"Bagaimana saya bisa mengetahui apa yang
benar?" Sepertinya ini adalah sebuah pertanyaan yang sederhana. Tetapi
dengan munculnya media sosial, "berita palsu," dan berbagai suara
yang sumbang, cukup menyulitkan kita
untuk membedakan mana yang benar dan mana yang hoax atau palsu. Tetapi ada
kabar baik. Alkitab mengatakan kepada kita bahwa kita dapat dan harus tahu apa
yang benar.
Dalam mencari jawabannya, para teolog telah memahami
dua cara berbeda tentang bagaimana kita dapat mengetahui apa yang benar itu.
Pertama, kita tahu apa yang benar melalui wahyu umum. Istilah ini mengacu pada
apa yang Allah telah nyatakan dalam ciptaan-Nya (kosmologis) dan dalam diri
kita sebagai manusia (antropologis) (Kej. 1:1, 28; Mazm. 19:1–6; Mazm.
139:13–14; Roma 1:18–21). Yang menarik, keyakinan tentang wahyu umum ini
mengarah pada revolusi ilmiah (scientific revolution). Kekristenan yang
alkitabiah, memberikan pandangan dunia yang mendorong manusia untuk menyelidiki
dunia di sekitar kita dengan keyakinan, bahwa karena Allah yang menciptakannya
adalah benar, maka kita dapat menemukan apa yang benar itu.
Namun, kita tidak belajar apa yang benar hanya dari
menyelidiki dunia di sekitar kita. Kita juga memahami kebenaran dengan
menggunakan akal kita. Ini adalah aspek lain dari wahyu umum. Kalau tadi kita
membahas tinjauan kosmologisnya, kini kita bergeser sedikit ke arah
antropologisnya. Karena manusia diciptakan menurut gambar Allah, kita bisa,
seperti yang diungkapkan oleh seorang teolog, berpikir sesuai dengan
pikiran-Nya. Jadi, kita menggunakan hukum logika, hukum matematika, hukum
fisika, dan sebagainya untuk menemukan kebenaran. Sampai-sampai, manusia dapat
menemukan dan merumuskan sebuah ilmu pengetahuan yang baku. Itu semua berkat
wahyu umum yang Allah berikan. Jangan lupa!
Kedua, kita dapat tahu apa yang benar melalui wahyu
khusus (Mazm. 19:7–11; Yes. 8:20; Yohanes 17:17; 2 Tim. 3:16). Ini merujuk pada
cara Allah telah menyatakan diri-Nya dalam Firman-Nya. Tentu saja, Allah
berbicara kepada para Nabi dan Rasul-Nya, sehingga mereka dapat menuliskan
Firman-Nya itu. Dan wahyu khusus yang ingin Dia berikan kepada kita, telah dipelihara-Nya
yakni Alkitab yang sampai saat ini ada ditangan kita.
Alkitab bukanlah buku teks ilmu pengetahuan,
matematika, fisika, atau seni. Namun, Alkitab memberikan pandangan dunia yang
menyeluruh, yang pada akhirnya memungkinkan semua hal tersebut. Dengan kata
lain, Alkitab tidak hanya mengajarkan kepada kita kebenaran-kebenaran
fundamental tentang manusia, dunia, keselamatan, masa depan, dan sejumlah
subjek lain yang membentuk pandangan dunia, tetapi juga memberikan
prinsip-prinsip yang sangat penting bagi kita untuk mengetahui kebenaran.
Yesus ingin kita tahu apa yang benar karena Dia ingin kita mengenal-Nya, Karena Dia adalah Sang Kebenaran.
Satu lagi catatan penting. Kita tidak akan pernah dapat
percaya bahwa Alkitab adalah benar kecuali kita telah lahir kembali. Seperti
yang dikatakan oleh Paulus, " Tetapi manusia
duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya
adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya
dapat dinilai secara rohani." (1 Kor. 2:14). Manusia duniawi adalah orang
yang belum percaya kepada Yesus dan oleh karena itu ia tidak dipimpin oleh
Roh-Nya. Seandainya kita tidak percaya kepada Yesus, mustahil kita dapat dan
mau percaya kepada Alkitab dan semua yang diklaim oleh Alkitab.
Apa saja alternatif dari cara-cara mengetahui apa yang
benar yang diuraikan di atas? Alternatif ini datang dari dunia. Mari kita coba
untuk mempelajarinya dan mengkajinya bersama-sama.
Pertama, ada yang mengatakan bahwa kita hanya bisa
tahu kebenaran dengan menggunakan lima indera kita. Ini disebut empirisme.
Masalah besar dengan usulan ini adalah bahwa kita tidak bisa menyelidiki dengan
lima indera kita klaim, "Hanya yang terungkap oleh lima indera adalah
benar." Dengan kata lain, kita tidak bisa mengetahui apakah empirisme
benar dengan menggunakan metode empirisme. Disini, empirisme bermasalah dengan
dirinya sendiri. Dia tidak bisa menjawab persoalan dirinya sendiri, lantas
bagaimana mungkin dapat menjawab seluruh persoalan dunia ini? Mustahil.
Kedua, ada yang mengatakan bahwa kita hanya bisa tahu
apa yang benar dengan menggunakan akal kita. Ini disebut rasionalisme. Masalah
dengan metode ini adalah bahwa itu bersifat lingkar. Artinya, jika kita
bertanya kepada seorang rasionalis bagaimana dia tahu bahwa rasionalisme adalah
cara terbaik atau satu-satunya untuk mengetahui apa yang benar, dia akan
memberitahu Anda untuk mengikuti pemikirannya. Tetapi itulah pertanyaan yang
sedang dibahas. Bagaimana kita tahu bahwa pemikiran manusia adalah metode atau cara
yang terbaik untuk mengetahui apa yang benar? Lagi-lagi, rasionalisme juga
bermasalah dengan dirinya sendiri.
Tentu saja, analisis ini sangat singkat dan sangat terbatas.
Tetapi pesannya adalah ini. Jika kita mencoba untuk menemukan apa yang pada
akhirnya benar tanpa mendasarkan pemikiran kita pada Alkitab, upaya kita akan
gagal. Mengapa? Karena setiap usaha untuk mengetahui apa benar tanpa
berlandaskan pada Allah yang hidup dan benar, pada akhirnya adalah bermuara
pada penyembahan intelektual yang salah. Dan semua penyembahan selain Allah
alias berhala pada akhirnya akan mengarah pada kematian rohani.
Akhirnya, Yesus ingin kita tahu apa yang benar karena
Dia ingin kita mengenal Dia, Sang Kebenaran (Yohanes 14:6). Janji Tuhan kita
tentang kebenaran masih tetap berlaku. "Kamu akan mengetahui kebenaran,
dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu" (Yohanes 8:32).
Oleh Pdt. Theos M. Purba

Amin. Terimakasih
BalasHapus