zmedia

Paulus Menyampaikan Salam (Filipi 1:1-2)




(Filipi 1:1-2)

1  Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus, kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para penilik jemaat dan diaken.
2  Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

            Paulus mengawali suratnya dengan sebuah salam yang lazim dan resmi digunakan pada masa tersebut dalam kalangan Yunani. Seperti dalam kebanyakan suratnya, setelah salam ia mengucap syukur dan doa bagi mereka yang menjadi tujuan suratnya ini. Mari kita mempelajari dua ayat pertama dalam pasal 1 ini, dimana ada beberapa poin pengajaran yang penting untuk kita renungkan bersama.

“Dari Paulus dan Timotius”. Surat ini dituliskan oleh Paulus ketika ia berada di dalam penjara (1:17), namun ia ditemani oleh seorang pemuda yang bernama Timotius. Timotius adalah anak rohani Paulus yang menemaninya selama dalam penjara (2:19). Tentu bukanlah niat hati dari Timotius untuk mengirimkan surat ini, tetapi Pauluslah yang begitu ingin menuliskan surat kepada jemaatnya tersebut. Namun, Paulus menyertakan nama Timotius sebagai subjek yang menulis. Sehingga di sini kita dapati:
  1. Betapa sopannya sang Rasul Paulus. Dia tidak mengabaikan Timotius di sisinya selama ini. Dia tidak merasa bahwa nama dia sajalah yang layak untuk didengar oleh jemaat Filipi sebagai orang yang memberi perhatian kepada mereka. Namun Paulus menjaga posisi Timotius dihadapan jemaat Filipi sebagai hamba Tuhan yang muda, oleh sebab itu perlu diberikan apresiasi sebagai langkah untuk menghargai rekan kerja (sekalipun Timotius adalah anaknya yang perlu belajar banyak dari bapanya Paulus).
  2. Tidak merasa lebih tinggi dari pada Timotius. Jika kita melihat kepada dunia ini, maka merupakan hal yang memalukan jika kita yang tinggi mau menyamakan diri dengan mereka yang berada di bawah. Paulus adalah seorang rasul ulung. Dia bukanlah orang yang murahan lagi tak berbuat banyak, namun sang rasul agung yang melalui pekerjaan pemberitaan Injilnya maka banyak orang bertobat dan menjadi murid Tuhan. Salah satu buah pemberitaannya adalah Timotius sendiri. Tetapi di sini dia menggunakan kata “dan” untuk menunjukkan bahwa kami bersama-sama atau lebih tepatnya adalah kami sama. Saya dan Timotius adalah sama! Namun sama yang bagaimanakah? Bukankah Paulus adalah rasul sementara Timotius tidak tergolong dalam keduabelas rasul?

“hamba-hamba Kristus Yesus”. Persamaan yang di maksudkan oleh Paulus adalah bahwa mereka sama-sama hamba Kristus Yesus! Bahkan lebih lagi, bukan hanya mereka berdua saja, itulah sebabnya digunakan kata “hamba-hamba” yang menunjuk kepada sebutan jamak (lebih dari 1), ini artinya kami berdua diantara para hamba-hamba Kristus lainnya. Apakah maksud dari hamba-hamba Kristus Yesus?
  1. Demikianlah Paulus memandang rekan kerjanya. Betapa banyak para pemimpin Kristen salah memposisikan para bawahannya. Ini bukan karena mereka tidak membaca kitab suci, tetapi oleh sebab begitu mendambakan kesuperioritasan dan otoritatif. Berbeda sekali dengan apa yang ada di sini; dimana Paulus memandang bahwa Timotius itu adalah seorang hamba Kristus juga, yang sama dengan dirinya serta rasul lainnya.
  2. Timotius bukanlah hamba daripada Paulus. Ketika menyadari bahwa bawahan/murid kita adalah seorang hamba Kristus, maka hal otomatis yang mengikutinya adalah dia bukan hamba kita! Dia bukan budak kita, dan dia bukan pesuruh kita. Namun dia adalah pesuruhnya Tuhan. Ini adalah konsep yang indah tentang hubungan antara tuan dan hamba. Antara pemimpin dengan murid atau bawahan. Sehingga di sini Paulus akan berhati-hati untuk membawa Timotius bersamanya dalam pekerjaan pemberitaan Injil, sebab jika kehendaknya yang ia utamakan dan bukan kehendak Tuhan maka Timotius akan menjadi korban dari kesalahan Paulus. Tetapi puji Tuhan..., bahwa ternyata Paulus adalah seorang pemimpin yang berhikmat dan tahu dimana Timotius harus ditugaskan sebagai seorang hamba Kristus.
  3. Paulus dan Timotius bukanlah hamba dunia, manusia atau uang. Seorang bawahan akan mengandalkan atasannya. Seorang hamba akan mendambakan dan mengharapkan pertolongan dari tuannya. Bayangkan jika seandainya ternyata mereka berdua sebagai orang yang mengaku hamba-hamba Kristus tetapi mengandalkan dunia, manusia dan uang! Maka apa jadinya mereka??? Bayangkan jika saudara menaruh pengharapan dan pertolongan kepada dunia ini, apakah saudara yakin akan bahagia dan memperoleh janji Allah untuk hidup yang kekal? Tentu tidak! Itulah sebabnya Paulus dan Timotius menjadi hamba Kristus, karena mereka tahu bahwa hidup mereka seharusnyalah di persembahkan kepada Allah dan mengabdi kepada-Nya saja; dan bukan kepada dunia, manusia dan uang! Bagaimana dengan saudara? Apakah saudara adalah hamba-hamba Kristus Yesus? Atau hamba dari dunia ini, manusia atau uang yang anda miliki! Renungkanlah hal ini sungguh-sungguh, sebab 1 Yohanes 2:15-17 berkata:
“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya”.

“kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi”. Setelah Paulus memberitahukan siapa yang mengirimkan surat ini maka kini ia menyebut kepada siapa surat ini ditujukan dengan sebutan yang sangat menawan.  Kenapa sangat menawan? Mari kita perhatikan:
  1. Jemaat Filipi adalah jemaat yang hidup dalam kota yang megah, namun di katakan kudus. Kota Filipi menjadi kota propinsi Romawi yang penting pada masa itu, dan menjadi kota dagang yang besar juga. Dalam wilayah Makedonia dan berada di ujung timur dari jalur utama yang dinamakan jalur Egnasia, jalur ini biasanya dipakai oleh para pedagang dan pasukan Romawi untuk membawa barang dan perlengkapan dari wilayah timur kekasiaran ke kota Roma di sebelah barat. Ditengah-tengah keadaan dunia yang menawan hati dan mata, jemaat di Filipi tetap menyadari bahwa mereka adalah orang-orang kudus yang terpisah dari dunia ini. Artinya adalah bukan terpisah secara badaniah, namun jiwa/roh mereka sudah tidak berkumpul bersama dunia yang berdosa ini (Yoh 15:19, Gal 1:4). Mereka tetap bisa menjaga hidup mereka yang sudah tidak lagi hidup di dalam dosa oleh karya Roh Kudus dalam diri setiap mereka masing-masing.
  2. Paulus tidak memandang seolah-olah ada diantara mereka yang tidak kudus! Ini bertentangan dengan kita sebagai manusia yang hina, bahwa kita kerapkali memfokuskan diri kepada apa yang kurang, jelek dan dosa yang dilakukan oleh orang-orang percaya. Sementara kita tidak ingat bahwa kita juga adalah seorang manusia yang lemah, itu terbukti dengan kita melihat kelemahan yang ada diantara jemaat. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Paulus! Di sini dia tidak sedikitpun membedakan apapun yang ada diantara jemaat, sekalipun kita tahu bahwa tidak ada satu surat pun yang Paulus kirimkan kepada jemaat tanpa ada permasalahan di dalamnya. Paulus menyebut “kepada semua”, maka tanpa terkecuali: mereka yang mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat hidup mereka! Mereka adalah orang-orang kudus kepunyaan Allah.
  3. Jemaat Filipi adalah orang-orang kudus bukan karena diri mereka sendiri, melainkan karena Kristus Yesus. “dalam Kristus Yesus” memiliki arti bahwa kekudusan jemaat bukanlah hasil usaha mereka dan kekudusan mereka bukanlah di dalam diri mereka sendiri atau di dalam apapun yang diluar Kristus, namun di dalam Dia: Allah yang telah menyelamatkan mereka dengan darah-Nya yang tercurah di Golgota. Maka kekudusan merekapun tidak layak untuk dibanggakan! Itulah sebabnya Paulus menyebut mereka demikian, agar ketika di awal membaca salam ini mereka tidak merasa diri hebat, namun justru kerendahan hati yang mau memuji kasih karunia Allah!

“Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah”. Kita masuk pada bagian yang berbeda dari salam Paulus ini. Di mana ia mulai beralih meninggalkan pembahasan persoalan penulis dan penerima surat, dan masuk pada apa yang menjadi ciri khas jemaat Tuhan serta yang menjadi permohonan sang rasul kepada Allah tentang jemaat Filipi. Bahwa jemaat di Filipi:
  1. Di tandai dengan adanya kasih karunia dan damai sejahtera. Ini bukanlah pertanda bagi orang yang tidak percaya, namun pertanda mutlak yang harus ada dalam kehidupan gereja Tuhan! Sebab ketika seseorang percaya maka itu membuktikan bahwa kasih karunia dari Tuhan bekerja atas kehidupannya dan ia dipenuhi dengan damai sejahtera.
  2. Semakin melimpah di dalam kasih karunia dan damai sejahtera. Kalimat ini adalah perkataan yang begitu sering Paulus ucapkan di setiap surat-surat yang ia kirim (Rm 1:7, 2Kor 1:2, 1Pet 1:2). Apakah maksud Paulus berkata demikian? Ini merupakan suatu permohonan kepada Allah: agar kiranya jemaat Tuhan semakin bertumbuh dan melimpah-limpah di dalam kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah. Inilah yang menjadi dasar sukacita mereka, yaitu bukan dari apa yang dunia dapat berikan kepada mereka, tetapi dari apa yang Tuhan dapat berikan kepada mereka yakni kasih karunia dan damai sejahtera.
  3. Menerima kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah. Apakah manusia bisa memberikan kasih karunia dan damai sejahtera pada kita? Untuk menjawabnya saya mengajak saudara untuk melihat jauh ke belakang, dalam Hosea 2:4;
“Sebab ibu mereka telah menjadi sundal; dia yang mengandung mereka telah berlaku tidak senonoh. Sebab dia berkata: Aku mau mengikuti para kekasihku, yang memberi roti dan air minumku, bulu domba dan kain lenanku, minyak dan minumanku”.
Ini adalah kalimat yang di sampaikan Allah Israel melalui perantaraan nabi Hosea kepada bangsa Israel. Di mana Allah menyampaikan pesan nubuatan dan di selipkan dengan adanya pemaparan dari Allah tentang dosa umat-Nya ini, melalui suatu ilustrasi seorang suami dan isteri. Ibu di sana adalah Israel yang pergi meninggalkan Allah dan berkata “Aku mau mengikuti para kekasihku, yang memberi roti dan air minumku, bulu domba dan kain lenanku, minyak dan minumanku”. Israel untuk seketika waktu menerima apa yang indah dan enak dari kekasihnya (Penyembahan berhala/Baal, kenikmatan hawa nafsu/perzinahan, mengandalkan kekuatan dan kekayaan mereka sendiri), tetapi itu semua tidaklah bertahan lama sebab Allah akan “menghajar mereka” dengan keras. Ternyata dunia ini dapat memberikan ketenangan dan damai sejahtera yang sementara, namun merusak kehidupan kita untuk selanjutnya! Tetapi, betapa bersyukurnya jemaat Filipi dan kita semua, bahwa ternyata kasih karunia dan damai sejahtera yang kita terima bukanlah berasal daripada dunia ini tetapi dari Allah. Allah yang tidak mungkin kurang dan terbatas, melainkan penuh dengan kemuliaan dan kebaikan!

“dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu”.  Siapakah yang menjadi sumber kasih karunia dan damai setahtera tersebut? Siapakah yang Paulus sebut dari Allah itu? Agar demikian nama Tuhan dipermuliakan!
  1. Sumbernya dari YANG MAHA SEGALANYA. Kata Allah di sana menggunakan θεος = “theos” dan Tuhan menggunakan Κυριος = “kurios”. Theos dan Kurios adalah dua kata yang menunjuk kepada pribadi yang lebih dari pada manusia biasa! Tentu yang Paulus maksud bukan kepada makhluk-makhluk roh seperti malaikat, melainkan yang melebih segala sesuatu yakni Pencipta, Pemelihara dan Pemegang kuasa atas segala yang di bumi maupun di sorga.
  2. Sumbernya dari Allah dan Tuhan yang adalah satu! Jika rumusan dari para bapa gereja bahwa Allah adalah Allah Tritunggal, maka saya hanya bisa mengutip beberapa bagian kitab suci yang memberitahukan bahwa Mereka adalah satu tanpa berkata Tritunggal!
a.      Yoh 17:11  Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.
b.      Yoh 17:21  supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
c.       Yoh 17:22  Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:
d.      1Yoh 5:7  Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.

“dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu”. Bagian terakhir di sini adalah bahwa ternyata:
  1. Kasih karunia dan damai sejahtera tersebut senantiasa menyertai. Paulus dengan lantang berkata menyertai kamu. Tidak di katakan bahwa akan menyertai kamu, atau seolah-olah bisa hilang, namun langsung kepada pernyataan kepastian: menyertai kamu! Sungguh ini adalah penghiburan yang begitu indah sekali, di mana kita mengetahui bahwa apa yang Allah berikan tidak akan berhenti menyertai kita hanya ketika kita ada di posisi atas, namun ketika kita berjalan dalam lembah kekelamanpun; di sana kasih karunia dan damai sejahtera ada menyertai kita! Bagaimana dengan saudara? Apakah saudara kerapkali ragu akan penyertaan Tuhan? Percayalah bahwa yang menyertai saudara bukan hanya sebatas kasih karunia dan damai-Nya, namun Pribadi-Nya pun menyertai saudara kemanapun saudara pergi...!
  2. Pemberian dari Allah tidak dapat di ganggung oleh siapapun. Jika sahabat saya memberikan kue sebagai hadiah ulang tahun saya, maka kemungkinan besar orang lain dapat merebutnya dari saya. Jika orang tua saya memberikan tanah sebagai warisan, maka kemungkinan besar orang lain dapat merebutnya dari saya! Tetapi jika Tuhan memberikan kasih dan damai-Nya..., maka tidak ada satu orang dan satu kuasapun yang dapat merampasnya dari saya dan saudara! Untuk menyentuhnya saja tidak, apalagi menghancurkannya: karena ini dari Allah maka tiada lawan-Nya. Amin!

Posting Komentar untuk "Paulus Menyampaikan Salam (Filipi 1:1-2)"