zmedia

KASIHANILAH AKU, YA ALLAH!


Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari”. Mazmur 86:3

Satu hal yang terlalu besar untuk saya pikirkan dan yang sampai saat ini masih terus saya renungkan tanpa ada akhirnya adalah: ‘Mengapa Allah mau mengasihi saya, manusia yang paling berdosa ini...?’ Jika mengingat hidup saya dengan segala yang telah saya perbuat, maka sungguh adalah sebuah kebodohan yang paling bodoh jika saya sampai berani berkata ‘Hidup ku pantas di hadapan Allah’! Bahkan perbuatan saleh yang paling saleh sekalipun, sang Nabi Yesaya pernah berkata bahwa “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin”, Yes 64:6. Sampai di sini saja kita sudah seharusnya tersungkur di hadapan Dia, Allah yang begitu besar dan tak terhampiri dalam kemuliaan, keadilan dan kesucian-Nya! Di hadapan Tuhan Allah yang demikian..., lantas saya mengucapkan satu kalimat yang menggetarkan seluruh jiwa raga ini, yaitu “Kasihanilah Aku ya Allah...!” Ini membuat saya hanya bisa merintih kagum dihadapan-Nya, karena terlampau besar kasih dan setia Allah terhadap saya yang berdosa ini.

Ketika mencoba untuk merenungkan kalimat ‘Kasihanilah aku ya Allah’ maka di saat itu saya teringat akan sosok seorang tokoh Alkitab yang besar, yang ada dibelakang dari tulisannya ini; yakni Raja Daud. Dialah yang mengucapkan perkataan ini! Dia yang adalah raja Israel, raja yang berkuasa, raja yang penuh dengan kekayaan dan kekuatan tempur, raja yang bijaksana dan dapat melaksanakan apa yang ia inginkan dalam seketika waktu saja, tetapi tetap saja berseru kepada Allah memohon agar Allah mengasihani dia! Ini menunjukkan bahwa tidak ada hal apapun dalam hidup kita ini yang bisa menjadi dasar kita untuk tidak membutuhkan belas kasihan Tuhan! Ketika Raja Daud berseru ‘kasihanilah aku, ya Tuhan’, saat itu ia begitu sadar akan posisi dia dan posisi Allah. Orang yang paling sombong dalam dunia ini ialah mereka yang tidak sadar akan posisi mereka sendiri dan akan posisi Allah. Mereka bertindak seolah-olah Allah adalah pribadi yang lemah dan mengikuti setiap keinginan mereka, ini banyak dalam kalangan kekristenan itu sendiri; memaksa Allah untuk mewujudkan semua doa-doanya, meminta agar Allah tidak begini dan begitu, melakukan semua keinginannya berdasarkan pertimbangan yang kurang matang dan bertindak sendiri seolah penentu keberhasilan. Ia tidak memohon seperti Daud “Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu”. [Mzm 86:11]. Mereka bertindak dengan keyakinan bahwa Allah itu tidak ada dan Dia hanyalah bualan di siang bolong oleh orang-orang yang berlagak rohani, ini banyak dalam kalangan di luar kekristenan; Allah sudah mati, Allah sudah pergi, tidak ada kebaikan sejati dan kasih yang kekal. Tidak ada belas kasihan dalam dunia ini, sebab kenyataan membuktikan bahwa kejahatan dan penderitaan terus ada dan merusak peradaban dunia ini. Oh, sungguh di manakah belaskasih itu? Apakah masih ada belas kasih yang kekal dan sempurna itu? Apakah masih ada pengkasihanan dari Pribadi yang adil, sempurna dan mulia suci?

            Sebelum manusia itu menemukan belas kasihan yang sejati itu? Ternyata semua manusia telah di rusak oleh dosa dan membuatnya menjadi buta akan Allah. Ini menyebabkan manusia salah mencari pengkasihanan! Manusia menjadi tidak tahu lagi kemana tempat mereka dapat menemukan belas kasihan Allah yang sempurna itu. Akhirnya mereka tersesat dalam pencarian mereka, mereka hidup berlawanan dengan kehendak Allah, dan ketika penderitaan serta kejahatan menimpa mereka, mereka jatuh dan banyak yang tidak bisa bangkit lagi. Akibat dosa dan kejahatan hati mereka!

            Dalam keadaan yang demikianlah Allah hadir dan memberitahukan kepada kita orang-orang yang di pilih-Nya, bahwa ada Allah yang telah, akan dan selalu mengasihani kita. Pertanyaan yang perlu di jawab di sini adalah; Mengapa ada pengkasihanan dan kita membutuhkan pengkasihanan Allah itu?

Pertama: Sebab Allah baik dan suka mengampuni. Ayat 5 dalam Mazmur 86 berkata “Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu. Pertama-tama yang menjadi alasan mengapa ada belas kasihan Allah, adalah karena diri Allah itu sendiri. Ini merupakan sistematika yang paling indah, di mana segala sesuatu di mulai dari diri Allah. Penyebab mengapa ada pengkasihanan dari Allah terhadap diri manusia, terkhusus kepada umat-Nya; adalah karena Allah itu baik dan suka mengampuni. Orang yang di kasihani adalah orang yang berdosa! Orang yang di kasihani adalah orang yang membutuhkan pengampunan dan kebaikan dari Allah. Sebab tidak mungkin orang yang benar dan layak lantas berseru “Kasihanilah aku ya Allah”! Terhadap orang yang demikianlah Allah menyatakan belas kasih-Nya. Terhadap orang yang mau merendahkan diri dihadapan Allah, yang mengakui posisinya lemah dan butuh di kasihani oleh Allah, Allah akan nyatakan pertolongan!

Lalu yang perlu kita ketahui adalah bahwa tidak ada pribadi yang seperti Dia; “Tidak ada seperti Engkau di antara para allah, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kaubuat”, [Mzm 86:8]. Dia adalah Allah satu-satu nya yang dapat mengasihani kita dengan sempurna. Belas kasih-Nya itu adalah belas kasih yang tidak sedikitpun memperhitungkan pelanggaran kita dan tidak menuntut. Itulah sebabnya jangan pernah kita mencoba untuk mencari dan mengharapkan ada pengkasihanan dari manusia! Sebab sampai kapanpun kita tidak akan pernah menemukannya, karena pengkasihanan yang kekal dan sempurna hanya ada dalam diri Allah itu sendiri. Masih ingatkah anda akan apa yang sang Rasul Yohanes pernah katakan dalam suratnya yang pertama “sebab Allah adalah kasih” 1 Yoh 4:8. Maka di saat anda dalam penderitaan, bahkan ketika di timpa oleh kejahatan dari pihak manapun; hendaklah berseru kepada Allah untuk mendapatkan belas kasihan dari-Nya!

Kedua:  Sebab sengsara dan miskin aku. “Doa Daud. Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku”, [Mzm 86:1]. Raja Daud adalah orang yang kaya dan memiliki kekuasaan. Namun ternyata ketika ia datang menghadap Allah, ia sadar bahwa itu semua tidak ada apa-apanya. Apalagi pada saat itu memang kenyataan yang pahit sedang menimpa dia! Dimana raja Daud di khianati oleh anaknya sendiri yakni Absalom. Anaknya berusaha untuk merebut tahta kerajaan dari tangannya dengan cara yang keji. Orang-orang terdekat dalam hidupnya telah menjadi musuhnya. Kenyataan ini membuat Daud begitu tertekan, tetapi tidak sampai putus harapan. Sebab ada Allah yang kepada-Nya Daud akan menerima pengkasihanan yang besar. Allah pasti akan bertindak untuk menolongnya. Daud datang dalam doa dan permohonan, agar Allah menyendengkan telinga-Nya dan menjawab permohonannya. Alasanya adalah karena ia sengsara dan miskin! Daud sengsara dan miskin dihadapan Allah! Daud tidak memiliki apa-apa yang bisa ia andalkan ketika kenyataan sulit ini menimpanya.

Bagaimana dengan anda saudara? Apakah anda mau datang pada kaki Tuhan dan memohon belas kasih-Nya, sebagai tanda bahwa anda menyadari betapa hidup anda miskin di hadapan Allah? Sengsara di hadapan Allah? Kita adalah manusia yang selalu dihadapkan oleh kemiskinan dan kesengsaraan! Tidak ada makanan, minuman dan apa yang dipakai merupakan kesengsaraan yang setiap hari kita harus berjuang melawannya. Kita akan berusaha agar kebutuhan ini terpenuhi. Tetapi ingatlah bahwa tidak ada jaminan semua hal tersebut akan selalu ada dan hidup kita akan aman-aman saja. Itulah sebabnya kita membutuhkan pengkasihanan Allah itu. Selalulah meminta agar anda di kasihani oleh Allah, agar anda boleh menikmati segala berkat dan anugerah dari Tuhan. Saya tegaskan sekali lagi di sini, bahwa hanya orang yang lemah tak berdayalah yang butuh di kasihani Allah, tetapi jika anda merasa anda tidak lemah dan anda adalah manusia kuat yang bisa hidup tanpa Allah, maka anda tidak akan pernah memohon dan andapun juga tidak akan pernah mendapat! “Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan”, Mat 7:8

Ketiga: Supaya orang-orang melihat dengan malu. (Ayt 15-17) “Lakukanlah kepadaku suatu tanda kebaikan, supaya orang-orang yang membenci aku melihat dengan malu, bahwa Engkau, ya TUHAN, telah menolong dan menghiburkan aku” [Mzm 86:17]. Kebenaran ini adalah hal yang harus dimengerti dalam konteks memohon belas kasih Tuhan dan bukan dalam hal menyombongkan diri. Ketika kita memohon belas kasihan Tuhan, bukan berarti kita ingin memamerkan kepada orang banyak bahwa kita di bela oleh Allah. Tetapi memang hal yang pasti akan terjadi adalah bahwa ketika Allah menolong kita, maka mata orang akan tertuju kepada kita! Kita akan menjadi pusat perhatian orang. Terlebih jika kita ditindas, di fitnah, dibohongi dan di sakiti, ketika orang lain mengharapkan kehancuran kita tetapi justru Allah menyatakan belas kasih-Nya dan meluputkan kita dari masalah tersebut, lalu mengangkat kita naik..., maka dipastikan hal itu akan menarik perhatian banyak orang, terkhusus bagi orang-orang yang mengharapkan kehancuran kita. Itu di alami oleh Raja Daud dan ia katakan dalam bagian ini, bahwa ia memohon agar Allah melakukan tanda kebaikan, agar orang-orang yang membenci dia melihat dengan malu, karena Allah telah menolong dan menghibur Daud.

Mungkin ada orang yang tidak senang dengan anda! Ada orang yang tidak suka dengan cara anda hidup sebagai saksi Kristus! Ada orang yang sakit hati dengan anda karena melihat kemajuan anda! Atau bagi anda yang bekerja di ladang Tuhan seperti saya, mungkin mengalami ejekan, fitnahan dan perilaku kurang baik dari orang-orang tertentu yang tidak setuju dengan penginjilan dan keberadaan gereja anda! Bahkan terkadang sampai mereka anarkis menolak keberadaan gereja anda, tetapi tetaplah percaya pada Allah dan memohon belas kasih-Nya, maka tiba pada waktunya nanti mereka semua akan melihat dengan malu. Mereka akan menyaksikan sendiri dengan mata kepala mereka bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup dan bertindak. Kristus Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat yang tidak akan pernah meninggalkan umat yang telah Ia tebus dengan darah-Nya. Untuk itulah Allah senang mengasihani kita umat pilihan-Nya, agar Ia dapat menyatakan kemuliaan-Nya terhadap orang-orang yang tidak senang dengan kita oleh alasan kebenaran!

Sekarang mari kita maju satu langkah dari pembahasan kita sebelumnya! Setelah di kasihani oleh Allah, apa yang seharusnya akan terjadi dalam kehidupan kita ini? Bagaimanakah hidup dari orang yang telah menerima pengkasihanan Allah? Apa yang akan muncul dari hidupnya jika ia telah berada dalam posisi sebagai orang yang di kasihani oleh Allah setiap hari?

Pertama: Bersyukur dan Memuliakan nama Allah (ayt 12)
Di tengah-tegah keadaan yang demikian sulit bagi Daud, ia telah memohon agar Allah mengasihani dia. Setelah itu ia sadar bahwa sebagai orang yang menerima belas kasihan Tuhan, haruslah ia bersyukur kepada Allah. “Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya” [Mzm 86:12].

Mengucap syukur adalah tindakan yang sangat berpengaruh besar bagi kita ketika berada didalam sebuah tekanan atau penderitaan. Mengapa? Karena ketika kita mengucap syukur; pada saat yang sama kita sedang mengalihkan orientasi atau arah pikiran dan hati kita. Kita sedang berpaling dari kelemahan kepada kekuatan, dari keterpurukan kepada keberhasilan, dari dukacita kepada sukacita, dari tangis menjadi tawa, dan dari kegelisahan kepada ketenangan yang sejati. Sering kali kita larut dalam kekuatiran bukan disebabkan oleh keadaan sulit itu sendiri, tetapi oleh pikiran dan perasaan kita yang sulit untuk dinetralisir. Disebabkan oleh hati kita yang tidak gembira! Sementara Alkitab berkata bahwa: “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat” (Ams 15:13) di lanjutkan oleh Amsal “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang” (Ams 17:22). Bagaimana bisa gembira? jika setiap kali mengalami penderitaan, yang keluar dari bibir nya adalah keluhan yang berkepanjangan??? Dan bukannya ucapan syukur karena memandang kepada belas kasihan Tuhan!

Itulah sebabnya saya berkata bahwa mengucap syukur adalah hal yang begitu menentukan ketika kita berada dalam kesulitan! Mengucap syukurlah, karena Allah mengasihani anda dan saya! Mengucap sykurlah senantiasa karena Allah pasti berperkara bagi anda ketika didalam sebuah masalah!

Kedua: Mengasihani sesama kita
Mari kita awali bagian ini dengan satu ayat yang begitu terkenal; “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi” [1Yo 4:11]. Sangat menarik adalah bahwa ternyata dasar untuk kita mengasihi sesama kita bukanlah karena sesama kita itu berbuat baik kepada kita! Bahkan bukan karena kita adalah sesama, atau lebih jelasnya; bukan karena kita adalah sama-sama manusia – ucapan ini sering kali saya dengar – tetapi alasan yang paling utama dan saya harus katakan; satu-satunya... adalah karena Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita! Itulah sebabnya tidak ada alasan untuk tidak mengasihi! Tidak ada alasan untuk saya mengasihani seorang dan membenci yang lain. Mengasihi saudara kandung ku dan membenci musuh ku! Yesus memberitahukan perihal ini dengan jelas; “Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” [Mat 5:44].

Sebagai orang-orang yang telah di kasihani oleh Allah, hendaklah kiranya kita juga memancarkan kasih Allah tersebut dengan cara anda mengasihi orang lain. Melalu perkataan, perbuatan dan doa, anda bisa mengasihi sesama anda. Anda bisa memulai dengan perbuatan-perbuatan yang kecil; mulai berdoa bagi mereka, duduk santai bersama mereka, hadir di dalam masa-masa sulit mereka, memberikan dukungan moral dan moril bagi mereka. Semampu anda menolong, tolong lah dengan hati yang tulus ikhlas. Sebab anda adalah orang yang juga di kasihani oleh Allah, masakan anda tidak mau membagikan kasih tersebut kepada mereka yang membutuhkan? Saya yakin anda mau! Mari kita lebih sungguh lagi mengasihi mereka, orang-orang yang ada di sekeliling kita.

Oleh : Pdt. Theos M. Purba, S.Th
 

Posting Komentar untuk "KASIHANILAH AKU, YA ALLAH!"