Di dunia ini ada 3 jenis manusia. Pertama adalah manusia yang tidak tahu apa arti kehidupan ini. Dia menjalani hidup dalam ketidak tahuannya. Jika ditanya kepadanya apa arti kehidupan ini? Maka ia akan berkata tidak tahu. Baginya hidup ini biasa-biasa saja. Lahir, besar dan menjadi dewasa, menikah lalu berkeluarga, menjadi tua lalu segera meninggal! Sudah. Tidak ada yang begitu spesial. Jenis kedua yakni manusia yang memiliki pengertian yang salah mengenai arti kehidupan ini. Mereka punya pengertian arti kehidupan, tetapi pengertian atau konsep yang salah! Lalu yang ketiga yakni manusia yang tahu dan memiliki pengertian yang benar tentang kehidupan dan ini adalah orang-orang Kristen.
Namun yang menjadi masalahnya saat ini adalah bahwa ternyata di dalam kalangan kekristenan ada juga orang-orang yang bingung akan arti hidup ini! Mereka juga memahami arti kehidupan dengan konsep yang salah, sementara mereka mengaku percaya kepada Kristus dan menjadi Kristen. Ada beberapa diantara mereka mengira bahwa hidup ini adalah perihal berbuat baik. Jika saya jadi Kristen berarti saya harus buat baik kepada sesama! Ada juga yang menyangka bahwa hidup ini adalah kebetulan. Hanya kebetulan saja saya jadi Kristen, kebetulan saya lahir dari ayah dan ibu saya yang bernama si a dan si b. Selanjutnya ada juga orang Kristen yang mengartikan kehidupan ini adalah kerja keras. Orang seperti ini mengira bahwa semua yang ia peroleh adalah hasil usahanya, hasil kerja kerasnya dan karena andilnya! Saudara-saudari sekalian, di sini saya hendak mengatakan bahwa semua ini adalah salah total. Sekarang mari kita belajar bersama apa yang Rasul Paulus katakan dan ajarkan kepada kita tentang arti kehidupan melalui suratnya kepada Timotius.
Di sini mari kita terlebih dahulu memperhatikan konteks kepenulisan Paulus, bahwa ternyata Paulus menuliskan pesan terakhir ini kepada Timotius dalam konteks kematiannya yang sudah semakin mendekat itu dikatakannya di ayat 6 “... saat kematian ku sudah dekat”. Di tambah ayat 1 Paulus berpesan akan hal ini dengan menyinggung hidup dan mati, di mana Yesus Kristus yang adalah hakim antara orang yang hidup dan yang mati. Mengapa Paulus mengucapkan kalimat-kalimat seperti ini? Yakni dengan menyinggung antara hidup dan mati serta menyebut akan kematiannya sendiri, itu adalah agar selagi Timotius hidup sebagai pemberita Injil dia harus giat memberitakan Injil. “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya...” (ay 2). Ini tujuannya adalah agar Timotius tahu arti kehidupan ini, agar kelak ketika kembali kepada Bapa, ia telah menyelesaikan tugasnya tersebut!
Sekarang saya hendak berbagi sedikit kisah yang pernah saya alami perihal kematian. Karena saya hendak memulai prolog dari kotbah saya ini dalam kerangka konteks Paulus itu sendiri, yakni “saat kematian ku sudah dekat”. Pada usia 12 tahun saya pernah menyaksikan upacara penguburan saudara yang saya kenal. Lebih dekat lagi ialah pada usia 16 tahun saya juga pernah menyaksikan tubuh yang sudah dibungkus dengan kain putih, tak bergerak, tertidur bujur dengan kondisi ia telah kehilangan hidupnya, ia adalah sahabat saya yang cukup lama menemani sejak kecil. Lalu saya juga pernah menyaksikan secara langsung upacara dan penguburan keluarga kami yang meninggal di usia 17 tahun! Semua itu adalah kisah tentang dimana saya sungguh-sungguh pernah melihat, merasakan dan terlibat langsung dalam menyaksikan seorang anak manusia mengakhiri hidupnya! Dengan rasa yang penuh dengan duka serta ketakutan yang mendalam.
Itu adalah kisah dan perasaan yang tercipta ketika dahulu saya sama sekali belum mengerti apa itu kehidupan dan apa itu kematian! Berjalannya waktu, kini saya telah dihantarkan kepada situasi yang berbeda, kehidupan yang berbeda dan masa depan yang berbeda. Situasi yang berbeda adalah; kini saya ada dalam situasi sebagai seorang pelayan Tuhan yang memimpin sebagian kecil jemaat. Kehidupan yang berbeda ialah; kini saya hidup dalam kehidupan yang baru bersama dengan Kristus dan telah menerima kehidupan yang kekal. Masa depan yang berbeda; adalah hari ini dan sampai akhir hidup saya ialah untuk melayani Tuhan, dan bukan yang lain. Lebih khususnya adalah sebagai seorang Pemberita Injil!
Ketika hal serupa yang dahulu pernah saya saksikan dan sekarang terjadi, yakni melihat orang-orang disekeliling saya yang pernah saling mengenal, bersapa dan duduk bersama pergi meninggalkan saya terlebih dahulu atau meninggal terlebih dahulu, sungguh respon saya sudah sangat berbeda. Ketika dipertengahan tahun ini seorang rekan hamba Tuhan meninggal, selama satu bulan saya dipenuhi dengan perenungan. Disusul oleh rekan hamba Tuhan telah meninggal dengan cara yang cukup “tragis” yang pernah saya saksikan, lebih membuat saya tersungkur dalam keheningan. Lalu pernah dalam satu minggu yang sama saya melayani penguburan salah satu jemaat yang meninggal dunia ditambah dengan meninggalnya satu kenalan dan satu kampung dimana saya hidup dan melayani dahulu. Ketika sekarang saya menyaksikan kematian seorang manusia (terkhusus rekan hamba Tuhan), yang terbesit dalam hati terdalam saya hanyalah satu hal; yakni apa yang diucapkan oleh Rasul Paulus tentang arti kehidupan kepada anaknya Timotius:“Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu! Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman”. (2 Tim 4:5-7).
Hati saya bergetar begitu kencang dalam kegentaran yang teramat kuat! Ketika suatu masa hal yang sama menimpa saya akankah saya dapat mengucapkan hal yang sama seperti yang Rasul Paulus ucapkan! Kematian merupakan hal yang pasti terjadi atas kehidupan kita semua. Lahir dan mati itu merupakan kepastian, tetapi kelahiran kita tidak ditentukan oleh hidup kita, namun kematian kita merupakan hal yang ditentukan oleh kehidupan kita. Bagaimana kehidupan kita demikianpun kematian kita!
Ketika kalimat-kalimat semacam demikian muncul dalam perenungan saya, saya semakin sadar bahwa ada 3 arti kehidupan:
Pertama:
Kehidupan ini adalah sebuah kesempatan!
“Tetapi
kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan
pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!”. Apakah
arti kesempatan itu? Kesempatan berarti ada waktu atau memiliki waktu. Dalam
konteks Alkitab hal ini adalah berbicara tentang Kairos. Kairos itu sendiri
memiliki arti waktu tertentu yang tak dapat terulang kembali, ini adalah momentum.
Kairos adalah waktu yang Tuhan berikan kepada kita dan itu hanya satu kali saja
serta tidak dapat diulang. Ketika Tuhan masih memberikan waktu atau kesempatan
kepada mu, pertanyaannya adalah apakah engkau menggunakannya dengan baik atau
tidak! Inilah kesempatan. Sekarang kita lanjutkan kepada kesempatan dalam hal
apa sajakah yang dimaksudkan ini? Mungkin anda akan memberikan jawaban yang
begitu banyak! Orang bisa berkata bahwa hidup ini adalah kesempatan untuk belajar
karena ia adalah seorang pelajar atau mahasiswa. Bagi seorang isteri dia akan
berkata bahwa kehidupan ini adalah kesempatan untuk menjadi seorang ibu rumah
tangga. Bagi seorang hamba Tuhan, dia akan berkata bahwa hidup ini adalah
kesempatan untuk melayani Tuhan! Baik, semua ini baik dan benar. Namun di sini
sangat menarik apa yang disampaikan oleh Paulus bahwa ternyata kehidupan ini
adalah kesempatan untuk menguasai diri dalam segala hal, kesempatan untuk sabar
menderita, kesempatan untuk melakukan pekerjaan pemberita Injil dan kesempatan
untuk menunaikan tugas pelayanan! Ada 4 hal yang Paulus sebutkan sebagai
kesempatan yang dapat kita lakukan dalam hidup ini. Selagi kita hiduplah maka
semua hal ini dapat kita kerjakan, jika sudah dipanggil Tuhan maka tidak ada
waktu lagi untuk kita menguasai diri, sabar menderita, memberitakan Injil dan
menyelesaikan tugas. Semua sudah berakhir!
Sekarang yang perlu untuk kita renungkan adalah seharusnya
saya harus berpikir bahwa dalam setiap kesempatan yang Tuhan masih berikan
adalah merupakan kesempatan terakhir untuk saya berbuat. Agar dengan demikian
saya tidak lengah, bermalas-malasan dan putus asa dalam mengerjakan tugas yang
Tuhan berikan tersebut. Kita akan menjadi orang yang terdorong untuk terus
semangat mengerjakan semua tanggung jawab kita karena kita memahami arti
kehidupan bahwa hidup ini adalah kesempatan. Ini sejalan dengan apa yang Rasul
Paulus ucapkan dalam Filipi 1:21 “Karena
bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”.
Kedua:
Kehidupan ini ialah sebuah persembahan!
“Mengenai diriku, darahku sudah
mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat”
(ay 6). Di dalam Alkitab arti persembahan adalah memberikan hidup sepenuhnya.
Sesudah dia memberi dirinya, maka secara total dia bergantung kepada orang yang
kepadanya ia mempersembahkan hidupnya. Arti kedua dari kehidupan ini
sesungguhnya hidup ini adalah persembahan. Tuhan tidak pernah meminta engkau
untuk membawa uang dan harta kekayaan kepada-Nya, karena Dia pemilik seluruh
alam semesta. Dia juga tidak pernah meminta engkau untuk datang ke gereja dan
memberikan sound sistem, kursi dan ac agar gereja tersebut menjadi sangat
mewah, karena Allah bisa memberikan semua itu tanpa engkau. Tetapi yang
terutama Allah ingin adalah kita memberikan hidup kita kepada-Nya. Hidup dan
mati Paulus, adalah sebuah persembahan. Itu sebabnya ia tidak pernah takut
untuk menghadapi kematian, sebab dia tahu arti hidupnya yakni adalah
persembahan di hadapan Allah. Bagaimana dengan anda? Apakah hari ini engkau
telah mempersembahkan hidup kepada Allah? Dan sudah mengerti arti kehidupan
yang sesungguhnya!
Orang
yang memahami arti kehidupan ini adalah sebuah persembahan, maka jika suatu
saat kematian itu datang menghampiri, hanya satu hendaknya yang kita inginkan
yakni agar semua kehidupan yang pernah kita lalui telah menjadi persembahan
kepada Allah. Saat darah Paulus sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan
kepada Allah, demikianpun hendaknya daku hanya mau mempersembahkan segenap
hidup dan mati kepada Allah, hingga titik darah terakhir! Juga seharusnyalah
kita menjadi orang Kristen yang tidak terlalu di pusingkan dengan harta dunia
yang ingin anda berikan kepada Tuhan (gereja), namun fokus untuk menyerahkan
hidup kepada Allah. Lalu yang terakhir haruslah juga setelah sadar bahwa hidup
ini adalah persembahan, itu arti nya ia telah mempersembahkan hidup nya kepada
Allah, ini akan membuat orang Kristen tersebut tidak perlu terlalu kuatir
tentang hidup ini, karena hidup nya telah dipersembahkan kepada Allah, maka
terserah Allah saja mengatur semuanya! Ini sejalan dengan apa yang di katakan
Roma 12:1 “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan
Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai
persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah
ibadahmu yang sejati”.
Ketiga:
Kehidupan ini haruslah dijalani dengan konsep Pertandingan!
“Aku telah mengakhiri pertandingan
yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.
Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan
kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya
kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya” (ay
7-8). Berdasarkan ucapan Rasul Paulus bahwa ia telah
mengakhiri pertandingan yang baik, maka di sini kita menarik kesimpulan bahwa
bagi Paulus hidup ini adalah sebuah pertandingan. Pertandingan yang
bagaimanakah? Sekarang saya awali bagian ini dengan memaparkan 2 konsep yang
salah tentang hidup ini adalah pertandingan. Ada orang yang mengira bahwa
jikalau hidup ini adalah pertandingan seperti yang Paulus katakan bahwa pasti
ada satu pemenangnya. Sama seperti pertandingan lomba lari, ada yang juara 1, 2
dan 3. Berarti di dalam hidup beriman kepada Yesus pun ada yang juara 1 atau 2
dan 3. Ini adalah pemahaman yang salah soal pertandingan. Bukan seperti itu
yang Paulus maksudkan! Karena jikalau sampai seperti itu maka implementasinya
dalam kehidupan ini akan melahirkan kesombongan rohani, dimana satu orang
mengira bahwa dia jauh lebih beriman dari orang lain, jauh lebih dekat kepada
Allah ketimbang orang lain. Selanjutnya ada juga orang yang mengira bahwa
jikalau hidup ini adalah sebuah pertandingan berarti ada andil dan usaha kita!
Mereka menyangka bahwa hidup ini adalah andil dan usaha kerja keras ku, sebab
ini pertandingan maka harus berjuang dengan kekuatan masing-masing agar menang.
Ini juga adalah konsep yang sangat salah dan sangat berbahaya. Sebab orang
semacam demikian bisa menyangkali anugerah dan menjadi orang yang mengandalkan
diri sendiri alias manusia, sementara “Beginilah
firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang
mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! (Yer
17:5).
Sekarang
mari kita melihat konsep pertandingan yang dimaksudkan oleh Paulus. Di sini kita
harus memahami bahwa pertandingan itu ada start dan finishnya, ada awal dan
akhirnya. Itu sebab ia berkata bahwa aku telah mencapai garis akhir. Sebab
hidup ini ada akhirnya dan ada awalnya! Kapan? Awalnya adalah ketika kita
mengalami lahir baru, kita menjadi yang percaya kepada Kristus dan Roh Kudus
tinggal dalam hidup kita untuk membuat kita hidup dalam hidup yang baru bersama
Kristus. Dan akhirnya kita akan kembali kepada Allah dikerajaan sorga-Nya.
Inilah akhir dari hidup kita didunia ini. Kemudian kita melihat juga bahwa
ternyata dalam pertandingan pasti ada tantangan atau ujian! Tidak mungkin itu
disebut pertandingan jikala tidak ada sebuah tantangan atau ujian. Harus ada
sesuatu yang menyulitkan untuk hal tersebut disebut pertandingan. Demikianlah
kehidupan ini, kita jalani dengan penuh tantangan dan ujian. Ada begitu banyak
kesulitan yang Tuhan izinkan untuk terjadi dalam hidup ini, itu semua adalah
karena memang hidup yang anda dan saya jalani ini ialah sebuah pertandingan.
Lalu yang terakhir yang sangat menghibur hati adalah bahwa ternyata di akhir
pertandingan nanti akan ada hadiah. Paulus berkata “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran...”, Paulus
menggunakan kata telah tersedia, ini artinya hadiah tersebut sudah disiapkan
oleh Allah untuk kita didalam kerajaan sorga-Nya. Inilah hadiah yang tak
ternilai oleh apapun yaitu mahkota kebenaran! Anda jangan bertanya kepada saya
apakah hadiahnya itu? Sebab saya sendiri tidak tahu, karena alkitab hanya
menyebutnya demikian dan tidak memberikan penjelasan lebih. Intinya adalah ada
hadiah, itu saja cukup untuk menghibur hati kita.
Saat ini saya hendak menyampaikan satu hal yang begitu penting perihal pertandingan ini.
Sebab jangan sampai ada kesan bahwa karena ini pertandingan itu berarti kita
akan berjuang sendiri! Tidak. Sebab sesungguhnya pertandingan ini semua telah
diselesaikan oleh Kristus bagi kita. Itulah yang diucapkan Paulus di dalam Roma
8:37
“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang,
oleh Dia yang telah mengasihi kita”. Jadi sebenarnya bukan anda yang
berjuang sendiri, melainkan Kristus. Kemenangan atas pertandingan ini adalah
anugerah Allah. Itu sebabnya kita disebut sebagai lebih dari pemenang.
Diakhir dari kotbah ini saya ingin mengatakan bahwa dalam setiap tanggung jawab yang Tuhan sudah berikan, khususnya dalam melayani Tuhan sebagai Pendeta, Pemberita Injil dan Gembala, saya sendiri harus menjalaninya dalam kerangka konsep pertandingan. Sehingga suatu saat daku dapat berkata kepada Allah, bahwa tugas yang telah Engkau berikan, memang begitu berat bagi ku dan memang tidaklah mungkin sanggup untuk aku lakukan sendiri, tetapi setidaknya yang paling tidak mampu untuk aku lakukan itu telah aku coba. Dan kini hanya Allah saja yang menjadi hakim atas pekerjaan tersebut. Bagaimana dengan anda hari ini? Maukah engkau bersemangat dalam hidup ini meskipun penuh dengan tantangan? Maukah engkau tidak mudah menyerah dan terus siap menantang badai! Biarlah Allah saja yang menguatkan kita senantiasa.
Kiranya
melalui perenungan singkat tentang arti kehidupan ini, kita semakin sadar bahwa
Tuhan memberikan saat, waktu dan hari-hari ini adalah “sebuah kesempatan
terakhir”, dengan demikian anda dan saya akan lebih sungguh-sungguh lagi
melayani Tuhan dan menyenangkan hati-Nya. Amin, Haleluya! Tuhan Yesus
memberkati saudara-saudari sekalian.
By. Pdt. Theos M. Purba, S.Th

Posting Komentar untuk "Renungan Harian tentang Kehidupan Yang Berarti"