zmedia

Sikap Rendah Hati...!



Kali ini, catatan saya adalah catatan kotbah saya kurang lebih 3 tahun yang lalu, saya kotbahkan ketika melayani di Gereja Kabar Baik Indonesia jemaat Buluh, salah satu pelayanan kami di pedalaman Kalimantan Barat. Belajar dari apa yang Paulus katakan di pasal pertama suratnya kepada jemaat di Filipi mengenai kerendahan hati. Di bawah ini adalah bulat-bulat tanpa saya tambah dan kurangi, murni apa yang 3 tahun yang lalu telah saya tuliskan dan saya kotbahkan...! Selamat membaca...


Rendah hati…!!! Emmm, sejenak kita pikirkkan kata ini…! Memang adalah suatu sikap yang bertentangan dengan natur dari setiap manusia. Manusia menginginkan apa yang dinamakan dengan “tinggi hati” dalam bentuk apapun disetiap kehidupannya. Karena memang manusia dicipta dengan keterbatasan yang ada sebagai eksistensi ciptaan, dan bukan Pencipta.Sehingga kelemahan-demi kelemahan seperti salah satunya hal “tinggi hati” menjadi sikap yang ada di dalam hidup manusia. Manusia adalah manusia yang bangga dengan diri sendiri, apa yang ada di dalam dirinya, apa yang dimiliki baik internal maupun eksternal, dan dalam bentuk apapun itu. Sehingga jelas sudah, jika kita mengatakan sikap rendah hati adalah sikap yang bertentangan dengan natur manusia. Karena sejak manusia pertama jatuh di dalam dosa, penyebabnya adalah menginginkan diri seperti Diri sang Pencipta, dan terus berlanjut hingga Kristus menebus dosa, dan Dia biarkan daging ini menuntut yang namanya tinggi hati untuk memurnikan setiap iman orang-orang pilihanNya.
            Jikalau dia adalah seorang bisnismen yang cukup mahir dan sudah memiliki jabatan yang tinggi, akan menganggap tidak ada apa-apanya mereka yang baru memulai, jika itu seorang olahragawan, akan meremehkan mereka yang pemula. Jika itu adalah seorang pendeta, karena mempertimbangkan dirinya yang sudah bertahun-tahun melayani Tuhan, ber-sks-sks yang dia tempuh, sudah ia selesaikan dibangku kuliah, sudah berpikir dia adalah senior dalam kependetaan, maka akan dengan sangat gampang menyepelekan, menyampingkan, bahkan mengganggap tidak ada apa-apanya mereka yang baru-baru melayani Tuhan. Miris memang akan hal ini, pendeta sekalipun terjebak akan hal ini…!!! Huhss… sungguh menunjukan bahwa tiada manusia dimuka bumi ini yang tidak terjebak akan hal tersebut.
            Namun, apa yang firman Tuhan katakan tentang hal ini….? Firman Tuhan, dari Kejadian hingga Wahyu, baik implisit dan eksplisit mengajarkan kepada kita untuk bersikap rendah hati. Jikalau engkau mau tinggi justru engkau menjadi yang rendah, jikalau engkau mau menjadi kepala caranya adalah dengan engkau menjadi ekor, dan jika engkau mau menjadi yang utama adalah dengan engkau mengutamakan orang lain dari dirimu sendiri.
            Dengan demikian, dalam hal ini, kita akan coba belajar dari sikap rendah hati seorang rasul Paulus, dan tentunya melalui tulisannya dalam nats yang saya cantumkan di atas, yaitu Filipi 1:1. Diantaranya adalah 

Menyebutkan Dirinya “Hamba Kristus Yesus” (ayat 1)
                                                                       
      * Menunjukan bahwa ia sebagai orang yang ‘Rendah Hati’.

Rasul Paulus adalah rasul yang mendirikan jemaat Filipi.Jikalau saudara membaca di dalam Kisah Para Rasul 16, disana dengan sangat indah diceritakan secara historis kebenarannya, bagaimana Rasul ini dan rekan kerjanya yaitu Silas (kemungkinan bersama dengan Timotius) untuk pertamakalinya menginjakkan kaki di Filipi, lalu berkhotbah ditengah-tengah orang-orang ramai (perempuan-perempuan, KPR 16:13-14), memberitakan Injil, dan mempertobatkan orang-orang disana. Salah satunya adalah Lidia, perempuan yang pada saat itu mendengarkan Paulus berkhotbah dan Roh Kudus membukakan hatinya untuk mendengar dan mengerti dan menerima apa yang dikatakan oleh Rasul ini. Sehingga ia menyerahkan diri untuk dibaptis oleh Paulus, bukan hanya perempuan itu sendiri, tapi juga seluruh keluarganya. Selanjutnya adalah kepala penjara Filipi, jadi dengan berbagai hal yang Paulus dan rekannya alami disana, ia ditangkap oleh masyarakat setempat kemudian dibawa ke penguasa untuk ditangkap, dan di penjarakan. Tapi Allah berperkara diantara mereka, untuk melepaskan Paulus dari penjara, sehingga singkat cerita, kepapa penjara yang menjaga tempat pemenjaraan Paulus menyaksikan bagaimana Allah berperkara diantara mereka, dan menyerahkan diri untuk percaya kepada Tuhan dan dibaptis, lagi-lagi bukan hanya dia sendiri, tetapi bersama-sama dengan segenap keluarganya. Kemudian Paulus dan Silas melanjutkan perjalanan mereka untuk memberitakan Injil. Demikianlah singkat cerita cikal bakal jemaat Allah di kota Filipi, hingga berkembang sampai Rasul Paulus mengirimkan surat Filipi ini kepada mereka, saat ia dipenjarakan di Roma.
Jadi jelas ia adalah pendiri atau pemimpin dari jemaat di Filipi, namun demikian, Paulus dalam suratnya ini, dengan nada yang saya yakin lembut, ia berkata “Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus…”.Ia menyebut dirinya adalah seorang “hamba”. Ada apa dengan hamba? Hamba adalah seorang budak pada masa itu, jika seorang pembantu itu sepenuhnya dimilki oleh seorang tuan, jika budak, dia dengan seluruh keberadaannya/miliknya adalah milik tuannya, bahkan di jualpun ia(tuan) berhak. Tentu hamba selayaknya untuk taat kepada tuannya, tunduk kepada tuannya, sehingga ia bekerja dengan baik sebagai seorang hamba/budak/pembantu. Paulus dengan kerendahkan hati, ia berkata bahwa ia adalah “hanya seorang hamba” hamba Kristus tentunya. Jadi pekerjaannya adalah hamba, dan bukan raja. Bisa saja Paulus berkata, “Dari Aku PENDIRI”, atau “Dari Aku RASUL mu” untuk menunjukkan bahwa ia adalah pendiri mereka. Tapi apa yang dilakukan Paulus adalah sebaliknya, yaitu ia memperkenalkan dirinya sebagai “Hamba”.
Di zaman sekarang, sudah tidak dapat lagi kita hitung betapa banyaknya para pendeta-pendeta yang oleh karena ia gembala disuatu gereja/jemaat atau…. Seorang majelis/ketua majelis, berpikir bahwa ia adalah pemiliki dari gereja/jemaat. Dengan dalil : Aku adalah yang pertama kali menginjili mereka, lalu dengan giat bersekutu, lalu membangun tempat ibadah, hingga berkembang saat ini, sehingga secara demikian yang memiliki adalah saya, karena hasil dari usaha ku, perjuangan ku. Nah… saudara, ini yang saya maksud.Tentu ini adalah suatu sikap yang bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan.
Para pendeta-pendeta yang demikian, wahai engkau yang berpikir demikian, lihatlah firman ini, yang dikatakan di dalam Filipi 1:1 ini. Bahwa kita hanyalah seorang hamba, hamba, sekali lagi, hamba Kristus…! Ingat bahwa hanya satu pemimpin, yaitu Yesus Kristus. 

* Menunjukan bahwa dia bukan hamba manusia/dosa/uang.

Paulus menyadari bahwa ia bukan hamba siapa-siapa didunia ini, tetapi adalah hamba Kristus. Dia bukan melayani karena uang, dia melayani bukan karena paksaan manusia, melainkan karena Allah menggenapi panggilan-Nya di dalam dirinya.

2.      Paulus menyamakan dirinya dengan Timotius (ayat 1)
Nama Timotius di dalam surat Filipi 1:1 ini tidak dapat dipastikan alasannya! Karena begitu banyak penafsiran namun yang mungkin mendekati adalah, bahwa Rasul Paulus berkehendak akan segera mengirim Timotius ke Filipi, untuk melayani/meng-gembalakan jemaat disana(Filipi 2:19), sehingga menurut saya Paulus ingin agar jemaat Filipi mengenal yang namanya Timotius, siapa dia, agar ketika kelak ia datang, bukanlah merupakan nama yang asing untuk didengar jemaat. Namun ada juga yang menafsirkan bahwa karena Timotius merupakan juru tulis Paulus, da nada juga yang berpikir kemungkinan Timotius saat itu ada bersama dengan Paulus dipenjara. Tapi hal ini tidak menjadi masalah, karena yang terpenting adalah makna dari kata yang firman Tuhan katakana kepada kita di dalam Filipi 1:1.
Jikalau kita coba untuk membandingkan antara Rasul Paulus dengan Timotius maka akan terlihat bahwa Paulus sesungguhnya bisa saja tidak langsung menggunakan kata ‘dan’ ketika ia berkata ‘Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus…’ tapi berkata ‘ Dari Rasul Paulus dan Timotius anak ku/hamba ku/pelayan ku’. Namun Paulus tidak berkata demikian.Sesungguhnya dibalik perkataan ini, Paulus menyetarakan dirinya dengan Timotius, kata “dan” menunjukan kesetaraan/sama.
Paulus secara akademis adalah orang yang memiliki kepintaran yang cukup tinggi, ia di bimbing di bawah asuhan Gamaliel guru yang cukup hebat dalam pengajarannya. Jika kita mau setarakan sekarang, Paulus adalah seorang yang sangat layak untuk memperoleh gelar Doktor atau Profesor.Secara tanggung jawab, Paulus adalah seorang Rasul, mengalami perjumpaan secara supraalami dengan Kristus. Secara pemahaman di dalam adat istiadat Yahudi, ia adalah orang yang tidak bercacat ,(silahkan saudara/i membaca di dalam Filipi 3:4-6, karena di sana adalah pengakuan Paulus sendiri tentang hidup adat istiadatnya yang sangat-sangat tidak bercela) penguasaan hukum taurat dan kitab-kitab tidak perlu diragukan lagi. Secara usia, dia sudah cukup berpengalaman, dan jauh di atas Timotius(Ingat bahwa Timotius dipertobatkan oleh Paulus dan ia melayani Tuhan saat usia dia muda, menunjukkan bahwa Paulus jauh di atasnya).
Sementara Timotius adalah orang yang sungguh-sungguh dari awal tidak mengetahui apa-apa namun dipanggil Tuhan melalui pelayanan Paulus dan diajar, dibimbing, dibaptis, disunat bahkan, oleh Rasul nya sendiri.Dan Timotius sudah menjadi anak secara rohani oleh Paulus, maka Paulus adalah bapa dan Timotius adalah anak.
Jika kita melihat hal itu, sesungguhnya, Paulus memiliki dasar untuk meninggikan dirinya jauh lebih dari pada anak didiknya Timotius. Tapi Paulus tidak bersikap demikian, tetapi ia bersikap rendah hati dengan menyamakan dirinya dengan Timotius. Apa kah yang menjadi alas an sesungguhnya dari Paulus yang bersikap demikian…? Jawabannya adalah : Karena Paulus menghubungkan dirinya dan Timotius kepada Yesus Kristus. Melalui perkataan ‘Dari Paulus danTimotius, hamba-hamba Kristus Yesus…’ Paulus memandang kepada Allah, bahwa kita adalah sama-sama hamba.Kamu dan aku hanya seorang hamba, dan tidak lebih.
Saudara….!!! Ketika kita melihat dan membandingkan diri kita kepada orang lain(manusia) maka kerapkali kita justru menilai bahwa diri kita lebih, diri kita jauh lebih hebat dari si-dia, diri kita lebih mampu, kuat, berpotensi, berkemampuan, jauh, jauh, dan jauh, diri kita di atas mereka. Namun coba kita memandang kepada Allah sang Pencipta langit dan bumi, bahkan sang pencipta engkau dan saya, maka kita melihat bahwa kita adalah sama-sama seorang manusia yang diangkat menjadi anak, hamba, atau pelayan. Kita akan melihat bahwa diri saya dan dia adalah sama kecil dihadapan Allah, karena Allah jauh lebih besar…!
Suatu analogy akan saya berikan : Jika ada gunung yang tinggi, dan berdampingan dengan gunung yang lebih rendah, maka gunung yang tinggi ini kemungkinan akan meremehkan gunung disebelahnya yang jauh lebih rendah. Tapi coba memandang kepada bintang atau matahari di atas langit, maka akan terlihat dengan sendirinya bahwa mereka berdua sama rendahnya, bintang itu jauh lebih tinggi dari saya dan kamu.

Demikian kita saudara. Kita adalah seorang hamba yang melayani Allah, kita sama, tidak ada yang tinggi dan rendah. Allah menempatkan kita sama dihadapan-Nya, yaitu hambaNya. Seperti Rasul Paulus, kita belajar dari sikap rendah hati yang ia tunjukkan di dalam surat Filipi 1:1 ini.Sehingga di dalam kehidupan kita ini, senantiasa terpancarkan hal-hal yang berasal dari sikap rendah hati, dan bukan tinggi hati. Kita melaksanakan setiap tanggung jawab kita dengan sikap yang melayani, hamba dan tidak mengangap diri lebih tinggi, penting, utama, kuat/hebat atau apapun itu, melainkan akan bersikap sebagai orang yang telah mengenal Firman yang mengajar untuk bersikap rendah hati.
Amin….! Haleluya.

Posting Komentar untuk "Sikap Rendah Hati...!"