“Kidung Pertama: Mempelai Wanita Merindukan Mempelai Laki-Laki”
(Kidung Agung 1:5-6)
Suatu Perendahan Hati yang Tulus Karena Cinta
Kejujuran Sang Wanita
diungkapkan...
5 Memang hitam aku, tetapi cantik, hai
puteri-puteri Yerusalem, seperti kemah orang Kedar, seperti tirai-tirai orang
Salma.
6 Janganlah
kamu perhatikan bahwa aku hitam, karena terik matahari membakar aku.
Putera-putera ibuku marah kepadaku, aku dijadikan mereka penjaga kebun-kebun
anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga.
Salomo di sini sedang menyatakan
perasaannya, yang sangat mencintai sang wanita apa adanya, dengan seluruh
kekurangannya. Ia lantunkan kidung yang memposisikan dirinya sebagai sang
wanita yang jujur! “Memang hitam aku”
ini adalah pengakuan yang amat tulus dari sang wanita. Dimana ia tidak
memungkiri kenyataan yang ada. Bukan sebagai sikap untuk mempermalukan diri,
tetapi itu terlihat sebagai sikap sadar diri. Sang wanita tahu kepada siapa ia
melabuhkan hatinya, yakni kepada seorang raja yang amat besar: Salomo.
Sementara dirinya, adalah seorang wanita yang berkulit hitam. Ada kemungkinan
pada masa Salomo memimpin Israel, wanita-wanita pujangga adalah mereka yang
berkulit putih di balut kain memanjang di sekujur tubuhnya. Mereka tidak ke kebun,
juga mereka tidak bekerja keras. Tetapi menikmati pekerjaan rumah, dan ditemani
oleh wanita-wanita lainnya. Maka... sebenarnya inilah wanita yang layak bagi
Salomo!!!
Namun... tidaklah demikian halnya.
Sebab, kini kita memasuki satu kata yang menurut saya... ini adalah ungkapan
hati dari Salomo yang ia yakini itu ada dalam diri wanita, yakni: “tetapi cantik,”. Ini adalah pengakuan
yang didahului kejujuran. Kejujuran pertama bahwa ia memang berkulit hitam
(yang dinilai kurang tepat bagi Salomo), tetapi ini adalah kejujuran yang
selanjutnya dari hati yang tidak menyombongkan diri; bahwa “aku cantik”.
Sekalipun hitam, namun cantik. Dari sini... diketahui bahwa kecantikan tidaklah
terletak dikulit atau penampilan fisik dari sang wanita. Dan hal ini dikumandangkan
kepada puteri-puteri Yerusalem!
Wanita-wanita di Yerusalem mungkin
bisa berpikir bahwa wanita itu adalah wanita yang tidak layak bagi Salomo...
sehingga di sini sang wanita bertindak sebagai orang yang percaya diri
dihadapan Salomo, bahwa ia memiliki cinta yang lebih kuat dan tidak mudah
digoyahkan oleh komentar-komentar puteri-puteri Yerusalem! Lalu kemudian,
mengapakah ada muncul dua tokoh yang diangkat wanita: orang Kedar dan orang
Salma?
Orang Kedar adalah sebuah suku Arab
keturunan Ismael (Kej 25:13, Yes 21:16-17), yang hidup ditengah-tengah keadaan
cuaca yang lebih panas dari pada Israel, maka kemungkinan besar lebih cepat
berkulit hitam. Lalu, yang dimaksud oleh wanita adalah seperti kemah orang
Kedar, kemah orang Kedar pada umumnya dibuat dari bulu domba jantan hitam. Maka
ini adalah pengakuan wanita yang menyamakan dirinya hitam seperti orang Kedar,
dan kemah orang Kedar! Sekalipun demikian...
Ia mengaku bahwa ia cantik seperti
tirai-tirai orang Salma! Yang dimaksud dengan kalimat ini adalah tirai-tirai
istana Salomo. Sebab tirai-tirai orang Salma digunakan di istana megah milik
raja Israel ini! Kecantikannya adalah seperti seindah tirai-tirai kulit kambing
yang digunakan di istana Salomo. Ini adalah keindahan yang di miliki Salomo,
namun di dalam diri wanita, keindahan itu ada. Inilah kecantikan yang bagi sang
mempelai pria tiada bandingnya lagi.
Sekarang, kisahnya sedikit berbeda.
Bahwa ternyata hitamnya wanita adalah disebabkan pekerjaan yang ia harus emban.
Pekerjaan menjaga kebun anggur dari putera-putera ibunya (abang-abangnya), yang
dimana melalui pekerjaan tersebut, matahari yang panas telah menghanguskan
kulitnya. Pekerjaan ini tidak mudah bagi wanita yang single seperti dia. Tetapi
sang wanita tekun mengerjakannya, sekalipun ia harus mengorbankan kebun anggur
miliknya sendiri yang tidak ia urus, oleh karena betapa ia menghargai
abang-abangnya. Disini, yang lebih mengagumkan lagi adalah; abang-abangnya
bersikap tidak baik terhadapnya, sebab mereka memaksa ia untuk berkerja bagi
mereka, dan tidak mengizinkannya bekerja untuk kebun anggur miliknya sendiri.
Bahkan sering marah kepadanya...!!! Sungguh... di sini kita melihat betapa
beratnya tanggung jawab yang di emban wanita ini... tetapi justru di situlah
Salomo melihat kecantikan wanita tersebut; yakni ketulusan hatinya!
Kidung ini... adalah suatu ungkapan
hati sang wanita yang merindukan mempelai laki-laki; agar perhitungkanlah
aku...! Ingatlah aku yang cantik ini...!!! Lihatlah... dan jangan lupakan aku!
Sebab aku cantik, sekalipun hitam. Ini bukanlah suatu tuntutan egosime seorang
wanita, tetapi ungkapan tulus dari seorang wanita yang sudah rendah hati!
Dari kidung
ini, maka dapatlah terlihat di sini bahwa:
Pertama: Sang wanita
tidaklah malu mengakui keterbatasannya! Seringkali diantara pasangan kekasih
Kristen, masih malu untuk mengakui atau menerima keterbatasan yang ada. Ingin
menutup-nutupi agar tidak terlihat, dan cukup yang baik saja ia tahu! Ini
adalah sikap yang kurang baik, sebab akan berakhir pada masalah nantinya ketika
memasuki pelaminan pernikahan. Sebagai sepasang kekasih yang sebentar lagi
menikah, maka sudahlah seharusnya saling mengetahui dan memahami kekurangan
masing-masing pasangan. Dan bukan justru menutupi. Ini adalah tindakan yang
tidak jujur terhadap diri sendiri. Sebab yang harus kita pikirkan adalah bahwa
sepasang kekasih adalah sepasang yang saling menolong satu dengan yang lain,
saling melengkapi satu dengan yang lain. Maka di sinilah terlihat cinta kasih
yang murni! Wanita tidaklah sungkan untuk berkata bahwa memang hitam aku... ini
kemungkinan besar bisa membuat sang pria jadi berpikir ulang untuk meminangnya!
Tetapi, oleh karena sang wanita percaya kepadanya, maka tiada kekuatiran
darinya untuk mengungkapkan keterbatasan yang memang jelas terlihat oleh mata.
Jadi, hendaklah saling mengakui kelemahan yang ada, karena melalui itu akan
terlihat mana yang baik yang ada dalam diri masing-masing pasangan, yang
akhirnya dapat saling menutupi!
Kedua: Kecantikan
wanita terletak di sikapnya! Ini adalah pemahaman yang harus dibangun diantara
para wanita. Sebab, kecantikan bukanlah terletak di raut wajahnya. Sebab jika
demikian, hitamnya wanita itu sudah cukup membuat Salomo berpaling hati dan
memilih yang lain. Apalagi jika Salomo mempertimbangkan posisinya sebagai raja muda.
Wah... wah... ini merusak keturunan! Hee..... Tidak! Sungguh tidak. Sekalipun
hitamnya wanita menunjukkan bahwa ia bekerja keras, ia tidak merawat tubuhnya,
ia orang miskin... dan ia bukanlah tipe yang cocok sebagai pasangan bangsawan
seperti Salomo, namun Salomo tetap mencintainya karena kecantikkannya justru
terlihat di sikapnya yang sangat baik hati. Ini penting untuk ditanamkan di
setiap hati kita, karena cinta yang sejati adalah cinta yang lahir oleh karena
melihat jiwa luhur dari seorang yang kita cintai. Bukan dari raut wajahnya yang
cantik, atau tampan!
Ketiga: Tidak malu
mengakui pekerjaannya yang di nilai terlalu rendah! Terkadang, kita sering
merasa malu jika pekerjaan kita yang dinilai orang rendah, diketahui oleh
pasangan kita. Bukankah pekerjaan wanita itu adalah pekerjaan yang rendah
sekali! Lagipula dia wanita, yang kenapa mau diperlakukan dengan kejam oleh
abang-abangnya!!! Aduh... malang nian nasib wanita ini. Tetapi, sang wanita
dengan jujur mengakui pekerjaannya, karena memang demikianlah yang Tuhan
anugerahkan dalam hidupnya. Ia tidak malu mengakunya, yang melalui itu; ia
justru dicintai oleh Salomo sebagai wanita yang cantik.
Sekian tulisan saya untuk pasal 1:5-6. Ditulisan
saya selanjutnya kita akan belajar bersama dari ayat 7-8 tentang: Pertemuan
Rindu Sang Mempelai Wanita dan Pria.
Yer, 14 Nov
2016
Tuhan Yesus
memberkati!

Posting Komentar untuk "Kidung Cinta nan Indah #1.2 : “Kidung Pertama: Mempelai Wanita Merindukan Mempelai Laki-Laki”"