(Yohanes 12:12-16)
Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru seru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!" Yesus menemukan seekor keledai muda lalu Ia naik ke atasnya, seperti ada tertulis: "Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah, Rajamu datang, duduk di atas seekor anak keledai. Mula-mula murid-murid Yesus tidak mengerti akan hal itu, tetapi sesudah Yesus dimuliakan, teringatlah mereka, bahwa nas itu mengenai Dia, dan bahwa mereka telah melakukannya juga untuk Dia.
Dalam pembacaan nats firman Tuhan ini kita melihat apa yang dilakukan oleh
Tuhan Yesus begitu luar biasa. Mengapa? Sebab Tuhan Yesus mengetahui bahwa Ia
akan dianiaya, disiksa, dibunuh dengan disalibkan ketika Ia memasuki kota
Yerusalem – bahkan itu sudah dinubuatkan dalam Lukas 13:31-35. Kesepakatan
untuk membunuh Tuhan Yesus sudah dirancang oleh para imam, orang-orang farisi
dan orang-orang Yahudi serta Yerusalem adalah pusat dari bangsa Israel, maka
dapat dipastikan bahwa jika Yesus menampakkan dirinya di Yerusalem maka itu
sama saja dengan misi bunuh diri. “Mulai
dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia” (Yoh 12:53).
Tetapi Tuhan Yesus tidak menghindar dan lari dari kenyataan yang begitu mengerikan ini, meski Ia tahu bahwa “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Luk 9:22-27). Bahkan sempat terselipkan sebuah cerita yang mengharukan antara Yesus dengan murid-Nya, dimana ketika Yesus memberitahukan tentang kematian-Nya di Yerusalem kepada murid-murid-Nya, Petrus menarik Yesus dan berkata kepada Yesus : “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tak akan menimpa Engkau”, apakah Yesus menerima perkataan Petrus ini? Tidak! Justru Yesus berkata “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagiKu, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Matius 16:21-28). Ya..., memang benar bahwa jika secara manusiawi kita akan menghindar dari siksaan, aniaya dan kematiaan! Tetapi apa yang dipikirkan oleh Allah adalah bahwa Yesus harus mati. Demikianlah Tuhan Yesus tetap mengajak para murid-Nya untuk pergi ke Yerusalem. Mengapa demikian?
Pertama: Karena Yesus harus
menggenapi nubuat para nabi
Yesus mengetahui secara benar apa yang akan terjadi pada diri-Nya ketika Ia
memasuki kota Yerusalem, bahwa Ia akan mendapatkan perlakuan yang tidak adil
bahkan hal tersebut akan membawa-Nya kepada kematian (Yoh 12:23-24). Tetapi hal
itu tidak menyurutkan langkah Tuhan Yesus untuk pergi ke Yerusalem. Sebab Ia
ingin menggenapi semua hal yang telah dinubuatkan oleh Tuhan, melalui para
utusan-Nya. Apa yang terjadi ketika itu adalah sebuah penggenapan dari segala
sesuatu yang telah Allah nyatakan kepada nabi Zakharia (Zakharia 9:9).
Di sini kita dapat melihat bahwa apa yang telah dinubuatkan oleh Allah pasti terjadi. Sebab Allah adalah Allah yang berdaulat mutlak dalam melaksanakan semua rencana kehendak-Nya. Dia adalah Allah yang menepati janji, sebab janji penebusan adalah janji yang sudah lama Ia beritahukan kepada umat pilihan-Nya, bahkan jauh sebelum Yesus lahir. Contohnya saja ucapan yang disampaikan oleh Yesaya tentang Hamba Tuhan yang menderita (Yes 52,53), serta oleh kisah Abraham yang hendak mempersembahkan anaknya Ishak sebagai persembahan sembelihan kepada Allah yang merupakan sebuah tipologi atau gambaran tentang Kristus yang akan datang (Kej 22). Sampai di sini dapat kita simpulkan bahwa tidak ada satu langkahpun dalam jejak kaki Tuhan Yesus yang bukan penggenapan nubuatan para nabi perjanjian lama.
Kedua: Karena Yesus harus
memenuhi panggilan-Nya
Setiap kita hidup ditengah dunia ini memiliki panggilannya masing-masing.
Allah menempatkan kita tidaklah dengan acak atau sembarangan, melainkan punya
maksud dan tujuan. Inilah yang disebut sebagai panggilan. Siapakah yang
memanggil? Allah! Allah memanggil kita untuk melaksanakan tugas kita sesuai
dengan posisi kita masing-masing. Demikianpun dengan Yesus Kristus pada waktu
Ia hidup ditengah dunia. Dia hidup untuk memenuhi panggilan hidup-Nya. Dimana
Ia datang memanglah untuk menebus dosa umat-umat-Nya. Maka Ia harus
melaksanakan tugas tersebut.
Bagi manusia tindakan Tuhan Yesus dianggap bodoh, karena dianggap bunuh diri. Itu merupakan pernyataan yang dilontarkan oleh orang-orang yang tidak mengenal rencana Allah dalam karya penyelamatan. Yesus tetap memasuki Yerusalem walau tahu akan disiksa mati, itu karena harus memenuhi panggilan-Nya. Di sini Yesus memberikan suatu teladan kepada kita para pengikut-Nya;
a.
Yesus adalah pribadi manusia yang memiliki integritas
Orang
yang berintegritas adalah orang yang perkataan dan perbuataannya selaras atau
seimbang. Seorang yang memiliki integritas pastilah dapat dipercaya dan
bertanggung jawab terhadap tugas serta pekerjaan-Nya. Bagaimana dengan saudara?
Apakah anda pun siap menghadapi penderitaan demi melaksanakan panggilan hidup
anda?
b.
Yesus merupakan pribadi yang taat
Filipi 2:8 berkata “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”. Yesus merupakan pribadi yang taat, Dia tetap datang ke Yerusalem walaupun di sana maut telah menantinya. Hal tersebut dilakukan oleh Kristus karena ketaatan-Nya kepada Allah Bapa yang telah mengutus Dia. Bagaimana dengan saudara? Apakah anda tetap taat melaksanakan tugas panggilan anda meski ditengah penderitaan?
Ketiga: Karena Penderitaan-Nya
merupakan jalan menyelamatkan manusia
Yesus menyadari betul akan pentingnya Ia menggenapi nubuatan serta
panggilan-Nya. Sebab hanya melalui pengorbanan diri-Nya, bukan dengan cara yang
lainnya, hubungan Allah dan manusia dapat dipulihkan. Hanya melalui pengorbanan
diri-Nya maka tujuan awal Allah dalam menciptakan manusia dapat dikembalikan.
Sebab Dialah jalan satu-satunya supaya manusia memperoleh keselamatan “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun
juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain
yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis 4:12).
Jalan yang harus Ia tempuh agar dapat menyelamatkan manusia adalah
kematian. Sebab hukuman atas dosa adalah maut! (Rom 6:23) dan dikutuk, Kristus
Yesus telah siap melewati hukuman tersebut agar kita terlepas dari maut dan
kutukan. “Kristus telah menebus kita dari
kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis:
"Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" (Gal 3:13). Kematian-Nya
sebagai manusia telah menciptakan perdamaian; “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum
Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya
menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai
sejahtera” (Ef 2:15).
By. Pdt. Theos M. Purba

Posting Komentar untuk "Siap Menghadapi Penderitaan!"