Efesus 4:1-16
Seorang pria
berumur 23 tahun yang baru menyelesaikan S1 disalah satu Universitas dikota
Jakarta baru saja memberikan lamaran kerja kepada salah satu perusahaan
terkemuka dikota itu. Sepulangnya dari kantor perusahaan tersebut terbesit
dengan sangat dihati bahwa ia akan diterima dan bekerja dengan baik hingga
menjadi orang yang sukses dan membahagiakan orang-orang di dekatnya. Kemudian ia
diterima, dan segera mulai bekerja pada posisinya dimana ia ditempatkan. Dengan
kerja keras, akhirnya ia bisa beradaptasi dan menempatkan dirinya untuk
mengerjakan pekerjaannya sesuai kemampuan yang ia miliki. Ia dituntut kreatif dan ideal sesuai dengan posisinya. Singkat cerita ia mampu untuk terus
berkerja diposisinya oleh karena kemampuan yang ia miliki sesuai, dan pria ini
terus menjaga kredibilitasnya diperusahaan itu untuk seterusnya.
Lebih dari
contoh hidup seorang pria diatas, yang tentu terbatas dan banyak kekurangan
untuk menggambarkan bagaimana hidup orang percaya di dalam menghidupi
panggilannya, sesungguhnya kita juga demikian. Namun disayangkan sekali pada
saat ini begitu banyak orang yang mengaku Kristen namun hidupnya menjadi batu
sandungan bagi orang lain. Jika mau menghitung-hitung, berapa banyak kita
menjumpai orang yang hidup dibalik kemunafikan kesalehannya? Para pelayan yang
bersembuyi dibalik teologinya? Para Kristen awam yang tidak mengerti dengan
benar kehidupan kekristenannya, sehingga hidup sesuka-sukanya? Tanpa terkecuali
dan tidak memihak kepada siapapun. Baik dikota maupun dipedalaman. Mau digereja
ataupun dipasar, kantor, sekolah, rumah, mall, dll.
Dengan melihat
itu semua, perlu kita menyadari dengan sungguh, bahwa kita adalah orang-orang
yang dipanggil oleh Allah dari dosa untuk menerima segala janji-janjiNya, yang
sudah seharusnya pasti hidup berpadanan/sesuai/seimbang dengan panggilan itu
sendiri. Diposisi mana kita dipanggil dan ditempatkan, demikianlah hidup kita
juga harus sesuai dengan posisi tersebut. Diposisi mana kah kita sekarang ini?
Efesus 3:6 bisa disimpulkan dengan: dipanggil untuk menjadi warga negara
kerajaan Allah. Disitulah posisi kita, dan sepadanlah seharusnya hidup kita.
Itu sebab Paulus menasihati diayat pertama agar kita/jemaat Efesus saat itu,
supaya hidup “sebagai orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan
itu” (ay1).
Jika demikian, seperti
apakah hidup yang berpadanan dengan panggilan kita itu sebagai orang Kristen
yang menerima janji Allah? Melalui nas ini kita menemukan ada dua ciri-cirinya
yakni :
Hidup orang yang berpadanan dengan panggilannya
ialah memiliki sikap etis yang benar (ay 2-6)
Berbicara
sikap etis merupakan hal yang sangat disoroti oleh semua manusia, karena
seseorang itu dikenal adalah dari sikap hidupnya. Ini kepada tindakan seseorang
yang dinilai oleh orang lain. Demikianlah orang percaya yang disebut sebagai ahli
waris, anggota tubuh, dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus
Yesus : warga kerajaan Allah/orang percaya, dikenali dari apa yang keluar dari
hidupnya. Tindakannya memberitahukan posisi seseorang. Buahnya/ciri-ciri
memberitahukan kepada kita apa pohonnya. Sikap etis yang benar bukanlah seperti
yang dibuat oleh manusia yang dibangun diatas dasar pemikiran manusia, namun
diatas dasar Firman Allah. Apakah itu? Ayat 2 memberitahukan : rendah hati,
lemah lembut, kesabaran dan saling membantu. Dan diayat ke 3-6 memberitahukan
agar kita berusaha memelihara kesatuan Roh melalui jalan : ikatan damai
sejahtera (ay3), sebab kita semua adalah jemaat yang memiliki satu : tubuh,
Roh, pengharapan, Tuhan, iman, baptisan, Allah dan Bapa dari semua dan diatas semua.
Jadi yang dibicarakan oleh Paulus dibagian ini merupakan buah Roh yang juga ia
tuliskan di Gal 5:22-26. Ini merupakan hal yang sudah seharusnya. Sebab Roh
Kudus yang diam didalam diri orang percaya akan bekerja membuat orang tersebut
sadar akan posisinya dan mengerjakan pekerjaan sebagai orang yang hidup didalam
Kristus. Oleh karena itu sadarlah bahwa status kita adalah orang percaya yang
berada didalam kerajaan Allah, sudah seharusnya perbuatan kita menjadi berkat
bagi orang lain. Sikap rendah hati dsb, dan hidup damai dengan orang
lain/sesama orang percaya, menunjukkan kesepadanan hidup kita dengan posisi
kita.
Mengapa di sini dikatakan sikap etis yang benar?
Sebab dunia juga memberikan begitu banyak prinsip-prinsip norma etika yang
diakui menjadi standart hidup manusia. Manusia membuat sesuatu norma
berdasarkan penilaiannya sendiri, lalu dijadikan standart hidup? Manusia pikir
dia sudah benar dan sesuai dengan standart Allah, padahal, Alkitab berkata itu
salah! Sebab etika yang benar adalah etika yang keluar akibat kesadaran posisi
didalam Kristus dan mengasihi Kristus! Bagaimana mungkin sikap etis yang benar keluar
dari pribadi yang berada diluar Kristus, dimana Roh Kudus tidak ada didalamnya?
Inilah posisi kita sebagai orang percaya kepada Yesus, yakni didalam kerajaan
Allah.
Hidup orang yang berpadanan dengan panggilannya
ialah hidup dalam kesatuan yang benar (ay 7-15)
Setiap orang
menyukai dan mengusahakan yang namanya persatuan. Usaha manusia salah satunya dalam
persatuan terlihat dalam 2 bentuk : menyatukan pribadi kepada satu metanarasi
contohnya Marxsisme/Komunisme. Dan kedua ialah menyatukan keseragaman yang
berbeda agar tercipta kedamaian, contohnya Indonesia dengan Bhineka Tunggal
Ikanya. Namun sejarah mencatat : hancurnya Marxisme dinegara-negara yang
memberlakukannya, terjadinya perang dunia ke 1 dan 2. Terjadinya huru hara
diantara etnis, dan agama.
Namun kita melihat ini sebagai kesatuan yang
bersifat sementara dan yang ada hanya untuk dunia ini. Dan ini tidak pernah bersignifikan terhadap
kekekalan. Lebih dari pada itu, Alkitab berkata bahwa kita adalah orang yang
dipanggil oleh Allah menjadi umatNya, adalah pribadi-pribadi yang berbeda
dengan karunia yang berbeda-beda juga, tetapi satu tubuh untuk mengerjakan
pekerjaan bagi kemuliaan Allah. Ayat 12 mencatat agar orang-orang kudus
mengerjakan pelayanan bagi pembangunan tubuh Kristus. Dengan apakah kita
melayani Allah di dalam satu tubuh ini? Dengan menggunakan karunia yang
dianugerahkan kepada kita sesuai dengan pemberiaan Kristus (ay7). Kesatuan yang
tercipta disini bukanlah di bangun diatas dasar yang fana, tetapi diatas dasar
anugerah Allah, karunia, dan Yesus Kristus sebagai Kepala (ay15).
Karunia yang Kristus berikan itu dipergunakan untuk
melayani Allah bersama-sama dengan seluruh jemaat. Inilah letak dimana tidak
ada yang lebih tinggi dan rendah, tidak ada yang lebih utama dan dikucilkan.
Mengapa? Karena semua memiliki karunia yang dianugerahkan oleh Yesus. Yang
mengajar ya mengajar, yang menasihati ya menasihati, yang membantu ya membantu,
yang mendoakan ya mendoakan, dsb. Dengan demikian semua akan menikmati kesatuan
didalam tubuh Kristus, dan semuanya untuk kemuliaan Allah.
Jadi, kesatuan yang benar ialah kesatuan di dalam Kristus, diatas dasar Kristus, guna tujuan mencapai kedewasaan iman. Dengan demikian maka kehidupan kita akan sepadan dengan panggilan kita sebagai orang yang di panggil untuk menjadi satu didalam tubuh Kristus. Hidup kita akan seperti tema di atas: Hidup yang berpadanan dengan panggilannya.
Oleh karena itu, lihat dan selidikilah hidup mu saat ini, apakah engkau memiliki kedua ciri-ciri diatas, yang menunjukkan bahwa engkau sudah hidup berpandanan atau sesuai dengan panggilanmu sebagai orang percaya, yang membuktikan bahwa engkau orang pilihan yang dipanggil oleh Allah? Jika ya bersyukurlah, dan jika belum ada atau engkau sulit melihatnya, berdoalah dan Tuhan akan bekerja didalam hidup mu untuk mengerjakan ini semua. Amin, Tuhan Yesus memberkati!

Posting Komentar untuk "Hidup Yang Berpadanan Dengan Panggilannya!"