“Apakah hujan itu berayah?
Atau siapakah yang
menyebabkan lahirnya titik air embun?” Ayb 38:28
Menggunakan kata masih bekerja itu artinya ada di dalam
proses bekerja. Maka di dalam pemikiran kita adalah hal yang lucu jika kepada Allah
di gunakan kata tersebut, sebab makna kata itu lebih mengindikasikan kepada
manusia ketimbang kepada Allah. Kenapa demikian? Karena kita merasa bahwa tidak
mungkin Allah bekerja, seperti kita bekerja! Dia adalah Allah yang mahakuasa
dan tak mungkin bekerja lagi, sebab Ia hanya cukup berkata maka semuanya jadi!
Namun tidaklah demikian halnya, sebab ternyata benar bahwa Allah masih bekerja,
dan akan selalu bekerja.
Ada beberapa pandangan yang secara terang-terangan
menyangkali kebenaran ini. Di mana mereka mengajarkan bahwa Allah sudah berhenti bekerja atas kita.
Dia sudah tidak intervensi lagi atas segala yang ada di dunia ini, sebab itu
sampailah mereka kepada kesimpulan bahwa Allah itu sesungguhnya tidaklah ada.
Allah bagaikan membuat sebuah arloji dan meninggalkan arloji itu bergerak
dengan tenaga baterai, dan Ia pergi entah kemana...? Lalu ada juga yang
berpandangan bahwa Allah berhenti bekerja
atas kita, karena dosa-dosa yang telah merusak dunia ciptaan-Nya dan segala
isinya, termasuk manusia. Allah tidak tahan menyaksikan dosa-dosa manusia,
Allah bagaikan seorang Isteri yang lemah dari suami yang selingkuh di
hadapannya lalu ia pergi entah kemana...? Lalu yang terakhir adalah pemahaman
bahwa Allah adalah Allah yang akan
bekerja jika kita bekerja! Allah hanya bekerja, bertindak atau intervensi
hanya jika anda memulai! Itu bagaikan instrumen yang memancing sebuah lantunan
intro lagu. Anda bagaikan magnet yang menarik Dia untuk mendekat kepada anda.
Apakah semua pandangan di atas adalah benar? Apakah benar
bahwa Allah sudah tidak bekerja lagi! Apakah benar bahwa Allah dulu pernah
bekerja atas kita, dan kini Dia sudah berhenti oleh karena beberapa alasan!
Atau apakah benar bahwa Allah itu sama sekali tidak pernah bekerja, namun hanya
ada dan diam??? Ia hanya menonton dari kejauhan singasana-Nya dan membiarkan
segala yang terjadi di muka bumi ini berjalan dengan sendirinya yang di dorong
oleh hukum sebab akibat...???
Ternyata tidaklah demikian halnya. Karena ayat yang kita
telah baca di atas berkata bahwa ternyata oleh karena Allah sehingga lahir
setitik air embun! Pernahkan anda coba merenungkan hal tersebut? Perihal yang
paling kecil sekalipun seperti setitik air embun, ternyata Allah menjadikannya
ada. Jika tanpa Dia..., maka mustahil akan ada. Kita akan coba menelusuri
beberapa ayat dalam kitab Ayub ini untuk meneguhkan kita perihal ini :
“Apakah hujan itu berayah? Atau siapakah yang menyebabkan lahirnya
titik air embun?” (Ayb 38:28)
Ini adalah ayat permulaan
kita, dimana Elihu yang tampil menegur Ayub. Ketika Ayub bertanya kepada Allah
kenapa hal buruk menimpanya dan keluarganya! Pertanyaan retorik yang pasti
jawabannya adalah Allah. Siapakah ayah nya hujan? Atau siapakah yang
menyebabkan lahirnya titik air embun? Jawabannya adalah Tuhan Allah!
“Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah,
kalau engkau mempunyai pengertian!” (Ayb 38:4)
Seandainya pertanyaan ini
ditujukan pada anda pada saat itu, apakah yang akan anda jawab? Apakah yang
akan kita jawab? Tentu jawabannya adalah “Saya
tidak tahu, karena saya belum ada!”. Sebab Dia seorang sajalah yang meletakkan
dasar bumi! Di sini kita ketahui bahwa Allah bekerja atas perkara-perkara yang
besar sekalipun.
“Awanpun dimuati-Nya dengan air, dan awan memencarkan kilat-Nya, lalu
kilat-Nya menyambar-nyambar ke seluruh penjuru menurut pimpinan-Nya untuk
melakukan di permukaan bumi segala yang diperintahkan-Nya. Ia membuatnya
mencapai tujuannya, baik untuk menjadi pentung bagi isi bumi-Nya maupun untuk
menyatakan kasih setia”. (Ayb 37:11-13)
Allah juga bekerja atas
kejadian alam yang baik maupun kejadian alam yang buruk. Berdasarkan ayat ini
kita ketahui bahwa Allah memuat awan dengan air dan memencarkan kilatNya untuk
menyambar-nyambar sesuau dengan pimpinanNya di atas permukaan bumi! Tentu ada
tujuan bukan? Tujuannya adalah untuk menjadi pentung bagi isi bumi dan untuk
menyatakan kasih setiaNya. Sehingga jangan heran jika di satu tempat terjadi
kejadian alam yang buruk seperti sambar petir, gempa bumi dan tsunami. Itu semua
ialah pentung bagi isi bumiNya. Pentung di gunakan untuk menghajar dan
menghukum! Lalu yang kedua juga ialah untuk menyatakan kasih setiaNya bagi
mereka yang tidak terkena kejadian alam yang buruk tadi, atau Allah izinkan
untuk menimpa dengan tujuan untuk mendidiknya.
“Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku
telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang
tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di
luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan
menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang;
Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini”. (Yes 45:5-7)
“Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan
gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima
yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya”.
(Ayb
2:10)
Berdasarkan dua ayat di
atas kita ketahui bahwa ternyata baik terang maupun gelap Allah lah yang telah
menjadikannya ada. Allah yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib
malang! Serta Ayub dengan jelas berteriak bahwa hal yang burukpun mestilah kita
terima dari Tuhan! Ini menunjukkan bahwa tiada perkara dalam hidup ini yang
terjadi tanpa kendali dari Allah yang berdaulat mutlak. Allah mengendalikan
mulai dari perkara kecil hingga perkara yang besar. Mulai dari jatuhnya sehelai
rambut anda hingga ketika detik-detik gempa tsunami dahsyat yang terjadi di
Sulawesi Tengah. Allah masih bekerja dan akan tetap bekerja!
Semua ini Allah lakukan
adalah agar perbuatan-Nya di junjung dan nama-Nya di puji! “Ingatlah, bahwa engkau harus menjunjung tinggi perbuatan-Nya, yang selalu
dinyanyikan oleh manusia”. (Ayb 36:24). Allah membuat semuanya untuk
tujuannya masing-masing! “Allah membuat
semuanya dengan tujuannya masing-masing “TUHAN membuat segala sesuatu untuk
tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka”. (Ams
16:4). Bagi mereka yang percaya kepada Allah dan Anak-Nya Yesus Kristus maka
segala yang terjadi mendatangkan kebaikan (Roma 8:28), sebab tiada satu hal pun
yang terjadi di bawah kolong langit ini yang bukan untuk menyatakan
kemuliaan-Nya. Sebab untuk itulah kita dan segala yang ada telah diciptakan,
yakni untuk kemuliaan-Nya.

Posting Komentar untuk "Allah Masih Bekerja"