Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita, karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus. (Filipi 1:18-19)
Apakah
perspektif? Sederhannya perspektif adalah sudut pandang. Saya sendiri suka
menggunakan contoh kacamata untuk menjelaskan arti perpsektif. Jika saya
menggunakan kacamata putih polos maka saya akan melihat sekeliling saya seperti
apa adanya, jika saya menggunakan kacamata berwarna hitam reben maka saya akan
melihat sekeliling saya agak berwarna kehitaman. Demikianlah sudut pandang atau
perspektif. Ketika saya memiliki perspektif yang salah tentang kehidupan ini
maka saya akan menjalani kehidupan ini dalam kesalahan dan dipenuhi dengan
ketidak senangan! Tetapi jikalau saya memiliki perspektif yang benar mengenai
kehidupan ini, maka saya pun akan menjalani kehidupan ini dalam kebenaran dan
dipenuhi dengan sukacita dari Allah. Itu sebabnya di sini saya membuat judul
renungan kali ini diawali dengan kata “Perspektif
yang benar”, karena faktanya banyak orang yang hidup di dunia ini dengan
sudut pandang yang salah.
Tema kita adalah perspektif yang benar
dalam pemberitaan Injil, maka disini pembahasan saya akan lebih spesifik kepada
pemberitaan Injil. Kenapa? Karena sadar atau tidak sadar bahwa ternyata di
kalangan pemberita Injil ada begitu banyak perspektif yang salah, bahkan tidak
sedikit pelayanan pemberitaan Injil akhirnya terlaksana hanya sekejap saja lalu
kemudian berhenti oleh karena perspektif yang salah! Di sini saya harus
menegaskan bahwa pemberitaan Injil itu sendiri adalah hal yang baik dan tidak
akan pernah sia-sia, tetapi subjek yang memberitakan yakni para pelayan Tuhan –
pendeta, penginjil dan guru – kerap kali mengalami masalah dalam hal
perspektif. Ketika seorang pelayan Tuhan menghadapi masalah dalam pelayanannya,
lalu memandang bahwa masalah tersebut adalah malapetaka baginya, ini adalah
sebuah kesalahan dalam sudut pandang. Saat seseorang mengira bahwa dengan
datangnya persoalan maka itu akan membuat kemuduran dalam pelayanan, ini juga
kesalahan total. Di kala ia harus berjuang berat dalam pemberitaan Injil namun
tidak melihat buah dari pekerjaannya tersebut, maka ia mundur dan mencari jalan
lain, ini juga disebabkan oleh kesalahan sudut pandang. Bahkan ada pula yang
mengira bahwa pelayanan pemberitaan Injil hanya akan dapat berjalan jikalau
persediaan keuangan dan fasilitas memadai, ini juga kesalahan total dalam
perihal perspektif. Ini adalah segelintir perspektif yang salah yang kerapkali
menimpa para pelayan Tuhan, terutama bagi mereka yang baru mulai mengecap dunia
pelayanan pemberitaan Injil.
Sekarang mari kita menilik kepada
kehidupan dan cara rasul Paulus mengatasi semua persoalan di atas dengan
memiliki perspektif yang benar sebagai pemberita Injil. Seperti yang kita
ketahui bahwa Paulus saat menuliskan surat Filipi ini dia sedang dipenjarakan
oleh karena Kristus (1:13), kemudian persoalannya ini jadi bertambah berat oleh
karena adanya siasat jahat dari orang-orang yang ingin memperberat beban
Paulus, hal ini diterangkan olehnya di Filipi 1:15-16. Dalam kondisi yang
demikian bagaimanakah Paulus memandang semuanya itu? Seperti apakah perspektif
seorang Rasul seperti Paulus! Apakah dia memandang bahwa semua beban yang
menimpanya dalam pemberitaan Injil ini adalah akibat kejahatan para penguasa?
Apakah dia menyalahkan orang lain? Apakah ia kecewa dan menyerah! Mungkinkah
Paulus demikian? Mari kita melihat lebih lanjut bagaimana perspektif Paulus sebagai seorang pemberita Injil
memandang semua masalah yang timbul dalam pemberitaan Injil tersebut; dengan
harapan agar kita juga sebagai pelayan Tuhan memiliki perspektif yang benar
sebagai pemberita Injil?
Perspektif
Pertama: Bersukacita adalah Cara agar kuat dalam Pemberitaan Injil (ay18)
Jika
kita membahas perihal kuat atau cara agar kuat, maka saya harus mengaku bahwa
sering kali kita mengira dan berharap agar dan dapat menjadi kuat jikalau semua
pelayanan kita berjalan dengan baik. Orang-orang yang kita layani mau bekerja
sama, mereka giat mendengarkan kotbah anda, mau mengikuti kebaktian minggu dan
rabu, persekutuan doa, doa puasa dan pelayanan misi. Mau memberikan persembahan
dan perpuluhan dengan rutin. Mau membantu anda dalam kegiatan-kegiatan
gerejawi! Ini adalah fakta yang terlihat dilapangan, bahkan anda akan berbohong
jikalau menyangkali hal ini. Sampai di sini saya sendiri sangat tertegun malu
dihadapan Allah, bahwa ternyata terlalu banyak perspektif yang salah dalam diri
saya sendiri menyangkut pemberitaan Injil! Kita mengurung pemberitaan Injil
hanya berdasarkan persepktif kita yang sempit dan salah ini. Itu sebabnya tidak
heran mengapa banyak orang yang akhirnya pergi meninggalkan ladang penginjilan
oleh karena memiliki masalah dalam hal ini dan tidak bisa menjadi kuat ketika
semua yang diharapkannya tidak tersedia atau tidak terjadi.
Bagaimana
dengan Rasul Paulus? Bagaimanakah dia bisa menjadi begitu kuat dalam menghadapi
penderitaan yang sedemikian berat itu? Apakah ini kekhususan yang hanya
dimiliki Paulus sebagai Rasul sementara kita tidak? Saya yakin tidak demikian,
karena sesungguhnya kita sedang mengerjakan hal sama yakni pemberitaan Injil.
Sekarnag kita melihat apa yang dikatakannya “Tetapi
tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud
palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap
bersukacita,” (ay 18). Di sini kita melihat bahwa Paulus meresponi
masalahnya dengan bersukacita dan akan tetap bersukacita. Kata bersukacita
diulangi olehnya sebanyak dua kali karena ingin menekankan kepada jemaat Filipi
agar tidak mengira bahwa Paulus sedih dan berduka karena pemenjaraannya. Tidak.
Paulus justru bersukacita! Hal ini penting karena akan menentukan langkah
Paulus seterusnya. Jikalau dia melatih dirinya untuk tetap bersukacita, maka
dia akan tetap maju dalam pemberitaan Injil, tetapi sebaliknya jika dia tidak
melatih dirinya untuk bersukacita, maka dia pasti akan pergi meninggalkan tugas
yang berat itu dan kalah dalam pertandingan ini. Syukurlah bahwa ternyata
Paulus tidak demikian, karena hal tersebut akan memberikan teladan yang tidak
baik kepada kita. Dia tetap memandang bahwa masalah yang menimpanya adalah baik
bagi nya dan baik bagi kemajuan Injil. Itu sebabnya ia tetap bersukacita dalam
segala hal.
Orang yang memiliki perspektif bahwa supaya menjadi kuat dalam menghadapi semua tantangan pemberitaan Injil maka dia akan bersukacita dalam segala hal, dan tindakannya ini akan mengantarkan dia kepada ucapan syukur yang melimpah. Orang yang bersukacita dalam segala hal berarti dia bersyukur kepada Allah atas keadaannya tersebut. Tidak perduli apapun keadaannya! Jikalau sukacita sudah berpadu dengan ucapan syukur, maka badai apakah yang tak dapat dilalui? Seperti Paulus mari kita memandang bahwa masalah dalam pemberitaan Injil adalah kesempatan untuk aku bersukacita.
Perspektif
Kedua: Keselamatan dari Allah akan selalu ada dalam Pemberitaan Injil (ay 19)
Hal kedua yang sangat
serius dalam perihal perspektif adalah mengenai keyakinan keselamatan dari
Allah. Keselamatan yang dimaksud di sini bukanlah keselamatan kekal, sekalipun
Paulus menggunakan kata “keselamatanku”. Mari kita melihat ayatnya terlebih
dahulu “karena aku tahu, bahwa kesudahan
semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus” (ay
19). Berdasarkan ayat 19 ini maka sesungguhnya yang dimaksud Paulus adalah ia
sangat yakin bahwa akhir dari semua perihal pemenjaraannya ini maka dia akan
diselamatkan oleh Allah. Dia akan lepas dari penjara tersebut dan dia akan kembali
memberitakan Injil Allah!
Dua
argumentasi yang hendak saya sampaikan untuk membuktikan bahwa ayat ini tidak
berbicara mengenai keselamatan kekal. Pertama; berdasarkan adanya kata-kata “oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus
Kristus”, ini berarti tidak berbicara perihal keselamatan kekal karena
tidak mungkin keselamatan Paulus ditentukan oleh doa jemaat Filipi sebab
keselamatan itu adalah iman pribadi seseorang. Anda tidak bisa berdoa untuk
keselamatan saya, karena keselamatan saya ditentukan oleh iman saya sendiri.
Demikianpun dengan kalimat pertolongan Roh Yesus Kristus; kalimat ini
mengindikasikan akan pertolongan luput dari penjara, sebab tidak mungkin
keselamatan kekal baru dikerjakan oleh Yesus atas diri Paulus setelah ia
dipenjara! Keselamatan sudah Paulus miliki dan dijamin oleh Allah melalui
penebusan Kristus ketika saat pertama kali Paulus menjadi percaya. Argumentasi
ke dua adalah; dalam surat yang sama yakni Filipi 1:24 di sana Paulus
memberitahukan bahwa dia berharap akan segera pergi kepada jemaat Filipi untuk
memberitakan Injil kepada mereka. Lebih tegas lagi Paulus katakan dalam pasal
2:24 “tetapi dalam Tuhan aku percaya,
bahwa aku sendiri pun akan segera datang”.
Bagaimana
dengan anda hari ini? Apakah kita yakin sepenuhnya akan keselamatan dari Allah
atas segala perkara dalam pelayanan pemberitaan Injil kita! Kerap kali kita
tergoda untuk percaya pada diri sendiri, manusia dan bahkan kepada keuangan
yang cukup untuk menyelamatkan pelayanan kita. Ini adalah malapetaka yang besar
atas kalangan pemberita Injil. Jikalau hal ini dilanjutkan terus, maka mungkin
pemberitaan Injil jadi kurang genjar terlaksana oleh karena kesalahan
perspektif. Marilah kita memandang seperti Paulus bahwa akan selalu ada
keselamatan dari Allah atas kesulitan yang anda hadapi saat ini dalam
pemberitaan Injil. Keselamatan tidak hanya berbicara tentang hidup kekal,
melainkan juga berbicara tentang kehidupan saat ini juga. Sebab Kristus tidak
hanya menyelamatkan kita dari dosa dan mau tetapi dari permasalahan yang setiap
hari kita hadapi. Oleh karena itu majulah terus dalam pemberitaan Injil
Kristus, sebab Allah pasti memberikan jalan keselamatan dari setiap
permasalahan yang ada. Amin, Haleluya.
By. Pdt. Theos M. Purba

Posting Komentar untuk "Perspektif yang Benar dalam Pemberitaan Injil"