(Suatu
perenungan tentang usainya studi)
Apakah
yang hendak ku katakan tentang hal ini...
Sesuatu
hal yang bagi ku belum layak untuk di alami
Perkara
besar yang sebenarnya, tidaklah segampang ku lihat mentari yang terbit
Harus
terjadi sebagai penutup satu kisah yang telah sekian lama terukir...
Tak
akan pernah ku alami lagi masa-masa ini
Semua
kisah yang terjadi menjadi tenunan kain sutra yang indah
Dari
tangan sang Penenun yang ajaib
Untuk
di bentuk menjadi suatu kain yang indah di pandang dan layak di gunakan....
Sekalipun
semula ia adalah kain yang kotor...
Hina...
jijik, tak layak di pandang, apa lagi di gunakan...
Hanya
layak menjadi sampah yang tak berharga
sedikipun
Di
ludahi sebagai tanda betapa tak pantasnya ia...
Namun...
ada kasih dari Surga...
Kasih
yang membawa kepada halaman surga yang terlalu manis untuk di kecap...
Kasih
yang membuat apa yang terhina menjadi yang termulia...
Melalui
hal itu, kini ia berdiri di hadapan dunia hendak mengatakan :
Tunggu
aku... aku akan sampai di sana
Lihat
aku... aku akan berdiri di pusaran gelombang yang menerpa dengan kuat
Bukan
agar mereka melihat ku
Tetapi...
agar mereka melihat Dia Sang Allah, Yesus Kristus... Sang Juruselamat dunia
Hal
tersebut dapat terjadi dan terlihat oleh mata, SUNGGUH...
Oleh
karena adanya Ia disini
Membentuk
daku di bangku belajar ku
Membentuk
daku di bangku kehidupan ku
Membentuk
daku di peleburan api penginjilanNya
Membentuk
daku di luasnya tanah lapang pedalaman....
Membentuk
daku melalui mereka yang ada untuk memegang tangan ku
Membentuk
daku melalui dia, yang adalah tulang punggung ku dan mount everst ku...
Membentuk
daku melalui, dua orang yang melalui mereka, aku dapat melihat hari pertama di
hidup ku....
Melalui
mereka yang kecil... tetapi, membuat aku menjadi dewasa...
Melalui
mereka yang membuat daku pergi meninggalkan semua yang daging ku cintai, yakni
mereka buah hati ku, dan mahkota kebanggaan ku di hadapan Bapa... umat Mu...!!!
Menenun
jiwa ku dengan perlahan untuk menuju kepada kepastian... dan hidup dalam
kegairahan meditasi yang manis nan mesra...
Menenun
tubuh ku menjadi bentuk yang serupa dengan Kristus... dengan kedisiplinan dan
teror diri sendiri...
Menenun
hati ku untuk mengerti kelemah lembutan dan kerendahan hati, dengan temannya
adalah kejengkelan dan kebencian...
Membuat
pikiran ku untuk lebih enggan di gunakan sebagai patokan kehendak Allah
Membuat
segenap batin ku untuk lebih peka akan keterbatasan dan kehinaan diri sendiri
Menjadikan
rupa jiwa dan raga ku lebih... lebih... kepada Kristus...
Semua
itulah yang terjadi selama duduk nya daku di bangku kelasNya Tuhan ini...
Dan oleh karena perkara itu semualah, enggan
rasanya meninggalkan drama ini...
Mungkin
hanya untuk seribu tahun lagi, aku masih ingin begini...
Masih
mau duduk dan diam mendengar Dia saja....
Tak
ingin ku tinggalkan... aduh... aduh...
Tak
ingin...................
Bisakah
ku minta kepada Dia untuk jangan lakukan ini,
Untuk
ku tinggalkan masa-masa ini...!!!
Ya
ampun... mungkinkah hal tersebut terjadi...?
Huh...
tidak rasanya...
Dia
punya kehendak yang berbeda, guna membawa daku kepada langkah yang selanjutnya
Bagi
kemuliaanNya...
Amin...
Note : Doakan teman-teman, saya
akan sidang skripsi pada tanggal 15 Juli 2016, dan wisuda pada tanggal 18 Juli
2016.
“Kesarjanaan teologi ini, bukan
kebanggaan ku, tetapi tanggung jawab yang membuat ku rendah hati melayani
Dia... Juruselamat jiwa ku”.
Yer, 12 Juli 2016
Kabar Baik, God bless us...
“Tulisan ini terkhusus, ku
persembahkan kepada “dia”... yang hadir di masa senja drama ku ini... yang
membantu ku untuk mengangkat tangan ini lebih tinggi lagi....!!!”

Posting Komentar untuk "Duduknya Daku di Bangku Kelas-Nya Tuhan!"