“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga,
tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan
permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala
akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus”. (Efesus 4:6-7)
Masih ingat jelas oleh saya,
sekitar awal tahun 2016 yang lalu;
diladang misi, ketika masih di sana mengembang tanggung jawab melayani jemaat
Tuhan. Di pedalaman Kalimantan Barat, di utus dengan hati yang telah
dipersembahkan kepada Allah; untuk hidup bagi jemaat. Namun entah mengapa pada
suatu waktu kegelisahan hadir dalam hidup ku bagaikan batu yang berat menimpa
pundak dari seorang anak manusia yang tak berdaya ini! Begitu berat... hingga
aku menjadi sangat kuatir tentang kehidupan ku saat itu: tentang apa yang akan
ku makan, dan tentang apa yang akan ku pakai!
Hidup jauh dari keramaian
telah menjadi teman keseharian ku di sana, maka tempat curahan hati tentu tiada
yang lain selain duduk diam dalam doa dan penyembahan serta pembacaan kitab
suci. Maka tersentaklah hati ku oleh apa yang Tuhan katakan dalam Efesus 4:6-7
ini, hingga membuat ku merasa hancur hati, membuat aku merasa begitu pilu tak
tertahan kan... maka aku datang kepada Tuhan didalam doa ku, memohon sekali
lagi agar Tuhan meneguhkan hati ku dan menyingkirkan segala kekuatiran yang
menyesakkan hati dan jiwa ku...!
Puji Tuhan..., bagaikan
bendungan yang ambruk dilanda air kencang, demikianlah hati ku lega oleh karena
sentuhan manis jari Tuhan yang meluputkan aku dari gelombang kekuatiran! Oleh
karena begitu bersukacitanya daku, maka ku ambil satu lembar kertas dan ku
tuliskan Efesus 4:6-7 dengan besar, lalu ku tempatkan persis didepan tempat
tidur ku..., agar setiap waktu aku dapat melihat dan membacanya, lalu
diteguhkan senantiasa!
Jika kita melihat apa yang
terjadi atas hidup saya pada waktu itu, maka dapat dipastikan bahwa teman-teman
semua pasti pernah, mungkin sekarang, dan pasti akan mengalami hal kekuatiran.
Ada berbagaimacam alasan yang dapat kita kemukakan di sini, sebagai contoh yang
umum adalah perihal: kebutuhan sehari-hari (makanan dan minuman) dan masa
depan! Kedua hal ini adalah perkara yang selalu mendominasi ketika berbicara
tentang hal apa yang kerap di kuatirkan oleh manusia. Jika perihal
permasalahan, maka itu adalah hal yang kompleks (bermacam ragam) dan insidental
(dadakan, tiba-tiba). Kita mengalami hal yang sama sebagai manusia yang lemah,
namun ada pesan yang berbeda yang Tuhan mau untuk kita duduk sejenak dan
merenungkan kebenaran dari pesan tersebut. Seperti yang telah saya katakan di
atas, bahwa ketika kekuatiran tersebut sirna, maka sukacita dari Allah serta
merta memenuhi hati dan jiwa ku! Bagaimanakah hal tersebut dapat terjadi, mari
kita melihat sedikit cuplikan adegan di bawah ini...
“Oh Bapa..., sungguh,
tak akan mampu aku hingga saat ini. Di sini... begini... Tuhan... hanya
kekuatan Mu yang memampukan aku. Hidup bersama umat Mu, sungguh ku nikmati
hari-hari ini oleh anugerah Tuhan saja” (17 Jan 2016)
“Sungguh... begitu
berat bagi ku: Harus memikirkan pelayanan dengan berbagai kegiatan lainnya,
juga harus menyelesaikan tanggung jawab akademik ku ini. Sungguh berat keadaan
ini..., Ya Tuhan, aku mohon hikmat dan kekuatan dari pada Mu, tuk ku hadapi ini
semua, Amin! (19 Jan 2016)
“Malam ini... seketika
Allah menghibur dan menguatkan hati ini... Hati yang mulai lemah oleh situasi.
Hati yang lekas berubah dan ingin pergi ke tempat yang baik baginya.
Sungguh.... kekuatan dari Tuhan saja yang akan buat ku bertahan di sini... di
ladang-Nya yang berlumpur. Gejolak seperti ini sering ku alami tiba-tiba di
mana bisikan hati bicara agar aku memilih yang enak untuk ku.... ya, yang
sesuai dengan keinginan ku. Namun... jika ku tahu ini tak sesuai dengan
keinginan hati, aku bersyukur......... karena bukan kehendak ku yang jadi, tapi
kehendak Dia, Bapa ku!” Amin. (09 Februari 2016)
Keadaan yang membuat daku
gelisah, tidaklah menjadi keharusan untuk demikian. Namun saya telah memilih
hal yang salah, saya melangkahkan diri untuk menuju pada pintu kekuatiran.
Namun puji Tuhan..., seketika Allah berbicara dalam firman-Nya yang indah
seperti di bawah ini:
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga”. Mengapa kalimat ini di awali dengan kata “janganlah”! Karena
sebelum Paulus masuk kepada kalimat ini, ia telah menyerukan suatu panggilan
yang mulia dari sorga, yakni untuk jemaat di Filipi (kita semua) bersukacita! “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!
Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (ay 4). Ini merupakan nasihat
praktis di ujung sebuah surat yang akan segera berakhir. Paulus meminta agar
kita semua bersukacita, bukan karena tanpa alasan tetapi oleh karena ada
jaminan kekal dari pada Tuhan; bahwa Ia akan segera datang dan hidup kekal telah
kita miliki (lihat ayat 3: akan adanya kitab kehidupan). Sehingga dengan itu ia
berkata agar janganlah hendaknya kamu kuatir! Ya..., kita adalah orang yang
terlalu sering untuk kuatir sehingga hal tersebutlah yang menyebabkan kita
sulit untuk bersukacita! Hal apakah yang dapat menghancurkan sukacita kita?
Maka dari segala yang dapat sebutkan; hal tersebut adalah kekuatiran!
Kekuatiran memiliki potensi
yang besar untuk dapat merusak bahkan menghilangkan sama sekali sukacita yang
kita miliki. Coba saja teman-teman renungkan sejenak; bagaimana teman-teman
dulu mungkin pernah begitu kuatir tentang kebutuhan! Atau tentang masa depan!
Pekerjaan, dsb! Apakah teman-teman dapat duduk dengan tenang dan tidur seperti
biasanya? Kemungkinan besar teman-teman justru lebih banyak diam dan tidak
berbuat apa-apa, atau berbuat sesuatu namun dengan begitu ceroboh lalu
berdampak buruk, oleh sebab kekuatiran yang melanda. Tuhan tahu keadaan yang
demikian adalah keadaan yang dapat mengusik sukacita kita, oleh sebab itu Tuhan
katakan untuk janganlah hendaknya kamu kuatir!
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga”. Garis bawahi kata “apapun
juga”, ini menunjukkan bahwa tiada satu hal pun yang layak untuk kita
kuatirkan. Jika kita datang dan berlutut dikaki Tuhan, maka dihadapan-Nya
adalah hal yang memalukan jika ada satu perkara yang bagi Tuhan sulit untuk Ia
atasi; yang membuat kita pantas untuk kuatir. Itulah sebabnya Paulus berkata
agar jangan kuatirkan hal apapun! Ini dikatakan bukan karena seolah-olah Paulus
tahu jalan keluar dari setiap persoalan yang ia alami selama perjalanannya
memberitakan Injil! Ini ia katakan bukan karena ia kuat dan sanggup untuk
menghancurkan kekuatiran yang ada dalam dirinya! Mari kita melihat sedikit
cuplikan kehidupan tentang apa yang dialami oleh Paulus:
“Apakah mereka pelayan Kristus? — aku berkata seperti
orang gila — aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih
sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima
kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga
kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam
kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku
aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak
orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota,
bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak
saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku
tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan
tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku
sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat” ( 2Kor 11:23-28)
Jika melihat badai kehidupan yang menimpa sang rasul besar ini,
maka begitu banyak alasan yang membuat ia menjadi kuatir. Tetapi..., apa yang
ia katakan dalam Efesus 4:6-7 bagaikan suntikkan manna dari surga yang
menguatkan hati serta jiwanya. Maka dalam segala hal tersebut ia tidak pernah
mundur dan menjadi lemah, tetapi tetap optimis dengan memandang kepada Tuhan
didalam:
“Menyatakan dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa
dan permohonan dengan ucapan syukur”. Segala
kekuatiran yang kita alami adalah segala yang kita inginkan tidak tercapai,
atau kenyataan yang terjadi tidaklah sesuai dengan keinginan yang terbesit di
dalam hati kita. Keinginan bisa membuat kita menjadi orang yang cemerlang namun
keinginan juga bisa membuat kita berada didalam lembah yang kelam bahkan menyebabkan
kita tersesat. Ketika keinginan dalam (pekerjaan, keluarga, berelasi dengan
sesama, bahkan pelayanan) diri kita tidak dapat kita kendalikan maka inilah
yang menjadi pintu lebar untuk kita memasuki panggung kekautiran yang merusak
kita. Tetapi, ketika kekuatiran mencekam maka hal pertama yang seharusnya kita
lakukan adalah menyatakan keinginan kita (baik keinginan yang tidak sesuai yang
menyebabkan kita kuatir, atau keinginan kita untuk luput dari kekuatiran) di
dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur!
“dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”. Hidup orang Kristen sudah seharusnya di warnai dengan doa,
permohonan dan ucapan syukur! Doa adalah kesempatan untuk mendengarkan suara
Tuhan! Doa adalah hubungan timbal bali yang di mana didalamnya ada permohonan
dan ucapan syukur. Permohonan adalah kesempatan dimana kita dapat melampiaskan
segala kekuatiran kita. Permohonan adalah moment yang indah untuk kita
berkata-kata kepada Tuhan tentang segala keinginan hati kita! Lalu bersyukur
adalah ungkapan sebuah hati yang telah merasakan jamahan dari Tuhan,
pertolongan dari Tuhan, serta jaminan kekal yang telah Ia anugerahkan!
“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan
memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus”. Ini adalah bagian yang indah sekali. Ketika dikatakan “Damai
sejahtera Allah”, maka damai yang di sini adalah damai yang berbeda dari damai
yang dapat dunia berikan kepada kita. Pertanyaannya adalah: sampai titik
dimanakah kita dapat merasakan damai sejahtera Allah? Damai sejahtera Allah
adalah damai yang tidak dapat dipengaruhi oleh kegelisahan dunia. Damai
sejahtera Allah adalah damai yang tetap konsisten meski menghadapi badai apapun
dalam hidup ini. Lalu bagaimanakah jika ternyata aku sekarang kerap kuatir dan
terus dilanda olehnya? Justru karena itulah ayat ini mengajak teman-teman untuk
merasakan damai tersebut, dengan kita senantiasa datang kepada Tuhan didalam
doa dan permohonan serta ucapan syukur!
“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan
memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus”. Damainya Tuhan itulah yang akan memelihara hati dan pikiran kita!
Sebab bagian yang kuatir adalah hati dan pikiran! Itulah sebabnya jika kita
sedang di rundung kekuatiran rasanya tidak selera berbuat apapun, walau hanya
untuk satu jam saja..., Heee.......! Ayo ngaku... jangan bohong! Haaa....!
Karena hati dan pikiran lah yang menjadi sentral untuk kita melakukan apa saja
dalam kehidupan ini. Oleh sebab itu maukah saudara/i memiliki hati dan pikiran
yang selalu tenang? Milikilah cara hidup yang seperti Paulus katakan;
menyerahkan segala keinginan kita kepada Tuhan di dalam doa! Maka damai itu
akan senantiasa menjaga ketenangan hati dan pikiran saudara/i!
“memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus”. Yang terakhir satu hal lagi tentang damai tersebut: bahwa damai
yang dari Tuhan itu akan memelihara hati dan pikiran dalam Kristus Yesus.
Inilah yang menjadikan damainya Allah berbeda dengan damai yang dapat dunia
tawarkan kepada kita. Bahwa damainya Allah adalah damai yang memelihara kita
dalam Kristus Yesus. Ini berarti kita akan senantiasa di pelihara didalam
Kristus Yesus. Damai itu tidak akan membuat kita merasa diri lebih, kuat dan
berbangga diri... tetapi akan senantiasa merendahkan diri, taat kepada Tuhan dan
tetap dalam Kristus Yesus. Kita tidak akan terhilang dari kasih karunia Tuhan,
kita tidak akan pergi dari jaminan kekal yang Tuhan sudah anugerahkan dan kita
akan tetap dalam tangan Kristus sampai kita berjumpa muka dengan muka dengan
Kristus Yesus di Yerusalem yang baru. Amin...!
Tuhan Yesus memberkati!
Kabar Baik
Yer

Posting Komentar untuk "Kuatir...! Jika demikian, Apakah bisa aku Bersukacita?"