"Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil. Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian". (Filipi 1:3-8)
Mengucap syukur adalah tema yang sangat sering
dibicarakan dalam kekristenan dan bahkan kerapkali kalimat tersebut kita
ucapkan kepada orang lain untuk menasihati dia. Namun pada kenyataannya kita
menemukan bahwa mengucap syukur itu adalah hal yang sukar untuk dilakukan! Pada
kenyataannya kita seringkali mendapati orang-orang disekeliling kita lebih
banyak mengeluh ketimbang mengucap syukur. Bahkan yang lebih parah lagi adalah
kita sendiri mendapati diri kita lebih sering mengeluh, bersungut-sungut dan
kecewa ketimbang mengucap syukur. Inilah fakta yang tidak dapat kita sangkali.
Inilah kenyataan yang harusnya membuat kita tersungkur dihadapan Allah dan
mengevaluasi diri kita sendiri. Kenapa? Karena Alkitab sendiri mengajarkan kita
untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal (1 Tes 5:18) dan di dalam nats
renungan kita kali ini Rasul Paulus sendiri memberikan sebuah teladan yang baik
dalam hal mengucap syukur! Setelah ia mengawali surat Filipi ini dengan salam
yang rendah hati, Paulus melanjutkan pendahuluannya tersebut kepada tema
mengucap syukur, ini menunjukkan akan pentingnya arti dari mengucap syukur itu
sendiri, sampai-sampai Paulus menempatkannya pada permulaan suratnya.
Sekalipun kita melihat kenyataan yang miris tentang
mengucap syukur, di mana kita seringkali mengeluh ketimbang bersyukur, hal ini
tidak membuat kita jadi lemah dan putus asa. Sebab perihal mengucap syukur
haruslah menjadi poin yang terus menerus kita pelajari dan kita aplikasikan
dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebab mengucap syukur itu bukan hanya indah
pada saat diucapkan namun begitu indah pada saat menjadi kenyataan dalam
kehidupan kita. Dengan mengucap syukur maka anda sedang mengatakan bahwa semua
yang terjadi adalah baik (Rom 8:28). Lagipula Allah menghendaki kita untuk
mengucap syukur dalam segala keadaan, baik atau tidak baik kondisinya. Mungkin
saat ini anda sedang dalam pergumulan yang berat, permasalahan datang menimpa
dan anda merasa kenyataan tersebut begitu sulit, ingatlah bahwa Rasul yang
mengucapkan ayat-ayat di atas adalah seorang tawanan Romawi yang sedang dalam
belenggu penjara! Dia mengucap syukur dan berdoa kepada Allah bukan dalam
kondisi yang nikmat, melainkan dalam kondisi yang berat, penuh dengan
penderitaan dan bahkan harus siap berhadapan dengan maut! Atas semua itu, apa
yang ia katakan? “Aku mengucap syukur
kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untuk
kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita” (ay 3-4).
Mari kita melihat dua pesan penting dipermulaan ayat
3-4 ini di mana dari sini kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa ucapan
syukur yang dilakukan oleh Paulus adalah pertama ucapan syukur atas orang lain
dan bukan atas dirinya sendiri. Lalu kedua ucapan syukur yang dilakukan oleh
Paulus ia lakukan secara berulang-ulang, Paulus tidak perlu merasa jenuh untuk
bersyukur kepada Allah setiap kali ia mengingat jemaat Filipi. Sampai di sini
marilah kita belajar seperti Rasul Tuhan ini, bahwa sesungguhnya mengucap
syukur dan berdoa adalah hal yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya,
karena itu adalah panggilan dari Allah atas kehidupan kita dan sekaligus akan
menghasilkan dua hal:
Pertama: Menghasilkan
keyakinan yang penuh (ay 6)
Pada saat Paulus
mengucap syukur kepada Allah atas jemaat Filipi sementara ia sendiri sedang
dalam belenggu penjara, yang lahir keluar kemudian adalah keyakinan yang penuh.
Mari kita melihat kalimatnya “Akan hal
ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di
antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (ay6).
Dalam konteks apakah Paulus yakin? Berdasarkan ayat 5 maka Paulus yakin akan
perihal persekutuan jemaat Filipi dalam Berita Injil tersebut Allahlah yang
akan meneruskannya. Ini artinya Allah yang akan bertanggung jawab untuk
memelihara persekutuan jemaat Filipi hingga pada akhirnya. Nah, atas hal
tersebut Paulus yakin penuh! Atas persekutuan tersebut, Paulus yakin bahwa
Kristus adalah Kepala Gereja yang akan terus memelihara jemaat-Nya! Dari sini
kita melihat bahwa ternyata dibalik ucapan syukur akan lahir keyakinan.
Bagaimana dengan kita hari-hari ini? Apakah dalam kehidupan ini kita telah
menjalaninya dengan keyakinan dan dalam keyakinan! Bukankah “Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma
1:17). Bagaimana mungkin kita bisa melangkah dalam keyakinan iman disetiap
perjalanan hidup ini jikalau untuk mengucap syukur saja anda tidak bisa? Atau
anda sama sekali tidak tertarik! Orang yang mengucap syukurlah yang akan
menjadi orang yang yakin.
Berbicara
mengenai kata yakin sepenuhnya yang Paulus ucapkan dalam ayat 6 ini, kita
melihat bahwa ternyata kata yakin di sana adalah sebuah active perfect
participle dari akar kata “membujuk”, yang memiliki arti “saya telah dan terus
merasa pasti”. Ini artinya kata yakin di sana memiliki dua sisi yaitu sisi masa
lalu dan sisi masa depan! Sisi masa lalunya adalah Paulus melihat kepada semua
perjalanan penginjilannya dan semua perjuangan misi atas jemaat Filipi,
sekarang dia yakin penuh. Lalu sisi masa depannya ialah Paulus juga bersandar
kepada kedaulatan Allah yang mutlak itu. Bahwa Allah yang ia percayai adalah
Pribadi yang sempurna dalam otoritas dan pemeliharaannya (providensi) atas
jemaat-Nya. Oleh karena itu Paulus yakin penuh! Marilah kita belajar seperti
Paulus dimana kita harus selalu merenungkan semua kebaikan Tuhan yang sudah
kita rasakan dan bersyukurlah. Lalu kemudian pandanglah kepada Allah yang tidak
akan pernah meninggalkan anda dan saya, lalu mengucap syukurlah! Di sini saya
bisa katakan bahwa mengucap syukur akan melahirkan ucapan syukur! Sistematikannya
adalah sebagai berikut: mengucap syukur – menjadi yakin penuh – mengucap syukur
lagi! Dan begitu seterusnya.
Menghasilkan kerinduan terhadap pelayanan (ay 8)
Panggilan untuk melayani bukan hanya untuk para
rasul, nabi dan penginjil melainkan bagi semua orang percaya di manapun berada
(Kol 3:23, Mat 20:28, Mrk 10:45, 1 Kor 15:58). Sebagai orang Kristen kita
dipanggil untuk melayani dan menjadi berkat bagi banyak orang. Namun
pertanyaannya adalah apakah anda melayani hari ini? Atau pertanyaan yang lebih
krusial lagi adalah apakah anda memiliki kerinduan di dalam hati anda untuk
melayani? Agar kita dapat dicerahkan tentang poin ini, mari kita menyelam lebih
dalam lagi kepada pola pikir Paulus. Rasul Paulus berkata “Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus
merindukan kamu sekalian” (ay 8). Dengan keyakinan yang penuh Paulus
juga berkata bahwa Allah adalah saksiku. Ini berarti apa yang Paulus ucapkan
sungguh-sungguh dari kedalaman hati nya. Dia tidak mungkin berani mengatakan
hal tersebut atas nama Tuhan jikalau hal tersebut adalah sebuah kebohongan atau
sebatas kefasihan retorika belaka. Paulus yakin bahwa ia mendapati hatinya
begitu merindukan jemaat Filipi. Itu artinya Paulus memiliki hati yang rindu
untuk melayani Tuhan. Dia rindu untuk melakukan yang terbaik bagi Tuhan!
Rahasia dari semua itu adalah terletak pada ucapan syukur dan doa. Dengan
mengucap syukur maka lahirlah keyakinan, setelah itu timbullah hati yang
bergelora bagi pelayanan!
Hari-hari ini banyak orang yang mau melayani Tuhan
tetapi tidak didasari oleh panggilan yang jelas. Banyak juga orang yang sudah
terjun dalam ladang pelayanan gerejawi dan misi penginjilan, akhirnya harus
pulang karena tidak siap melayani Tuhan! Kenapa? Menurut hemat saya berdasarkan
apa yang Paulus ajarkan di sini, itu karena kita lebih banyak menggerutu tentang
semua yang ada disekeliling kita dan lupa untuk lebih banyak bersyukur. Akhirnya
yang timbul adalah ketidakyakinan lalu menghantarkannya kepada kehampaan hati.
Hatinya hampa tanpa kerinduan yang mendalam untuk melayani Tuhan! Hatinya
hambar seperti garam yang tawar. Sementara alih-alih ingin melayani orang lain,
dirinya sendiri tidak dapat ia kendalikan, masalah dalam dirinya sendiri tidak
dapat ia atasi dan semakin dalam jatuh kedalam kehampaan! Marilah kita belajar
bersama seperti Paulus dimana ia selalu melatih dirinya mengucap syukur dalam
segala hal dan demikianlah ia menjadi orang yang selalu bergelora untuk
melayani Tuhan. Amin, Haleluya.
Oleh: Pdt. Theos M. Purba
“Seorang hamba yang hina, hanya pantas mengucap syukur saja, sebab menerima anugerah-Nya”

Posting Komentar untuk "Ucapan Syukur dan Doa"