Matius 26 : 36 - 46
Getsemani adalah taman di kaki bukit Zaitun (Luk
22:39). Tempat ini di pilih oleh Tuhan Yesus sebagai tempat terakhir-Nya
sebelum Ia ditangkap dan di salibkan! Ini adalah malam sebelum Ia disalibkan
dibukit Golgota, di mana di Getsemani inilah kita dapat melihat, bagaimana
jeritan dari hati seorang Anak Manusia yang hendak mencurahkan darah dan
menyerahkan tubuh-Nya untuk disiksa, demi menyelamatkan manusia dari hukuman
kebinasaan. Di Getsemani kita menyaksikan pertarungan yang begitu dahsyat
antara taat pada kehendak Bapa atau mengikuti keinginan sendiri. Di Getsemani
juga kita dapat melihat bagaimana kengerian dari hukuman yang akan ditanggung
oleh Yesus. Lalu di Getsemani pulalah kita telah menyaksikan bahwa Yesus menang
dari keinginan sendiri dan taat pada kehendak Bapa.
Tuhan Yesus membawa murid-murid-Nya (Petrus,
Yakobus dan Yohanes) ke taman ini hanya dengan satu tujuan: “Aku pergi ke sana untuk berdoa” (ayt
36b). Dan dalam kisah Tuhan Yesus berdoa
di taman Getsemani ini kita dapat menyaksikan beberapa hal yaitu :
- Tuhan Yesus secara Manusiawi begitu Sedih dan Gentar (ayt 37-38)
Apa yang bisa membuat kita merasa
sedih dan gentar? Tentu adalah hal yang menakutkan. Tetapi tahukah kita bahwa
apa yang dialami oleh Tuhan Yesus bukan hanya sebatas menghadapi hal yang
menakutkan, tetapi Ia harus menanggung hal yang seharusnya tidak Ia tanggung.
Dia Allah yang suci dan benar, tetapi mengapa harus tersungkur sedih dalam doa
kepada Bapa yang mengutus-Nya? Dia Allah yang mahakuasa, namun mengapa Dia
seperti lemah dan tak berdaya di taman Getsemani? Itu semua harus Dia tanggung
agar Kristus benar-benar menjadi wakil kita dihadapan salib Bapa. Salib yang
akan menjadi tempat persembelihan darah Anak Domba!
Keadaan yang begini adalah keadaan
yang benar-benar menyedihkan dan menggentarkan bagi Yesus secara manusiawi. Di
sini kita dapat melihat bahwa Yesus adalah juga benar-benar telah menjadi
manusia. Itu terbukti dengan Dia mengalami perasaan yang juga kita sebagai
manusia dapat alami. “HatiKu sangat
sedih, seperti mau mati rasanya” (ayt 38). Dari sini juga kita dapat
melihat bahwa penderitaan yang harus ditanggung oleh Yesus begitu mengerikan!
Yesus yang selama ini kita lihat kuat,
tegar dan bersemangat. Berjalan kesana kesini memberitakan jalan keselamatan.
Banyak pengikut dan murid! Namun kini dikaki bukit Zaitun, ditengah keheningan
yang mencekam, tampak Yesus berdoa kepada Bapa dan begitu ketakutannya Dia
sampai “PeluhNya menjadi seperti
titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Luk 22:44).
Bagaimana dengan kita hari ini?
Apakah kita pernah menghayati penderitaan yang harus dipikul oleh Yesus
Kristus? Apakah kita ingat setiap tetesan keringat-Nya yang menjadi seperti
titik-titik darah? Di saat engkau senang maupun susah! Di saat engkau dalam
keadaan berlimpah maupun kekurangan!
- Tuhan Yesus Menyatakan Isi hati-Nya kepada Bapa (ayt 39)
Setelah kita melihat bagaimana sedih
dan gentar-Nya hati Yesus, Ia tidak hanya berdiam diri dan termenung meratapi
kesedihan itu. Melainkan Dia sujud dan berdoa kepada Bapa kata-Nya “Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin,
biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki,
melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (ayt 39). Tuhan Yesus tahu bahwa
dalam keadaan yang mencekam seperti ini tidak ada satu tempat untuk Dia
menyatakan isi hati-Nya selain kepada Bapa yang telah mengutus Dia.
Murid-murid-Nya tidak siap menjadi tempat curahan hati, sebab beberapa kali lalai
untuk berjaga-jaga dan berdoa. Itulah sebabnya Yesus Kristus memberitahu kepada
Bapa agar jika sekiranya mungkin! Sekiranya mungkin...!!!???? Ini adalah
kalimat yang sebenarnya kita tahu jawabannya, bahwa itu tidak mungkin. Sebab
ini adalah jalan satu-satunya. Tetapi mengapa Yesus tetap mengatakannya?
Jawabannya adalah sebagai ekspresi akan kegentaran yang Ia alami. Sungguh...,
di sini tampak jelas bahwa derita Kristus terlalu berat dari segala penderitaan
yang ada didalam dunia ini.
Sampai di sini Tuhan Yesus
memberikan sebuah teladan yang baik bagi kita. Bagaimana dengan kita hari ini?
Apakah kita mau datang kepada Bapa di saat penderitaan menimpa kita? Atau kita
lari dari Dia dan berusaha menghadapi penderitaan itu sendiri! Atau justru kita
selalu menghindar dari penderitaan?
- Tuhan Yesus Tetap Taat pada Kehendak Bapa (ayt 42)
Ada perubahan yang sangat kuat
ketika kita telah menyatakan isi hati kita kepada Allah. Tuhan Yesus secara
manusiawi mengalami hal yang sama, di mana setelah Ia berdoa menyatakan isi
hati-Nya kepada Bapa kini Ia semakin kuat dan tegar untuk memikul beban salib; “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin
lalu, kecuali Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu” (ayt 42). Yesus tahu
bahwa kehendak Bapa adalah kehendak yang berdaulat dan harus terlaksana,
sementara keinginan-Nya adalah keinginan manusiawi yang didorong oleh rasa
sedih dan gentar! Andaikan Yesus memilih untuk mengikuti keinginan-Nya sendiri!
Maka dipastikan kita tidak akan menerima keselamatan. Tetapi puji Tuhan, Tuhan
Yesus memilih untuk tetap taat pada kehendak Bapa.
Sering kali kita justru sebaliknya!
Kehendak Bapa kita abaikan dan mementingkan kehendak atau keinginan kita
sendiri. Kita merasa bahwa kesedihan dan kegentaran yang kita alami adalah
alasan untuk kita sesegera mungkin mengambil keputusan dan melupakan Tuhan.
Membuat kita tidak mau berdiam sejenak dan meminta petunjuk-Nya seperti Tuhan
Yesus yang berdoa di tengah keheningan malam di taman Getsemani! Oh... mari
kita belajar seperti Kristus! Mari kita meneladani Dia yang setia berdoa kepada
Bapa-Nya agar Ia tidak lari dari kehendak yang mengutus-Nya! Amin.
- Tuhan Yesus Telah Siap Menghadapi Kematian (ayt 44-46)
Setelah tahap demi tahap telah
Kristus alami maka kini telah siaplah Dia untuk melangkah ke kaki salib Golgota,
untuk di siksa dan di cambuk. Untuk mengalirkan darah suci-Nya dan memberi
tubuh-Nya tercabik demi penghapusan dosa umat pilihan-Nya! “Lihat, saatnya sudah tiba bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan
orang-orang berdosa. Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku
sudah dekat” (ayt 45-46). Kekuatan dari Bapa yang mengalir atas Anak
Tunggal-Nya ini telah membuat air mata yang seperti titik darah itu berubah
menjadi kekuatan kasih yang mendalam! Kaki yang berlutut dari Anak Manusia itu
telah menjadi kaki rusa yang tegak berdiri untuk melangkah menghadapi kematian!

Posting Komentar untuk "Taman Getsemani"