zmedia

Hak untuk Hidup Bersama Orang-Orang yang Saya Pilih...!




Shalom... Sungguh senang sekali ditulisan kali ini saya memiliki kesempatan untuk dapat menuliskan poin ke 7 dari seri Tidakkah Kami Mempunyai Hak...? Jujur teman-teman, kesibukan saya sekarang ini jauh lebih meningkat dari sebelumnya. Setelah menyelesaikan studi teologi (kesarjanaan), ada tanggung jawab yang Allah berikan sekarang ini dan hal itu menuntut banyak keseriusan dan waktu. Tetapi, tetaplah ada waktu santai yang menyebabkan saya masih bisa menuliskan catatan-catatan sederhana ini, bagi kemuliaan Tuhan. Seri Tidakkah Kami Mempunyai Hak sudah mandet dalam beberapa bulan terakhir ini, karena disebabkan masa persiapan penyelesaian skripsi saya dan masa awal tanggung jawab yang baru. Namun puji Tuhan, tiga poin lagi maka seri ini akan selesai. Untuk catatan kali ini kita akan belajar bersama mengenai satu hal penting dalam hidup ini, yakni, beginilah kisahnya:

            Masa enam bulan di sekolah bahasa hampir berlalu. Setiap hari para murid disibukkan dengan ujian-ujian. Sekalipun belum mengetahui hasil jerih lelah mereka, enam orang manita muda berkumpul di asrama untuk merayakannya dengan minum cokelat panas. Beberapa orang berbaring terlentang di atas tempat tidur, yang seorang duduk di lantai, dan dua orang lain sedang mengawasi cokelat yang dididihkan di atas kompor minyak tanah yang kecil dan berasap.

            “Tahukan kamu, saya tidak bisa tidur sekejap pun tadi malam...!” kata seseorang. “Saya memikirkan tentang bapak Gibb (Direktur Umum dari China Inland Mission pada waktu itu), yang akan datang untuk menugaskan kita ke pos-pos kita, dan saya bertanya-tanya seperti apa nantinya pekerja senior saya, dan saya begitu kuatir sehingga saya terjaga sepanjang malam!”

            “Kamu kan tahu bahwa Tuhan yang akan mengurus semua itu! Kita sudah berdoa mengenai hal itu begitu lama! Kamu tidak seharusnya kuatir tentang hal itu!” yang lain menegur dengan halus.

            “Yah, saya sudah mencobanya, tetapi semakin saya mencoba, semakin saya terjaga”

            “Kamu benar-benar bodoh!” kata yang lain. “Bapak Gibb baru akan tiba besok, dan siapa tahu kapan kamu akan dipanggil untuk giliran wawancara dengna beliau. Mereka berkata ini akan membutuhkan waktu beberapa hari, dan namamu dimulai dengan huruf T.”

            “Mudah saja kamu bicara!” jawab gadis yang pertama dengan ketus. “Kamu mempunyai seorang kaka perempuan di sana, dan kamu anggap dengan sendirinya kamu akan diutus ke tempat kakakmu. Tentu saja kamu senang! Tetapi bagaimana dengan kami yang lain yang harus di pisahkan, dan diutus untuk hidup bersama orang-orang yang sama sekali tidak kita kenal? Bagaimana saya bisa tahu apakah pekerja senior saya akan menyukai saya atau tidak..?”

            “Kamu tidak perlu kuatir,” seseorang gadis lain yang tadinya belum berbicara berkata dengan tenang. “Kamu periang dan lincah, dan semua orang menyukai kamu. Saya pendiam dan canggung, dan tidak pernah tahu apa yang harus saya katakan. Saya yakin pekerja senior saya akan kecewa jika dia menerima saya!”

            “Dengarkan saya sebentar!” terdengar sebuah suara yang lain. “Saya akan memberi tahu kalian bagaimana caranya keluar dari kesulitan ini. Setiap orang menginginkan rekan sekerja yang menyenangkan dan bisa cocok dengannya. Nah, hanya ada satu cara untuk memastikan hal itu, yaitu – pilihlah sendiri! Itulah yang akan saya lakukan!”

            “Jangan begitu bodoh!” tiga atau empat orang serempak berseru. “Memilih sendiri! Seolah-seolah akan diizinkan memilih sendiri pekerja senior kita! Apa maksudmu?”

            “Tetap seperti yang saya katakan. Saya memilih sendiri pekerja senior saya! Tentu saja saya tidak bisa melakukannya sekarang juga, mungkin saya harus hidup bersama orang yang dipilihkan bapak Gibb bagi saya selama satu atau dua tahun, tetapi saya akan mendapatkan orang yang saya pilih bagi diri saya sendiri pada akhirnya!”

            Pada saat itu dua gadis menubruk si pembicara, dan menggulingkan dia dari tempat tidur ke lantai. “Hanya karena kamu sudah bertunangan, jangan kira keadaanmu lebih baik daripada kami!” dan diskusi yang serius itu berakhir dengan gelak tawa.

            Bersama siapa saya akan hidup dan bekerja selama enam bulan mendatang? Selama enam tahun mendatang? Sepanjang sisa hidup saya? siapakah yang akan saya lihat begitu bangun di pagi hari, dan yang terakhir saya lihat pada malam hari, dan sepanjang waktu di antaranya? Dengan siapa saya akan duduk di depan meja makan tiga kali sehari? Siapakah yang akan menjadi rekan sekerja saya, teman saya dalam berkarya, orang yang bersama saya mendatang menghadap Takhta Anugerah, menaikan permohonan untuk jiwa-jiwa, dan untuk pembangunan gereja Allah? Bahkan pasangan suami isteri misionaris pun haruslah siap menerima misionaris-misionaris muda dalam rumah mereka...!

            Ini merupakan pertanyaan yang besar...? Ya, bagi kita para pelayan Tuhan. Mungkin kita kerap kali berkata bahwa kita haruslah bisa berbahagia dalam lingkungan seperti apapun...! Tetapi, satu perkara yang saya secara pribadi renungkan adalah; haruslah juga bisa hidup bahagia bersama setiap misionaris lain, siapapun dia dan bagaimanapun dia. Apakah dengan pernyataan saya itu menandakan banyaknya misionaris yang mungkin menyusahkan kita secara pribadi dalam ladang pelayanan? Saya, Theos... berkata YA. Memang ada. Memang betul selalu ada, dan dipastikan akan ada. Sebab mereka adalah pribadi yang memiliki pertimbangan dan idealisme yang kerapkali berbeda, serta karakter yang mungkin berat untuk kita terima dari sisi kacamata kita memandang. Tetapi, jika demikian halnya, apakah kita harus pergi dari mereka, atau mengusir mereka dari kehidupan kita? Jika hal itu terjadi, maka kita melakukan kesalahan yang teramat besar sekali. Sebab Kristus tak pernah memperlakukan kita demikian, dan kita tidak juga sadar bahwa kerap kali diri kita sendirilah yang menjadikan orang lain berberat hati dan kecewa.

            Apakah aku mempunyai hak untuk hidup bersama dengan orang-orang yang ku pilih...?

Ya... sesuai dengan keinginan hati ku...
Ya... sesuai dengan apa yang ku pikirkan dan yang telah ku rancangkan...
Yah... paling tidak mereka adalah orang-orang yang mau mengerti keadaan ku,
Mungkin mereka adalah harus orang yang bisa ku suruh, dan ku ajak menolong ku,
Ya, mungkin senior yang tidak otoriter, tidak cerewet dan suka memerintah...
Mungkin juga mereka adalah orang yang telah lama ku kenal dan mengenal ku...
           
Kerapkali kita mengitu ingin hanya hidup dengan orang-orang yang sesuai dengan pilihan kita. Kriteria pilihan itu begitu bermacam-macam dan subjektif sekali. Jika seorang hamba Tuhan melakukan hal ini, maka kemungkinan besar ini langkah awal untuk “merusak” suatu pelayanan.

            Beratnya ini bagi seorang misionaris yang lajang, sebab dapat di pastikan akan ke masa mudaannya, yang sering kali berpikir tentang diri nya sendiri. Apakah ini berlaku hanya ketika di ladang misi saja...? Menurut saya tidak. Namun dalam segala aspek kehidupan kita. Bahwa memang kita tidak memiliki hak untuk hidup hanya bersama dengan orang yang kita pilih sesuka hati kita. Bahkan sahabat terdekat kita... bahkan kekasih kita sekalipun, dan bahkan pasangan hidup kita, sebab pekerjaan Tuhan jauh lebih penting ketimbang semua perkara fana tersebut...!!!

            Maka, sekarang saya akan meneruskan apa yang Miss Will katakan:

            Ada Seorang yang “bisa” kita pilih sebagai Sahabat kita. (Betapa mengherankannya bahwa saya diizinkan untuk memilih Dia!). Dan justru karena kita sudah memilih satu-satunya Sahabat yang tidak akan meninggalkan kita, maka kita tidak diperbolehkan memilih orang lain, bahkan memilih suami atau isteri pun tidak, tanpa merujuk kepada Dia. Begitu kita memilih Dia, maka Dialah yang memilihkan segalanya bagi kita.

            Menurut adat Timur kuno, pernikahan diatur oleh orang tua dengan bantuan seorang perantara. Kadang-kadang apabila kehidupan pernikahan itu tidak berjalan dengan baik, salah satu pasangan itu atau kedua-duanya, akan menyalahkan si perantara. Apabila pernikahan dilakukan menurut pola Barat, tidak ada orang yang bisa disalahkan kecuali diri sendiri. Sebelum saya meninggalkan Amerika, saya pikir bahwa pernikahan-pernikahan yang diatur oleh orangtua, melalui perantara, pasti tidak akan bahagia. Tetapi setelah saya berada di ladang misi selama beberapa waktu, saya mendapati bahwa di Cina, perbandingan dari pernikahan-pernikahan yang bahagia di antara orang-orang yang hidup diluar Kristus lebih besar dari pada pernikahan-pernikahan yang bahagia di dalam kelompok yang sama di Amerika, meskipun hampir semua pernikahan di Cina ditetapkan dengan cara tradisi lama! Orang-orang yang memilih pasangan hidupnya sendiri tidak selalu bijaksana dalam memilih. Orang-orang yang lebih tua, yang lebih berpengalaman, bisa membuat pilihan yang lebih bijaksana daripada pilihan orang-orang muda itu sendiri. Mungkin lebih baik mempunyai seorang perantara yang dapat dipercaya daripada berusaha memilih sendiri!

            Jika ini benar dalam hal seorang perantara duniawi, betapa jauh lebih benar lagi dalam hal Dia yang memilih bagi kita. Perantara duniawi mungkin berhasil dalam banyak kasus, tetapi dia pasti bisa keliru. Dia yang memilih bagi kita tidak pernah membuat kekeliruan, sebab Dia Allah yang sempurna dan berdaulat penuh. Jadi, baik dalam masalah menerima seseorang rekan kerja yang tidak anda sukai, maupun melepaskan rekan kerja yang anda ingin pertahankan, ingatlah bahwa Dia yang membuat pilihan bagi kita itu tidak pernah keliru. Amin!
            
Yer

1 komentar untuk "Hak untuk Hidup Bersama Orang-Orang yang Saya Pilih...!"