zmedia

Kidung Cinta nan Indah #1.1 : “Kidung Pertama: Mempelai Wanita Merindukan Mempelai Laki-Laki”




“Kidung Pertama: Mempelai Wanita Merindukan Mempelai Laki-Laki”
(Kidung Agung 1:2-2:7)
Suatu Ungkapan Pelampiasan Kerinduan yang Dalam

Kerinduannya diungkapkan...
2  Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur,
3  harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu, oleh sebab itu gadis-gadis cinta kepadamu!
4  Tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi! Sang raja telah membawa aku ke dalam maligai-maligainya. Kami akan bersorak-sorai dan bergembira karena engkau, kami akan memuji cintamu lebih dari pada anggur! Layaklah mereka cinta kepadamu!

            Suatu kerinduan yang amat dalam dari diri seorang wanita terhadap pria yang ia sangat cintai, begitu indah tertulis dalam 3 ayat pertama pasal 1 ini. Salomo selaku yang menuliskan kidung ini, menjadikan dirinya sebagai pihak wanita yang merindukan kekasihnya, ini ia lakukan untuk menyatakan bagaimana diantara mereka berdua (Salomo dan kekasihnya) bersatu padu dalam cinta kasih yang dalam.
            Kalimat pertama yang tidak tanggung-tanggung diungkapkan dari wanitanya adalah: “Kiranya ia mencium aku dengan kecupan!”...!!! Kerinduan akan cinta laki-laki tersebut, telah membuat wanita ini mengharapkan kecupan manis darinya. Mencium adalah tindakan yang begitu intim sekali, dan itu dilakukan... berdasarkan konteks kitab ini adalah dalam hal hubungannya dengan perjalanan menuju pelaminan (pernikahan).
            Apakah wanita ini berlebihan? Atau tidak malukah ia mengatakan perkataan itu dan mengharapkannya??? Sebenarnya, yang hendak di beritahukan oleh wanita ini kepada pria (kita) adalah bukan kecupan pria tersebut, tetapi cinta pria itu yang bagi wanita adalah: lebih nikmat dari pada anggur...!!! Bukan kecupannya... tetapi cintanya... itu yang di nilai dari wanita sebagai hal yang jauh lebih nikmat dari pada anggur.
            Anggur adalah buah yang bernilai pada waktu pemerintahan Salomo, terlebih itu adalah menu minuman yang bergengsi saat itu. Namun, seberharganya anggur, ternyata ketertarikan wanita kepada anggur tidaklah sebanding dengan ketertarikannya terhadap pria. Sehingga bagi dia... cinta pria (Salomo), adalah lebih dari pada nilai anggur. Keharuman pria tersebut tercium oleh wanita... dan namanya adalah bagaikan minyak yang tercurah. Minyak yang berharga, untuk lambang pembasuhan yang berharga (minyak juga menjadi tabungan yang berharga saat itu), adalah senilai dengan nama Salomo sebagai kekasih hatinya. Itu artinya, ketika minyak tercurah, maka tidak dapat kembali lagi ke tempatnya dan akan memberi nilai berharga terhadap siapa yang dibasuh. Maka demikianlah nama Salomo yang akan membalut sang wanita menjadi wanita yang bernilai sama dengan dirinya sendiri, serta namanya itu sudahlah tidak dapat pergi atau kembali lagi dari isi hati sang wanita. Sungguh... ini akan menjadi cinta yang sejati, berasal dari Tuhan... dan tidak akan mudah digoyahkan!!!
            Oleh karena pujaan dari sang wanita itu adalah benar dan tidak fiktif... maka, tidak dapat disangkali; akan banyak wanita suka terhadapnya. Satu sisi... wanita tengah memuji Salomo dengan berkata “oleh sebab itu gadis-gadis cinta kepadamu!” karena memang ia layak terima itu oleh sebab keharuman namanya serta hidupnya... tetapi, disatu sisi: sang wanita tengah mengkhawatirkan akan kehilangan pria (sang calon suaminya). Oleh sebab itu wanita berkata: tariklah aku....!!! Ya... berlekaslah... tarik aku dibelakang mu! Mengapakah dibelakang...??? Oleh sebab sang wanita sadar bahwa ia tidaklah berdaya tanpa pria tersebut, ia lemah dan tidak kuat. Ia wanita yang mengharapkan perlindungan dari seorang pria yang ia kasihi yakni Salomo.
            Tetapi... sang wanita mengharapkan itu dengan cepat-cepat...!!! Sekali lagi, oleh karena kekhawatirannya akan kehilangan sang pria idamannya. Itu belum sampai... namun dia sudah mengatakan: “Sang raja telah membawa aku ke dalam maligai-maligainya”... aduh... belum sampai ke sana, tetapi sang wanita sudah mengatakan telah membawa aku ke dalam keindahan cinta sang raja Salomo. Ini membuktikan betapa rindunya sang wanita terhadap  pria... itu ia ungkapkan dengan sajak kidung yang begitu pribadi...! “Sungguh... ini cinta yang amat dalam sekali...!!! Sulit saya (Theos) untuk menggambarkannya kepada teman-teman...!

Beberapa pesan dapat kita tarik dari 3 syair pertama sang Salomo yang mendramatisirkan kerinduan yang amat dalam dari seorang wanita (wanita Sulam) terhadap dirinya sendiri sebagai mempelai pria!

Pertama¸ Tidak malunya sang Wanita untuk mengungkapkan Kerinduannya kepada sang kekasihnya (Pria). Tentu ini adalah hal yang mungkin lazim bagi banyak orang. Bahwa seseorang mengungkapkan perasaan rindunya kepada kekasihnya. Tetapi ada yang berbeda di sini, bahwa sang wanita mengungkapkan kerinduannya itu bukan sebatas pelampiasan cinta demi kepuasan dirinya sendiri yang haus akan cinta. Jika begini, maka ini adalah cinta yang mementingkan diri sendiri, dan ini yang sering kita lakukan pada umumnya. Tetapi, lihatlah sang wanita dengan kalimat yang ia ungkapkan, bahwa: “Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur”. Kerinduaan itu bukan karena demi kepuasan dirinya yang rindu, tetapi objektif oleh karena cinta yang di berikan oleh sang pria (calon suaminya)...! Ia melihat kepada cinta sang pria, dan bukan kepada cintanya, juga bukan kepada apa yang dimiliki sang pria. Sungguh, ini adalah “kerinduaan yang murni oleh karena pria, dan bukan oleh karena aku”.

Kedua, Mata sang wanita tidak melihat kepada apa yang dimiliki oleh sang pria, tetapi tulus hanya kepada diri sang pria semata. Maka, di sini terhindarlah cinta materialisme! Bahkan ia rela membandingkan sang pria lebih dari pada anggur yang nikmat dan menyamakannya dengan minyak yang tercurah...!!! Sang pria sudah berharga dari apapun! Ini penting bagi banyak kita untuk memiliki cinta yang tulus apa adanya, sebab akan mempengaruhi sikap kita terhadap pasangan kita selama menikah!

Ketiga, Sang wanita tahu posisi yang tepat untuknya, yakni di belakang sang pria! Wow... ini bukan tentang wanita lebih lemah, juga bukan tentang pria lebih kuat! Tetapi tentang pria sebagai imam dan wanita sebagai penolong. Sebagai imam, maka pria adalah orang yang sudah seharusnya didepan, dan isteri adalah seorang yang tidak baik melangkahi suaminya. Oleh sebab itu, sang wanita yang belum menjadi isteri pria (sebab dalam nats ini, mereka masih dalam masa persiapan menikah), namun sudah belajar untuk menempatkan calon suaminya didepan dia. Sungguh, mulia sekali sikap wanita ini! “Ia akan menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, dan memuliakan Tuhan, serta menjunjung tinggi suaminya sebagai imam yang melayani Tuhan”.


Sampai di sini tulisan saya untuk seri “Kidung Cinta nan Indah”, bagian I poin 1. Selanjutnya kita akan bersama sama belajar dari 2 ayat selanjutnya dengan judul: “Suatu Perendahan Hati yang Tulus karena Cinta”!

Yer.
Tuhan Yesus memberkati!

Posting Komentar untuk "Kidung Cinta nan Indah #1.1 : “Kidung Pertama: Mempelai Wanita Merindukan Mempelai Laki-Laki”"