zmedia

Kidung Cinta nan Indah #1.2 : “Kidung Pertama: Mempelai Wanita Merindukan Mempelai Laki-Laki”




“Kidung Pertama: Mempelai Wanita Merindukan Mempelai Laki-Laki”
(Kidung Agung 1:5-6)

Suatu Perendahan Hati yang Tulus Karena Cinta
Kejujuran Sang Wanita diungkapkan...

5  Memang hitam aku, tetapi cantik, hai puteri-puteri Yerusalem, seperti kemah orang Kedar, seperti tirai-tirai orang Salma.
6  Janganlah kamu perhatikan bahwa aku hitam, karena terik matahari membakar aku. Putera-putera ibuku marah kepadaku, aku dijadikan mereka penjaga kebun-kebun anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga.

            Salomo di sini sedang menyatakan perasaannya, yang sangat mencintai sang wanita apa adanya, dengan seluruh kekurangannya. Ia lantunkan kidung yang memposisikan dirinya sebagai sang wanita yang jujur! “Memang hitam aku” ini adalah pengakuan yang amat tulus dari sang wanita. Dimana ia tidak memungkiri kenyataan yang ada. Bukan sebagai sikap untuk mempermalukan diri, tetapi itu terlihat sebagai sikap sadar diri. Sang wanita tahu kepada siapa ia melabuhkan hatinya, yakni kepada seorang raja yang amat besar: Salomo. Sementara dirinya, adalah seorang wanita yang berkulit hitam. Ada kemungkinan pada masa Salomo memimpin Israel, wanita-wanita pujangga adalah mereka yang berkulit putih di balut kain memanjang di sekujur tubuhnya. Mereka tidak ke kebun, juga mereka tidak bekerja keras. Tetapi menikmati pekerjaan rumah, dan ditemani oleh wanita-wanita lainnya. Maka... sebenarnya inilah wanita yang layak bagi Salomo!!!
            Namun... tidaklah demikian halnya. Sebab, kini kita memasuki satu kata yang menurut saya... ini adalah ungkapan hati dari Salomo yang ia yakini itu ada dalam diri wanita, yakni: “tetapi cantik,”. Ini adalah pengakuan yang didahului kejujuran. Kejujuran pertama bahwa ia memang berkulit hitam (yang dinilai kurang tepat bagi Salomo), tetapi ini adalah kejujuran yang selanjutnya dari hati yang tidak menyombongkan diri; bahwa “aku cantik”. Sekalipun hitam, namun cantik. Dari sini... diketahui bahwa kecantikan tidaklah terletak dikulit atau penampilan fisik dari sang wanita. Dan hal ini dikumandangkan kepada puteri-puteri Yerusalem!

            Wanita-wanita di Yerusalem mungkin bisa berpikir bahwa wanita itu adalah wanita yang tidak layak bagi Salomo... sehingga di sini sang wanita bertindak sebagai orang yang percaya diri dihadapan Salomo, bahwa ia memiliki cinta yang lebih kuat dan tidak mudah digoyahkan oleh komentar-komentar puteri-puteri Yerusalem! Lalu kemudian, mengapakah ada muncul dua tokoh yang diangkat wanita: orang Kedar dan orang Salma?
            Orang Kedar adalah sebuah suku Arab keturunan Ismael (Kej 25:13, Yes 21:16-17), yang hidup ditengah-tengah keadaan cuaca yang lebih panas dari pada Israel, maka kemungkinan besar lebih cepat berkulit hitam. Lalu, yang dimaksud oleh wanita adalah seperti kemah orang Kedar, kemah orang Kedar pada umumnya dibuat dari bulu domba jantan hitam. Maka ini adalah pengakuan wanita yang menyamakan dirinya hitam seperti orang Kedar, dan kemah orang Kedar! Sekalipun demikian...

            Ia mengaku bahwa ia cantik seperti tirai-tirai orang Salma! Yang dimaksud dengan kalimat ini adalah tirai-tirai istana Salomo. Sebab tirai-tirai orang Salma digunakan di istana megah milik raja Israel ini! Kecantikannya adalah seperti seindah tirai-tirai kulit kambing yang digunakan di istana Salomo. Ini adalah keindahan yang di miliki Salomo, namun di dalam diri wanita, keindahan itu ada. Inilah kecantikan yang bagi sang mempelai pria tiada bandingnya lagi.
            Sekarang, kisahnya sedikit berbeda. Bahwa ternyata hitamnya wanita adalah disebabkan pekerjaan yang ia harus emban. Pekerjaan menjaga kebun anggur dari putera-putera ibunya (abang-abangnya), yang dimana melalui pekerjaan tersebut, matahari yang panas telah menghanguskan kulitnya. Pekerjaan ini tidak mudah bagi wanita yang single seperti dia. Tetapi sang wanita tekun mengerjakannya, sekalipun ia harus mengorbankan kebun anggur miliknya sendiri yang tidak ia urus, oleh karena betapa ia menghargai abang-abangnya. Disini, yang lebih mengagumkan lagi adalah; abang-abangnya bersikap tidak baik terhadapnya, sebab mereka memaksa ia untuk berkerja bagi mereka, dan tidak mengizinkannya bekerja untuk kebun anggur miliknya sendiri. Bahkan sering marah kepadanya...!!! Sungguh... di sini kita melihat betapa beratnya tanggung jawab yang di emban wanita ini... tetapi justru di situlah Salomo melihat kecantikan wanita tersebut; yakni ketulusan hatinya!

            Kidung ini... adalah suatu ungkapan hati sang wanita yang merindukan mempelai laki-laki; agar perhitungkanlah aku...! Ingatlah aku yang cantik ini...!!! Lihatlah... dan jangan lupakan aku! Sebab aku cantik, sekalipun hitam. Ini bukanlah suatu tuntutan egosime seorang wanita, tetapi ungkapan tulus dari seorang wanita yang sudah rendah hati!

Dari kidung ini, maka dapatlah terlihat di sini bahwa:

Pertama: Sang wanita tidaklah malu mengakui keterbatasannya! Seringkali diantara pasangan kekasih Kristen, masih malu untuk mengakui atau menerima keterbatasan yang ada. Ingin menutup-nutupi agar tidak terlihat, dan cukup yang baik saja ia tahu! Ini adalah sikap yang kurang baik, sebab akan berakhir pada masalah nantinya ketika memasuki pelaminan pernikahan. Sebagai sepasang kekasih yang sebentar lagi menikah, maka sudahlah seharusnya saling mengetahui dan memahami kekurangan masing-masing pasangan. Dan bukan justru menutupi. Ini adalah tindakan yang tidak jujur terhadap diri sendiri. Sebab yang harus kita pikirkan adalah bahwa sepasang kekasih adalah sepasang yang saling menolong satu dengan yang lain, saling melengkapi satu dengan yang lain. Maka di sinilah terlihat cinta kasih yang murni! Wanita tidaklah sungkan untuk berkata bahwa memang hitam aku... ini kemungkinan besar bisa membuat sang pria jadi berpikir ulang untuk meminangnya! Tetapi, oleh karena sang wanita percaya kepadanya, maka tiada kekuatiran darinya untuk mengungkapkan keterbatasan yang memang jelas terlihat oleh mata. Jadi, hendaklah saling mengakui kelemahan yang ada, karena melalui itu akan terlihat mana yang baik yang ada dalam diri masing-masing pasangan, yang akhirnya dapat saling menutupi!

Kedua: Kecantikan wanita terletak di sikapnya! Ini adalah pemahaman yang harus dibangun diantara para wanita. Sebab, kecantikan bukanlah terletak di raut wajahnya. Sebab jika demikian, hitamnya wanita itu sudah cukup membuat Salomo berpaling hati dan memilih yang lain. Apalagi jika Salomo mempertimbangkan posisinya sebagai raja muda. Wah... wah... ini merusak keturunan! Hee..... Tidak! Sungguh tidak. Sekalipun hitamnya wanita menunjukkan bahwa ia bekerja keras, ia tidak merawat tubuhnya, ia orang miskin... dan ia bukanlah tipe yang cocok sebagai pasangan bangsawan seperti Salomo, namun Salomo tetap mencintainya karena kecantikkannya justru terlihat di sikapnya yang sangat baik hati. Ini penting untuk ditanamkan di setiap hati kita, karena cinta yang sejati adalah cinta yang lahir oleh karena melihat jiwa luhur dari seorang yang kita cintai. Bukan dari raut wajahnya yang cantik, atau tampan!

Ketiga: Tidak malu mengakui pekerjaannya yang di nilai terlalu rendah! Terkadang, kita sering merasa malu jika pekerjaan kita yang dinilai orang rendah, diketahui oleh pasangan kita. Bukankah pekerjaan wanita itu adalah pekerjaan yang rendah sekali! Lagipula dia wanita, yang kenapa mau diperlakukan dengan kejam oleh abang-abangnya!!! Aduh... malang nian nasib wanita ini. Tetapi, sang wanita dengan jujur mengakui pekerjaannya, karena memang demikianlah yang Tuhan anugerahkan dalam hidupnya. Ia tidak malu mengakunya, yang melalui itu; ia justru dicintai oleh Salomo sebagai wanita yang cantik.

Sekian tulisan saya untuk pasal 1:5-6. Ditulisan saya selanjutnya kita akan belajar bersama dari ayat 7-8 tentang: Pertemuan Rindu Sang Mempelai Wanita dan Pria.

Yer, 14 Nov 2016
Tuhan Yesus memberkati!

Posting Komentar untuk "Kidung Cinta nan Indah #1.2 : “Kidung Pertama: Mempelai Wanita Merindukan Mempelai Laki-Laki”"