(Suatu Perenungan akan
Kerinduan untuk berRumah Tangga yang
Allah Kehendaki)
Aku tak menyangka akan sejauh
ini
Langkah kita akan segera
sampai pada tujuannya
Keinginan terdalam dari
sepasang insan manusia
Hidup dengan warna warni
cinta yang romantis
Aku melangkah dan engkau
menunggu
Engkau menunggu dan aku
mencoba
Menghantarkan niat hati ini
Agar dapat sampai pada
labuhan yang tepat
Kalau-kalau akan di terima
dengan sambutan
Dan memang itulah harapan
dari seorang pujangga yang belajar menulis ini
Agar kiranya engkau sudi
menerima daku
Menjadi bukti perteduhan bagi
mu!
Berteduh di kala engkau
senang
Di saat kenyataan ini
mendukung demikian
Berteduh di kala engkau
bersedih
Di kala kenyataan mengiris
hati mu terlalu sembilu
Berteduh di kala susutnya
daging dan tulang mu
Tanda mulai berkurangnya usia
itu
Berteduh di kala memutihnya
rambut panjang hitam mu
Sebagai alasan untuk aku
berkata “engkau sudah setia dengan perkara kecil dari ku”
Menjadi tempat perteduhan
bagi mu
Sebagai wanita yang
mengharapkan asuhan dan kasih setia
Jadi perteduhan bagi mu
Sebagai pribadi yang lembut
membutuhkan kekuatan!
Agar kiranya jikalau saja
badai itu datang
Maka aku lah yang
menghadangnya bagi mu
Jikalau serangan menyakitkan
menghampiri
Dakulah yang siap
menerimanya, demi engkau dapat tertidur dengan nikmat!
Ketahuilah bahwa daku siap
berjaga di malam hari
Agar engkau dapat larut dalam
mimpi yang indah
Aku rela menangis sejadi
jadinya
Agar engkau dapat tersenyum
indah ketika aku menatap mu!
Oh..., oh kekasih ku! Belahan
jiwa yang sempurna
Insan cantik lagi sayu
Tenang dalam bertindak mu
Tertuju mata mu pada apa yang
engkau anggap layak di hargai!
Sekarang gegas lah..., sambil
berdoa
Untuk segera menyambut niat
hati ku ini
Yang ku tahu jua menjadi niat
hati mu kasih ku
Untuk mengisi tempat
perteduhan ini dengan kenangan indah kita
Kenangan yang hendak menuju
kepada pemenuhannya
Setelah sekian tahun lamanya
serpihan-serpihan drama ini terlukis pelan
Maka hendak tibalah pada
saatnya
Secercah kenangan yang penuh
di bawah bukit perteduhan ini
Kemarilah... datanglah...
Akan ku hantar engkau kepada
apa yang selama ini kita rindukan
Hendak ku rangkul dan ku bawa
engkau
Pada perengguhan nikmatnya
cinta yang tak berkesudahan!
Ku undang engkau agar secepat
mungkin
Untuk menghadiri satu-satunya
acara yang akan ku adakan
Yakni untuk melukiskan mimpi
dan harapan mu
Di kaki bukit perteduhan yang
menjadi milik mu selama-lamanya...
Lupakan firasat buruk yang
pernah timbul dalam sanubari mu dulu
Karena itu ialah bualan dari
seorang yang tak mengerti akan kasih mendalam Allah kita
Sebab engkau sendiri telah
melihat bahwa;
Daku merangkul tangan mu
menuju Salib Kristus
Singkirkan perasaan mu yang
mengusik ketenangan putusan ini
Bahwa begitu cepat ini
rasanya...,
Sebab kita sendiri
menyaksikan bahwa;
Ternyata semua hanya oleh
anugerah Tuhan Allah kita!
Lalu, sekali lagi untuk yang
terakhir kalinya
Tepislah saja omongan-omongan
mereka yang coba meragukan engkau
Sebab bukankah engkau yang
akan menikmati ukiran demi ukiran kenangan indah nanti
Tepat di bawah setapak saja
saat berteduh mu...!
Lalu di atas itu semua
Arahkanlah telinga pada apa yang
di sebut petuah dan nasihat orang tua
Berlarilah pada doa malam
kita kepada sang Khalik langit dan bumi
Tersenyumlah indah di saat
saat obrolan kita menjadi sebuah kenyataan!
Yeremia
13 Agustus 2018
Kepada Dia yang telah menjadi Bintang dalam
malam panjang ku!

Posting Komentar untuk ""Bukit Perteduhan Mu""