zmedia

Katakan dan Lakukanlah... Apa yang Seharusnya!





 Katakanlah... Apa yang Seharusnya Engkau Katakan!
Lakukanlah... Apa yang Seharusnya Engkau Lakukan!


Di dalam menjalani kehidupan ini tidak dapat di pungkiri bahwa dalam berelasi dengan sesama yang menjadikan sikap kita dapat di lihat oleh mereka adalah melalui Perkataan dan Perilaku kita.

Hal perkataan sudah pasti akan menimbulkan reaksi dari lawan kita berbicara, entah itu perkataan yang sehat maupun perkataan yang tidak sehat, dalam arti suatu pertengkaran atau perdebatan. Hal perilaku juga sudah pasti akan menimbulkan reaksi dari orang-orang di sekeliling kita, mau bagaimanapun itu, pasti akan menimbulkan reaksi dari orang lain.

Sekarang pertanyaannya adalah, seberapa mampukah kita untuk berkata dan berperilaku yang seharusnya, ketika dalam situasi yang tidak sesuai dengan kehendak hati kita?

Dua pernyataan di atas saya dapat kan di bangku kuliah ketika sang dosen pujaan hati menanyakan bagaimanakah cara agar menjadi orang yang dapat di percaya oleh orang lain? Dengan demikian ia akan menjadi seorang teladan! Maka, berkata dan berlakukan yang seharusnya saja.

Maka pertanyaan saya pada waktu itu adalah; untuk mengetahui yang seharusnya itu yang sulit pak? Untuk mengetahui jawabannya, maka sekarang ikutilah tulisan di bawah ini.

Kisah Sederhana : Pada suatu waktu, terjadilah kisah yang lucu di antara kami mahasiswa, sehingga apa yang kami perbuat itu menyebabkan hampir seluruh kelas di kampus begitu kotor dan bagaikan kapal pecah yang siap untuk segera karam... Yang membuat saya tidak tenang ketika seusai kegiatan lucu itu adalah, saya harus membersihkan seluruh ruangan kelas ini, mau tidak mau, sebab nama sayalah yang tercantum sebagai petugas. Tetapi, begitu lelah sekali siang itu sebab kegiatan belajar yang harus saya tempuh di pagi tadi cukup menguras pikiran saya. Maka, istirahatlah sejenak... Tiba-tiba tanpa di duga, “pimpinan” asrama, yang kerap saya olok dengan sebutan “nyonya besar”.... Hiiiiii (Maafkan daku), melihat semua keadaan itu... Singkat cerita, saya menghampirinya dan harus mendengarkan semua kritikan kerasnya, serta amarahnya yang terlampiaskan hanya kepada saya.... sekali lagi, hanya kepada saya.... saya!!!

Ketika mendengarkan ucapan kerasnya itu, jujur teman-teman, hati saya terbakar rasanya...! Hendak segera mengajak dia yang saya hormati untuk duduk dan mendengarkan saya yang akan berkata : Wahai Nonya besar, pertama : bukan hanya saya yang lakukan itu. Kedua: kelas tetap pasti akan kotor, namanya juga di gunakan! Ketiga: sekalipun kotor, bukankah akan saya bersihkan, toh itu tetap tanggung jawab saya. Ke empat: Tolonglah jangan dengan amarah yang meledak seperti itu...!!! Tetapi, yang saya lakukan saat itu adalah : Berdiam diri. Saya tidak sama sekali mengeluarkan satu katapun untuk menyanggah ucapan pedasnya yang menusuk hati saya. Sembari pikiran-pikiran di atas ada, saya terlintas di bawa oleh Allah untuk memikirkan perkara ini : Theos, apa engkau lebih baik dari orang lain sehingga engkau tidak pantas di perlakukan demikian? Bukankah itu memang kesalahan mu juga? Mengapa engkau tidak siap untuk di tegur dengan keras oleh Ku? Kenapa engkau berpikir hak mu? Mengapa engkau merasa engkau benar dan orang lain salah? Bukankah dia pemimpin mu? Tunduk lah kepadanya!....

Apa yang seharusnya saya lakukan pada waktu itu? Bukankah saya bisa saja melontarkan empat pernyataan diatas kepadanya, dan saya mempertanggung jawab kannya? Bisa... tetapi, apakah itu adalah yang seharusnya saya katakan? Dan yang seharusnya saya lakukan kepadanya? Saya dapat pastikan, Tuhan berkata TIDAK...!!!

Ketika Hana, isteri dari Elkana selama bertahun-tahun mengalami apa yang begitu menyedihkan hatinya, apakah yang ia selalu lakukan? Alkitab mencatat :

Pada hari Elkana mempersembahkan korban, diberikannyalah kepada Penina, isterinya, dan kepada semua anaknya yang laki-laki dan perempuan masing-masing sebagian. Meskipun ia mengasihi Hana, ia memberikan kepada Hana hanya satu bagian, sebab TUHAN telah menutup kandungannya. Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena TUHAN telah menutup kandungannya. Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan.
(1Sam 1:4-7).

Kesedihan hati Hana tak dapat saya bayangkan...! Entah bagaimana setiap malam ia menahan air mata yang hendak mengalir, oleh karena tidak bisanya ia memberikan keturunan bagi suaminya Elkana, terlebih ketika harus menerima ejekan dari Penina. Penina selalu... ini berarti tindakan yang sering di lakukan, yakni, menyakiti hati Hana, dan itu terjadi dari tahun ke tahun...!!! Setiap kali Hana hendak ke rumah Tuhan, ia di gusarkan sehingga menangis dan tidak mau makan... Sungguh, bagi seorang wanita ini begitu berat sekali.

Apakah Hana tidak bisa memarahi Penina, dan menuntut suaminya untuk bertindak adil dan tegas...? Bisa saja... dan masih banyak usaha yang dapat Hana lakukan agar Penina tidak seenaknya terhadap dia. Namun, yang di lakukan oleh Hana adalah, ia tahu yang seharusnya ia lakukan. Ia mengerti kehendak Tuhan dalam hidupnya. Ia perlu menyampaikan seluruh kesulitan hatinya tersebut hanya kepada Allah saja...

“Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN, dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian bernazarlah ia, katanya: "TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya." Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu; dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk. Lalu kata Eli kepadanya: "Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu dari pada mabukmu." Tetapi Hana menjawab: "Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN. Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila; sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku berbicara demikian lama." Jawab Eli: "Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya." Sesudah itu berkatalah perempuan itu: "Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu." Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi. Keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi-pagi, lalu sujud menyembah di hadapan TUHAN; kemudian pulanglah mereka ke rumahnya di Rama. Ketika Elkana bersetubuh dengan Hana, isterinya, TUHAN ingat kepadanya. Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: "Aku telah memintanya dari pada TUHAN." Elkana, laki-laki itu, pergi dengan seisi rumahnya mempersembahkan korban sembelihan tahunan dan korban nazarnya kepada TUHAN. Tetapi Hana tidak ikut pergi, sebab katanya kepada suaminya: "Nanti apabila anak itu cerai susu, aku akan mengantarkan dia, maka ia akan menghadap ke hadirat TUHAN dan tinggal di sana seumur hidupnya."  (1Sam 1:9-22).

Hana tahu tindakan apa yang seharusnya ia lakukan. Saya yakin, setiap kali Penina menyakiti hatinya, pasti Hana hanya berdiam dan segera menghampiri hadirat Allah, dan mencurahkan isi hatinya yang penuh dengan sengsara itu. Teruslah ia lakukan itu dari tahun ke tahun... Ini hal yang indah sekali untuk kita renungkan saudara.

Berapa seringkah kita berpikir bahwa apa yang kita lakukan berdasarkan kehendak kita adalah yang terbaik? Sementara kita mengabaikan kehendak Tuhan!!! Kita perlu untuk berlajar melakukan apa yang seharusnya saja... dan yang seharusnya itu tidak bisa tidak, haruslah yang memuliakan TUHAN...!!!

Ini adalah hal yang sederhana, namun sangat berdampak besar dalam kehidupan kita yang rindu dan harus, hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, dan bukan kehendak kita sendiri.

Amin, Puji Tuhan...
Tuhan memberkati!


Posting Komentar untuk "Katakan dan Lakukanlah... Apa yang Seharusnya!"