zmedia

Kasih dan Ketabahan



“Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus”. (2Tes 3:5)


Tiga tujuan Rasul Paulus menuliskan surat  kedua kepada jemaat di Tesalonika ini adalah :
(a)  Menghibur orang percaya baru yang dianiaya
(b)  Menasihatkan mereka untuk hidup disiplin dan bekerja untuk mencari nafkah, dan
(c)   Memperbaiki beberapa kepercayaan yang keliru perihal peristiwa akhir zaman yang berkaitan dengan ‘hari Tuhan”  (2 Tes 2:2)
Semua tujuan di atas di kemas oleh Paulus dalam sebuah kerangka pikiran bahwa Dia adalah Raja kita yang akan segera datang untuk umat pilihan-Nya.

Melihat kepada konteks dari surat tersebut maka jelas bagi kita bahwa ternyata ayat yang kita kutip menjadi bahan utama dari esai ini diucapkan kepada jemaat yang sedang mengalami sebuah kesulitan, yakni penganiayaan dan penindasan.

Kami wajib selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara. Dan memang patutlah demikian, karena imanmu makin bertambah dan kasihmu seorang akan yang lain makin kuat di antara kamu, sehingga dalam jemaat-jemaat Allah kami sendiri bermegah tentang kamu karena ketabahanmu dan imanmu dalam segala penganiayaan dan penindasan yang kamu derita:” (2Te 1:3-4)

Garis bawahi kalimat ‘Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu”, sebagai sebuah pemberitahuan bahwa ternyata sebagai manusia yang lemah kerapkali kita tidak mampu untuk menujukan hati kita kepada apa yang Allah kehendaki. Itulah sebabnya kerendahan hati dari setiap kita haruslah nampak dalam hal ini di hadapan Allah. Kita tidak akan pernah bisa menujukan hati kita kepada Allah, jika bukan Allah memampukan kita melalui pekerjaan Roh Kudus. Ini penting karena jika kita tidak mengakui keterbatasan kita maka kita akan sulit untuk merasakan pekerjaan Tuhan!

Sekarang mari kita melanjutkan kepada tema kita! Kasih dan Ketabahan! Ya..., kasih adalah perasaan sayang dan ketabahan adalah tetap kuat hati. Sangat sederhana bukan? Tentu. Tetapi akan menjadi lebih indah jika kita tidak hanya mendefinisikannya berdasarkan kamus umum yang sekuler, tetapi kepada apa yang Allah katakan dan maksudkan.

Di tengah-tengah kesulitan yang sering kali kita alami kecedrungan manusia adalah menjadi lemah. Itu dikarenakan keadaan manusia yang adalah lemah adanya serta di tambah oleh karena kurang memahami cara yang di gunakan untuk melewati badai pencobaan yang berat tersebut. Sehingga kerapkali kita saksikan orang percaya gugur ketika menghadapi pencobaan dalam hidupnya.

Tetapi di sini Rasul Paulus memberitahukan kepada kita semua bahwa di tengah keadaan yang sulit, di tengah penderitaan yang menimpa, bahkan ketika maut hendak menjemput sekalipun..., hendaklah kiranya kita mengarahkan pandangan kepada Allah. Sebab ketika hal tersebut kita lakukan maka yang nampak di hadapan kita adalah Allah yang besar dan yang sanggup (Ayb 42:2). Allah yang mengatasi segala persoalan yang terjadi! Keputusan yang paling menentukan di saat-saat genting seperti itu harus kita buat, karena jika tidak... maka kita akan hancur di dalam kelemahan dan masalah yang menimpa. Keputusan yang Paulus katakan di sana adalah : Meminta kepada Allah agar Ia menujukan hati mu kepada Dia! Memohon agar Allah mengalihkan orientasi hati kita kepada Pribadi Allah. Maka ini bagaikan sebuah mobil yang berputar arah 180 derajat, di saat detik-detik terakhir hendak terjatuh ke dalam jurang yang ada didepannya.

Kita meminta agar hati kita di tujukan kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus. Mari kita bahas dengan singkat satu persatu.

Pertama: Kasih Allah. Dalam bahasa asli dari teks ini kata kasih adalah ’agape’, ini berarti kasih yang hanya di miliki oleh Allah dan kasih tersebut adalah kasih yang mengatasi segala kasih. Kasih yang paling tertinggi dari kasih yang pernah ada di dalam dunia! Kasih yang olehnya “Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. (Yoh 3:16). Kasih yang memberi dan tidak menuntut! Tentu ini adalah kebalikan dari kasih yang ada di dalam diri kita, yang di mana kasih kita sebaik apapun tetaplah kasih yang didistorsi atau dipengaruhi oleh kemanusiawian! Kasih yang tidak murni dan mulia! Kasih yang terbatas penuh dengan keinginan yang tersembunyi di bawah kesadaran kita!

Kepada kasih itulah hendaknya kita menujukan hati kita! Kenapa? Karena dengan mengingat kasih-Nya saja, anda sudah menerima sebuah jaminan bahwa penderitaan atau persoalan yang tengah menimpa akan segera berlalu! Saya katakan sebagai ‘jaminan’, karena itu pasti akan terjadi. Yakni bahwa persoalan anda pasti akan berlalu sesuai dengan cara dan rencana Allah. Anda bisa mengalami sebuah mujizat besar dan untuk seketika anda terlepas dari persoalan tersebut secara tiba-tiba, tapi anda juga bisa dibiarkan melewati badai angin topan yang sangat mengerikan itu lalu di berikan kekuatan yang luar biasa dan anda menang! Anda tetap setiap kepada Allah sebab anda selalu mengingat kasih-Nya. Urutan logisnya adalah demikian: masakan Allah menjamin kehidupan kekal bagi kita sementara kehidupan di tengah dunia yang sementara ini Ia lepas tangan dan tidak mau bertindak atas kehidupan anda? Itu tidak mungkin pernah terjadi dan tidak akan terjadi! Itulah sebabnya sang Rasul berdoa kepada Allah agar kiranya Ia selalu menujukan hati jemaat Tesalonika untuk tertuju kepada kasih Allah. Sebab Allah tidak mungkin diam di tengah penderitaan yang mereka alami.

Lagipula perlu kita ingat bahwa kasih Allah adalah kasih yang bertindak! Bahkan kasih-Nya telah terlebih dahulu Ia nyatakan jauh sebelum kita dan segalanya ada, bahwa ternyata “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya”. Efesus 1:5 , lalu kasih-Nya telah Ia tunjukkan ketika kita sedang di dalam dosa; “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”. Rom 5:8. Inilah kasih Allah, kasih yang tidak hanya bicara tetapi berbuat! Maka sudahlah seharusnya kita tetap kuat melewati badai kehidupan ini, sebab dengan memandang kasih Allah maka kita menerima sebuah jaminan dari-Nya, bahwa persoalan tersebut pasti akan berlalu sebab Ia akan bertindak!

Kedua: Ketabahan Kristus.  Tidak ada tokoh di bawah kolong langit ini yang layak di jadikan panutan perihal ketabahan selain dari Yesus Kristus! Siapakah yang dapat tabah untuk menerima geram dan murka dari Allah? Jika ada orang yang tabah menerima sebuah penderitaan, itu hanya karena alasan diri sendiri atau keuntungan pribadi, keluarga dan orang terdekat serta yang utama adalah bagi orang yang ia anggap benar! Sementara ketabahan Kristus adalah ketabahan atas penderitaan yang tidak seharusnya Ia tanggung serta atas kesalahan orang lain yang sebenarnya adalah orang berdosa! Orang yang layak di hukum tetapi Ia rela tabah bagi mereka! Orang yang harusnya dibuang dalam api penghukuman tetapi bagi dia..., Kristus tetap tabah menanggung sebuah penderitaan tersebut! Maka ini menjadi indikator satu-satunya untuk mengatakan bahwa tidak ada seorangpun dalam dunia ini yang dapat di jadikan panutan perihal ketabahan, yang dengannya kita memandang atau menujukan hati kita.

Itulah sebabnya Paulus sekali lagi memberikan sebuah jalan keluar yang indah dan paling ampuh ketika dalam masa sulit, yakni dengan menujukan hati kita kepada ketabahan Kristus. Kita dapat melihat dua pesan dari bagian ini :

Pertama; Bahwa ternyata di saat kita menujukan hati kita kepada ketabahan Kristus, di situ maka kita melihat bahwa penderitaan yang Kristus alami jauh lebih berat dari kita! Oleh sebab itu hendaknya kita tetap tabah sama seperti Kristus tetap tabah menghadapi penderitaan-Nya. Ini saya sebut sebagai metode perbandingan. Coba anda bayangkan jika seandainya anda menggantikan posisi Kristus..., mustahil anda akan tabah! Nah, dengan demikian haruslah kita tetap tabah sebab apa yang kita alami tidaklah seberat yang Kristus tanggung

Kedua; Bahwa ternyata ketika kita menujukan hati kita kepada ketabahan Kristus, di saat itu kita dapat melihat bahwa ternyata Kristus telah merasakan apa yang kita rasakan, Kristus turut menanggung penderitaan kita dan lebih jauh lagi dari itu, oleh bilur-Nya kita telah disembuhkan, dikuatkan dan dimenangkan!

“Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh”. 1Pet 2:24 .

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa”. Ibr 4:15

Satu ayat lagi untuk memberikan sebuah refleksi yang indah dari firman Tuhan terdapat dalam Ibrani 12:2 : “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah”. Untuk melakukan apa yang di serukan oleh penulis Ibrani “marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita”. (Ibr 12:1) kita di ajak untuk melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus! Ini sepadan dengan yang Paulus katakan dengan kata “tujukan”. Mata yang tertuju kepada Yesus meskipun begitu berat penderitaan yang kita alami, sebab Kristus telah lebih dahulu mengabaikan kehinaan tekun memikul salib. Perhatikan teks yang saya beri warna merah. Sukacita itu bukan Dia kejar dan raih, tetapi Ia rela untuk menggantikannya dengan kehinaan memikul salib. Ia rela menggantikan sejenak apa yang telah disediakan bagi Dia, dengan salib. Sungguh ketabahan yang hendaknya menjadi panutan kita satu-satunya!

Oleh : Pdt. Theos M. Purba, S.Th

Posting Komentar untuk "Kasih dan Ketabahan"