zaman dahulu (konteks perjanjian lama), setiap
kerajaan akan di pagari dengan tembok dari ujung ke ujung atau paling tidak
kota utamanya dimana raja berdiam. Gunanya adalah, pertama untuk menjaga jika
ada serangan dari luar sehingga tidak langsung memasuki kerajaan atau kota.
Kedua untuk menjaga jika terjadi kekacauan di dalam, sehingga tidak dengan
gampangnya untuk keluar. Juga sebagai tanda batas kerajaannya..., nah, sekarang
cobalah kita membayangkan kota itu tanpa tembok...? Bagaimana keadaannya! Rawan
bukan? Rawan sekali, sebab akan mudah musuh memasuki benteng pertahanan suatu
kota, demikian juga jika terjadi kekacauan di dalam kota.
Sekarang, bagaimana
dengan diri kita? Jika tidak mampu mengendalikan diri kita, maka akan dengan
mudahlah kita di serang dari luar maupun dari dalam diri kita sendiri. Ketika
melihat kenyataan tidak sesuai dengan keinginan hati kita, maka kita tidak
mampu untuk melakukan apa yang terbaik, itu karena ketidak mampuan untuk
mengendalikan dirinya.
Bagaimanakah kita mengendalikan diri kita ini?
Caranya adalah dengan engkau menjaga hati mu...! Dengan itu kita menjadi orang
yang mengendalikan diri dalam segala hal.
Lalu yang kedua, yang membuat menjaga hati menjadi
penting adalah karena, dari situlah terpancar kehidupan! Dari hati kitalah
terpancar kehidupan... wah, ini sungguh indah sekali bukan? Ketika mengetahui bahwa
cara agar kehidupan senantiasa terpancar, adalah dengan menjaga hati kita!
Tentu kehidupan yang di maksud oleh Amsal ini bukan berhubung dengan kehidupan
kekal, tetapi hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, dimana di situ
ada sukacita, kegairahan yang besar, semangat yang hidup dan jiwa yang luhur
bagi pekerjaan Tuhan dalam segala aspek.
Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimanakah menjaga
hati itu???
Bagi saya, dan menurut saya, tidak saya temukan cara
lain, selain kita senantiasa membawa hati itu kepada Allah di dalam doa.
Satu seketika rekan saya pernah seperti tidak
memperdulikan keadaan saya yang tengah krisis di dalam keuangan, namun dengan
percaya dirinya ia tetap datang kepada saya dan meminta tolong agar membantu
nya dalam keuangan. Jujur... keinginan hati pada waktu itu adalah: mengajaknya
duduk berdua lalu dengarkanlah aku akan berkata-kata, bahwa engkau adalah orang
yang tidak bisa mengerti keadaan orang lain...!!! Ya... ingin sekali begitu,
tetapi, seketika yang saya lakukan adalah...
Saya hanya berkata-kata pada Tuhan saja pada waktu
itu, dan berkata bahwa “Tuhan, apa yang ku punya adalah punya Mu, maka pakailah
sesuka hati Mu...” Amin. Puji Tuhan, hingga detik ini praktek seperti
demikianlah yang saya lakukan... berkata-kata kepada Allah untuk menyampaikan
segala kesulitan hati ini, dan sungguh, tak pernah saya temukan hati saya tetap
dongkol seusai hal itu saya lakukan. Suka cita dan damai sejahtera yang besar
memenuhi segenap hati dan pikiran dikala hal yang tidak sesuai keinginan hati
terjadi menimpa.
Engkau
yang berkeluarga, belajarlah menjaga hati mu...
Engkau
yang bekerja, belajarlah menjaga hati mu...
Engkau
yang melayani Tuhan, belajarlah menjaga hati mu...
Engkau
yang sekolah atau kuliah, belajarlah menjaga hati mu...
Engkau
yang menjalin hubungan asmara, belajarlah menjaga hati mu...
Engkau
yang detik ini mengalami dukacita dan kesulitan hati, belajarlah menjaga hati
mu...
Jagalah
hati mu.....!!!
Yer,
23 Juni 16.
Tuhan
memberkati...

Posting Komentar untuk "Menjaga Hati...!"